Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Mulai perhatian


__ADS_3

Arum berlari tak ingin mendengar penjelasan apapun dari Khen, entah kenapa batinnya terasa sakit saat mendengar pengakuan dari kedua insan itu sejauh mana hubungan mereka.


"Arum! Tunggu aku!" Khenzi berhasil meraih tangan wanita itu.


"Lepas, Mas! Arum ingin pulang!" sentak wanita itu dengan kuat, tetapi Khen memegang tangan Arum tak kalah erat.


"Arum, dengar penjelasan aku dulu! Kamu tidak perlu terpancing dengan gambar-gambar itu, karena aku dan Rayola sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." Khen masih berusaha membujuk dan meyakinkan gadis itu.


Arum bingung dengan hatinya sendiri. Kenapa begitu sakit, apakah dia cemburu? Tetapi, itu semua hanya masalalu mereka.


"Ayo kita pulang." Khen membimbing tangan Arum untuk masuk kedalam mobil. Tak ada perlawanan, gadis itu hanya menurut.


Diperjalanan pulang, pasangan itu hanya diam, tak ada yang berminat untuk memulai percakapan. Khenzi merasa gemas dengan Rayola yang beraninya menunjukkan gambar saat mereka berciuman.


"Arum, aku minta maaf dengan kekacauan yang dibuat oleh Rayola. Aku berharap kedepannya kamu tidak akan terpancing lagi oleh semua kata-katanya," ucap Khen memberi pengertian.


"Kenapa? Apakah masih banyak lagi cerita dewasa kamu dengannya?" tanya Arum dengan datar.


"Arum, aku dan Rayola memang pernah berc umbu Mesra, aku tidak ingin menjadi lelaki munafik, karena aku lelaki normal. Tetapi semua masih dalam batas wajar. Aku masih menjaga mahkota berharganya, aku tidak ingin merusaknya. Aku harap kamu paham akan hal yang kini sudah menjadi masalalu bagiku."


Arum hanya diam mendengar segala pengakuan Pria itu. Apakah dia sudah begitu mencintainya, sehingga mendengar hal itu air matanya jatuh tiba-tiba.


Arum menyusut cairan bening itu dengan cepat. Dia tidak ingin terlalu tampak tersakiti oleh kejujuran Pria itu. Bukankah sebenarnya itu akan lebih baik agar tak ada lagi yang di tutup-tutupi dalam hubungan ini, walau terasa sakit tetapi hanya sebentar daripada dibohongi, maka sakitnya akan terasa lebih dalam.


"Arum..," panggil Khen dengan lembut sembari menepikan mobilnya.


"Dek, aku mohon kamu bisa memaafkan aku. Dan itu hanya masalalu," ucap Khen terdengar begitu lembut sehingga menusuk dalam sanubari wanita itu. Rasa tak percaya bisa mendengar nada bicara mesra dan panggilan yang berbeda.


Arum memberanikan diri untuk menatap wajah tampan yang ada disampingnya. "Mas, Arum ini hanya anak seorang pembantu dirumahmu. Apakah suatu saat kamu tidak menyesal menjalin hubungan dengan Arum?" tanya wanita itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Arum, kenapa kamu bicara seperti itu? Dari awal aku ataupun keluargaku tidak pernah menganggap Ibu Santi sebagai pembantu. Dia sudah seperti ibuku sendiri. Jadi, tolong jangan dengarkan ucapan Rayola."


"Tapi apa yang dikatakan Rayola memang benar adanya, Mas. Arum takut suatu saat kamu akan malu bila denganku." Arum menghapus air matanya yang sudah mulai jatuh.


"Arum, please! jangan bicara seperti itu. Aku tidak peduli akan hal itu. Aku tidak akan malu saat bersamamu, karena aku tidak pernah merasa terhormat darimu. Dimata Allah derajat kita sama Arum. Saat nanti kamu menjadi istriku, maka aku pastikan tidak akan ada lagi yang berani menghina dirimu maupun keluargamu!" tekan Khen dengan sedikit lantang.

__ADS_1


Wanita itu menangis sesenggukan. Khen dengan sedikit ragu meraih tubuh wanita itu untuk masuk kedalam dekapannya. Mengusap kepalanya memberi kenyamanan.


"Jangan menangis lagi ya. Aku mohon tolong percaya denganku. Jangan biarkan orang lain merusak hubungan yang sedang kita bina, dan aku sudah mulai nyaman saat bersamamu," ucap Pria itu, kedua tangannya masih mendekap gadis itu.


Arum melerai pelukannya. Sadar belum halal. Takut dirinya akan terbawa suasana. Wanita itu menatap lelaki yang netranya juga sedang menguncinya.


"Apakah Arum boleh tanya sesuatu, Mas?"


