
"Mas, apakah benar Arum sedang hamil ya, Arum juga merasa aneh sih, akhir-akhir ini memang agak suka agak membingungkan," ucap wanita itu
"Yaudah, kalau begitu biarkan Mas mandi dulu ya. Habis itu nanti Mas beliin kamu tespeck, biar lebih yakin benar atau tidaknya kamu sedang hamil," ucap Khen pada sang istri yang masih glendotan di lengannya.
"Iya, tapi Arum ikut ya temani kamu mandi biar nggak lama mandinya," balas wanita itu yang membuat Khen tersenyum sumringah.
"Oke, siapa takut. Ayo buka baju kamu sekarang," titah Pria itu yang membuat Arum terjingkat.
"Buka baju?"
"Iya, Sayang, kan katanya ingin nemani aku mandi," ujar Khen masih tersenyum senang. Sudah berangan-angan akan bermain air bersama dengan wanita kesayangannya itu.
"Iya, Arum Nemani kamu mandi, terus kenapa harus buka baju. Arum hanya ingin duduk memperhatikan kamu mandi, Mas," jelas wanita itu membuat senyum Khen surut seketika.
"Kamu serius hanya mantengein aku mandi saja? Serius nggak akan tergoda?"
"Ya, nggaklah, lagian udah eneg lihat itu mulu, bentuknya juga tidak akan berubah. Hehe..." Wanita itu cengengesan.
"Ya ampun nakal banget, kamu pengen lihat model lain, gitu?" tanya Khen gemas.
"Hahaha... Santai dong Paksu. Ya kali kamu izinkan Arum untuk lihat model lain, hehe canda Mas!" seru wanita itu tersenyum konyol saat Khen menyorot dengan tajam.
"Kamu nakal sekarang ya, harus dihukum atas kelancangan bibir ini yang berucap, otak yang pasti membayangkan milik orang lain," jelas Khen menegakkan tubuhnya, lalu menghimpit tubuh Arum sehingga wanita itu sudah berada dibawah Kungkungannya.
"Ih, apaan kamu mikirnya begitu, Mas. Ya enggaklah! Mana pernah Arum membayangkan milik orang lain. Otak Arum sudah terkontaminasi oleh punya kamu seorang," ucap wanita itu membuat Khen semakin gemas.
"Nggak mau tahu, yang jelas kamu harus dihukum karena sudah berani membayangkan milik orang lain!"
"Eh, Mas, ini curang... Emmh!"
Khen sudah terlebih dahulu membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya. Berawal Arum memberontak, tetapi lama kelamaan tubuhnya mulai terasa ringan dan terbang dengan buaian gelombang asmara yang diberikan oleh Pria itu.
Khen tersenyum sumringah saat melihat sang istri tepar tak berdaya. Berulang kali Pria itu menghujani wajah cantik yang tampak sangat kelelahan.
__ADS_1
"Awas, Mas. Kamu jahat banget, dari tadi Arum bilang udah lapar, malah dikerjain seperti ini," rutu wanita menahan wajah suaminya yang hendak memberinya kecupan sayang.
"Iya, iya. Aku minta maaf, Sayang, habisnya kamu begitu memabukkan. Yaudah, tunggu bentar ya, aku mandi lima menit aja. Anak Papa sabar ya, Papa mandi tidak akan lama," ujar Khen mengecup perut datar istrinya. Tidak tahu benar atau tidak didalam sana sudah ada garis keturunannya.
Arum memejamkan mata, rasanya begitu lemah tak berdaya dibuat oleh Pria mesum itu. Tapi tak bisa dipungkiri pesona Pria itu juga membuatnya mabuk kepayang. Ah, sama saja suami istri sama-sama mesum.
Seperti perkataan Pria itu. Lima menit ia sudah keluar dari kamar mandi. setelah mengenakan pakaian, Khen segera keluar menuju dapur. Pria itu berpapasan dengan Bunda.
"Kamu baru selesai mandi? Mana istrimu, bukankah dari tadi dia ingin makan bersama kamu?" tanya Bunda memberondong.
"Ah, i-iya, Bun, tadi masih keringatan jadi nunggu dulu. Ini Abang mau ambil makanan buat Arum," jawab Khen sedikit gugup saat ditatap oleh ibu Kapolda.
