Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Ulah Rayola


__ADS_3

Arum tersenyum bahagia membawa bungkusan makanan dari Khen. Wanita itu makan bersama dengan Rara.


"Makasih ya, Arum. Tapi, tunggu dulu! Emang siapa sih Pria itu? Benaran pacar kamu?" cecar Rara yang masih penasaran.


"Ish, nggak usah banyak tanya. Ayo kita makan sekarang," ujar Arum tak ingin menanggapi pertanyaan Rara.


"Pelit banget sih kamu kasih tahu. Kalau iya juga nggak pa-pa. Tapi kalau cuma teman, boleh dong kenalin aku. Hehe..." Rara terkekeh sembari menikmati makanan itu. Namun, Arum membesarkan matanya mendengar ucapan Rara yang minta dikenalkan pada tunangannya itu.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa bersantai sejenak untuk mengenyangkan perut. Sungguh malam ini begitu melelahkan," ujar Arum menyudahi makannya.


"Kenapa? Apakah pasien kamu rewel lagi?" tanya Rara pada Arum. Karena mendengar ucapannya.


"Hmm, Bapak yang diruang anggrek cukup rewel, Ra. Kayaknya harus masuk ruang ICU. Karena gangguan imunologisnya udah akut, padahal aku sudah kasih suntikan dua jam sekali. Tetap saja nafasnya sesak," keluh Arum mengenai salah satu pasien yang dia rawat.


"Sabar, Neng, butuh ekstra kesabaran yang tinggi jika menemukan salah satu pasien yang seperti itu."


"Ya, harus. Udah yuk balik lagi, ntar dicariin lagi ama keluarga mereka, jangan sampai kena semprot. Hahaha..." Tawa duo perawat itu mengiringi langkah mereka untuk kembali ke ruang jaga.


Pagi jam setengah tujuh, vibrasi ponsel Arum berbunyi. Wanita itu sedang menandatangani pergantian shift. Selesai dengan urusannya, Arum segera turun kelantai satu menuju lobby, di dalam lift ia mengecek ponselnya yang tadi berdering.


Masih lamakah?


Pesan dari Pria yang sudah selalu ada dalam pikirannya. Arumi segera membalas pesan itu untuk menunggu sebentar.


Saat keluar dari lift, Arum mendapati Khen sedang duduk di bangku tunggu pendaftaran yang ada di lantai satu. Pria itu segera berdiri melihat yang ditunggu sudah ada dihadapannya.


"Sudah?" tanya Khen, sedikit mengulas senyum menyambut kehadiran wanita itu di pagi hari.


"Hmm, Mas Khen sudah lama nungguin?" tanya Arum berjalan keluar mengikuti langkah Pria itu.


"Sudah tiga puluh menit," jawab Khenzi datar.


"Hah? Berarti dari setengah tujuh disini? Kan Arum sudah bilang pergantian shift jam tujuh," jelas Arum merasa tidak enak karena sudah membiarkan Pria itu menunggu terlalu lama.


"Tidak masalah. Kita sarapan di kantin dulu ya," ajak Khen.

__ADS_1


"Baiklah."


Pasangan itu menuju kantin RS untuk mengisi perut sebelum pulang. Khenzi memesan makanan yang sama, sesuai permintaan Arum yang ingin disamakan dengan makannya.


Beberapa menit menunggu pesanan mereka disajikan, Khenzi masih bingung harus bicara apa. Sikap Pria itu masih kaku untuk berinteraksi dengan wanita yang ada dihadapannya.


"Pagi, Arum! Kamu sudah tugas? Bukankah nanti siang?" tanya seseorang disaat mereka sedang fokus dengan sarapan.


"Ah, Dokter Radit! Mari sarapan dulu, Dok," tawar Arum pada Dokter yang biasa di dampingnya.


"Ya, silahkan! Aku sudah pesan. Hai, Khen, ketemu lagi kita disini," ucap Dr Radit menegur Khenzi yang sedikit terganggu konsentrasinya.


Khenzi hanya tersenyum datar dan mengangguk tipis pada Pria itu. Dia meneruskan makannya tanpa minat untuk berbasa-basi pada Dokter Radit.


"Kenapa sudah dinas, Arum?" tanya Dr Radit kembali, karena tadi tak mendapatkan jawaban.