"Tentu saja, Dek."


"Apakah benar Mas Khen tidak melakukan hubungan yang diluar batas?" tanya wanita itu berharap kejujuran untuk sekali lagi.


"Arum, aku bersumpah, aku tidak pernah menidurinya. Aku masih dalam batas wajar. Tolong, percaya padaku." Khen menggengam tangan Arum, seketika gadis itu sedikit kaget atas tindakan Pria itu.


Arum tersenyum lembut dan mengangguk pelan. Hatinya merasa lega saat meyakini bahwa Pria itu tidak merusak anak gadis orang.


"Apakah sekarang kamu sudah percaya?" tanya Khen


"Hmm, Arum percaya, Mas. Ayo kita pulang sekarang. Arum jam dua dinas lagi," ucap gadis itu.


"Tidak, Mas. Arum makan dirumah saja. Ibu sudah masak. Arum kangen masakan Ibu," jelas wanita itu.


"Ya ya, mari kita pulang sekarang." Khen kembali menjalankan kendaraan roda empat itu. Hatinya terasa lega, akhirnya dia bisa membuat gadis itu percaya. Entah kenapa sekarang dia lebih takut kehilangan Arumi. Rasanya tak sanggup membayangkan bila gadis itu pergi meninggalkannya. Mungkin sakitnya akan lebih dahsyat dari sakit kehilangan Rayola.


Setibanya dirumah, mereka makan siang bersama. Setelah itu Arum menuju kamarnya, karena masih ada waktu, maka gadis itu kembali merebahkan diri, sebelumnya Arum menyetel alarm agar dia bangun tepat waktu.


"Udah mau pergi?" tanya Khen yang berpapasan dengan Arum saat keluar dari kamar. Gadis itu sudah rapi dengan style dinas kesehatannya. Begitu juga Khen sudah rapi dengan pakaian kantor. Karena Pria itu sudah punya janji dengan klien.


"Iya, Mas Khen, sendiri? Kok udah rapi, mau kemana?" tanya Arum penasaran.


"Aku mau bertemu dengan klien. Ayo sekalian aku antar."


"Ah, tidak usah, Mas. Arum diantar driver saja. Karena kita tidak satu arah," tolak Arum yang merasa akan merepotkan tunangannya itu.


"Tidak usah pikirkan. Aku masih mempunyai waktu tiga puluh menit lagi untuk berjumpa mereka. Jadi tidak ada masalah jika aku mengantarkanmu ke RS dulu."

__ADS_1


Arum tak bisa menolak lagi, sebenarnya dia sangat nyaman selalu dekat dengan Pria itu. Tetapi merasa sangat sungkan bila selalu merepotkannya.


"Nanti pulang jam berapa?" tanya Khen saat Arum hendak turun.


"Jam sembilan, Mas."


"Yasudah, nanti aku jemput ya."


"Eh, jangan, Mas."


"Kenapa? Apakah kamu keberatan jika aku menjemput?"


"Bu-bukan, Mas. Apakah Mas Khenzi tidak capek?"


Pria itu tersenyum lembut. "Jika untuk dirimu aku tidak akan pernah capek," ucapnya yang membuat wajah Arum bersemu dan tersenyum malu.


"Udah, sana turun. Aku semakin gemas melihat wajah merahmu itu."


"Ish, Mas Khen apaan sih? Nakal banget sekarang," ucap Arum mencubit bahu Pria itu dengan gemas.


"Awh! Sakit, Dek. Kamu nyubitnya nggak pake perasaan banget." Khen menatap wajah gadis cantik berlesung pipi itu.


"Yaudah, Arum turun ya, Mas."


"Iya. Eh, tunggu dulu!" Khen menahan saat Arumi hendak membuka pintu mobil. Dia mengambil sebuah paper bag yang bertulisan bakery. didalamnya terdapat sebuah box kue yang berisikan brownies cokelat.


"Ini buat, Adek ngemil saat waktu senggang nanti. Dimakan ya," pesannya sembari menyerahkan pada Arum.


"Terimakasih ya, Mas. Tapi kapan kamu belinya?"


"Tadi saat kamu tidur. Kebetulan aku ada urusan keluar sebentar, dan lihat toko roti langsung ingat dirimu. Maaf ya, jika pemberian aku ini kesannya lebay. Tapi, aku juga bingung harus kasih kamu apa. Aku takut bila kamu akan menolaknya. Tapi setelah kamu menjadi istriku nanti, maka aku akan memberikan apapun untukmu bila kamu menyukainya. Karena kamu tidak punya hak menolakku."


Arumi semakin tak bisa bicara apa-apa. Benarkah Pria kaku itu sudah mulai lentur? Dan es balok itu sudah mencair?


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2