
Dua minggu berlalu setelah Tiara meninggal dunia. Dan Khanza juga sudah pulih. Malam ini Khanza dan Yusuf menemui Dr Akmal yang sebelumnya sudah membuat janji dimana mereka bertemu.
Setibanya di sebuah Cafe, Dr Akmal tersenyum sumringah melihat Khanza sudah datang, namun senyum itu menguap begitu saja saat Khanza menggandeng tangan Yusuf dan membawanya duduk bersama mereka.
Dokter yang berumur dua puluh sembilan tahun itu tampak canggung ingin menyapa. Tetapi ia berusaha untuk tetap berpikiran positif.
"Kamu ingin pesan apa?" tanya Akmal pada Khanza, tetapi ia tidak menawarkan pada Yusuf, dua orang Pria dewasa itu saling pandang, entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.
"Tidak usah, Dok. aku hanya sebentar saja, ada yang ingin aku bicarakan," ujar Khanza menolak.
Dokter Akmal sudah firasat bahwa apa yang selama ini ia dambakan, maka malam ini akan hancur begitu saja. Karena hal yang tidak wajar, seorang Khanza berani menggandeng tangan polisi yang bertugas sebagai ajudannya sendiri. Apakah mereka mempunyai hubungan? Dan dokter kandungan itu juga melihat perut Khanza tampak berisi. Ah, entahlah hanya mereka yang tahu.
"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan, Khanza?" tanya Akmal langsung pada pokoknya.
"Dok, aku kesini ingin meluruskan tentang kita. Maaf, Dok, aku tidak bisa menerima perasaan Dokter, karena aku sudah menikah dengan Mas Yusuf. Dia suami aku, dan bahkan aku sudah hamil. Sekali lagi aku minta maaf. Semoga Dokter mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku," jelas Khanza.
Dokter Obgyn itu terlihat tenang, walaupun dihatinya ada perasaan kecewa yang mendalam, tetapi berusaha ia tutupi dengan senyum kepalsuan.
"Tidak pa-pa, Khanza. Aku ikut berbahagia dengan kabar ini. Memang dari awal aku sudah mengira bahwa kalian ada hubungan. Selamat ya." Akmal memberi ucapan selamat dan menyalami tangan Khanza dan Yusuf.
"Terimakasih, semoga Dokter bisa mendapatkan jodoh yang terbaik," balas Yusuf.
"Ya, tolong jaga dia dengan baik. Jangan pernah sakiti perasaannya. Jangan sampai aku menculiknya darimu. Hahaha..." Dr Akmal berusaha untuk memecahkan suasana.
"Dokter tenang saja. Aku tidak akan pernah menyakitinya dan tidak akan pula aku biarkan lelaki manapun mengambilnya dariku." Yusuf tak kalah menantang ucapan dokter itu dengan mengulas senyum.
Akhirnya urusan Khanza dan Dr Akmal sudah selesai. Kini tak ada lagi yang mengganjal dalam hubungan mereka. Khanza dan Yusuf hanya menunggu waktu kelahiran bayi mereka. Setelah itu pernikahan mereka akan diresmikan.
__ADS_1
Setelah sembuh total, Khanza kembali ke kota Medan. Tetapi kali ini ia tidak pergi sendirian, tetapi diantarkan oleh Yusuf, tentu saja membuat hati wanita itu bahagia.
Setibanya di kota Medan, Yusuf segera mengantarkan sang istri kerumah utama keluarga Malik. Tentu saja disambut bahagia oleh Oma dan Opa.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Oma pada Cucunya.
"Alhamdulillah sudah membaik, Oma."
"Alhamdulillah, syukurlah. Oya, mana cicit Oma? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Oma tentang Rizqi.
"Dia masih bersama neneknya, Oma. Nanti setelah pernikahan kami diresmikan, maka kami akan membawa Rizqi tinggal bersama."
"Oh, iya iya. Ayo kalian istirahatlah. Oma akan meminta Bibik untuk menyediakan makanan."
"Baiklah. Oya, Opa mana?" tanya Khanza yang tak menemui Pria tua itu.
