
"Ah iya, Kak, aku lagi ada pekerjaan di kota ini. Apakah aku boleh masuk?" tanya Khen dengan senyum ramah, dan tentu saja ia tak lupa menyalami tangan Kakak dari gadis yang dicintainya.
"Tentu saja boleh, Dek, ayo masuklah. Kakak tinggal sebentar ya," ucap Vera menyuruh Khen menunggu sebentar diruang tamu, ia segera kembali kedapur untuk membuatkan minum.
"Siapa, Kak?" tanya Arumi penasaran dengan tamu kakaknya.
"Khenzi."
"Apa! Khenzi?" tanya Arum terjingkat kaget.
"Iya. Kamu kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa." Arum segera merubah sikapnya biasa-biasa saja. Vera memang belum tahu sama sekali tentang hubungannya dan Khen. Karena Arumi dan Ibu sepakat akan memberi kabar bila hubungan mereka benar-benar sudah pasti akan sampai ke pelaminan. Bersyukur Arum belum sempat mengatakan prihal hubungan mereka, tetapi sudah berakhir.
"Arum, kamu bawa minuman ini," perintah Vera pada sang adik.
"Hah? Kenapa tidak Kakak saja?" tanya Arum yang enggan sekali untuk bertemu dengan Pria itu.
"Kakak masih ada kerjaan, ayo pergilah jangan biarkan dia menunggu lama, malu kita karena tidak sopan mengabaikan tamu, apalagi dia adalah anak Bunda Lyra. Lagian kamu pasti sudah sangat mengenalnya karena kamu kan tinggal serumah dengannya dikota Padang. Udah sana kamu temani dia ngobrol!" titah sang kakak.
Dengan berat hati Arumi membawa nampan yang berisi secangkir kopi dan cemilan. Hati wanita itu sangat kesal sekali, kenapa Khen begitu nekat menemuimu.
Khenzi yang sedang fokus dengan ponsel, kini atensinya teralihkan saat menyadari wanita yang dirindukannya sudah berada dihadapannya. Senyum Pria itu mengembang.
"Minum, Mas," ucap Arum datar, ia mengalihkan pandangan agar tak saling bertatapan.
"Terimakasih, Dek." Khenzi segera menyesap kopi hitam buatan gadis itu.
Lama mereka saling diam, namun Khen selalu menatap Arum begitu lekat. wanita itu merasa tidak nyaman saat ditatap begitu dalam oleh Khen.
"Kenapa kamu tidak membalas pesanku?" tanya Khen membuka percakapan.
"Nggak kelihatan, lagi ngantuk berat," jawab wanita itu jelas berdusta.
__ADS_1
"Masa sih? Tapi dua pesan aku diread lho," kata Khen menatap tak percaya.
Arum hanya diam tak bisa berbohong lagi, tetapi ia tak ambil pusing. Terserah dia mau bilang apa sudah tak peduli.
"Dek, aku tahu kamu marah dan kecewa padaku. Tapi apakah kamu memang sudah tak bisa memberiku kesempatan sekali lagi?" tanya Khen penuh harap.
"Khen, Arumi, ayo kita sarapan dulu!" panggil Kak Vera membuat Arumi tak sempat menjawab pertanyaan Khen.
"Ayo sarapan, Mas." Arumi berdiri dan segera berjalan mendahului Khenzi.
Mereka sarapan bersama. Arumi hanya diam tak menanggapi, cukup menjadi pendengar obrolan Vera dan Khen. Walau sesekali mengikut sertakan Arumi dalam obrolan mereka. Gadis itu hanya akan menjawab seadanya.
Selesai sarapan, Arumi membereskan meja makan, setelahnya ia segera bersiap untuk berangkat kerja. Sementara Khen masih betah dirumah Kakak dari gadis yang dicintainya.
"Khen, Kakak berangkat dulu ya, kamu istirahat saja dirumah. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa minta tolong Bibi saja," ucap Vera pada Khen sebelum mereka berangkat dinas ke puskesmas.