"Kamu ini gimana sih? Kenapa tidak dari tadi kasih istrimu makan, atau minta Bibik anterin makanan. Jadi suami nggak perhatian banget, contoh Papa kamu tuh, selalu perhatian saat Bunda sakit," ujar wanita itu kembali mengomeli Putranya yang dingin itu.
"Ish, Bunda apaan sih. Tadi itu Abang juga berusaha memberi segala perhatian padanya, karena Arum lagi mode manja, ya jadinya Abang sayang-sayang dia dulu. Terus...."
"Apa?" tanya Bunda menyorot tajam.
"Hehe... Nggak ada apa-apa, Bun, yaudah Abang ambil makan dulu ya, Bun, kasihan calon cucu Bunda udah lapar," ujar Khen membuat mata Bunda melebar dan mulut ternganga.
"Benar atau tidaknya Abang belum tahu, Bun, tapi dari sikap dan keterangan Arum, kayaknya sih iya."
"Yaudah sana kamu ambilkan makan buat Arumi, Bunda mau bilang sama Ibu kamu dulu."
"Eh, Bun, nanti saja, soalnya aku belum bawa Arumi periksa ke dokter," cegah Khen saat sang Bunda ingin memberitahukan berita yang belum benar itu pada besannya.
"Tapi Bunda yakin istri kamu itu pasti sedang hamil. Udah, nanti habis ngurusin istri kamu, segera beli tespeck ke apotik. Duh, Bunda udah nggak sabar ingin nambah cucu lagi, biar rame ini rumah. Dan semoga juga Abangmu segera memberikan kabar bahagia yang sama," ucap Bunda berharap Aisyah juga sudah hamil.
"Ya jelas akulah yang paling dulu memberi kabar gembira itu pada Bunda. Karena yang lebih top itu adalah Khenzi S. Bukan Yanju S!" ujar Pria itu menyombongkan diri pada Bundanya.
"Hussh! Kamu nih, kalau ngomong suka sembarangan. Kamu dan Abangmu itu sama-sama anak Bunda. Tentu saja akan memiliki kemampuan yang sama dalam cetak gol."
"Hahaha... Bunda bisa aja."
__ADS_1
"Udah sana! Kasih istrimu makan."
"Mas!" panggil Arum dari balik pintu kamar.
"Ah, ya, ya Sayang! sebentar aku ambilkan kamu makan."
Bunda hanya tersenyum melihat tingkah laku anak keduanya. Wanita baya itu segera menuju kamar Kakak besannya.
"Kenap lama sekali, Mas! Kamu ini gimana sih! Niat nggak kasih Arum makan?" tanya wanita itu sembari merengek manja.
"Iya, maaf, Sayang, tadi Bunda ngajakin aku ngobrol. Dan banyak interogasinya lagi!" ucap Pria itu mencari aman dengan membawa nama Bunda.
"Hah! Bunda interogasi apa?" tanya Arum penasaran.
"Bukan apa-apa. Udah ayo duduk. Kita makan sekarang ya." Khen menyerahkan piring yang berisikan makanan itu pada Arumi.
"Makan, Dek, katanya lapar," kata Khen yang melihat sang istri tak menerima piring itu.
"Kenapa, Sayang? Kamu nggak suka dengan makanannya?" tanya si kaku yang belum juga peka dengan keinginan sang istri.
"Suka, Mas, tapi suapin," jawab Arum datar.
"Khen menghela nafas dalam. Pria itu benar-benar harus menekan rasa sabar. Ternyata dirinya masih jauh dari kata Pria romantis dan perhatian.
"Baiklah, Sayang." Khen menyuapi wanita manja, yaitu calon ibu dari anak-anaknya. "Enak, Sayang?" tanya Khen dengan lembut dan mengecup kening sang istri.
"Hmm, enak Mas, kamu nggak makan sekalian?" tanya Arum sembari mengunyah makanan yang rasanya sangat enak.
"Nanti saja, kamu makan dulu, setelah itu baru aku makan, yang penting istri dan calon anakku sudah kenyang."
Ekstra part 3
Nb. Jangan lupa mampir di karya baru author ya, klik profil author ππ€
__ADS_1
Happy reading π₯°