
"Mas Akmal!" ujar Akhifa penuh rasa keterkejutan.
"Hai, apa kabar calon bini?" balas Akmal tersenyum manis.
"Ish, apaan sih. Sejak kapan kamu datang?" tanya Khifa penasaran.
"Sejak beberapa hari ini tak ada kabar dari kamu," jawab Akmal santai.
"Mau ngapain kamu kesini, Mas?"
"Mau ngajak kamu makan siang, kamu belum makan 'kan?" tanya Akmal masih dengan senyum manis.
"Aku udah makan, Mas. Sana kamu pergi sendiri saja," jawab Khifa tak bersimpati sedikitpun.
"Mana bisa gitu, calon suami datang jauh-jauh seharusnya ditemani, ini malah diusir," ucap Akmal tak terima.
Akhifa kembali duduk di kursi kebesarannya untuk memulai kembali pekerjaannya. Akmal menatap gadis kaku itu sembari menduduki bokongnya di meja kerja Akhifa.
Seketika mata gadis cantik itu membelalak, Pria ini mulai memancing hilangnya rasa sabar yang hanya ada sedikit stok didalam rongga dadanya.
"Mas, awas! Aku mau kerja!" usir gadis itu.
"Emang waktu kamu hanya untuk bekerja saja ya?" tanya Akmal tak habis pikir.
"Kalau udah tahu ngapain nanya sih, Mas?" ucap Khifa menatap malas.
"Yaudah, kerja saja, aku akan tetap duduk disini. Sekalian kamu lukis wajah calon imammu ini," balas Akmal tersenyum gemas.
"Mas!" seru gadis itu mulai hilang sabar.
"Apa, Kangen ya? Aku juga. Sini peluk dulu," ujar Pria itu sembari merentangkan kedua tangannya berharap sekali mendapat balasan yang sama.
"Ihh, apaan sih kamu!" Akhifa menyingkirkan tangan Pria itu.
"Hahaha... Pemarah banget, pantas saja nggak ada Pria yang mau selain aku," seloroh dokter Obgyn itu kembali.
"Kenapa, kamu nyesel udah tunangan dengan aku? Yaudah batalin aja," balas Khifa membuat Akmal kembali tersenyum.
"Udah dong, Dek, ayolah temani aku makan siang. Udah lapar banget nih," mohon Pria itu minta dimengerti.
Akhifa masih cemberut menahan segala kekesalannya. Ingin nolak takut Pria ini mengadu pada ibu dan ayah. Duh, jadi dilema. Mana pekerjaannya banyak yang belum diselesaikan.
__ADS_1
"Udah dong mikirnya. Ayolah!"
"Baiklah, aku tidak bisa lama." Akhirnya wanita itu mengiyakan ajakan calon suaminya.
"Nah, gitu dong. Let's go my honey," ucap Akmal membuat gadis itu ingin muntah seketika.
Pasangan itu beranjak menuju tempat makan siang. Akhifa hanya diam tak minat untuk makan sehingga hanya menganggurkan makanan yang ada dihadapannya.
"Kok nggak dimakan?" tanya Akmal menghentikan suapannya.
"Kenyang, Mas, kan udah dibilangin aku udah makan," jelas Akhifa.
"Yaudah, sini suap sedikit aja." Akmal mengarahkan sendok yang berisi makanan itu ke mulut Akhifa.
"Nggak mau!" ujar wanita itu mengelak.
"Nggak pa-pa dikit aja. Nanti biar aku yang habisin makanan kamu." Akmal masih memaksa. Akhirnya mau tidak mau Akhifa membuka mulutnya.
"Udah, Mas, aku sudah kenyang," ujar Akhifa menolak sendok yang kembali ingin masuk ke mulutnya.
Setelah makan siang, Akmal kembali mengantarkan Akhifa ke Butik. Namun, Pria itu tak segera pulang, ia masih mengekori wanita itu kembali naik kelantai dua.
"Nanti saja, aku ingin menemani calon bini dulu saat bekerja," jawab Pria itu anteng.
Akhifa hanya diam tak ingin menanggapi lagi. Baginya sekarang adalah bagaimana agar pekerjaannya segera selesai, terserah Pria itu, ia tak ambil pusing.
Akhifa segera duduk di kursi kebesarannya untuk melukis rancangan gaun pengantin yang telah di sepakati oleh pelanggannya. Wanita itu terlihat begitu fokus sehingga benar-benar mengabaikan calon suaminya.
