Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Bertemu Abang


__ADS_3

Setelah berpamitan, pasangan halal itu meninggalkan kediaman orangtuanya. Seperti biasanya, agar tak menimbulkan kecurigaan, Yusuf menukar kendaraan mertuanya dengan kendaraan pribadinya.


Semua itu agar tak ada yang mengetahui bahwa Khanza anaknya sang jenderal. Dan tentu saja mereka sudah menggunakan masker untuk menutupi wajah masing-masing.


Diperjalanan, Khanza meminta Yusuf untuk berhenti di sebuah apotek.


"Mas, kita berhenti di apotek sebentar ya," ujar Khanza pada sang suami yang sedang fokus mengemudi.


"Mau beli apa, Dek?" tanya Yusuf menatap Khanza sekilas.


"Mau beli sesuatu, Mas."


"Apa namanya? Biar aku saja yang turun, kamu tunggu di mobil."


"Nggak bisa. Harus aku sendiri yang beli," ujar Khanza yang mendapat tatapan heran dari Yusuf.


"Emang privasi banget ya?" tanya Yusuf ingin tahu.


"Iya, nanti kamu temani aku saja dibelakang."


"Hmm, baiklah."


Yusuf melambatkan kendaraannya, matanya mengamati sepanjang perjalanan untuk mencari apotek.


Setelah menemui, Yusuf menepikan kendaraannya untuk masuk kedalam pekarangan toko obat dan kosmetik itu.


Khanza segera turun, dan di ikuti oleh Yusuf dari belakang. Yusuf hanya menunggu di luar, sementara Khanza sedang membeli sesuatu yang dia inginkan.


Tak berselang lama wanita itu sudah keluar dengan menenteng kantong plastik yang berisikan obat yang dia beli.


"Udah, Dek?"


"Udah, yuk."


Diperjalanan, Khanza mengeluarkan vitamin yang dia beli tadi. Wanita itu menyerahkan pada suaminya.


"Mas, ini buat kamu, harus rutin diminum, karena ini vitamin untuk daya tahan tubuh, dan stamina. Biar kamu tetap fit, aku tidak mau kamu sakit."


Yusuf menerima pemberian dari istrinya, ini kali pertama dia mendapat perhatian khusus dari wanita yang kini sudah mempunyai tempat dalam hatinya.

__ADS_1


"Jadi kamu hanya beli ini buat aku?" tanya Yusuf tidak percaya.


"Iya, beli vitamin ini harus pake resep dokter, kebetulan aku mempunyai resep dari RS tempat aku bekerja kemarin, ya jadi aku gunakan aja, sayang kan, kalau tidak digunakan. Hehe..."


"Nakal kamu ya, Dek. Curang itu namanya," ujar Yusuf tersenyum gemas sembari menggusal rambut istrinya. "Tapi, terimakasih banyak ya Sayang, terimakasih atas perhatian kamu."


"Aku hanya bisa kasih itu buat kamu, Mas, andai saja kamu mau terima bantuan bentuk materi dariku, aku pasti sangat bahagia."


"Tidak!"


"Iya, aku sudah tahu. Emang kenapa sih, kamu tidak mau terima bantuan aku? Padahal aku hanya ingin meringankan beban kamu, Mas," ujar Khanza sedikit cemberut.


"Sayang, aku tahu kamu tulus bantuin aku, tetapi aku masih mampu, Dek. Percayalah! Aku sangat menghargai segala niat baikmu."


Khanza hanya menatap sendu pada Yusuf yang masih fokus mengemudi. Wanita itu mengamati wajah suaminya hingga puas, saat disana nanti, dia pasti sangat merindukan ayah dari anak yang ada dalam kandungannya.


"Jangan menatapku begitu, Dek, nanti kamu tidak jadi pergi," ujar Yusuf menggoda istrinya.


"Andai saja Hubungan kita ini tidak perlu disembunyikan, aku pasti tidak akan pergi kemana-mana, tak peduli statusku hanya istri kedua, yang penting aku bisa selalu bersamamu," wanita itu sedih, dan matanya mulai berembun.


Yusuf menepikan kendaraannya yang sudah masuk kedalam bandara. Pria itu menatap istrinya yang sudah menitikkan air mata.


