Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Berpisah lagi


__ADS_3

Khanza sudah terlelap setelah mendapatkan serangan dari sang suami. Wanita itu tidur begitu nyaman dalam dekapan ayah dari anaknya itu.


Yusuf membuka mata, merasa lengannya kebas karena menjadi bantal oleh istrinya. Perlahan Pria itu memindahkan kepala Khanza diatas bantal. Yusuf mengamati wajah cantik istrinya. Seketika bayangan Tiara melintas dalam ingatannya. Ah, ternyata cintanya memang tidak pernah mati untuk wanita yang sudah menjadi almarhumah itu.


Yusuf mengecup kening Khanza, dan segera menuju kamar mandi. Kebetulan sudah masuk waktu shalat ashar. Setelah mandi, ia segera melaksanakan ibadah empat rakaat, dan setelahnya merampalkan Do'a untuk sang istri. Hanya mengirimkan Do'a agar rasa rindunya terobati pada wanita itu.


"Ya Allah, ya Rabb. Ampunilah dan rahmatilah Istriku. Muliakanlah tempat tinggalnya, bersihkan dirinya dari segala dosa, masukkanlah dia kedalam surgaMu. Dan lindungilah dia dari siksa kubur dan siksa api neraka... Ya Allah, aku juga memohon perlindunganMu untuk istriku yang kini masih bersamaku. Jagalah janin yang ada dirahimnya, sehatkan mereka. Jika aku tidak bisa menjaganya selalu, maka aku percayakan kepadaMu, karena sebaik-baiknya penjagaan, adalah perlindunganMu. Berilah kemudahan dan keselamatan saat dia melahirkan nanti. Aamiin ya Rabbal alamin."


Khanza yang mendengar suara lirih suaminya saat mendo'akan kedua istrinya, tak terasa air mata wanita itu jatuh. Begitu lembut dan penuh kasih sayang. Khanza begitu bersyukur memiliki suami sepertinya. Akhirnya keinginannya untuk mempunyai suami sebaik sang Papa terwujud. Berharap rumah tangganya kelak akan selalu harmonis seperti rumah tangga Bunda dan Papanya.


"Sudah bangun, Sayang? Ayo mandi, habis itu sholat," perintah Yusuf sembari membereskan peralatan ibadahnya.


Khanza segera duduk sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Yusuf segera mengambilkan handuk yang tersampir tak jauh darinya.


"Kenapa masih malu, hmm?" Yusuf mengecup kening dan bibir wanita itu.


Khanza hanya tersenyum malu, dan segera melilit tubuhnya dengan handuk. "Awas, Mas. Jangan gangguin Adek!" Oceh wanita itu menahan wajah Yusuf yang masih menghujaninya dengan kecupan.


Pria itu hanya terkekeh, dan membiarkan sang istri lepas darinya dan segera menuju kamar mandi. Rasanya punya kebiasaan tersendiri saat menggodanya, wajah malu wanita itu membuat Yusuf semakin gemas.


Selesai mandi dan sholat, Khanza dan Yusuf turun kebawah. Ternyata Oma dari tadi menggedor pintu kamar, tetapi tak ada sahutan. Mungkin mereka tidur begitu nyenyak setelah menyalurkan sesuatu yang selama ini mereka tahan, sehingga membuat tubuh mereka begitu nyaman dan damai.


"Maaf ya, Oma, Opa. Mungkin kami terlalu nyaman tidurnya," ujar Yusuf pada kedua kakek dan nenek dari istrinya.


"Iya tidak apa-apa, ayo sekarang bawa istrimu makan. Kalian sudah melewatkan makan siang," ujar Opa menimpali.


Yusuf dan Khanza hanya mengangguk patuh. Mereka segera menuju meja makan. Khanza segera mengisi piring suaminya, setelah itu baru mengisi piringnya sendiri. Mereka makan dengan tenang.


Setelah makan, pasangan itu ikut bergabung dengan Oma dan Opa. Mereka ngobrol banyak dan membahas tentang Resepsi pernikahan yang akan diadakan setelah bayi mereka lahir.


***


Jam empat pagi Yusuf sudah rapi dan bersiap untuk berangkat kembali ke kota Padang. Khanza membawa secangkir kopi untuk suami.

__ADS_1


"Minum dulu, Mas," ujar Khanza meletakkan kopi itu diatas meja yang ada di kamar itu.


"Ya, terimakasih, Sayang." Yusuf segera menyesap kopi hitam itu sebelum dia meninggalkan kediaman sang istri.


Khanza duduk disamping Yusuf. Ia segera memeluk tubuh tegap itu. Terasa sangat berat untuk berpisah. Tetapi demi tugas, Khanza harus ikhlas menjalani, sudah resikonya menjadi istri seorang abdi negara.


