
"Dokter, tolong cari pendonor buat istri saya. Lakukan yang terbaik, Dok."
Aku memohon pada dokter agar melakukan yang terbaik untuk Tiara.
"Baiklah, Pak. Akan kami usahakan yang terbaik. Kita akan informasikan pada pihak RS untuk melakukan pencarian donor untuk Ibu Tiara."
"Terimakasih banyak, Dok."
"Sama-sama, Pak."
Aku keluar dari ruangan Dokter, kembali menuju kamar rawat Tiara, kulihat Mama masih setia menemani putrinya. Air mata wanita itu tak berhenti menetes.
"Mama, Tia sudah capek dengan penyakit ini, Ma. Tia ingin istirahat yang panjang."
"Tidak, Nak. Jangan bicara seperti itu. Kamu harus kuat, kamu pasti bisa sembuh. Mama mohon bertahanlah Tiara. Hiks, kamu tahu Mama tidak mempunyai siapapun selain kamu."
"Mama jangan takut, Mas Yusuf dan keluarganya sudah menganggap Mama sebagai saudaranya sendiri."
"Tapi, kamu harus bisa bertahan, paling tidak untuk Rizqi, apakah kamu tidak kasihan pada putramu?"
"Aku yakin, Ma, Mas Yusuf pasti akan mencari ibu pengganti yang baik untuk Rizqi."
Hatiku benar-benar pilu mendengar segala ucapan yang keluar dari Tiara, aku yang semula hendak masuk, mengurungkan niat dan kembali keluar, aku merosot dilantai yang ada didepan pintu ruangan itu.
Kuremat dadaku untuk menghilangkan sedikit saja sakit didalamnya yang kusebut Qalbu,
Ya Allah, aku mohon tolong beri kesembuhan pada istriku.
"Yusuf, apa yang terjadi?" tanya Papa dan Mama, mereka sudah berada dihadapanku.
Aku hanya menggeleng sembari menghapus tetesan air yang jatuh di kelopak mataku. Hatiku benar-benar sakit. Namun, aku mencoba tetap tegar. Tiara butuh aku saat ini.
"Tiara harus melakukan transplantasi sumsum tulang, Ma." Aku menjelaskan pada kedua orangtuaku dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Ayo berdiri, Nak." Papa membantuku berdiri dan membimbingku untuk duduk di kursi tunggu yang ada didepan kamar rawat itu.
"Sabar ya, Nak. Kamu harus kuat dan tegar demi istri dan anakmu," ujar Papa menyemangati aku, sembari mengusap bahuku.
"Ma, Pa, aku mendengar Tiara bicara bahwa dia sudah menyerah." Aku kembali menunduk dan mengusap air mataku yang kembali jatuh.
"Kamu harus selalu memberinya dukungan dan semangat, Nak." Mama membawaku kedalam pelukannya. Kutumpahkan rasa sakit yang sedari tadi aku tahan.
Saat seperti ini aku memang butuh dukungan dari kedua orangtuaku. Benar yang dikatakan mereka, aku tidak boleh lemah, aku harus kuat. Aku menghela nafas dalam dan berusaha menetralisir perasaan gundah ini, ku tegarkan hati.
Aku dan kedua orangtuaku segera masuk kedalam ruang rawat Tiara, aku melihat dia sudah kembali tertidur. Wajahnya begitu pucat dan kuyu, sisa kesedihan dan air mata masih menghiasi.
Mama mertuaku memberi ruang untukku duduk disisi ranjang. Kedua orangtuaku menghibur besannya agar tetap semangat dan sabar dalam menghadapi cobaan ini.
Ku genggam erat tangan Istriku, kukecup tangan pucat itu. "Sayang, kamu harus kuat ya, kamu pasti sembuh. Apapun akan aku lakukan untuk kesembuhanmu. Ingatlah, Sayang, kita sudah melakukan perjuangan panjang. Jangan katakan bahwa kamu sudah menyerah."
Aku bergumam sendiri sembari mengecup keningnya. Perlahan Tiara membuka mata. Dia menatapku dengan senyum terpaksa.
"Mas, jangan bersedih. Dan jangan memaksakan kehendak. Aku hanya mengikuti segala takdir yang telah Allah tentukan. Aku tidak akan pernah protes. Jangan menangis, Mas."