"Aamiin ya Allah..." Yusuf dan Khanza mengaminkan Do'a sang Nenek.
Pasangan halal itu segera menuju kamar untuk istirahat sejenak. Khanza mengemasi barang-barangnya dan menyimpan dalam lemari. Sementara itu Yusuf masih sibuk dengan ponselnya.
"Mas, kamu pulang besok 'kan?" tanya Khanza duduk disisi suaminya.
"Iya, Sayang, aku sudah ambil penerbangan subuh, soalnya besok jam sepuluh aku ada tugas diluar kota bersama jajaran yang lainnya."
"Oh, kemana, Mas?" tanya Khanza penasaran.
"Di pulau, Dek, mempersiapkan beberapa pos untuk pemilu tahun ini," jelas Yusuf.
__ADS_1
"Pulau mana?" tanya Khanza yang cukup besar rasa penasaran dimana suaminya bertugas. Dia takut akan dibohongi lagi seperti kemaren-kemaren.
"Mentawai, Sayang. Kenapa kamu tanya begitu detailnya? Kamu sudah seperti Papa saat menyelidiki sebuah kasus. Hahaha." Yusuf membawa wanita hamil itu dalam dekapannya. Dia begitu gemas melihat tingkah istrinya.
"Ish, apaan sih. Ya iyalah, kali ini aku harus tahu dimana suamiku bertugas. Nggak mau lagi seperti kemaren-kemaren. Aku sedih banget berasa bagaikan istri yang tak dianggap. Bahkan aku tidak tahu dimana suamiku, dan aku juga tidak mendapat kabar darimu. Nyesek banget tahu nggak sih, Mas!" Jelas Khanza hampir menangis saat mengingat hal itu kembali.
"Maaf ya, Dek. Maaf sudah selalu membuatmu kecewa. Tapi saat itu memang aku berada dalam kecemasan menghadapi sakit Tiara. Mungkin saat itulah ujian terberat bagiku. Aku harap kamu dapat memahami hal itu. Dan sekarang aku berjanji akan selalu mengabarimu setiap waktu, bahkan kalau perlu aku akan menghubungimu setiap menit."
Khanza memegang tangan Yusuf dengan erat. Dia sudah merasa sebagai istri yang tak bisa memahami posisi suaminya saat itu. Dan ia juga telah mengungkit masa yang telah berlalu. Seharusnya dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan akan hal itu. Sesungguhnya Yusuf sangatlah penuh cinta dan perhatian, hanya karena saat itu dia berada dalam masalah berat.
"Mas, maafka aku juga, karena sudah tak bisa memahami posisimu. Sekarang aku percaya padamu. Aku akan selalu menunggu kabar darimu. Aku akan selalu berdo'a agar suamiku dalam lindungan Allah saat menjalani tugas negara."
"Aamiin... Terimakasih untuk Do'a yang selalu kamu rampalkan untukku, Dek. Akupun juga begitu. Walaupun kita tidak selalu bertemu. Tetapi, Do'a kita yang akan mempertemukan selalu."
Khanza memeluk sang suami begitu erat. Kini pelukan itu semakin dalam. Dengan perlahan Yusuf membaringkan tubuh sang istri. Tatapan Pria itu penuh gairah.
"Dek, udah boleh?" tanya Yusuf yang sudah puasa hampir tiga minggu lamanya.
Khanza mengangguk. "Pelan-pelan ya, Mas."
Seketika senyum Pria itu merekah saat mendapatkan lampu hijau dari istrinya. Yusuf mulai meforplay. Dengan sangat hati-hati Pria itu menyentuhnya.
"Mas, pintunya belum dikunci," bisik Khanza, menahan tubuh suaminya. Merasa tidak aman sebelum pintu kamar itu dikunci, takut Oma atupun art datang memanggil.
Dengan nafas memburu Yusuf menghentikan kegiatannya. Pria itu segera bangkit dan mengunci pintu kamar. Dan siang itu pertarungan sengit kembali terjadi untuk mengantarkan pasangan halal itu mencapai puncak surgawi.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