
Yusuf hanya diam melihat tingkah istrinya yang sedang merajuk tanpa minat untuk membujuk. Pria itu mengeluarkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh.
Tangis wanita itu semakin jadi, tetapi tidak ingin melihat lelaki yang ada disampingnya. Khanza sedih, kenapa sikap suaminya berubah seketika. Padahal selama ini dia tidak pernah seperti itu.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tak ada yang berminat untuk memulai percakapan terlebih dahulu, hingga mobil menepi memasuki pekarangan RS.
Khanza turun terlebih dahulu dan segera menuju lobby RS. Yusuf mengikuti langkah wanita itu dari belakang. Tanpa bicara lelaki itu menggengam tangan sang istri dengan wajah datar.
Khanza menatap suaminya dengan raut wajah heran. Kenapa peduli tetapi sikapnya cuek. Khanza mencoba untuk melepaskan tangannya, tetapi Pria itu semakin erat genggamannya.
Dengan wajah cemberut Khanza mengikuti langkah suaminya, namun aura dingin masih tercipta diantara mereka. Setibanya di poli kandungan, pasangan itu duduk bergabung dengan pasangan lain yang juga sedang menunggu antrian.
"Minum, Sayang," ujar Yusuf menyodorkan botol air mineral yang tadi dia bawa dari mobil.
"Tidak. Aku tidak haus," lirih wanita itu masih enggan menatap wajah suaminya.
"Ibu Khanza Almira!" panggil seorang perawat.
"Ya." Khanza dan Yusuf bergegas untuk masuk kedalam ruangan Dr Obgyn.
"Wah, hari ini Dokter Khanza kelihatan sumringah ya," ujar teman sejawatnya itu.
"Ah, Dokter bisa aja," balas Khanza tersenyum ramah.
"Iya dong, hari ini spesial sepertinya karena ditemani oleh Pakpol. Ayo mari silahkan duduk Pak!" Dokter Obgyn itu mempersilahkan Yusuf untuk duduk.
"Yang hamil aku, tapi kenapa suami aku yang kamu suruh duduk?" tanya Khanza sedikit sensi.
"Hahaha... Iya, sorry Dok. Nggak usah ngegas gitu dong. Habisnya baru kali ini lihat Pria yang selalu jadi bahan omongan kamu," celoteh Dokter Obgyn itu.
__ADS_1
"Khanza hanya tersenyum menanggapi ucapan temannya, tak minat untuk menanggapi lagi, karena moodnya sedang rusak.
"Apakah saya selalu menjadi bahan omongan?" tanya Yusuf pada Dokter yang tampak begitu akrab dengan istrinya.
"Benar, Pak. Pokoknya setiap kali kami ngobrol, selalu cerita ceritanya tentang Bapak," ujar Dokter membenarkan.
Yusuf tersenyum menatap wajah istrinya yang tampak memerah. Pria itu tidak menyangka segitu cintakah istrinya hingga isi obrolannya hanya tentang dirinya.
"Syukurlah, berarti Khanza begitu mencintai saya. Ayo silahkan di periksa, Dok. Saya sudah tidak sabar ingin melihat perkembangan bayi kami," ujar Yusuf begitu ramah. Sehingga membuat Khanza semakin entah hatinya. Kenapa dia begitu ramah dengan orang lain?
Khanza segera naik ke atas bad pasien. Dokter kandungan itu mulai menempelkan alat Transducer di permukaan perut. alat itu mulai memancarkan gelombang ultrasound dan memantulkan sebuah gambar di layar monitor.
Yusuf begitu mengamati aktivitas bayi mereka. Terlihat malaikat kecil itu begitu aktif dalam rahim sang istri. Sekelabat kenangannya bersama Tiara kembali muncul dalam pikirannya. Dulu saat almarhumah istri pertamanya masih hidup, hal serupa dia lakukan. Yusuf selalu ikut menyaksikan perkembangan sang bayi dari bulan ke bulan.
Tanpa sadar netra Pria itu berembun. Hatinya kembali pilu saat mengingat wanita yang sudah membersamainya selama enam tahun. Kini dia telah tiada di dunia ini. Apakah dia salah bila masih merindukan sosok wanita itu?
