Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Ekstra part 1


__ADS_3

Dua hari setelah resepsi pernikahan mereka. Kini Keluarga yang di Padang akan kembali bertolak. Karena Papa dan Khenzi tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.


Sementara itu Khanza tetap tinggal di kota Medan bersama anak-anaknya, karena Yusuf juga sudah menetap tugas di Polres Medan.


Sebelum pulang ke Padang, keluarga itu kembali berunding membicarakan tentang pernikahan Akhifa dan Dr Akmal, yaitu akan dilangsungkan dua bulan yang akan datang.


"Bagaimana Nak, apakah kamu setuju?" tanya Ayah Yandra pada putri bungsunya itu.


"Hah! Dua bulan yang akan datang?" tanya gadis itu seperti keberatan.


"Iya, Dek, kenapa? kan, kemaren sudah kita bicarakan dengan keluarga Akmal," jawab ibu Fatimah.


Semua keluarga menatap pada gadis itu. Sebenarnya Akhifa tidak terlalu tertarik untuk menjalani pertunangan itu, tetapi karena dia disokong oleh semua keluarga, dan termasuk abang-abangnya. Bahkan mereka sengaja meledek bahwa sang adik akan menjadi perawan tua.


Maka dengan terpaksa Akhifa menerima tawaran untuk pertunangan itu. Tetapi sekarang dia harus menikah dalam waktu dekat ini. Sungguh membuat hati gadis itu dilema.


"Tau nih, Adek. Jangan bikin malu keluarga deh," timpal Yanju.


"Hei, cewek cantik. Kamu mau menjadi perawan tua?" tanya Khen yang mulai memancing.


"Ish, perawan tua apaan? Aku itu masih muda, Bang. Sembarangan deh kalo ngomong," rutu Akhifa sembari menatap malas pada Khen.


"Muda apaan, lihat saja wajah kamu sudah mulai banyak kerutan, itu namanya, tuo alun mudo talampau. Hahaha..." Khenzi terkekeh melihat ekspresi wajah sang adik mendengar ucapannya.


"Iihh, Abang apaan sih! Masa sih, Bu? Emang iya wajah aku udah ada kerutan? Pasti bohong nih Mr kaku!" sanggah Akhifa.


"Kok pada diam semua? Emang benar wajah aku udah ada kerutan ya?" tanya gadis itu menatap seluruh keluarganya yang diam menatap dirinya.


"Ya, kalau Papa lihat, memang diwajah kamu sudah mulai muncul tanda-tanda penuaan. Tapi ada cara yang bagus untuk mencegahnya dengan cepat," jawab Papa Arman.


"Hah, Papa serius? Apa itu,Pa?" tanya Akhifa sangat penasaran dan tertarik dengan ucapan Abang dari ayahnya itu.


"Menikah."


Akhifa mengerutkan keningnya, menatap bingung. "Menikah? Apa hubungannya menikah dengan kerutan di wajah?" tanya gadis itu tidak percaya.

__ADS_1


"Hmm, jangan salah. Kamu lihat Kakak-kakak iparmu itu. Mereka tampak jauh lebih muda darimu, karena mereka sudah menikah. Orang menikah itu bawaannya selalu happy, jadi sangat mampu membasmi penuaan," jelas Papa dengan serius membuat gadis itu berpikir sejenak. Akhifa menatap sang Ayah.


"Jangan minta pendapat dengan Ayah, sudah jelas jawaban ayah akan sama dengan Papa," ucap Yandra pada gadis sedikit tomboi dan dingin itu.


"Baiklah, aku setuju. Atur saja semuanya."


Akhirnya mereka semua tersenyum lega. Ternyata sangat sulit membujuk gadis itu untuk menikah. Tentu saja mereka semua mempunyai alasan tertentu kenapa harus segera menikahkan putri bungsu mereka.


Fatimah dan Yandra khawatir melihat anak perempuan satu-satunya itu yang terlalu dingin dan cuek pada lawan jenisnya. Entahlah, apakah dia sangat mencintai pekerjaan atau ada hal lain yang seperti mereka curigai.


Setelah sepakat dengan keputusan. Keluarga Arman Sanjaya itu kembali ke kota Padang. Mereka akan bertemu dua bulan lagi.


***


Siang ini Khen masih sibuk berkutat dengan tumpukan kertas yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan. Saat Pria itu masih sibuk memeriksa dan menandatangani berkas-berkas itu. Konsentrasinya sedikit buyar karena mendengar vibrasi ponselnya.


