
"Mas, tidur disini, peluk aku," ujar Tiara dengan lirih. Aku hanya mengangguk dan segera berbaring di sampingnya, Tiara segera memelukku begitu erat. Aku merasa tingkah Tiara sedikit berubah dia begitu posesif.
"Mas, aku sangat mencintai kamu. Tolong jangan berubah, tetap cintai aku hingga waktuku berhenti."
Aku terkesiap mendengar ucapannya, kulonggarkan pelukan dan ku tatap wajahnya yang sudah dibasahi air mata. Aku menjadi gugup dan serba salah apa yang tersirat dalam kata-kata Tiara barusan?
Aku kembali memeluknya dan mengecup penuh kasih dan cinta. "Jangan bicara seperti itu Sayang, aku sangat mencintai kamu, tidak akan pernah berubah, kamu adalah wanita kesayanganku kita akan selalu bersama, kamu pasti sembuh, Sayang."
Dia menatapku dengan dalam, perlahan bibirnya mengecup bibirku. "Mas, ini pasti sakit sekali. Ayo aku obati luka kamu Mas."
"Tidak, Sayang, ini sudah diobati. Sudah, kamu jangan pikirkan hal ini ya. Aku baik-baik saja."
"Siapa yang mengobati, Mas?"
"Hah? Ta-tadi aku sudah ke klinik. Udah kamu jangan pikirkan, sebentar lagi juga sembuh."
Aku sedikit gugup menjawab pertanyaannya, namun aku berusaha untuk tetap tenang. Aku tidak mau Tiara mengetahuinya sekarang, itu akan membuat kondisinya semakin memburuk.
"Saat kami sedang ngobrol sambil berpelukan, tiba-tiba bayi mungil kami merengek, sepertinya dia sudah haus, aku segera mengambil Putra kesayanganku.
"Sshh shh... Anak Papa haus, iya? Bentar ya, Nak, kita ganti Pampers dulu ya."
Setelah mengurusi bayi mungil kami, aku segera memberikan pada Mamanya untuk ASI, setelah itu aku pamit pada Tiara untuk ke kantor. Namun, aku tidak mengatakan pada Tiara bahwa aku sudah berhenti sebagai ajudan Jenderal Arman.
Setelah mengurus surat izin tugas di Polres, aku mendapat kabar dari Bibik bahwa Tiara dilarikan ke RS, pikiranku benar-benar kalut tak menentu. Tanpa pikir panjang aku segera menuju RS tempat Tiara dirawat.
Sesampainya di RS, Perlahan kubuka pintu kamar rawat inap, aku melihat disana sudah ada Mama mertuaku yang sedang menemani Tiara, kulihat Tiara sedang tertidur.
__ADS_1
"Ma, bagaimana keadaan Tiara?" tanyaku begitu cemas.
"Kata dokter Tiara kekurangan sel darah putih, harus transfusi kembali," ujar Mama dengan aura lirih.
Aku menghela nafas berat. Ya, ini bukan kali pertama Tiara menjalani transfusi darah bila kondisinya melemah. Sebenarnya Dokter telah menyarankan agar Tiara menjalani kemoterapi, tetapi istriku itu masih bersikukuh tidak mau.
Saat aku sedang berbicara dengan Mama mertuaku, Dokter masuk untuk memeriksa kondisi Tiara. Dia memintaku untuk keruangannya. Aku segera mengikuti langkah sang dokter.
"Begini, Pak Yusuf, ini mengenai kondisi Ibu Tiara yang semakin hari semakin melemah, saya menyarankan agar Ibu Tiara melakukan pengobatan secara intensif dengan ahlinya. Saya sarankan agar segera melakukan kemoterapi, tetapi jika ingin pengobatan yang terbaik, Bapak bisa membawa keluar negeri."
Dokter menjabarkan dengan panjang lebar tentang kondisi Tiara yang semakin menurun. Tentu saja aku menginginkan istriku segera sembuh, bagaimanapun caranya aku akan membawa Tiara berobat asalkan dia bisa sembuh.
"Menurut Dokter dimanakah pengobatan yang terbaik di luar negeri?" tanyaku ingin tahu pendapat dokter yang menangani Tiara selama ini.
"Kalau menurut saya, di Singapore pengobatannya bagus Pak. Tapi jika Bapak mempunyai informasi yang terbaik selain di Singapore tidak apa-apa, yang penting Bu Tiara segera ditangani oleh ahlinya. Atau Bapak bisa mencoba pengobatan di RS terbaik yang khusus menangani pengidap kanker."
