Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Bayi mungil


__ADS_3

Yusuf naik kelantai dua untuk menemui istrinya. Terlihat wanita hamil itu sedang melamun duduk di sofa panjang yang ada dikamarnya. Suara pintu terbuka membuat lamunannya buyar.


"Mas, sudah pulang?" tanyanya segera mengambil tangan Pria itu dan mengecupnya.


"Iya, Sayang, kok melamun? Lagi mikirin apa sih?" tanya Yusuf sembari memposisikan duduknya di samping sang istri.


"Nggak lagi mikir apa-apa, Mas."


"Perut Adek masih sakit?"


"Alhamdulillah sudah tidak sakit lagi, Mas."


"Syukurlah. Oya, Dek, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Yusuf yang membuat Khanza menaikkan sebelah alisnya.


"Boleh, tanya apa, Mas?"


"Sebenarnya dulu hubungan kamu dan Leo seperti apa?" tanya Yusuf, ia sudah lama penasaran tetapi baru kali ini sempat membahasnya.


"Leo itu teman SMA aku, Mas, dan dulu waktu aku kuliah di Singapore, kami pernah bertemu," jelas Khanza.


"Sejak kapan dia menyukai kamu?"


"Ya, sejak kami di SMA, Mas. Tetapi aku hanya menganggapnya sebagai seorang teman, aku tidak pernah mempunyai perasaan apapun padanya."


"Kenapa kamu tidak menyukainya, Dek? bukankah dia sangat Tampan?" tanya Yusuf sembari tersenyum menggoda istrinya.


Khanza mengerutkan keningnya mendengar ucapan suaminya, ia heran darimana Pria itu tahu bahwa Leo memang Tampan.


"Kamu tahu darimana, Mas, bahwa dia memang tampan?" Khanza balik nanya pada suaminya.


"Tuh benar 'kan, kamu mengakui bahwa dia itu tampan. Ya, tentu saja aku tahu karena pernah bertemu di tahanan."


"Oh, iya. Adek lupa. hehe..."


"Kok tertawa? Kamu belum jawab pertanyaan aku, Sayang," ujar Yusuf gemas mengecup kening dan bibir Khanza.


"Pertanyaan apa, Mas?"


"Kenapa kamu tidak menyukainya?"


"Mas, aku itu tipe wanita yang tidak mudah mencintai bila hatinya tidak nyaman, dan aku hanya menganggap Leo memang sebatas teman, tak lebih dari itu."


Yusuf menatap Khanza begitu dalam tangannya menangkup kedua pipinya. "Apakah denganku hatimu nyaman?" tanya Pria itu.


"Ya, hatiku sangat nyaman. Kamu adalah cinta pertamaku, Mas. Dan aku berharap kamu jugalah yang akan menjadi cinta terakhir dalam hidupku."

__ADS_1


Yusuf mendekap tubuh Khanza dengan erat, dan mengecup puncak kepalanya. "Terimakasih ya, Sayang, terimakasih atas cinta tulus darimu. Semoga cinta kita hanya maut yang memisahkan."


"InsyaAllah ya, Mas. Aku juga berharap seperti itu." Khanza membalas pelukan suaminya.


"Tetapi, bagaimana dengan Dokter Akmal?" tanya Yusuf, ia ingin istrinya memberi kejelasan pada dokter itu yang hingga saat ini masih menunggu jawaban darinya.


"Mas, nanti jika aku sudah benar-benar pulih, kamu temani aku untuk bertemu dengannya ya, aku akan mengatakan yang sejujurnya tentang hubungan kita."


"Baiklah, Sayang. Aku akan menemani kamu."


"Mas?"


"Ya, Sayang?"


"Apa rencana kamu selanjutnya mengenai pernikahan kita ini?"


"Dek, untuk sementara waktu kamu tetap tinggal di Medan ya, aku akan mengurus segala dokumen penting dan juga surat kematian Tiara. Setelah anak kita lahir, aku akan meresmikan pernikahan kita," jelas Yusuf memberi solusi.


"Baiklah, Mas, tapi saat kamu libur, kamu harus datang temui aku ya."


"Tentu saja, Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mengunjungi dirimu saat aku libur."


"Tapi, bagaimana dengan Rizqi, Mas?"


"Untuk sementara waktu biarkan Rizqi bersama Mama, hingga hubungan kita diresmikan. Setelah itu kita akan merawat anak-anak kita bersama."


"Bawa, Dek, tapi bayi itu lagi bersama Bunda dibawah," ujar Yusuf.


"Benaran? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi." Khanza mencubit pinggang Yusuf dengan gemas.


"Awh... Sakit, Dek. Ya habisnya kita dari tadi sedang membahas hal yang lain." Yusuf menahan tangan wanita itu, lalu membalas dengan hujanan kecupan diwajahnya. Pasangan halal itu tertawa bahagia.