"Arum cuma menggantikan shift suster Kinan yang berhalangan, Dok," jelas Gadis itu pada sang dokter.


"Oh, nanti sore masuk?"


"Baiklah, silahkan dilanjutkan makannya." Dokter ramah itu segera menuju meja sarapannya karena sudah tersaji disana.


Khenzi hanya diam dan fokus dengan makanannya yang sedikit lagi kandas. Arum melihat air muka Pria itu sedikit berubah.


Selesai sarapan, mereka segera pulang. Di perjalanan Arum kembali melihat bahwa mobil yang dikendarai Khen tidak menuju kediaman mereka.


"Mas, kita mau kemana?" tanya Arum


"Ke pabrik," jawab Pria itu singkat.


Arumi hanya diam, tak ingin lagi bertanya. Tidak berapa lama mobil sudah menepi memasuki pabrik karet yang cukup besar di kota Padang itu.


Arum mengikuti langkah Pria itu naik kelantai tiga ke sebuah ruangan direktur utama. Yaitu ruangan bersih dan seteril.


"Tungglah disini, istirahatlah. Aku akan meninjau ke lapangan, mungkin agak lama. Kamu tidur saja di kamar itu. Setelah pekerjaanku selesai akan aku bangunkan," jelas Pria itu sebelum beranjak meninggalkan ruangannya untuk menuju lapangan dan sekalian melihat mesin produksi yang kemarin baru mereka beli dan hari ini mulai beroperasi.

__ADS_1


Arum hanya mengangguk patuh tanpa berani protes atau membantah. Karena matanya yang memang sangat mengantuk, maka wanita itu menuju bad yang berukuran sedang yang ada diruangan itu.


Setelah memastikan Khenzi pergi, Arum segera merebahkan tubuhnya disana. Wanita itu begitu mengantuk, dalam sekejap sudah menemui mimpinya.


Cukup lama Khenzi memantau segala aktivitas di pabrik itu, dan menyaksikan kinerja mesin new yang sedang beroperasi. Merasa cukup puas dengan hasilnya, maka Khen menyudahi peninjauannya untuk hari ini.


Karena siang ini Khen akan ada pertemuan dengan supplier yang akan datang dari luar kota. Khen kembali naik keatas. Saat Pria itu berada didepan pintu. Terdengar suara dua orang wanita saling cekcok.


"Dengar Arum! Kamu itu hanya anak seorang pembantu! Kamu tidak pantas untuk Mas Khenzi! Kamu harus bisa bercermin, kalau kamu tidak mempunyai cermin, maka akan aku belikan untuk kamu!" Sentak Rayola pada Arumi.


Arumi menyorot tajam. Telinganya terasa begitu panas mendengar hinaan padanya.


"Kalau aku anak pembantu apa masalahmu?!" tanya Arum dengan nada tinggi.


"Tentu saja masalah bagiku! Kamu harus meninggalkan Mas Khen. Dia itu sudah menjadi milikku. Kamu lihat ini, dan ini? Ini adalah foto kami bercinta!" Tegas wanita itu menunjukkan beberapa gambar Mesra mereka yang ada di galeri ponselnya.


Seketika mata Arum berembun saat melihat gambar-gambar yang membakar hatinya.


"Apa yang kamu katakan Yola?!" sentak Khen membuka pintu ruangan itu secara kasar


"Apa? Aku mengatakan yang sebenarnya, Mas! Aku tidak rela melepaskan kamu begitu saja. Bukankah hubungan kita sudah sejauh ini, tapi kenapa kamu begitu mudah meninggalkan aku!"


"Heh, dengar! Jangan bicara yang mengada-ada. Sejauh manapun hubungan kita, tetapi aku tahu dengan batasanku!" Bentak Khenzi.


Sementara Arum yang mendengar, hatinya terasa sakit, kembali bayangan foto-foto mesra yang dia lihat di galeri ponsel Rayola tadi.


Wanita itu melangkah dan keluar dari ruangan itu.


"Arumi! Tunggu!" panggil Khen ingin meraih tangan gadis itu, tetapi Rayola terlebih dahulu meraih tangannya.


"Mas Khen, biarkan saja wanita itu pergi!" seru Rayola dengan tersenyum merayu.


"Lepas! Ingat Yola, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jika Arum sampai salah paham. Aku akan buat perhitungan denganmu!" ancam Khen segera berlalu dari hadapan wanita itu.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2