
"Abang disini? Pantes tadi Adek cariin dikamar nggak ada," ucap Khanza saat menemui Abangnya berada dikamar orangtuanya.
"Ada apa, Dek?" tanya Khen sedikit heran, kenapa Khanza mencarinya malam-malam begini.
"Nih, Adek mau kasih kado ini buat Abang." Khanza menyerahkan sebuah kotak kecil yang hampir mirip dengan apa yang diberikan oleh Khen untuknya kemaren.
"Apa ini? Kamu kasih Abang gelang juga? Kamu kira Abang apaan harus pakai perhiasan," ujar Khen menatap kotak yang di lapisi kain bludru itu.
"Eh, lihat dulu. Belum juga buka udah protes aja," balas Khanza gemas sendiri.
"Udah, ayo buka Bang. Bunda juga penasaran ingin lihat," seru Bunda ikut memaksa Khen untuk membuka hadiah dari Khanza.
Dengan hati-hati Khenzi membuka kotak itu, sebuah cincin tunangan berjenis Kyrie Comfort fit Diamond. Pria itu mengernyitkan dahinya menatap benda indah itu.
"Untuk apa kamu beliin Abang cincin ini, Dek?" tanya Khen tidak mengerti.
Bunda dan Papa tersenyum, mereka sudah tahu apa maksud anak perempuannya untuk apa ia membelikan Abangnya cincin tunangan.
"Adek beliin ini bukan buat Abang yang kenakan. Tetapi, Abang akan memberikannya untuk Kak Arumi," jelas Khanza pada sang Abang.
"Ka-kamu?"
"Iya, Abang harus pakaikan cincin ini pada Kak Arumi. Bukankah Abang ingin lebih dekat lagi dengannya. Dan apakah Abang tidak ingin menjalani hubungan ke jenjang yang lebih serius?"
"Ta-tapi, Dek?"
"Udah, nggak usah tapi-tapian. Abang mau kalau gadis cantik itu digaet oleh lelaki lain? Terus akhirnya Abang gigit jari. Udah sana!" Khanza mendorong tubuh Abangnya mengarah ke kamar Arum untuk memberikan cincin itu.
Khenzi tak bisa lagi menolak, kata-kata Arumi digaet lelaki lain membuat nyalinya tertantang. Entah kenapa dia terpikir Dr Radit. Ya, Khenzi takut jika Arum di ambil oleh Dokter itu.
Dengan segala kekuatan dan keberanian yang ada, Khen menemui gadis yang tadi siang hampir celaka karena ulahnya itu.
Tok! Tok!
"Arum, ini aku Khenzi. Aku masuk ya!" seru Pria itu sebelum masuk.
Sementara itu Arumi yang hampir tertidur, jantungnya berdebar saat mendengar suara Pria itu. Entah kenapa sekarang hatinya semakin tak menentu bila berhadapan dengannya.
"Arum! Apakah kamu sudah tidur?"
__ADS_1
"Ah, be-belum, Mas!"
Arum segera membukakan pintu kamar untuk Pria itu. Terlihat keduanya saling bertatapan dan terpaku. Ada rasa canggung bergelayut diantara keduanya.
"Boleh aku masuk?" tanya Khen memutus lamunan Arumi.
"Ah, ya."
Khenzi segera masuk kedalam kamar gadis itu, dengan membiarkan setengah pintu kamar terbuka agar tak timbul kecurigaan.
"A-ada apa, Mas?" tanya Arum sedikit gugup menanyakan perihal untuk apa lelaki itu menyambangi kamarnya malam begini.
Khenzi tampak gugup saat mendapat pertanyaan Arumi, kebiasaan buruk Pria kaku itu kembali datang, yaitu dahinya akan berkeringat dingin bila berhadapan dengan wanita yang mungkin sudah ada rasa dihatinya untuk wanita itu sendiri.
Khenzi duduk di sofa yang ada dikamar itu, dan di ikuti oleh Arum duduk agak menjarak. Kembali mereka saling pandang. Arum merasa aneh melihat sikap Pria itu.
"Arum, a-aku ingin bicara serius denganmu," ujar Khen tampak masih gugup.
"Bicara apa, Mas?" tanya Arum serius.
"Arum, a-apakah kamu mau menjalani hubungan serius denganku?" tanya Khen sembari mengusap keringatnya yang ada di dahi.
"Maksud, Mas Khenzi?" tanya wanita itu masih belum mengerti.