"Mas, kok dari tadi Bunda nggak anterin Rizqi kesini?" tanya Khanza, karena sudah cukup lama mereka ngobrol tetapi bayi mungil itu tak kunjung nongol.


"Kita turun yuk, aku juga ingin bertemu Papa," ajak Yusuf.


"Tapi, aku belum bisa jalan terlalu jauh, Mas."


"Tenanglah, aku yang akan menggendong. Kamu pasti juga sudah bosan berada di kamar 'kan? Lebih baik kita duduk santai di pinggir kolam." Yusuf memberi solusi pada sang istri.


"Tapi aku berat, Mas."


Yusuf segera membopong istrinya dengan santai. "Apaan berat? Orang ringan begini. Makanya Adek harus banyak makan," celoteh Pria itu Berjalan menyusuri anak tangga untuk turun kebawah.


"Mas, malu jika dilihat Bunda dan Papa," ujar Khanza.

__ADS_1


"Kenapa malu? Kan, keadaan kamu memang tidak memungkinkan untuk berjalan."


Bunda dan Papa yang sedang bermain dengan bayi mungil itu, seketika saling pandang saat melihat anak dan menantunya. Bunda tersenyum pada suaminya, lalu membuang muka.


"Mas, udah, turunin Adek! Malu dilihat Papa dan Bunda, Mas...," bisik Khanza pada suaminya.


"Udah, santai saja, Dek. Dulu Bunda dan Papa juga pernah muda, pasti mereka juga pernah melakukan hal yang sama seperti kita," balas Yusuf dengan bisikan juga.


Perlahan Pria itu mendudukkan Istrinya di samping Bunda, lalu Yusuf memposisikan duduk disampingnya.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Papa pada putrinya. Sedikit senyum terluas dibibir Pria baya itu.


"Alhamdulillah sudah membaik, Pa. Hanya butuh istirahat saja," jawab Khanza.


"Syukurlah, Papa senang mendengarnya."


"Pa, bagaimana hasil putusan pengadilan hari ini?" tanya Yusuf pada Papa mertuanya.


"Leo dijatuhkan hukuman 10 tahun penjara."


Yusuf dan Khanza terdiam. Ada rasa tidak tega, tetapi memang itulah yang harus dipertanggung jawabkan olehnya. Tidak menyangka, hanya karena sebuah perasaan yang tak terbalas membuat orang gelap mata. Cinta memang benar-benar buta.


"Biarlah semua akan menjadi pelajaran berharga dalam hidupnya," ujar Papa Arman pada keluarganya.


Setelah membahas tentang Leo, kini mereka membahas tentang peresmian pernikahan Khanza dan Yusuf. Papa dan Bunda menyetujui pendapat yang dikemukakan oleh Yusuf, yaitu setelah bayi mereka lahir, acara resepsi pernikahan mereka akan digelar di kota Medan agar tidak terlalu menonjol oleh publik.


Khanza masih sibuk bermain dengan bayi mungil itu, sehingga bayi itu sudah mulai rewel, sepertinya dia sudah mengantuk.


"Biar Bunda saja yang membuat sufor untuk Rizqi," cegah Bunda saat Yusuf ingin beranjak.


Setelah itu Bunda membawa bayi mungil itu naik kelantai tiga ke kamarnya. Bunda menidurkan bayi itu. Karena Khanza masih belum pulih, maka wanita itu meminta pada anak dan menantunya untuk membawa bayi itu tidur bersama mereka.


"Sayang, mana pakaian ganti aku?" tanya Papa Arman saat baru keluar dari kamar mandi.


"Ya Allah, maaf, Mas. Aku lupa. Sebentar ya, habisnya aku begitu geram dengan bayi mungil ini." Bunda mengecup wajah sang bayi yang telah terlelap dengan damai.


Arman mendekati. Lyra bersandar di pintu lemari pakaian. Kedua tangan Arman memenjarakan tubuhnya. "Kamu ingin mempunyai bayi lagi?" tanya Arman tersenyum nakal.


"Ya Allah, Mas. Apaan sih? Udah tua begini punya anak apaan." Lyra tersenyum bersemu mendengar ucapan suaminya.


"Habisnya kamu terlalu sibuk dengan bayi mungil itu sehingga melupakan aku," ujar Arman sembari memberi kecupan pada bibir sang istri.


"Ya ampun, udah jadi Opa masih aja cemburu dengan cucu sendiri. Gemas banget sama kamu, Mas." Lyra mencubit kedua pipi suaminya. "Awas biar Bunda sediakan pakaian ganti Papa."


Arman hanya terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya yang masih saja bersemu saat digoda olehnya.

__ADS_1


Bersambung...


Happy reading 🥰


__ADS_2