
"Mas Khen! Kenapa kamu yang nganterin?" tanya Arum tak suka satu mobil dengan Pria itu.
"Kenapa? Apakah hatimu berdebar saat menatapku? Itu tandanya kamu masih mencintai aku," sahut Khen dengan santai.
"Ck, apaan sih? Siapa juga yang masih mencintai kamu. Ayo cepat jalan!" titah wanita itu berusaha untuk tetap tenang dan bersikap wajar, Arum tak ingin terlihat masih berharap.
"Oke, kita ke Bandara sekarang. Tapi kamu pindah dong duduk di depan. Aku ini bukan supir," ucap Khen yang membuat Arum tersenyum senjang.
"Kalau tidak mau jadi supir yaudah turun dong, biarin pak Rusdi yang nyupir," balas Arum.
"Dek, ayolah. Biarin aku yang anterin kamu ke Bandara. Kamu ingin aku menjauhi kamu 'kan? maka biarkan untuk kali ini saja aku mengantarkan kamu," ujar Khen dengan nada lembut.
"Nggak mau," tolak Arum tak ingin terpengaruh dengan suara lembut Pria itu.
"Yaudah kalo kamu nggak mau aku akan bawa kamu muter-muter kota Padang," ucap Pria itu seperti ancaman.
"Nggak usah aneh-aneh deh, Mas! Pesawatnya berangkat tiga puluh menit lagi!" pekik Arum dengan jengkel.
"Yaudah, nurut dong. Ayo pindah depan!" titah Pria itu.
Arumi menghela nafas dalam mencoba menekan rasa sabar yang luar biasa menghadapi Pria kaku berlagak sok manis ini. Dengan terpaksa gadis itu pindah ke bangku ACC.
Khen menarik bibirnya membentuk senyuman menatap gadis cantik berlesung pipi itu. Arum tak menghiraukan ia fokus menatap keluar jendela mobil.
"Kota Jambi dimananya?" tanya Khen sembari fokus mengemudi.
"Bukan urusan kamu, Mas."
"Iyalah urusan aku, karena kamu itu calon istri aku, tentu saja aku harus tahu dimana keberadaanmu," balas Pria itu dengan santai.
"Stop bicara seperti itu ya Mas! Arum bukan calon istri kamu lagi. Hubungan kita sudah selesai! Lagian kenapa sih kamu sekarang sibuk banget ngurusin aku? Udahlah kamu fokus saja dengan wanita yang kamu cintai itu. Bukankah dia sedang hamil anak kamu!" tutur Arum yang membuat Khen menghentikan mobilnya secara mendadak sehingga umpatan pengemudi yang lain tak dihiraukannya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Hamil anak aku? Dapat gosip darimana kamu, Arum? Jangan mengada-ada kamu, Dek!" tukas Khen mencoba menahan diri agar amarahnya tak terkemukakan.
"Udahlah, nggak usah dibahas!" ucap Arum tak ingin membahas tentang mereka lagi, yang ada hanya membuat hatinya nyeri.
Khenzi kembali untuk memasok rasa sabar dengan segala tuduhan yang dilontarkan oleh wanita yang sudah menempati hatinya. Sayangnya saat ia menyadari hati wanita itu sudah menjadi benci.
Khen menghela nafas dalam, ternyata menjadi lelaki penyabar dan penuh perhatian itu tidak mudah. Namun, ia akan selalu mencoba untuk menurunkan kadar egonya yang hampir menguasai dirinya.
Dengan pasti Pria itu menjalankan kembali kendaraannya, ia juga tak ingin wanitanya ketinggalan pesawat. Disepanjang perjalanan Khen mencoba untuk menjadi lelaki yang cerewet, padahal ia sangat irit bicara selama ini, maka demi gadis yang dicintai ia rela mengubah segala sikapnya. Sedahsyat itukah cinta?
Tak berselang lama mobil sudah memasuki area Bandara, Khen segera menurunkan koper bawaan gadis cantik itu. Arum hanya diam tak ingin menanggapi dan juga tak mau peduli, perhatian apapun yang akan di perbuat oleh Pria itu sama sekali tak berpengaruh baginya.