"Iya, Mas, aku tahu dengan keadaan yang sulit ini. insyaAllah aku akan selalu sabar dan ikhlas. Meskipun kita dipisahkan oleh jarak, tapi aku akan bahagia bila mendapat kabar darimu. Walau rindu itu menyakitkan, aku berharap ini sebagai ujian agar kita saling setia dan percaya. Aku menyadari bahwa cinta tidak harus selalu bertemu, tetapi Do'a kita akan selalu mempertemukan kita dari kejauhan. Jaga diri ya Mas, jaga juga hati, aku disana akan selalu merindukanmu."


Yusuf membawa Khanza dalam dekapannya, dan mengecup seluruh wajah wanita yang begitu bijak menyikapi keadaan sulit ini.


"Terimakasih Sayang, kamu benar-benar wanita yang begitu bijak dan dewasa dalam menyikapi hal yang sulit ini. Aku akan selalu merindukan dirimu. Kamu jaga diri dan kesehatan. Semoga secepatnya aku bisa menjemput dirimu. Kamu juga harus jaga hati untukku."


Khanza tersenyum, tangannya mengusap wajah tampan suaminya. "Kamu tidak perlu meragukan kesetiaanku, Mas, namamu mempunyai tempat spesial dalam hatiku."


Yusuf menggengam tangan Khanza yang masih berada di pipinya, lalu mengecup tangan halus itu. Wajah mereka semakin dekat mengikis jarak. Bibir mereka menyatu untuk salam perpisahan. Tak berselang lama pagutan singkat itu berakhir.


Khanza melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, ternyata sebentar lagi pesawat yang di tumpanginya akan segera take off.


"Ayo, Mas, lima belas menit lagi pesawat akan take off," ujarnya melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Ayo Sayang." Yusuf membantu memperbaiki rambut Khanza yang sedikit berantakan, lalu mereka segera turun untuk memasuki Bandara.


Yusuf mengantarkan Khanza hingga pintu dimana tempat Security memeriksa menggunakan metal detektor.

__ADS_1


"Mas, Adek pamit ya, jaga diri dan kesehatan. Adek pasti sangat merindukan kamu. Hiks..." Khanza memeluk Yusuf begitu erat dan kembali tangisnya pecah.


"Sshh... Jangan menangis, Sayang, aku akan jaga diri dan akan tetap sehat, semua demi kamu dan Tiara juga anak-anakku." Yusuf merenggangkan pelukannya dan tubuhnya berlutut di depan Khanza hingga wajahnya sejajar dengan perut Khanza yang sudah mulai padat.


"Anak Papa baik-baik disana ya. Papa pasti akan selalu merindukan kalian. Tunggu Papa disana ya, Sayang, Papa akan menjemput kalian." Yusuf membawa bayinya bicara, lalu meninggalkan jejak sayang pada perut sang istri.


"Masuklah. Jangan menangis lagi. Nanti jika sudah sampai beri kabar, Mas ya." Yusuf kembali memberi kecupan di kening Khanza.


"Adek, pamit ya Mas." Khanza menyalami tangan Yusuf, lalu segera masuk.


Tanpa sadar, ternyata mereka sudah menjadi tontonan para penghuni sekitaran yang ada disana. Tetapi Yusuf dan Khanza tidak peduli, mereka hanya fokus dengan hati dan perasaan mereka masing-masing.


***


1jam 41 menit, pesawat yang ditumpangi Khanza telah landing di bandar udara Kualanamu Medan.


Wanita itu keluar dari bandara, sembari memperhatikan sekeliling, matanya mencari sosok yang katanya tadi sudah lebih dulu menungguinya.


"Ingin cari siapa Nona?" tanya seseorang yang membuat Khanza sedikit terjingkat. Khanza menatap Pria yang ada dihadapannya.


"Abang! Aaa...." Dengan tawa manjanya, wanita itu sedikit melompat memeluk kakak sulungnya itu.


"Hahaha... Apa kabar, Sayang?" tanya Yanju membalas pelukan adik bungsunya.


"Alhamdulillah, Adek sehat. Maaf ya, Bang, Adek tidak datang diacara pernikahan Abang."


"Iya, tidak apa-apa, Dek. Tapi saat resepsi kamu pasti datang, dong!"


"Hah? Kapan Abang mau resepsinya?" tanya Khanza penasaran.


"Belum tahu. Bisa jadi tahun depan atau kapan-kapan. Hahaha..."


"Ish, Abang nggak jelas banget."


"Udah, ah, ayo kita pulang sekarang. Udah ditungguin sama Ayah dan ibu. Disana juga ada Oma dan Opa," ujar Yanju sembari menggeret koper adiknya, dan menggandeng tangannya."


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2