Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Kabar duka


__ADS_3

"Ada apa, Sayang?" tanya Yusuf masih mengusap rambut Khanza dengan lembut.


"Mbak Tiara sudah tahu tentang pernikahan kita dari semula, Mas. Hiks... Dan dia..." Khanza tidak mampu untuk meneruskan ucapannya.


Yusuf terjingkat, tangannya yang semula membelai rambut Khanza, tiba-tiba terhenti. Yusuf meraih surat yang ada di genggaman Khanza.


Perlahan Pria itu membaca kalimat yang tertuang di kertas putih itu. Tubuh Yusuf bergetar saat membaca setiap pesan yang Tiara sampaikan di surat itu.


"Mas, tenanglah. Mbak Tiara pasti sembuh, dan Mbak Tiara juga menitipkan surat buat kamu, Mas." Khanza memberikan surat untuk Yusuf. Ya, ternyata dalam amplop itu ada dua surat. Mungkin Tiara sengaja tidak memisahkan agar Yusuf tidak membaca bagiannya terlebih dahulu.


Dengan tangan bergetar Yusuf menerima surat itu. Tetapi, Pria itu menggelengkan kepala. Dia tidak ingin membaca surat itu, Hatinya tidak siap.


"Dek, ayo kita berangkat sekarang," ujar Yusuf gelisah.


"Iya, Mas, aku bersiap sebentar ya." Khanza segera beranjak dari tempat duduknya.


Tak berselang lama hujan turun begitu deras. Seketika mereka tertegun, Yusuf dan Khanza saling bertatapan, mereka begitu cemas, jika cuaca buruk tentu saja penerbangan akan di tunda.


"Tidak pa-pa, Mas, semoga sebentar lagi hujan reda. Dan semoga tidak ada halangan," ujar Khanza menenangkan sang suami yang tampak begitu khawatir.


Saat Khanza sedang bersiap. Ponsel Yusuf berdering. Terlihat panggilan dari Papanya. Yusuf segera menerima panggilan itu.


"Assalamualaikum, Pa."


"Wa'alaikumsalam, Yusuf, kamu harus ikhlas,Nak, Tiara sudah berpulang ke Rahmatullah."


"Tidaaakkk! Ini tidak mungkin! Papa pasti salah! Coba periksa kembali, Pa. Hiks..." Tangis Yusuf pecah dan Pria itu merosot di samping tempat tidur.


Khanza yang mendengar, Seketika darahnya berdesir jantung berdegup kencang. Tubuhnya terasa lemas. Khanza segera menghampiri Yusuf.


"Yusuf, jangan bicara seperti itu. Kamu harus ikhlas, ucapkan innalilahi. Jangan menjadi lelaki yang tidak beriman kamu!" Sentak sang Papa di seberang sana. Yang menyadarkan Yusuf.


"Innalilahi Wa innailaihi Raji'un...," lirih Pria itu masih terisak. Yusuf menghapus air matanya yang selalu jatuh tanpa bisa lagi ia tahan. "Tiara, kenapa kamu pergi? Inikah alasan kenapa kamu memintaku untuk pergi. Hiks." Yusuf bergumam sembari menyembunyikan wajahnya dilengannya sendiri, sementara tangan sebelahnya masih memegang ponsel di telinga.


"Pa, tunggu aku pulang. Aku ingin bertemu jasad Istriku untuk yang terakhir kalinya."

__ADS_1


"Segeralah pulang. Kami akan meminta pada pihak keluarga untuk menunggu dirimu dulu." Papa memutus panggilan.


Khanza yang mendengar juga berseru Istirja, dia juga sangat berduka mendengar kabar itu. Khanza ikut duduk dihadapan Yusuf.


"Mas, sabar..." Khanza memegang tangan Yusuf dengan tangisnya yang ikut pecah.


Yusuf mengangkat kepalanya, lalu meraih tubuh Khanza. Pria itu memeluk Khanza begitu erat, sehingga wanita itu sedikit kesusahan, karena terlalu erat pelukan sang suami. Khanza tahu Yusuf sedang menumpahkan segala perasaan yang sedang membuncah dalam hatinya.


"Ini tidak mungkin, Dek! Kenapa dia begitu cepat meninggalkan aku? Hiks." Pria bergumam lirih, suaranya begitu serak dibarengi dengan tangisan.


Khanza mengusap punggung Yusuf, untuk memberikan ketenangan. "Sabar, Mas, ikhlas. Mbak Tiara sudah tenang, dia sudah tidak merasakan sakit lagi." Khanza berusaha menenangkan.