Aku berpikir menimbang solusi yang diberikan oleh dokter, lebih baik aku membawa Tiara berobat diluar negeri daripada aku harus mencoba-coba tetapi hasilnya tetap saja. Biarlah mahal asalkan istriku bisa sembuh.
"Baik, silahkan Pak, segera konfirmasi kami jika keputusan Bapak dan keluarga sudah matang, maka kami akan memberikan surat rujukan."
"Terimakasih, Dok."
Aku segera keluar dari ruangan Dokter dan kembali ke kamar rawat Tiara. Disana sudah kudapati kedua orangtuaku yang baru saja datang, sementara Ibu mertuaku sudah pulang karena bergantian mengurusi bayi kami.
"Darimana kamu Nak?" tanya Mama saat aku menyalami tangan mereka.
"Habis ketemu dokter, Ma. Alfarizqi sama siapa, Ma?" tanyaku menanyakan putraku yang aku berikan nama Muhammad Alfarizqi itu.
__ADS_1
"Tadi Mama titip sama kakak iparmu."
***
Setelah dirawat selama dua hari di RS. Kondisi Tiara sudah kembali membaik, maka dokter sudah mengizinkan Tiara untuk pulang. Ya, selama dua hari ini aku begitu sibuk, karena aku yang baru mulai dinas dan malamnya harus menemani Tiara di RS.
Terkadang aku sudah tak memperhatikan ponselku, sehingga ada beberapa pesan yang aku terima dari Khanza hanya emoticon bertanya-tanya. Aku memilih mengabaikan pesan itu, tetapi aku akan meminta maaf kepadanya nanti, aku juga tidak ingin Tiara merasa curiga.
Setelah mengantar Tiara pulang dan mengurusnya, aku pamit kepadanya untuk kekediaman Jendral Arman, dengan alasan aku naik piket malam ini. Seperti biasanya Tiara tidak merasa keberatan, karena dia tahu bahwa aku sedang menjalankan tugas.
Malam ini aku datang kekediaman mantan atasanku yang kini sudah menjadi Papa mertuaku. Aku harus menjelaskan pada mereka kenapa aku tidak datang dua hari ini.
Sebenarnya aku sangat merasa bersalah karena telah membuat Dek Khanza kecewa. Tapi, sungguh aku tak bisa mengabaikan Tiara. Aku hanya tidak ingin menjadi lelaki yang akan menyesal seumur hidup karena tidak bisa merawat istriku yang kini sedang sakit keras.
Aku tahu bahwa Khanza juga membutuhkan aku. tetapi, Tiara jauh lebih membutuhkan support dariku sebagai seorang suami. Biarlah, aku akan menerima segala kemarahan dan kekecewaan istri keduaku yang cengeng itu.
Saat mengingat wajah wanita itu, senyumku terukir. Dia cantik, imut, manja, dan menggemaskan. Dia selalu berusaha untuk menjadi seorang wanita tegar, tapi air matanya selalu meruntuhkan jiwa tegar itu sendiri.
Dia terlihat sangat lucu bila sedang marah dan merajuk. Ah, aku ini kenapa sih? Kenapa jadi seperti ini saat membayangkan wajahnya? Tapi apakah aku salah bila mengagumi istriku sendiri.
Dua puluh menit perjalanan, kini aku sudah sampai dikediaman istri keduaku. Aku datang menggunakan jasa taksi, seperti biasanya, karena aku tidak ingin Tiara curiga bila aku harus membawa kendaraan sendiri.
Saat mengucapkan salam, aku segera bertemu dengan kedua mertuaku. Dan kami duduk ngobrol di ruang tamu. Aku menceritakan kondisi Tiara, Ya, dari awal Papa Arman sudah tahu mengenai penyakit yang diderita oleh Tiara. Papa dan Bunda ikut prihatin atas kondisi Tiara. Alhamdulillah, kedua orangtua istriku ini begitu pengertian dan memahami posisiku saat ini. Beliau tidak marah ataupun kecewa.
Aku mengatakan pada Papa Arman ingin memberitahukan kondisi Tiara pada Khanza, tetapi Bunda dan Papa secepatnya melarangku. Mereka bilang jika aku mengatakan yang sebenarnya, maka Khanza pasti akan mengalah, karena mereka sangat tahu bagaimana sifat anak mereka. Khanza tipe wanita yang tidak ingin membebani orang lain. Apalagi dengan kondisi Tiara yang seperti saat ini, sudah pasti dia akan melepaskan aku dan fokus pada Tiara. Sementara dia sendiri sangat butuh dukungan dari seorang suami.
Bersambung....
__ADS_1
NB. Nikmati saja dulu ya ππ€
Happy reading π₯°