
Tak berselang lama Yusuf keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaian yang telah di sediakan oleh Khanza.
Setelah rapi, Pria itu mendekati ranjang dan duduk disamping istrinya yang masih tertidur. Berulang kali tanda sayang ia tinggalkan diwajahnya.
"Sayang, aku pergi ya, jangan sedih, Mas pergi hanya menjalankan tugas. Baik-baik ya." Yusuf kembali mengecup kening Khanza dengan lama.
Wanita itu bersusah payah menahan tangis agar tak pecah, dengan mata yang masih terpejam rapat Khanza berusaha tak membuka netranya. Terdengar suara geretan koper, itu menandakan suaminya akan pergi.
Setelah memastikan Pria itu pergi Khanza membuka mata, seketika tangisnya pecah. Perasaannya benar-benar gundah, ingin marah, kesal, benci, tapi tidak ada alasan karena sedari tadi suaminya berusaha bersikap lembut. Tapi, berasa ada yang beda dari sikap baiknya itu.
Dengan tergesa Perempuan itu turun dari ranjang dan menuju balkon teras yang ada di lantai dua. Tampak jelas suaminya hendak pergi meninggalkan kediaman orangtua dari Papanya.
Khanza terduduk dilantai saat mobil yang ditumpangi oleh Yusuf telah hilang dari pandangannya. Wanita hamil itu menangis terisak-isak. Kenapa rasanya begitu nelangsa, perpisahan kali ini membuat hati dan pikirannya kacau.
Khanza Kembali ke kamar. Merebahkan diri dengan memeluk guling, tangisnya masih belum reda. "Kenapa sekarang sikap kamu berubah, Mas? Ada apa? Biasanya kamu akan selalu meminta maaf bila kamu merasa bersalah. Apakah ini kesalahanku? Hiks..."
Tok! Tok!
"Khanza!" Panggil Oma.
"I-iya, Oma!" Jawab Khanza sembari menghapus air matanya dengan cepat. Terdengar suara pintu terbuka.
"Kamu kenapa tidak mengantarkan suamimu turun?" tanya Oma mendekati cucunya.
"Enggak, Oma, tadi Adek lagi pusing," ucap wanita itu berbohong.
"Itu karena kalian melewatkan makan siang. Ayo makan sekarang." Oma membawa Khanza turun untuk makan.
__ADS_1
"Adek tidak lapar, Oma, nanti saja." Wanita itu menolak ajakan neneknya. Seketika dia baru ingat bila suaminya belum makan siang.
Ya Allah maafkan aku, karena mengikuti perasaan aku sampai lupa menyediakan makan untuk suamiku. Bagaimana mungkin dia pergi dalam keadaan lapar. Istri macam apa aku ini?
Khanza menyesali kesalahannya. Rasa bersalah semakin menyelimuti perasaannya. Pantas saja sikap lelaki itu berubah, ternyata dirinya belum bisa menjadi istri yang baik.
"Yasudah, nanti Oma suruh Bibik saja nganterin makan buat kamu ya."
Khanza hanya mengangguk. Tak banyak yang mereka bicarakan, sepertinya mood wanita hamil itu benar-benar sedang buruk, bahkan untuk bicara dengan siapapun rasanya enggan sekali.
"Yaudah, ayo sekarang istirahat kembali jika masih pusing." Oma membantu cucunya untuk memperbaiki bantalnya dan menyelimuti, tak lupa meninggalkan jejak sayang pada kedua pipi wanita itu.
Setelah Oma keluar kamar, Khanza segera menghubungi Yusuf. Wanita itu ingin meminta maaf dan mengingatkan agar jangan telat makan.
"Angkat, Mas!" seru wanita itu tak sabar menunggu panggilannya di jawab. Namun, sudah berulang kali masih tak ada jawaban. Akhirnya Khanza memilih untuk mengirim pesan.
Setelah mengirim pesan Khanza masih termenung diatas ranjang. Tatapannya tak lepas dari benda pipih yang selalu ia pegang. Berharap vibrasi ponselnya memberitahu bahwa ada balasan panggilan atau pesan masuk dari Pria yang sangat dicintainya.