Yusuf menghapus rembesan kristal di mata dengan jarinya. Pria itu berusaha untuk tetap tegar dan menghela nafas dalam. Tiara akan menjadi masalalu yang tak akan pernah terlupakan. Sementara Khanza, dia akan menjadi masa depan, yang akan membersamainya hingga menua bersama.
Setelah mendengarkan penjelasan Dokter bahwa bayi mereka baik dan sehat, rasa syukur mereka ucapkan bersama. Pasangan itu beranjak meninggalkan ruangan Dr Obgyn dan segera menuju apotek RS untuk mengambil vitamin dan kalsium.
Diperjalanan pulang, pasangan itu masih terlibat saling diam. Khanza banyak melamun sembari menatap keluar. Terasa kecepatan mobil begitu lambat sehingga matanya berat dan masuk ke alam mimpi.
Setibanya dirumah, Yusuf melihat Khanza masih tertidur lelap, rasa tak tega untuk membangunkan, maka ia menggendong masuk kamar.
"Turunkan aku, Mas!" ujar Khanza terbangun mendapati tubuhnya dalam gendongan sang suami.
"Kenapa bangun, Sayang? Tidurlah!" Yusuf mengecup pipi Khanza dengan lembut.
Dengan pelan Yusuf membaringkan ibu dari anaknya itu diatas ranjang. Tatapan mereka bertemu. Pria itu ikut merebah disampingnya, tangan memeluk dengan mesra.
__ADS_1
"Tidur, Sayang, aku akan menemani kamu disini," ucap Yusuf mencuri kecupan di bibir istrinya.
Khanza masih diam, entah kenapa hatinya menjadi takut untuk mengakrabkan diri seperti biasanya, sikap Yusuf tadi membuat jarak diantara mereka.
"Mas, jam berapa berangkat?" tetiba wanita itu bertanya keberangkatan suaminya.
"Nanti jam empat, Dek. Kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Yusuf mengusap wajah Khanza dengan lembut.
"Aku packing barang bawaan kamu ya." Khanza duduk dan beranjak, lalu mengemasi barang-barang Yusuf menyatukan dalam satu wadah, yaitu koper sedang yang biasanya Yusuf gunakan.
Yusuf duduk di bibir ranjang sembari mengamati aktivitas istrinya. Terlihat wanita itu masih begitu kecewa dengan ucapannya yang tadi.
"Niat banget nyuruh aku pergi," kata Yusuf menatap istrinya yang baru selesai mengemas pakaiannya.
Khanza tak menjawab, dia kembali merebah. Tubuhnya miring menghadap Yusuf. "Mas, Adek tidur ya, nanti kalau Mas Yusuf ingin pergi, jangan bangunkan aku," pesan wanita itu, terlihat netranya berkaca-kaca.
Yusuf mengusap wajahnya. Perlahan tangannya terulur membelai rambut Khanza dengan lembut, dia ikut berbaring disamping wanita itu membawanya kedalam dekapan.
"Peluk aku, Dek." Yusuf mengambil tangan Khanza melingkarkan ditubuhnya sendiri. Sikap istrinya terasa begitu dingin. Sebenarnya wanita akan mudah luluh bila si Pria sukarela meminta maaf dengan tulus. Tapi herannya kenapa Yusuf sedari tadi tidak mengucapkan kalimat sederhana yang mempunyai sejuta manfaat itu.
Khanza bergeming, matanya tertutup rapat seakan tidak mau berbicara pada suaminya. Sikap manjanya hilang seketika. Namun Yusuf masih tetap mengelus perutnya dengan lembut.
Waktu terus berputar hingga waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Yusuf beranjak dari tempat tidur segera masuk ke kamar mandi.
Khanza yang sedari tadi berharap bisa berada di alam mimpi agar dirinya tidak melihat sang suami pergi meninggalkan dirinya. Entah kenapa dia begitu berat melepaskan kepergian Yusuf untuk kali ini. Namun nyatanya perempuan itu tidak bisa menemui kantuknya.
Ya, mana mungkin dia bisa tidur saat suaminya akan pergi. Tetapi agar tak membuat Pria itu repot atas kemanjaannya, Khanza berpura-pura tidur agar Yusuf pergi dengan mudah tanpa ada yang menghalangi.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