Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Kado spesial


__ADS_3

Arum menatap tak percaya pada Pria yang ada disampingnya. Kesambet dimana nih orang? Kenapa dia berlagak sok akrab pula.


Merasa tidak enak, Dr Radit mengakhiri telponnya. Arum juga merasa tidak nyaman ada yang mulia kaku disampingnya.


"Kenapa tidak lanjut ngobrolnya?" tanya Khen berlagak tak berdosa.


"Mungkin Dr Radit ada keperluan," jawab Arum.


"Apa karena aku ada disini, jadinya kalian tidak bisa bebas untuk bicara?" tanya Khen menyelidiki.


"Apaan sih? Lagian Mas sendiri nggak ada kerjaan ya, kenapa harus mencampuri urusan orang?" balas Arum sembari menatap malas.


"Jadi benar kamu memang menyukai Dokter itu? Hng! Kamu bilang ingin kita mencoba untuk saling dekat, tetapi ini apa?" tanya Khen, netranya menyorot tajam.


"Ta-tapi, Arum dan Dr Radit memang tidak ada hubungan apa-apa, Arum hanya tidak sampai hati melihat Rafif sedih, hanya itu!" tandas Arumi.


Khenzi menatap Arumi begitu dalam, ada perasaan aneh menjalar dalam hatinya. Pria dua puluh enam tahun itu menghela nafas dalam. "Kamu sadar nggak? Perhatian kamu pada Rafif memberi harapan untuk ayahnya," jelas Khen.


Arumi terdiam mendengar ucapan Pria itu. Apakah benar yang dikatakan olehnya? tapi kenapa rasanya dia tidak sampai hati pada anak itu. Namun, disisi lain apa yang dikatakan oleh Khen memang benar, dengan ada kedekatannya dan Rafif akan memberi Dr Radit harapan.


"Pikirkan ucapanku!" tegas Khenzi beranjak meninggalkan Arumi sendiri disana.


Arumi menghela nafas panjang, sepertinya dia harus bisa menjaga jarak pada Dokter itu. Tapi bagaimana dengan janjinya pada Rafif? Ah entahlah, Arum tak ingin berpikir lagi. Wanita itu ikut bergabung dengan yang lainnya.


Malam semakin larut, semua keluarga sudah meninggalkan kediaman rumah utama itu. Yusuf dan Khanza Kembali ke kamar mereka.


Khanza melihat dan merasa-rasakan satu persatu kado dari keluarganya belum minat untuk membuka.


"Nggak dibuka, Dek?" tanya Yusuf yang baru keluar dari kamar mandi.


"Besok aja deh, Mas," jawab Khanza sembari beranjak mengambil pakaian ganti untuk suaminya.


"Kado dari aku kamu nggak pengen lihat?" tanya Yusuf, ia mendekati wanita itu yang sedang memilih setelan tidur untuknya.


"Oh, iya, aku lupa. Nih pakaian ganti kamu, Mas. Adek pengen buka hadiah dari kamu dulu," ujar Khanza tersenyum bahagia sembari mencuri kecupan di pipi suaminya.

__ADS_1


Yusuf hanya tersenyum melihat melihat tingkah istrinya. Wanita itu tampak begitu bahagia malam ini.


Khanza membuka kotak beludru yang diberikan suaminya sore tadi. Seketika mata wanita itu berbinar melihat sebuah kalung dengan model yang sangat dia sukai.


"Ya Allah, bagus banget, Mas. Adek suka sekali!" pekik Khanza kegirangan.


"Adek suka?" tanya Yusuf mendekati istrinya dan memeluk dari belakang.


"Suka banget, Mas. Terimakasih ya?" Khanza menghadap pada suaminya dan memberikan rantai emas putih itu, meminta untuk dipakaikan.


"Alhamdulillah jika Adek suka. Maaf ya, jangan dilihat dari harganya yang tidak seberapa, tetapi lihatlah usaha dan ketulusanku," ujar Pria itu, merasa belum mampu untuk memberikan yang lebih mahal dari itu.


"Ya Allah, Mas, aku sangat bahagia mendapatkan hadiah spesial dari kamu. Aku tidak pernah melihat harganya, aku sangat menghargai dan mendambakan segala pemberian kamu padaku. Sekali lagi terimakasih ya, suamiku tersayang."


Khanza melihat rantai emas itu melingkar di leher jenjangnya. Tampak begitu cantik. Ia memutar tubuh menghadap suaminya Kembali mengucapkan terima kasih dan memeluk Pria itu.


Yusuf membalas pelukan istrinya dengan mesra dan menghadiahi kecupan seluruh wajahnya, setelah itu Pria itu mengambil koper bawaannya tadi.


"Dek, pakaian aku simpan lagi kedalam lemari," ujar Yusuf pada istrinya.


"Kenapa, Mas? Bukankah besok kamu mau balik? Biarkan saja disana, jadi besok nggak perlu mengemas lagi," jelas Khanza. Wanita itu masih mengamati benda berharga itu dihadapan cermin hiasnya.


Khanza berjalan menyongsong suaminya yang berdiri didepan lemari pakaian.


