Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Jujur


__ADS_3

Yusuf masih ingin meraih tangan Khanza, tetapi wanita itu selalu menghindar dan mengintrupsi.


"Jangan mendekat, Mas!" Ujar Khanza dengan mata berkaca-kaca. Dia bangun dari tempat duduknya dan segera berjalan ingin membuka handle pintu, namun Yusuf secepatnya mendekap dari belakang.


"Dek, aku mohon jangan membenciku. Silahkan kamu marah dan memaki sesuka hatimu. Tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


Yusuf memeluk tubuh Khanza semakin erat, wajahnya di tenggelamkan di punggung istri cengengnya itu. Khanza semakin menangis tergugu. Hatinya sakit karena merasa telah dibohongi.


"Lepaskan, Mas! menjauh dariku!" Intrupsinya dengan suara sedikit meninggi.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu!" Yusuf masih menguatkan pelukannya


"Lepaskan aku Mas Yusuf! Buang semua ucapanmu yang manis tetapi menyimpan banyak racun itu! Aku tidak akan pernah mempercayainya lagi!"


"Terimakasih telah berpura-pura menyayangi aku, dan menemani hari-hariku kemaren, walau semuanya palsu. Dan terimakasih juga telah membuatku merasa dicintai. Maaf jika kemaren aku memaksamu untuk selalu memberiku kabar, Mas. Tapi, percayalah semua karena aku takut kehilangan dan aku tulus mencintaimu. Tetapi, sekarang aku baru menyadari bahwa diriku bukanlah wanita yang kamu harapkan."


Yusuf melepaskan pelukannya, dia memutar tubuh Khanza agar menghadap kepadanya.


"Dek, katakan sekali lagi, bahwa kamu mencintai aku!"


"Ya, kemaren-kemaren aku sangat mengagumi dan mencintai kamu, tetapi setelah aku mengetahui yang sebenarnya, maka rasa cinta itu menguap seakan tak bersisa."


"Dek, jangan bicara seperti itu! Apa yang kamu tahu tentang diriku?"


"Kamu seorang lelaki yang tidak pernah cukup dengan mempunyai satu atau dua istri!"


"Astaghfirullah, apa maksud kamu Dek? Aku benar-benar tidak tahu maksud kamu." Yusuf masih berusaha menanyakan ucapan Khanza yang sama sekali tidak tahu arahnya kemana.


"Aku tahu, kamu mempunyai wanita lain selain aku dan Mbak Tiara, Mas. Dan kamu itu seorang lelaki pembohong. Kamu menghilang tanpa kabar, dan kamu tega membiarkan aku sendiri saat periksa kandungan, tetapi kamu menemani wanita lain ke RS."


Khanza sudah tak bisa menahan emosi yang bercampur dengan tangis. Wanita itu bersandar pada daun pintu, tangisnya kembali pecah.

__ADS_1


"Kamu jahat, Mas, aku tidak berharap apapun darimu, aku hanya butuh perhatian sedikit saja darimu. Hiks..."


Yusuf menggusal rambutnya, tangannya yang ingin menjangkau Khanza, kembali dia urungkan. Pria itu menjadi serba salah, tatapannya begitu lekat pada sang istri yang kini sedang menangis dalam kekecewaan.


"Dek, jangan berpikir seperti itu. Kamu pasti sudah salah paham." Yusuf memberanikan diri untuk kembali mendekati Khanza. "Katakan, kapan kamu melihatku di RS dengan wanita lain? Apakah tadi Sore sekitar jam tiga?"


Khanza mendongakkan kepalanya untuk menatap mata tajam yang ada dihadapannya itu. Apa yang ditanyakan Yusuf memang benar adanya, tadi sore dia melihat Yusuf bersama wanita berhijab.


"I-iya. Aku melihat kamu dengan wanita lain, dan wanita itu..."


"Menggunakan hijab?" tanya Yusuf memotong pembicaraan Khanza.


Khanza kembali terpaku menatap wajah suaminya yang tampak tidak ada rasa takut untuk mengakuinya. Sebenarnya siapakah wanita itu?


"Siapa wanita itu, Mas? Aku melihat kamu menggandengnya begitu mesra?"


Yusuf menghela nafas dalam, sepertinya dia harus menjelaskan semuanya. Khanza harus tahu yang sebenarnya. Jikapun Khanza akan memilih berpisah setelah mengetahui yang sebenarnya, tidak mengapa, Yusuf pasrah, karena jika jodoh tidak akan kemana, mereka pasti akan dipersatukan kembali.


"Dek, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi apakah kamu mau berjanji?"