"Dek," panggil Khen meraih tangan Arum sebelum masuk. "Aku akan tetap berusaha untuk mengembalikan kepercayaan kamu. Aku tidak akan pernah menyerah. Satu hal yang harus kamu tahu bahwa aku dan Rayola tidak pernah kembali menjalin hubungan," ucapnya sedikit menjelaskan.
Arumi tak tahu harus bersikap apa. Jujur, ia masih belum yakin melihat sikap Khen yang berubah menjadi lembut. Mana mungkin ia percaya begitu saja dengan ucapan yang baru saja di lontarkannya.
Arum masih sangat takut menghadapi sikap Khen yang aslinya adalah Pria kaku dan dingin. Tidak, ia tidak boleh percaya begitu saja.
"Arum pergi dulu, Mas." Hanya kata itu yang mampu ia utarakan. Hatinya masih entah pada Pria itu. Biarlah waktu yang akan menjawab segalanya, yang jelas ia hanya ingin menepi dari masalah yang ada.
"Dek, apakah kamu masih membenciku?" tanya Khen meraih tangan gadis itu saat ingin masuk ke boarding lounge.
Arumi menatap wajah Pria tampan nan kaku yang ada dihadapannya. Wanita itu masih butuh waktu untuk semuanya.
"Maaf Mas, Arum harus pergi sekarang." Wanita itu segera meraih koper yang ada ditangan Khen dan segera masuk ke ruang tunggu.
Khenzi tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa merelakan kepergian gadis yang dicintainya. Rasanya ia ingin sekali ikut pergi bersama wanita itu, tetapi kembali ucapan Papa terngiang di telinganya. Khen harus memberi waktu untuk Arum menenangkan diri.
Jika Khen sedang berjuang untuk meluluhkan hati Arumi, berbeda dengan pasangan polisi itu.
Siang ini Yusuf menyambangi RS tempat Khanza bertugas, yaitu RS Oomnya sendiri. Yusuf datang lebih awal sebelum jam praktek Khanza usai. Pria itu duduk santai di kantin masih menggunakan pakaian dinasnya.
__ADS_1
Sayang, Mas tunggu kamu di kantin ya.
Khanza segera memeriksa pesan yang masuk. Senyum wanita hamil itu mengembang saat membaca pesan dari sang suami. Padahal tidak ada yang spesial kata-katanya, namun hatinya cukup bahagia bila di jemput oleh polisi yang terkenal penembak jitu itu.
Khanza segera membalas pesan Yusuf untuk meminta agar suaminya menunggu beberapa menit lagi. Dan tentu saja Pria penyayang itu tak keberatan sama sekali.
Tak berselang lama Khanza sudah menyelesaikan tugasnya untuk hari ini. Ia segera menuju kantin RS untuk menemui suaminya. Seketika langkah wanita itu terhenti saat menemui suaminya sedang ngobrol dengan seorang wanita yang juga seorang Dokter di RS itu.
Khanza merasa heran kenapa suami bisa tertawa lepas dengan wanita itu? Sejak kapan mereka saling kenal. Bukankah Yusuf tinggal di kota ini baru beberapa bulan ini?
Banyak pertanyaan menyeruak di hati wanita itu. Khanza berjalan menyongsong suaminya .
"Eh, Sayang, kamu sudah selesai?" tanya Yusuf segera berdiri menyambut sang istri sembari memberi kecupan dikedua pipi Khanza.
Khanza hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya, netranya masih memperhatikan wanita yang duduk dihadapan suaminya.
"Oya, Luna, ini istri aku Khanza."
"Hai, Dok, ternyata Dokter Khanza istri Yusuf? Ya ampun, nggak nyangka banget ya," ucap Dokter Luna menyapa Khanza dengan ramah.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Yusuf pada kedua wanita itu.
"Tentu saja kami saling kenal, siapa yang tidak tahu dengan Dr Khanza, anak kesayangan Dr Yandra. Benar 'kan, Dok?" ucap Dr Luna.
"Ah, biasa saja, Dok. Nggak perlu ada embel-embel Dr Yandra juga, karena saya disini bekerja sama seperti Dr Luna tak ada di istimewakan," balas Khanza yang kurang suka dengan kata-kata Dr umum itu.
Bersambung....
Nb. Maaf ya malam jika malam ini tulisan author agak kurang menjiwai ππ
Happy reading π₯°
__ADS_1