Namun, sudah cukup lama wanita itu menantikan tetapi tidak ada pesan maupun panggilan yang masuk membuat hatinya semakin melow. Entah berapa lama ia menghabiskan waktu untuk menangisi Pria itu hingga matanya merasa ngantuk.
Khanza terlelap dengan ponsel yang masih berada dalam genggaman. Berharap saat bangun sudah ada pesan dari sang suami.
Entah berapa lama wanita itu tertidur sehingga tak menyadari Bibik mengantarkan makanan untuknya. Khanza terjaga dengan hari sudah hampir gelap.
Perlahan wanita itu bangkit dari tempat tidur, ia segera memeriksa ponselnya berharap sudah ada pesan masuk dari suaminya, tetapi harap tak menjadi nyata. Khanza kembali menangis dengan menekuk kedua lutut menyembunyikan wajahnya disana.
"Kenapa kamu tidak memberiku kabar apapun, Mas? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu sudah sampai dengan selamat? Apakah kamu begitu marah kepadaku? Hiks, Mas Yusuf aku kangen kamu, Mas...," lirih wanita itu dengan segala pertanyaan.
__ADS_1
"Aku juga kangen, Dek. Maka dari itu aku tidak bisa pergi meninggalkan kamu."
Suara itu membuat tangis Khanza berhenti, dengan perlahan ia mengangkat wajahnya. Apakah saat ini dia sedang bermimpi? Apakah yang ada dihadapannya ini nyata? Pria yang sedari tadi ia tangisi berdiri nyata dihadapannya. Terlihat Pria itu baru selesai mandi hanya menggunakan handuk melilit setengah tubuhnya.
"Mas Yusuf, ka-kamu?" tanya Khanza tak mampu meneruskan ucapannya.
"Udah puas nangisnya? Masih ingin nangis? Atau ingin marah dulu," ujar Yusuf tersenyum lembut sembari duduk disamping wanita cengeng itu.
Khanza tak mampu untuk bicara apapun, ia segera masuk kedalam pelukan lelaki itu. Tangisnya pecah dan memeluk begitu erat seakan tak ingin lagi berpisah. "Mas, maafkan Adek, kamu pasti marah dan kecewa. Jangan berubah, Mas. Hiks..."
Yusuf membalas pelukan sang istri tak kalah Mesra. Berulang kali ia mengecup puncak kepala wanita hamil itu. Mana mungkin dia bisa marah atau berubah.
"Aku tidak pernah berubah, Dek, sampai kapanpun aku akan tetap menyayangi kamu sepenuh hatiku. Mas minta maaf ya, Mas tahu kamu pasti menunggu kalimat ini 'kan? Iya, Mas ngaku salah karena sudah bicara dengan nada tidak enak. Udah, Adek jangan sedih lagi ya. Seharusnya hari ini kamu bahagia, karena ini hari spesial kamu," jelas Yusuf yang membuat Khanza melerai pelukannya.
"Maksud kamu, Mas?" tanya Khanza sembari mengingat tanggal berapa saat ini.
Yusuf tersenyum gemas melihat tingkah istrinya yang mendadak lupa oleh hari ulangtahunnya.
"Barakallah fii umrik istriku Sayang. Terimakasih telah sudi mendampingiku yang masih berproses ini. Bersamamu adalah anugerah terbesar yang pernah aku miliki. Semoga kamu dan calon anak kita selalu sehat Wal Afiat. I love you more."
Yusuf mengambil sebuah kotak kecil yang ada di laci nakas. Lalu menyerahkan kotak beludru itu pada Khanza. Wanita itu terpaku dan tak mampu bicara sepatah katapun. Air mata bahagia masih mengalir di kedua pipinya. Rupanya ini alasan kenapa lelakinya itu berubah seketika.
"Ya Allah, Mas. Hiks..." Khanza Kembali memeluk Pria itu. "Kamu benar-benar sukses membuat hatiku nanonano, Mas! Ini benar-benar kejutan yang luar biasa. Terimakasih banyak. Aku sangat bahagia menjadi istri kamu."
"Hahaha... Maaf ya, Sayang. Tapi ada lagi kejutan yang luar biasa dari ini. Pasti kamu akan bahagia mendengarnya," ujar Yusuf sembari membaringkan tubuh istrinya dan mengecup bibirnya.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