"Janji apa, Mas?" tanya Khanza, sembari menghapus air matanya. Wanita itu mencoba untuk tenang.


"Setelah aku mengatakan yang sebenarnya, berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku!"


"Aku tidak bisa berjanji jika ini menyangkut masalah wanita lain, selain Mbak Tiara."


"Dek, tidak ada wanita lain, selain kamu dan Tiara dalam hatiku. Bagaimana? Apakah kamu mau berjanji?" tanya Yusuf kembali memastikan pada sang istri.


Khanza Kembali dibuat bingung oleh suaminya, sebenarnya ada apa? Jika benar bukan masalah wanita lain, maka dia akan menyanggupi perjanjian itu.


Perlahan Khanza mengangguk, matanya masih berkaca-kaca. Yusuf mengucapkan syukur dalam hati. Tangan Pria itu terulur menghapus air mata istrinya yang kembali jatuh.

__ADS_1


"Ayo, Sayang, kita duduk. Aku akan menjelaskan semuanya."


Khanza hanya mengangguk dan mengikuti langkah Yusuf yang membawanya untuk duduk di sofa. Yusuf kembali memasok oksigen sepenuh dada.


"Dek, wanita yang kamu lihat di RS bersamaku, adalah Tiara. Sebenarnya, aku tidak bertugas keluar kota, tetapi, aku keluar negeri mendampingi Tiara menjalani pengobatan. Dan kami baru pulang kemaren, dan sore tadi aku menemani Tiara untuk kontrol sambil memberikan surat pemulangan pasien pada RS perujuk."


"Mbak Tiara? Mbak sakit apa, Mas?" tanya Khanza begitu terkejut


"Leukemia. Itulah sebenarnya alasan kenapa aku belum berani untuk jujur dengannya, dan sekarang Tiara kembali kritis di RS. Padahal tadi sore dia baik-baik saja."


Yusuf Kembali dilanda rasa takut dan cemas saat mengingat kondisi Tiara saat ini. Khanza tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya.


"Mas, kenapa kamu tidak jujur padaku tentang penyakit Mbak Tiara?"


"Aku ingin sekali jujur, Dek, tapi aku takut kamu akan mengalah dan meninggalkan aku. Aku tidak bisa kehilangan kamu dan calon anak kita. Mungkin aku terlihat sebagai seorang lelaki yang egois, tetapi semua sudah terjadi, dan aku tidak bisa menganggap pernikahan ini sebagai permainan yang dengan mudah aku melepaskan dirimu, karena sekarang kamu sudah menjadi istriku, maka aku akan tetap mempertahankan kamu dan Tiara."


"Tapi, aku merasa sebagai wanita yang jahat, Mas, karena telah mengganggu konsentrasi kamu dalam merawat Mbak Tiara, maafkan aku."


Khanza kembali menangis, dia benar-benar merasa bersalah telah berada di dalam rumah tangga Yusuf dan Tiara, ditambah saat ini Tiara sedang sakit keras, seharusnya dia mendapatkan perhatian penuh oleh sang suami. Namun, dengan kehadirannya membuat Yusuf harus membagi waktu.


Yusuf menggengam tangan Khanza, dan menatap wajahnya dengan dalam.


"Dek, jangan merasa bersalah dalam hal ini, kamu tidak salah sedikitpun. Lihat aku, Dek." Yusuf menangkup kedua pipi Khanza sehingga netra mereka bertemu.


"Mungkin aku bukanlah cinta sejatimu, tetapi terimalah takdir yang telah Allah gariskan saat ini. Selagi hatimu nyaman bersamaku, tetaplah bertahan walau apapun yang terjadi."


Yusuf membawa Khanza kedalam pelukannya, sehingga tangis wanita itu semakin pecah. Jujur hatinya begitu nyaman saat berada dalam dekapan sang suami, disisi lain dia merasa sangat bersalah karena Tiara sedang sakit keras, tetapi saat ini Yusuf berada bersamanya.


Bersambung...


Nb. Maaf untuk raeder yang tidak suka dengan sikap Yusuf, sebenarnya Yusuf bukan lelaki yang suka bermain hati, tetapi dia juga dilema karena tidak mudah berada diposisinya. dan maaf juga jika author tak bisa merubah alur yang telah dirancang sedemikian rupa, karena kalau tidak, maka tidak sesuai dengan judulnya πŸ™ Dan terimakasih banyak untuk raeder yang selalu kasih dukungan, maaf author tidak bisa balas satu persatu. Semoga raeder semua sehat selalu πŸ™πŸ€—πŸ₯°

__ADS_1


Happy reading πŸ₯°


__ADS_2