Akmal merasa mulai bosan hanya di kacangin oleh calon istrinya. Ia mengeluarkan ponsel mencoba mencari kesibukan di layar tipis itu, tak ada yang menarik, tetap saja gadis kaku tak peka itu yang selalu mencuri perhatiannya.
"Dek, masih lama ya?" tanya Pria itu mendekat ke meja Akhifa.
"Masih, Mas. Kan aku sudah bilang pekerjaanku sangat banyak, sana kamu pulang istirahat," jawab Akhifa, tatapannya tanpa beralih dari pensil dan kertas putih yang ada diatas meja itu.
"Nggak, biar aku tunggu kamu disini saja," jawab Pria itu.
"Mas, kamu kenapa sih? Kenapa kamu jadi ngerecokin aku!" seru Akhifa mulai tak sabar melihat tingkah calon suaminya.
"Aku tuh sebenernya heran sama kamu,Fa, kamu itu niat nggak sih ingin menikah denganku?"
"Udahlah, Mas, aku lagi banyak pekerjaan. Aku tidak ingin membahasnya," sahut gadis itu tak ingin menanggapi.
__ADS_1
"Tetapi aku ingin membahas. Hanya meminta waktumu setengah hari saja kamu tidak bisa? Jadi kapan kita bisa saling mengenal satu sama lain bila sikap kamu seperti ini!" Akhirnya Pria itu mengutarakan apa yang tersimpan selama ini dalam hatinya atas sikap gadis itu yang tak mengenakkan bagi hubungan mereka.
"Jadi kamu nyesel bertunangan dengan aku?" tanya Akhifa tak mau kalah.
"Aku tidak menyesal, tapi aku hanya ingin kamu juga mengerti, suatu hubungan dibangun harus dibarengi oleh dua pasangan yang saling memahami. Selama ini aku cukup memahami segala sikap kamu."
"Aku ini sibuk, Mas!"
"Aku sebenarnya jauh lebih sibuk, Fa. Tetapi aku berusaha meluangkan waktu untuk hubungan kita. Bagaimana hubungan kita nanti setelah menikah bila kamu selalu tak mempunyai waktu," jelas Akmal meminta pengertian wanita itu.
Akhifa menghentikan pekerjaannya, tatapan beralih pada Pria yang berdiri dihadapannya. Gadis itu bingung harus bagaimana menyikapi hal ini.
Akmal mengambil kunci mobil dan segera beranjak ingin meninggalkan ruangan itu, namun langkahnya terhenti saat Akhifa meraih tangannya.
"Mas, tunggu dulu!" ujar gadis itu mencoba untuk memperbaiki.
"Apalagi? Kamu sibuk 'kan? Yaudah aku pergi sekarang." Akmal melepaskan pegangan tangan wanita itu.
"Mas, tunggu. Aku ikut," ujarnya meminta calon suaminya untuk menunggu.
Akmal hanya diam tidak pergi, tapi menunggu. Akhifa segera mengambil tasnya dan ikut turun bersama Pria itu. Sedikit lega dihatinya karena hati gadis itu mau mengerti.
Diperjalanan Akhifa hanya diam, hatinya tidak tahu harus bagaimana. Jujur, perasaannya pada Pria itu belum bisa memastikan yang sebenarnya.
"Kita mau kemana, apakah langsung pulang?" tanya Akmal membuka percakapan.
"Terserah," jawab gadis itu pasrah.
"Kok gitu jawabnya? Masih mikirin pekerjaan?"
"Kamu itu gimana sih, Mas? Kenapa jadinya aku serba salah. Aku sekarang ikut mau kamu kemana, kamu ingin kita bisa saling mengenal satu sama lain 'kan? Jadi, udahlah, jangan membuat aku bingung harus bersikap gimana lagi," jawab Akhifa menatap tidak mengerti.
Akmal menepikan kendaraannya hingga turun aspal. Pria itu menatap gadisnya yang sedang tak enak hati karena tuntutan pengertian darinya.
Perlahan tangan Pria itu terulur menggengam tangan Akhifa dengan lembut. "Dek, apakah selama ini kamu tidak mempunyai perasaan apapun padaku? Apakah permintaan aku tadi begitu berat bagimu?" tanya Akmal dengan lembut menyentuh perasaannya.
Perasaan Akhifa tak menentu kala tangan lembut seorang dokter obgyn itu menggengam tangannya.
Ekstra part 8
Happy reading 🥰
__ADS_1