"Baiklah, Kak." Khen hanya mengangguk, sebenarnya ia ingin mengatakan maksud dan tujuannya datang kesini. Tetapi waktunya belum tepat, karena wanita Kakak beradik itu akan berangkat kerja, maka ia harus sabar menunggu setelah mereka pulang.
Khenzi hanya tersenyum lucu pada dirinya sendiri. Benar-benar dunianya telah berubah. Saat bersama Rayola ia tak pernah melakukan hal seperti ini bila gadis itu sedang merajuk. Khen akan tetap cuek tak berminat membujuk bahkan kebalikannya Rayola yang akan membujuknya terlebih dahulu. Ya, begitulah tipe seorang lelaki egois.
Tak banyak yang dilakukan oleh Pria itu. Khen pamit pada Art untuk keluar sebentar, setelah itu segera menuju hotel tempat ia menitipkan barang bawaannya tadi.
Khen istirahat sejenak untuk melepaskan lelah. Siangnya ia akan kembali lagi ke kediaman Vera, Khen harus bicara dengan Arumi. Bila perlu ia akan mengatakan hal yang sebenarnya tentang hubungan dan Arumi pada Vera.
Sementara itu di tempat balai pengobatan, Arumi tampak tidak fokus mengerjakan pekerjaannya. Wanita itu banyak melamun, hatinya tak menentu saat mengingat kehadiran Pria itu.
Selesai tugas Arumi pulang terlebih dahulu, karena sang Kakak sedang ada rapat dengan para Dokter yang lainnya. Arum hendak masuk, tetapi langkahnya terhenti karena Khen sudah membentengi dihadapannya.
"Mas Khen! Apak yang kamu lakukan? Awas, Arum mau masuk," ucap Arum meminta ruang pada Pria itu untuk berlalu.
"Arum, aku ingin bicara denganmu. Ayo kita bicara diluar sembari makan siang," ujar Pria itu yang masih berdiri kokoh dihadapan Arumi.
"Nggak, aku capek ingin istirahat," tolak Arum.
__ADS_1
"Arum, aku mohon jangan menolakku. Aku rela sebagai gantinya kamu tetap membenciku, tetapi beri aku kesempatan dan maafkan aku." Khen masih berusaha untuk membujuk.
Arum tidak menyahut, memalingkan wajahnya dari tatapan Khen. Hatinya entah, bingung harus bagaimana menanggapinya.
"Dek, please... Beri aku kesempatan untuk kali ini saja."
"Bagaimana Arum dapat percaya dengan segala ucapan kamu, Mas? Siapa yang bisa menjamin bahwa kamu tidak akan melukai perasaanku," jawab Arum menekankan.
"Arum, kamu boleh melakukan apapun bila suatu saat nanti aku menyakiti perasaanmu lagi. Aku tidak akan pernah menyangkal atas segala kesalahanku. Kamu boleh menghukumku."
"Baiklah, kita akan bicara, tapi biarkan Arum masuk," ucap gadis itu memberi kesempatan Pria itu untuk bicara.
"Yes! terimakasih, Sayang," ucap Khen yang membuat Arumi menggelengkan kepala melihat tingkah dan ekspresi Pria itu.
Wanita itu tak habis pikir sejak kapan Khen menjadi lelaki yang bersikap manis dan sepenyabar itu? Arum segera masuk kedalam kamarnya untuk menukar pakaian dan setelah itu ia kembali keluar menemui Khen yang sudah tak sabar menunggu.
"Udah siap, Sayang?" sambut Khen dengan senyum bahagia melihat sang pujaan hati mau memberinya kesempatan.
"Ck, apaan panggil-panggil sayang. Nggak akan percaya lagi," sahut Arum dengan sikap tetap dingin.
"Jangan gitu dong." Khenzi bicara dengan nada melas.
"Jadi pergi nggak nih?"
"Ah, jadi dong. Let's go!" Khen meraih tangan Arumi sehingga gadis itu terkesiap.
"Kalian mau kemana?" tanya Kak Vera yang sudah berdiri dihadapan mereka.
Khenzi dan Arumi saling pandang, namun tangan mereka saling bertaut. Tatapan Kak Vera tak terlepas dari itu.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1