"Kok kamu gitu ngomongnya, Mas? Kalau kamu tanya keinginan aku, maka aku sangat ingin kamu selalu ada bersamaku disini. Tapi aku harus bisa memahami pekerjaan kamu yang seorang polisi. Aku harus kuat menjalani hubungan LDR-an ini. Aku harus banyak belajar dari Bunda," tutur Khanza dengan wajah sendu.


"Tapi bagaimana jika aku yang tidak kuat berpisah darimu?" tanya Yusuf yang membuat Khanza tidak mengerti.


"Maksud kamu?" tanya Khanza penasaran dengan kalimat suaminya


"Aku ingin tetap disini membersamai kamu," jawab Yusuf dengan serius.


Khanza masih termangu menatap suaminya, otaknya tumpul untuk menerjemahkan maksud kata-kata Pria itu yang selalu bicara suka sekali membuat dirinya penasaran.


"Mas, bisa nggak kamu itu kalau bicara langsung pada intinya? Aku selalu penasaran dengan kalimat kamu," jelas Khanza sedikit cemberut.

__ADS_1


"Hahaha... Aku suka bila kamu selalu penasaran, Dek, aku begitu gemas melihat wajah kamu, rasanya pengen gigit saat ini juga."


"Ih, apaan sih kamu, Mas! Adek serius. Bisa jelasin kata-kata kamu tadi nggak?" Rengek wanita itu.


"Bisa, tapi ada syaratnya."


"Syarat apa?"


"Pijitin aku dulu. Nanti sambil mijit aku jelasin," ujar Pria itu yang membuat Khanza semakin gemas.


"Oke, ayo duduk sini, Sayang." Khanza meraih tangan suaminya dan menduduki dibibir ranjang. Dengan semangat wanita itu memijit punggung dan pundaknya. "Sekarang cerita, Mas!" tuntut Khanza.


"Hahaha... Baiklah, Sayang. Mulai lusa aku sudah bertugas di Polres Medan," ujar Yusuf.


"Apa? Ka-kamu serius, Mas?" tanya Khanza begitu terkejut dan tak percaya.


"Iya, tapi lanjut dulu dong mijitnya."


"Ya Allah, kamu benar-benar membuat aku penasaran, Mas. Terus bagaimana ceritanya?" tanya Khanza sangat ingin tahu.


"Ya, sebelum aku berangkat tugas kepulau, aku mengajukan surat permohonan pindah tugas, dan Alhamdulillah saat itu aku mendapat telpon bahwa permohonan pindah tugasku disetujui oleh Kasatker, untuk memutasi aku ke Polres kota Medan. Dan karena aku belum kenal dengan atasanku yang disini, maka aku minta bantuan Papa. Karena aku tahu siapa rasanya yang tidak kenal dengan Jendral Arman Sanjaya.


"Sebenarnya aku sangat malu untuk meminta bantuan Papa, tetapi demi dirimu aku menghilangkan rasa maluku saat itu, agar aku dapat kemudahan dalam peroses pemindahan tugasku. Dan Alhamdulillah atas pertolongan Papa maka aku sudah resmi menjadi anggota Polres kota Medan," jelas Yusuf pada istrinya.


Khanza tak bisa bicara apa-apa. Bibirnya melengkung membentuk senyuman dan segera memeluk Pria itu dengan erat dari belakang.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak, Mas. Kamu benar-benar suamiku yang istimewa dalam hidupku. Kenapa kamu begitu memahami apa yang ada dalam hatiku. Love you more my husband," gumam wanita itu penuh kebahagiaan.


"Itu karena aku juga sangat mencintai kamu, Sayang, aku hanya ingin kamu bahagia. Alasanku kenapa ingin pindah tugas adalah, aku tidak ingin melewatkan masa-masa perkembangan bayi kita. Dan aku ingin ada disampingmu saat lahiran nanti."


"Ya Allah, terimakasih banyak buat kamu, Mas. Ini adalah kado yang paling spesial dari apapun. Tapi, bagaimana dengan Rizqi, Mas?" tanya Khanza tetiba ingat bayi mungil itu.


"Untuk saat ini biarkan dijaga oleh Mama Niken, karena permintaannya, Mama juga akan ikut membantu mengasuh bayi kesayanganku itu. Aku hanya tidak ingin egois, Dek, sebenarnya aku ingin membawa Rizqi tinggal bersama kita, tetapi, aku tidak ingin melihat Mama Niken sedih. Karena dia sudah kehilangan putrinya, sekarang harus kehilangan cucu semata wayangnya pula. Biarlah, untuk sementara waktu. Tetapi aku akan selalu mengunjunginya saat ada waktu libur," jelas Yusuf.


"Mas, sabar ya. Aku janji setelah aku melahirkan nanti. Jika kamu tidak mampu untuk berpisah dengan Rizqi, kita akan jemput dia dan membawanya tinggal bersama. Kita akan bujuk Mama Niken agar mau mengerti," jelas Khanza memberi penghiburan pada suaminya. Tampak wajah Pria itu begitu sendu dan sedih saat mengingat sang bayi.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2