Yusuf mendekap wanita itu begitu dalam, sembari mengecup puncak kepalanya berulang kali. "Adek jangan sedih ya, Mas akan selalu mengabarimu. Setelah selesai tugas, nanti Mas akan datang lagi kesini." Pria itu memberi penghiburan pada istrinya yang sedang bersedih hati.


"Janji kabari Adek selalu ya, Mas." Khanza menangkup kedua pipi suaminya, dan melabuhkan kecupan di bibirnya.


Yusuf tersenyum melihat tingkah istrinya, baru kali ini wanita itu memberinya kecupan terlebih dahulu. Yusuf membalas kecupan sang istri dan melu mat dengan lembut.


"Mas pergi ya, Sayang, jaga diri baik-baik. Jangan lupa beri kabar jika ada sesuatu." Pesan Pria itu pada istrinya.


"Iya, kamu hati-hati dalam bertugas ya, Mas. Kami disini akan selalu merindukan kamu." Khanza mengecup tangan sang suami.


Khanza mengantarkan Yusuf hingga depan rumah. Pria itu menggandeng istrinya saat menuruni anak tangga.


"Jam berapa take off pesawatnya, Mas?" tanya Khanza sembari menuruni anak tangga.


"Terus kamu sholat gimana?"


"Sholat di pesawat saja, Sayang."


Khanza hanya mengangguk paham. Saat mereka tiba dibawah, ternyata Opa dan Oma sudah menunggu mereka.


"Sudah mau pergi?" tanya Opa.


"Ah, iya Opa. Aku titip Adek ya, Oma. Aku pamit dulu." Yusuf menyalami tangan Opa dan Oma.


"Iya, kamu hati-hati dalam bertugas ya. Jangan pikirkan. Oma dan Opa akan menjaga istrimu," Mereka ikut mengantarkan Yusuf masuk kedalam mobil, hingga kendaraan roda empat itu menghilang meninggalkan kediaman keluarga Malik.


***

__ADS_1


Jika Khanza dan Yusuf sedang menikmati masa LDR-an. Lain dengan halnya Khenzi dan Arumi yang sedang mengalami kesialan.


"Ayo panggil kedua orangtua kalian datang kesini!" Ujar ibu kost yang mengintrogasi pasangan itu.


"Tapi, Bu, kami berani bersumpah bahwa kami tidak melakukan apapun!" Ujar Arumi memohon pada Ibu kost.


"Tidak percaya! Mana ada pasangan tidur satu kamar tidak melakukan apa-apa!" Ujar salah seorang wanita yang kamarnya berhadapan dengan Arumi.


"Tapi, aku bisa jelaskan."


"Alah, tidak percaya. Udah panggil saja orangtua mereka, Bu. Seperti aturan yang ibu buat. Siapa yang berani membawa laki-laki masuk ke kost ini, maka mereka harus dinikahkan!" Seruan mereka bersama-sama pada ibu kost yang seorang Hajah.


Maka mau tidak mau, Arumi dan Khenzi menelpon orangtuanya. Ya, Arumi adalah putri dari Mbak Santi. Art yang bekerja bersama Lyra dan Arman sudah sejak lama.


Flashback On


Sepulang dari RS, Arumi menyusuri jalanan untuk kembali ke kost-an, Arumi sengaja ngekos dekat dengan RS tempat ia bekerja, tetapi jalanan itu melewati pantai yang ada di kota Padang.


Tak sengaja netranya melihat seorang Pria yang sedang terduduk bersimpuh di hamparan pasir yang membentang luas. Pria itu meracau tak jelas.


Arumi yang mengenali suara Pria itu, ia segera menghampiri. Terdengar ucapannya yang meluahkan segala apa yang ia pendam.


"Apa kurang aku Yola? Apa?! Kenapa kamu tega mengkhianati aku? Apapun aku lakukan untuk dirimu! Hhaaaahhh!!!" Pria itu teriak sekuat tenaga.


"Mas Khenzi! Mas, apa yang terjadi?" tanya Arumi.


Didalam kegelapan malam. Pria itu menatap wajah wanita yang ada dihadapannya.


"Hahaha... Untuk apa kamu kesini? Pergi kamu!" Khenzi mendorong tubuh Arumi untuk menjauh.


Bersambung....


Nb. Karena Khanza dan Yusuf sudah bisa dikatakan bahagia, maka author akan membahas kisah Khenzi juga ya. Karena Yusuf dan Khanza sudah tak ada konflik lagi🙏🤗 Karena mereka kembar maka kisah mereka akan author jadikan satu saja di novel ini.

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2