Khenzi melihat siapa orang yang menelpon di nomor pribadinya. Senyum Pria itu terukir saat melihat nama sang istri dilayar tipis itu.


"Assalamualaikum, Sayang, kok tumben telpon aku jam segini?" tanya Khen, tangannya masih fokus menorehkan tinta pulpen diatas berkas penting yang ada dihadapannya.


"Kenapa, Dek? Kamu sakit?" tanyanya sedikit cemas. Tak biasanya sang istri bernada begitu manja dan merengek seperti anak kecil.


"Arum nggak sakit, Mas."


"Terus?"


"Arum lapar, Mas," rengek wanita itu kembali.


"Loh, kalau lapar kenapa tidak makan? Aku masih banyak kerjaan, Sayang, kamu tidak perlu menunggu. Ayo sekarang makanlah!" titah Khen dalam panggilan itu.


"Arum tidak ingin makan kalau tidak bersama kamu, Mas!"


"Astaghfirullah. Kamu kenapa sih? Kamu mau cari sakit? Aku bilang makan sekarang! Tidak ada bantahan lagi, Titik!"


"Ihh, kamu kenapa tidak peka banget sih, Mas. Pokoknya Arum juga tidak ingin makan kalau tidak dengan kamu. Titik!" wanita itu segera mematikan ponselnya.

__ADS_1


Khen tercengang menatap layar ponselnya, tidak ada salam ataupun pamit dari wanitanya itu. Batin Pria itu masih merasa heran, kenapa sang istri tiba-tiba sikapnya berubah?


Khen tidak ambil pusing. Mungkin saja Arum sedang datang bulan jadi hormon wanita itu sedang bermasalah. Tidak mungkin dia mampu menahan lapar, itu hanya gertakan sambalado saja.


Malam ini Khen baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu baru bisa bernafas lega setelah seharian otaknya terkuras dengan tumpukan kertas yang di pelajari.


Khenzi pulang dengan wajah lelah. Saat Pria itu masuk kedalam rumah, ia melihat orangtuanya sedang duduk diruang keluarga.


"Kamu sudah pulang, Bang? Kenapa ponsel kamu tidak bisa dihubungi?" tanya Bunda segera berdiri.


"Hah! Ah, ya ampun, Abang lupa mencharger nya, Bun," ucap Khen sembari memeriksa benda pipihnya yang sudah mati.


"Emang ada apa, Bun?" tanya Khen melihat wajah Bunda dan Ibu mertua tampak cemas.


"Arumi dari pagi sampai sekarang tidak mau makan dan minum. Ibu dan Bunda tidak mengerti kenapa anak itu mogok makan. Apakah kalian ada masalah, Nak?" tanya Ibu Santi.


"Masalah? Tidak, kami tidak ada masalah apapun, Bu. Apakah benar Arum tidak makan?"


"Ya, dari tadi Bunda dan Ibu membujuk tetapi dia tetap keukuh tidak ingin makan," jawab Bunda tampak khawatir.


Khenzi segera masuk kedalam kamar. Pria itu sangat jengkel dengan tingkah sang istri yang kekanak-kanakan itu, sehingga membuat Ibu dan Bunda cemas.


"Dek, kamu beneran tidak makan? Kamu kenapa sih? Kenapa kamu bertingkah seperti anak kecil bergini?" tanya Khen gemas sendiri.


"Arum sudah bilang, Mas, Arum tidak ingin makan kalau tidak bersama kamu!" tegas wanita itu.


"Kenapa kamu seperti ini? Emang apa bedanya ada aku atau tidak, yang penting kenyang. Kamu tahu aku sangat sibuk di kantor. Jadi, tolong mengerti! Jangan bertingkah seperti anak kecil!" tukas Khen dengan nada sedikit meninggi. Mungkin efek lelahnya setelah seharian bergelut dengan pekerjaan ditambah istrinya yang mulai rewel.


"Kok kamu malah bentak-bentak arum, Mas? Kenapa kamu sekarang jadi pemarah, kalau tahu begini lebih baik Arum di Jambi saja. Arum tidak ingin tinggal disini sama kamu. lebih baik kita LDR-an agar kamu tetap sayang dan lembut," ujar wanita itu dengan mata berkaca-kaca dadanya terasa sesak menahan Isak.


Ekstra part 1


NB. Hai, raederku. Sembari menunggu bab selanjutnya, yuk mampir ke novel baru author yang berjudul ( Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan) klik profil ya๐Ÿค—๐Ÿ™


__ADS_1


__ADS_2