"Dek, ayo kita berangkat sekarang!" Yusuf melepaskan pelukannya. Dia membawa Khanza untuk segera berangkat ke Bandara. Tetapi hujan bertambah deras.


"Tapi, hujan semakin deras, Mas. Apakah kamu yakin kita akan berangkat sekarang?" tanya Khanza tidak yakin.


Saat Khanza sedang bicara, terdengar notif diponsel Yusuf. Ternyata dari pihak penerbangan memberitahukan bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi Delay. Dikarenakan cuaca buruk.


"Aaaaakh!" Yusuf meremat rambutnya dengan kuat.


"Kamu istirahat ya, aku akan siapkan makan buat kamu. Aku tahu kamu pasti belum makan apapun dari tadi 'kan?" tanya Khanza yang begitu khawatir melihat keadaan suaminya yang tampak begitu kacau.


"Tidak usah, Dek, aku tidak lapar," ujar Yusuf mengacak rambutnya sendiri.


"Mas, tapi kamu harus makan, kamu tidak boleh seperti ini. Kita sangat berduka, tapi kamu juga harus memikirkan kesehatan kamu. Ingat Mas! Rizqi sangat membutuhkan kamu."


"Tapi aku tidak lapar, Dek. Sudahlah, aku tidak ingin makan apapun," ujar Yusuf dengan nada datar.


Khanza hanya menghela nafas berat. Dia tahu pikiran suaminya sedang kacau. Ia berusaha untuk mengerti. Khanza keluar dari kamar untuk menemui Oma dan Opanya.


"Loh sudah rapi, kalian ingin berangkat sekarang?" tanya Oma melihat penampilan Khanza telah rapi.


"Iya, Oma, Mbak Tiara sudah meninggal," ujar Khanza dengan lirih.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Kapan meninggalnya, Dek?" tanya Oma sangat terkejut.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Opa yang baru keluar dari kamar.


"Istri pertama Yusuf meninggal, Pa," ujar Oma menyampaikan kabar duka itu kepada sang suami.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Sejak kapan meninggalnya, Dek?" tanya Opa pada Khanza.


"Satu jam yang lalu, Opa. Dan penerbangan juga delay. Karena cuaca buruk dan ekstrim."


"Astaghfirullah. Semoga Yusuf diberikan ketabahan. Mana dia sekarang?" tanya Opa mengkhawatirkan cucu menantunya.


"Ada dikamar, Opa. Mas Yusuf begitu terpuruk. Kami ingin berangkat sekarang, tetapi tidak bisa," jelas Khanza kembali menangis, sembari memeluk Oma.


"Sabar ya, Nak." Oma mengusap punggung Khanza.


Yusuf sedang bermenung. Pria itu kembali teringat ucapan sang istri saat dia pergi tadi. Sepertinya firasatnya memang tidak salah. Dan sekelabat kenangan masalalu dimana mereka begitu bahagia mengarungi biduk rumah tangga sebelum Tiara mengidap penyakit yang kini telah merenggut nyawa sang istri. Namun, kini wanita itu sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Sayang, kenapa kamu tidak mengizinkan aku untuk berada di sampingmu? Kenapa Sayang, Kamu tega mencurangi aku. Apakah kamu ingin balas dendam karena aku tidak jujur padamu? Ketahuilah Dek, aku tidak berniat untuk berbohong, tetapi keadaan ini yang membuat aku menunda untuk jujur padamu."


Yusuf bergumam sendiri, air matanya kembali jatuh, semua kenangan indah bersama istri bergelayut dalam benaknya. Pria itu berdiri dan keluar dari kamar menuju balkon.


Yusuf berdiri, kedua tangannya berpegang pada besi pembatas, ia menatap kucuran air hujan yang begitu deras. "Ya Allah, aku mohon mudahkan segala urusanku. Izinkan aku untuk menemui jasad istriku untuk yang terakhir kalinya ya Rabb."


Saat Yusuf sedang larut dengan perasaannya. Sebuah tangan memegang bahunya. Pria itu melihat siapa orang itu.


"Opa."


"Nak, kami turut berdukacita yang sedalamnya. Kamu sabar ya, ikhlaskan, Nak. Semoga almarhumah ditempatkan diantara orang-orang yang beriman."


"Aamiin ya Rabb. Terimakasih Do'anya Opa."


"Ya, kamu harus kuat dan tegar. Semua sudah takdir dari Allah, Ikhlaskan."


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2