Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Kedatangan orangtua


__ADS_3

Khenzi berdiri menatap Arumi begitu dekat. Tangannya terulur memegang kedua pipi wanita itu. Aroma alkohol menguar dari mulutnya.


"Untuk apa kamu datang kesini? Bukankah aku ini adalah lelaki yang kaku tidak romantis? Sekarang pergi kamu! Aku tidak Sudi menerimamu lagi! Dasar wanita murahan!"


Khenzi mendorong tubuh Arumi dengan kuat sehingga tubuh wanita itu terjerembab diatas hamparan pasir.


Arumi tahu bahwa Khenzi sedang mabuk, dia menganggap dirinya sebagai Rayola. Dengan pelan wanita itu kembali berdiri.


"Mas, ini aku Arumi. Ayo kita pulang!" Arumi menarik lengan Pria itu.


"Ck, apaan sih! Lepas!" Khenzi menghempas tangan Arumi dengan kuat.


"Mas, ayo pulang! Kamu mabuk, kenapa kamu seperti ini?" tanya Arumi menatap wajah tampan yang ada di kegelapan malam. Angin laut berhembus menyibak rambut Pria itu. Terlihat raut wajah kecewanya yang mendalam, matanya tampak memerah.


"Hahahaha.... Kamu tanya kenapa aku mabuk? Iya, aku mabuk. Aku mabuk cinta, Rayola! Ini semua karena kamu!!"


Pria itu tertawa dan menangis, suaranya terdengar meninggi menumpahkan kekesalannya. Dia masih mengira Arumi adalah Rayola. Sebesar itukah rasa kecewanya?


Arumi menatap dengan sedih, ia kembali menghampiri, dan memegang kedua lengan Khenzi. "Mas Khenzi, lihat aku! Aku Arumi bukan Rayola! Sadar, Mas, sadar!" Wanita itu mengguncang tubuh Khenzi untuk menyadarkannya.


"Hahaha... Ya, ya. Arumi. Mau ngapain kamu disini? Apakah kamu ingin menemani aku? Atau kamu ingin mentertawakan diriku seorang lelaki kaku dan dingin. Ya, aku memang Pria yang tidak pandai mesra dan romantis. Tapi bukan berarti kamu seenaknya untuk menyakiti perasaanku, Yola. Awas! Aku tidak butuh wanita sepertimu!"


Khenzi mendorong tubuh Arumi untuk menjauh darinya. Pria itu segera berlalu sembari tertawa kecil. Menyusuri pinggiran pantai.


Arumi tidak kehabisan akal. Dia tahu bahwa laki-laki itu sedang frustasi, ia segera memesan taksi dan meminta pada driver taksi itu untuk membantu membawa Khenzi masuk kedalam mobil. Arumi mengatakan bahwa Khenzi adalah kakaknya, tentu saja driver taksi tidak menolak untuk membantu.


"Hei, apa yang kalian lakukan? Lepaskan! Aku tidak butuh bantuan kalian!" Khenzi masih berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan Arumi dan driver.

__ADS_1


"Biarkan saja, Pak. Ayo bawa saja dia masuk kedalam mobil!" Perintah Arumi pada driver dan satu orang lagi penjaga pantai itu.


Khenzi masih meracau tak jelas. Tetapi Arumi sudah tak menghiraukan. Diperjalanan, ia begitu prihatin melihat wajah kacau anak Jendral bintang dua, yaitu majikan sang Ibu.


Arumi yang mengetahui bahwa Khenzi Pria baik, walaupun sikapnya memang terlihat dingin dan kaku, dia juga tahu bahwa Khenzi rajin beribadah, tetapi kenapa sekarang dia sampai lari ke minuman haram sehingga membuatnya tak bisa berpikir secara sehat.


Wanita itu berpikir sejenak, kemana ia akan membawa anak dari majikan ibunya. Sesaat Arumi menatap Khenzi yang tampak tersenyum sinis kepadanya.


Arumi tidak mungkin membawa Khenzi pulang. Tentu saja kedua orangtuanya begitu kecewa melihat perilaku anaknya, ia berinisiatif untuk membawa Khenzi pulang ke kost agar Pria itu bisa istirahat disana.


Setibanya di kost, Arumi kembali meminta pertolongan pada sang driver untuk membawa Khenzi masuk kedalam kamar kostnya.