Seketika wajah Arumi memerah. Dia masih bingung harus menjawab apa, lelaki itu tidak pernah mengungkapkan perasaannya dan mengatakan cinta, tetapi sekarang dia meminta untuk menjadi tunangannya. Apakah ini sudah lebih dari ungkapan cinta?
"Arum, kenapa kamu diam saja? Apakah kamu keberatan, atau kamu tidak mau?" tanya Khen tampak sendu.
"Bu-bukan, Mas. Tapi, apakah Mas Khenzi sudah yakin pada keputusan ini untuk bertunangan dengan Arum?" tanya Arum memastikan.
"Ya, aku sudah yakin, Arum. Aku ingin hubungan kita lebih serius. Apakah kamu bersedia?"
Arumi tersenyum malu, dan mengangguk. Pria itu juga tersenyum. Kembali Arum terpesona melihat senyum yang di ukirkan dari bibir Khenzi.
"Alhamdulillah..."
Seruan rasa syukur diucapkan oleh keluarganya yang ternyata sudah berada di kamar itu. Oma dan Opa juga tak kalah ketinggalan karena diajak oleh Khanza.
"Sematkan! Sematkan! Sematkan!"
__ADS_1
Seru Khanza heboh sendiri sembari bertepuk tangan. Wanita itu ikut bahagia dengan hubungan mereka.
Khenzi menatap keluarganya yang sudah ada disana. Tentu saja membuat Pria itu semakin nervous. Khen menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Dengan perlahan Khenzi meraih jemari Arumi dan menyematkan cincin tunangan itu. Ternyata cincin itu pas dijari manis gadis cantik berlesung pipi itu.
"Alhamdulillah... Akhirnya sekarang Arumi sudah terikat, itu bertanda dia akan menjadi hak milik kamu. Nanti kita bicarakan langkah selanjutnya bersama Ibu Santi," ujar Papa Arman. Tampak Pria baya itu bahagia, akhirnya sang Putra mau bertunangan dengan wanita yang di inginkannya untuk jadi menantu.
"Opa berharap hubungan kalian akan berlanjut sampai ke pelaminan. Jaga hubungan kalian, harus saling terbuka, jangan ada masalah yang di tutup-tutupi dengan pasangan agar tetap langgeng," Pesan Opa Malik pada cucu-cucunya.
"Baik, Opa." Mereka menjawab serentak.
"Cie cie, jawabnya berbarengan, itu tandanya Abang dan Kak Arum berjodoh. Hahaha..." Khanza masih menggoda Abangnya.
"Udah, Dek, jangan di goda terus, mereka masih sangat malu. Kamu mau Abang Khen menjadi semakin nervous, biarkan dia menetralkan perasaannya agar terbiasa," ujar Yusuf berbisik pada istrinya.
"Eh, iya. Hehe..." Wanita itu cengengesan.
Khenzi dan Arumi hanya tersenyum malu. Bunda dan yang lainnya tahu bahwa mereka masih canggung dan mungkin ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan secara privasi.
"Baiklah, kalau begitu silahkan kalian ngobrol. Bunda dan Papa mau istirahat dulu," ujar wanita itu sembari mengedipkan matanya pada paksu. Arman cepat tanggap dan segera mengikuti langkah istrinya untuk keluar.
"Ayo balik kamar, Dek. Masih ada kewajiban belum kita selesaikan," bisik Pria itu pada Khanza, sehingga wajah wanita hamil itu bersemu.
Opa dan Oma juga Kembali ke kamar mereka untuk istirahat. Kini tinggallah mereka berdua yang ada di kamar itu. Arum masih sangat malu bila beradu pandang dengan Pria yang baru saja mengikat dirinya.
"Udah ngantuk?" tanya Khen membuka suara.
"Hah? Be-belum. Mas sendiri?" tanya Arum.
"Sama. Apakah kamu masih pusing?"
"Enggak, Alhamdulillah pusingnya sudah hilang. Hanya hidung agak meler," jawab Arum jujur.
"Sekali lagi aku minta maaf ya. Benaran, nggak berniat mencelakai kamu," jelas Khenzi yang masih merasa bersalah.
"Iya, Arum ngerti kok, Mas. Sekarang Mas kan, sudah tahu bahwa Arum tidak bisa sedikitpun berenang," jelas Arum.
"Iya, aku tahu. Nanti kalau kita sudah menikah, aku akan mengajari kamu berenang," ucap Khen yang membuat wajah Arum semakin bersemu mendengar kata-kata menikah. Apakah Pria itu serius ingin memperistrikan dirinya?
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