Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Kekacauan


__ADS_3

Arumi membimbing Rafif berjalan menuju pondok dimana kedua lelaki itu sedang berbicara. Bocah kecil itu tampak begitu senang dalam rangkulan wanita disampingnya.


"Papa..." Rafif berlari menyongsong sang Papa dan masuk dalam dekapan Pria itu.


"Sudah? Kita pulang sekarang?" tanya Khenzi pada Arumi. Sudah tak sabar ingin segera beranjak.


"Hmm, baiklah," jawab Arumi singkat sembari mengangguk.


"Terimakasih ya, Arum, karena sudah membuat Rafif bahagia," ujar Dr Radit menatap dengan dalam.


"Sama-sama, Dok. Tidak ada yang spesial. Hanya membawanya berbincang dan bermain air," balas Arum dengan senyum lembut.


"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu besok. Mari Khenzi, saya pulang dulu." Pria itu berpamitan dengan Khenzi dan dibalas anggukan olehnya.


Setelah Radit pulang, Khenzi beranjak menuju mobil. Arumi ikut masuk kedalam mobil. Masih sulit untuk bicara dengan Pria itu.


Diperjalanan pulang, mereka hanya diam. Entahlah, tidak ada yang tahu pikiran mereka masing-masing.


"Dia siapa?" tanya Khenzi, tatapannya fokus kedepan.


"Siapa?" tanya Arum tidak tahu.


"Lelaki tadi."


"Maksudnya Dokter Radit?"


"Hmm."


"Dia Dokter Arum di RS," jelas wanita itu singkat.


"Apakah dia mempunyai istri?" tanya Khen mencoba mengorek informasi. Sebenarnya dia penasaran dengan status Dokter itu.


"Dulu ada, tetapi istrinya sudah meninggal, dan mereka dikaruniai seorang anak."


"Apakah kamu menyukai Dokter itu?" tanya Pria itu blak-blakan.


"Hah? Nggak. Arum hanya menganggapnya sebagai teman. Dia begitu baik."


"Bagaimana jika dia mencintaimu?" kembali pertanyaan Khen membuat Arum sedikit tersudut.


"Itu hak dia, Mas. Semua orang berhak mencintai dan dicintai. Dan semua orang juga berhak menentukan pilihannya," jawab Arum lugas.


"Ya, kamu benar. Tapi jika tidak mencintai, maka pandailah menjaga sikap agar orang tak salah persepsi," balas Khen menyindir dengan halus.


Arumi hanya diam menanggapi ucapan Pria disampingnya. Haruskah dia menjaga jarak dengan Dr Radit? Tetapi Arum tidak tega dengan bocah kecil yang begitu menyukai dirinya.

__ADS_1


Tak ada lagi percakapan diantara mereka. Arumi lebih memilih merapatkan tubuhnya di pintu mobil, dan memejamkan mata. Tak berselang lama mobil yang dikendarai oleh Khen sudah memasuki halaman rumah mewah yang berlantai tiga itu.


Arum segera keluar dan meninggalkan lelaki Es yang masih mengambil tas kantornya dari dalam mobil. Khen menatap sekilas pada Arumi. Sepertinya wanita itu tidak menyukai sindiran darinya.


Benarkah dia tidak menyukai Dokter itu? Huff, mikir apa sih aku!


Batin Pria itu, ia menggelengkan kepala, segera berjalan masuk kedalam mengikuti langkah Arumi.


"Baru pulang, Nak?" tanya Bu Santi pada putrinya.


"Iya, Bu. Ibu lagi ngapain?" tanya Arum sembari menyalami tangan sang ibu.


"Ibu mau masak untuk makan malam. Sudah sana kamu mandi, bentar lagi masuk waktu magrib," ujar Ibu sembari meneruskan pekerjaannya.


Arum hanya mengangguk dan segera berlalu menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Pria kaku tadi.


"Mau kemana?" tanya Khen.


"Mau ke kamar," jelas Arum meneruskan langkahnya.


"Setelah mandi buatkan aku kopi. Antar ke ruang kerjaku!" seru Pria itu yang membuat Arum mengerem langkahnya dan menoleh pada Khen.


"Kenapa? apakah kamu keberatan? Kalau begitu suruh Bibik Hana saja," balas Khen yang merasa gadis itu keberatan atas perintahnya.


"Ah, ti-tidak. Baiklah, Arum mandi sebentar." Gadis itu segera beranjak untuk segera membersihkan diri dan melaksanakan ibadah wajib tiga rakaat.