***
Jam sepuluh malam, aku menitipkan Tiara pada Mamanya, karena aku ingin pulang untuk membersihkan diri, sedari sore hingga sekarang aku sudah tak memperhatikan diriku lagi.
Saat aku sudah masuk kedalam mobil, aku mengeluarkan ponsel dari saku celana, aku mencoba memeriksa panggilan dan pesan yang masuk sedari tadi di ponselku. Aku memang sudah tak memperdulikan apapun selain memikirkan Tiara dan menjaganya.
Kulihat banyak panggilan dari Papa Arman, dan terakhir aku melihat ada pesan dari Khanza. Kembali hatiku dilanda rasa bersalah. Ah, ya Allah, Kenapa aku berada diposisi yang sulit seperti ini.
Aku membaca pesan itu, Seketika hatiku dilanda rasa takut yang mendalam saat mengamati kalimat "Sampai bertemu lagi di titik hati yang telah berubah" Kalimat itu menyiratkan bahwa dia akan pergi meninggalkan aku.
Segera aku menjalankan kendaraanku untuk menuju kediaman istri keduaku itu. Sepertinya aku sudah tidak bisa menyembunyikan hal ini. Aku harus memberi tahu Khanza yang sebenarnya, aku tidak peduli apapun konsekuensinya, yang jelas aku sudah berkata jujur.
"Eh, Suf, tumben tengah malam datang?" tanya ajudan yang sedang jaga.
__ADS_1
"Ah, iya, aku ingin bertemu Bapak Jendral," ujarku beralasan.
"Oh, tapi kayaknya beliau sudah tidur."
"Tidak pa-pa, aku ada perlu. Aku ingin bertemu beliau." Aku segera masuk setelah bertegur sapa dengan mereka.
Saat masuk aku melihat keadaan sudah sunyi, mungkin benar, Papa dan Bunda sudah istirahat. Aku segera naik kelantai dua. Aku harus menemui Khanza.
Perlahan aku membuka kamar istriku, dan kulihat Khanza sudah tertidur pulas dengan memeluk bantal guling. Namun, mataku terusik oleh sebuah koper besar yang berada di samping tempat tidur.
Apa ini? Apakah Khanza akan pergi? Aku mencoba untuk menekan rasa yang sudah membuncah dan ingin tahu yang sebenarnya. Ah,lebih baik aku mandu terlebih dahulu, agar pikiranku sedikit tenang dan rileks.
Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, hanya dua puluh menit, aku sudah selesai mandi. Aku hanya menggunakan bathrob yang tergantung dikamar mandi.
Aku naik keatas tempat tidur dengan perlahan, dan kurebahkan tubuhku disamping Khanza, kupeluk tubuhnya dari belakang, dan kukecup puncak kepalanya berulang kali. Aku benar-benar merindukan wanita ini.
"Maafkan aku Dek, maaf sudah membuatmu kecewa. Aku sangat merindukan kamu." Aku bergumam sembari tanganku mengusap perutnya. Saat aku menikmati posisi sedemikian, tiba-tiba Khanza merubah posisinya.
Kini posisi wanita itu tepat berhadapan denganku. Hembusan nafasnya begitu hangat diwajahku, dan segera kulabuhkan tanda sayang di kening dan dibibirnya. Kuamati wajah cantik yang sudah satu bulan lebih tak aku temui.
Khanza masih menutup mata, tetapi tangannya meraba-raba tubuhku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan. Kubiarkan dia melakukan sesuka hatinya.
Saat Khanza menyentuh rambutku yang masih basah, perlahan kelopak matanya terbuka dan tatapan kami bertemu. Dia masih terpaku sembari menangkup kedua pipiku.
"Mas Yusuf!" Ujarnya yang begitu kaget lalu menjauhkan diri dariku.
"Dek, maafkan aku ya," lirihku, kembali ingin membawanya masuk kedalam pelukan, tetapi Khanza semakin menjarak, dan matanya sudah mulai berembun. Aku tahu dia sedang menyimpan seribu kekesalan dan kecewa yang mendalam.
"Dek, jangan marah atau membenciku. Aku bisa menjelaskan semuanya."
Bersambung...
NB. POV Yusuf end ya. Akan digantikan oleh POV author ππ€
__ADS_1
Happy reading π₯°