"Pak, terimakasih atas bantuannya, ini ongkos taksi, lebihnya buat Bapak saja," ujar Arumi memberi sedikit tanda terima kasih atas pertolongan Pria baya itu.


"Terimakasih banyak, Mbak." Supir taksi itu segera pergi.


Arumi kembali masuk kedalam kamar kostnya. Setibanya didalam ia melihat Pria itu sudah tertidur. Mungkin begitu lelah sehingga tidak susah untuk menemui mimpinya.


Pagi saat Arumi ingin melaksanakan sholat subuh, terdengar suara bising didepan kamarnya. Ia segera membuka pintu kamar untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Ada apa ini?" tanya Arumi pada anak kost yang lainnya. Mereka menatap sinis pada wanita berhijab itu.


"Apakah benar yang dikatakan mereka bahwa kamu sudah membawa seorang lelaki tidur dikamar kamu, Arumi?" tanya Ibu kost yang muncul dihadapannya.


Arumi sedikit terjingkat saat mendengar pertanyaan ibu kost. "Ah, i-iya, Bu. Ta-tapi..."


"Kenapa kamu lancang sekali? Bukankah saya sudah memberi peringatan pada kalian semua. Tidak ada yang boleh membawa laki-laki masuk kedalam kamar kost Putri ini. Apalagi melakukan perbuatan tercela. Saya tidak ingin tempat ini menjadi sial!" Sergah Ibu kost begitu berapi-api.

__ADS_1


"Bu, saya minta maaf, tetapi kami tidak melakukan apapun."


Saat Arumi sedang sibuk mencari pembelaan, Khenzi terbangun dari tidurnya. Ia mengamati sekeliling kamar itu, ia bingung sedang berada dimana saat ini. Khenzi mencoba berdiri sembari menahan kepalanya yang sedikit masih pusing. Ternyata minuman alkohol itu sudah merusak kesadarannya. Khenzi menyesal telah menyentuh minuman itu. Dia segera keluar dari kamar.


"Arumi!" Seru Khenzi yang melihat gadis itu berdiri dihadapannya.


"Ayo telpon kedua orangtua kalian saat ini juga. Seperti yang sudah saya katakan. Siapa yang berani membawa laki-laki masuk ke kamar ini. Maka kalian sudah siap untuk menikah, daripada kalian harus berbuat dosa!" Jelas ibu kost dengan tegas.


Khenzi dan Arumi saling bertatapan. Pria itu berusaha untuk meluruskan bahwa mereka tidak melakukan apapun didalam kamar kost itu. Tetapi ibu kost dan yang lainnya tidak mempercayai.


Arumi sudah menangis. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan agar mereka percaya. Tetapi tetap saja ibu kost bersikukuh untuk meminta kedua orangtua mereka datang.


"Baiklah. Saya akan telpon kedua orangtua saya dan Arumi." Tanpa meminta persetujuan dari Arumi Khenzi segera menelpon sang Papa.


Flashback off


Jam enam pagi Papa Arman datang bersama Bunda Lyra dan Ibu Santi. Ibu kost segera membawa tiga orang itu masuk kedalam untuk membicarakan masalahnya.


Mendengar hal itu membuat Papa dan Bunda sangat malu. Begitu juga Bu Santi, dia tidak menyangka bahwa anak gadisnya bisa senekat itu membawa laki-laki tidur di dalam kamarnya.


"Baiklah, Bu, Kami sebagai orangtua sangat meminta maaf atas apa yang terjadi. Kami akan membicarakan masalah ini dirumah. Kami akan menikahkan mereka," jelas Papa Arman pada Ibu kost.


"Baiklah. Kalau begitu silahkan kemasi barang-barang kamu Arumi. Ibu tidak ingin lagi kamu tinggal di kost ini. Segeralah menikah, jangan membuat orangtuamu malu." Pesan ibu kost meminta wanita itu untuk meninggalkan kostnya.


Arumi hanya menghela nafas berat. Kenapa mereka tidak percaya dengan penjelasan yang dikemukakan. Mungkin memang dia sudah salah karena terlalu nekat membawa Pria itu tidur dikamarnya.


Kini mereka pulang bersama. Diperjalanan Papa Arman dan Bunda Lyra hanya diam. Bu Santi tampak begitu malu pada kedua majikannya yang sudah menganggap dirinya sebagai saudara sendiri.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2