"Untuk siapa itu, Arum?" tanya Ibu Santi


"Buat Mas Khenzi, Bu," jelasnya.


Tok! Tok!


"Masuk!"


Arum segera masuk dan menuju dimana Pria itu duduk sembari menatap layar tipis yang ada dihadapannya. Dengan hati-hati sekali Arum menaruh kopi itu diatas meja.


Pranggg!


Lagi-lagi Arum membuat kesalahan dihadapan Pria dingin itu. Tumpukan kertas yang ada dimeja membuat tangannya tak seimbang menaruh tadah kecil yang memapah gelas kopi, sehingga gelas itu berpisah dari tadahnya dan cairan hitam pekat mengguyur kertas putih yang sedang dipelajari oleh Khen.


"Astaghfirullah..." Arum menutup mulutnya. Raut wajah cemas tampak begitu nyata saat yang punya menyorot dengan tajam.


Khenzi menatap kekacauan yang sudah tercipta didepan mata. Cairan hitam legam itu sudah menjadi noda di setiap berkas-berkasnya.


"Mas Khen, Arum benar-benar minta maaf. Arum tidak sengaja, Mas!" Wanita itu begitu takut dan cemas melihat kekacauan diatas meja itu.

__ADS_1


Khenzi berdiri membuka lemari yang ada di dalam ruangan itu. Mengambil beberapa helai kain lap, tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.


Dengan hati-hati Khen menyisihkan sebagian kertas yang tidak terkena noda dan sebagian lagi ia singkirkan kedalam tong sampah.


Arum hanya mematung ditempatnya. Tak tahu harus berbuat apa, diamnya Pria itu lebih menyeramkan daripada yang biasanya. Apakah dia begitu marah?


Setelah membersihkan kekacauan diatas mejanya, Khen masuk kedalam kamar mandi dan keluar membawa kain pel yang telah diberi cairan pembersih ruangan.


"Mas Khen, biar Arum saja yang melakukannya," ucap wanita itu menahan tangan Khen yang hendak membersihkan lantai ruang kerjanya.


Pria itu menghela nafas panjang, lalu menyerahkan kain pel itu pada Arum. Dan secepatnya Arum membersihkan lantai ruangan. Setelah merasa bersih, Arum segera meninggalkan ruangan itu. Tetapi langkahnya terhenti.


"Mau kemana kamu?" tanya Khen terdengar tegas.


"Ah, ke-keluar, Mas," jawab Arum gugup.


"Sini!" panggil Pria itu meminta Arum mendekat.


Dengan rasa cemas Arum mendekat dan duduk di kursi yang berseberangan dengannya.


"A-ada apa ya, Mas?" tanya Arum tak berani menatap netra itu.


"Bantu aku untuk mem fotocopy berkas ini!" ujar Khen menyerahkan beberapa berkas yang tadi salinannya sudah rusak terkena tumpahan kopi.


Arum hanya bengong menatap berkas yang ada diatas meja. Namun, segera ia bergerak mengumpulkan semua kertas penting itu dan beranjak.


"Mau kemana?" tanya Khen saat melihat Arum hendak membawa berkas itu keluar.


"Mem fotocopy 'kan?" tanya gadis itu yang membuat Khenzi begitu gemas.


"Iya, tapi kenapa kamu harus pergi? Apakah kamu tidak melihat ada mesin fotocopy sebesar itu?" tanya Khen menunjuk benda yang biasanya digunakan untuk mencetak dan menggandakan dokumen itu.


Arum melihat arah telunjuk Khen, sedikit senyum kaku terukir di bibirnya. Arum menyurutkan langkahnya kembali, dan mendekati mesin itu.


"Kenapa bengong?" tanya Khen melihat Arum belum melakukan perintahnya.


"Arum tidak bisa menggunakan mesin ini, Mas. Bisa ajarin nggak?"


Khenzi mengerutkan keningnya sembari menatap gadis yang berdiri di sudut ruangan itu. Perlahan ia berdiri dan mendekatinya.


"Masa sih kamu tidak bisa menggunakannya? Bukankah waktu Koas di RS kamu pernah di tempatkan di etalase?" tanya Khen sedikit heran.


"Maaf, mungkin Mas Khen keliru. Arum seorang perawat, Mas. Bukan Dokter umum," jawab Arum menatap wajah Pria kaku itu.


"Ah, sorry. Ayo aku ajarkan."

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2