
Sekian jam menunggu dalam kesabaran akhirnya para makhluk Tuhan yang unik itu sudah selesai berbelanja. Khenzi menghela nafas lega tak terkira, entah berapa banyak minum dan cemilan yang dia nikmati demi menghilangkan rasa bosannya dalam menunggu.
Sementara Yanju dan Yusuf membantu istrinya membawakan barang belanjaan. Khen hanya cuek tak bergerak dari tempat duduknya.
"Mas Khen, bantuin napa, Mas? Ish, nggak peka banget jadi laki," rutu Arum sembari menenteng belanjaannya sendiri.
"Hehe... Maaf Sayang, tadi lagi nggak fokus. Berat ya? Kalau berat besok-besok belanjanya di kurangin aja," ujar Pria itu menyindir secara halus.
"Ikhlas nggak nih bantuinnya? Lagipula ini bukan punya Arum semua. Buat kamu juga, Mas!" sahut Arumi kesal dengan Pria kaku yang belum juga peka.
"Eh, jangan gitu dong, Sayang, tentu saja aku ikhlas lahir dan batin." Khen segera meraih semua jinjingan yang ada ditangan istrinya.
Arumi yang kesal mendahului Pria itu dengan wajah cemberut. Khen hanya menghela nafas dalam, seharusnya dia yang protes karena sedari tadi pantatnya terasa panas menunggu. Tapi kenapa sekarang malah wanita itu yang marah. Ah, wanita memang selalu benar.
Yanju yang melihat hal itu kembali tertawa ngeledek sang adik. "Hahaha... Makanya jadi laki harus peka!" Seru Yanju
Khenzi hanya menatap garang tak menghiraukan, ia segera berlari mengejar langkah Arum, karena tak ingin bila istrinya ngambek, bisa-bisa puasanya bertambah dua minggu.
"Hahaha... Lucu banget tuh anak," ucap Yanju masih mentertawakan Khen.
"Huuss! udah, Mas. Jangan di tertawakan lagi. Kamu tuh bukan bantuin ngajarin Khen bagaimana bersikap manis pada wanita, ini malah ngetawain," ujar Aisyah.
"Iya nih Bang Anju. Diajarin kek Bang Khen biar tambah peka," sambung Khanza.
Yanju hanya bisa tersenyum karena mendapat teguran dari kedua wanita kesayangannya. Iya juga yang dikatakan mereka. Selama ini karena mereka jarang bertemu, jadi kebersamaannya dan Khen sangat kurang sehingga dirinya sebagai Abang jarang memberi masukan pada sang adik sehingga sikap Pria itu kaku dan dingin.
Khenzi hanya banyak menghabiskan waktunya dikantor sehingga dia jarang sekali mempunyai waktu untuk wanita. Hanya wanita tertentu saja yang bisa memahaminya, seperti Bunda dan Khanza.
Saat mereka ingin membawa Rizqi bermain ketempat khusus bayi yang ada di mall, tiba-tiba Khanza meringis menahan rasa sakit di perutnya.
"Awh...!"
"Kenapa, Sayang?" tanya Yusuf menahan tubuh Khanza yang menunduk menahan sakit. Yusuf segera memberikan Rizqi pada Yanju.
"Kamu kenapa, Dek? Apakah kamu ingin melahirkan?" tanya Yanju ikut panik.
"Khanza kenapa?" tanya Khen juga menghampiri.
"Hhsss! Ini sakit banget, Mas. Sepertinya Adek memang mau lahiran ini!" Khanza masih menahan sakit. Dirinya seorang Dr Obgyn tentu saja sudah tahu tanda-tandanya.
"Ayo kita ke RS sekarang. Adek masih kuat jalan? Mas gendong ya?"
"Tidak usah, Mas, aku jalan saja biar pembukaannya bagus," tolaknya terus berjalan sembari menikmati rasa sakit yang mendera.
"Ada rasa keluar tanda, Dek?" tanya Arumi.
"Rasanya sudah Kak," jawab Khanza meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Yaudah jalan pelan-pelan saja. Tapi kalau tempo sakitnya sudah tak bisa tertahan jangan berjalan lagi," jelas Arumi yang juga orang kesehatan saling membagi ilmu.
Yusuf melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tak berselang lama kini mobil sudah sampai di RS.
Yusuf dan yang lainnya membantu Khanza masuk ke ruang bersalin. Sementara itu Khenzi segera menghubungi Bunda dan Papa.
Saat diperiksa, ternyata pembukaan sudah hampir lengkap. Khanza masih berusaha menahan rasa sakit. Baru kali ini ia dapat merasakan sakit melahirkan, karena selama ini dirinya hanya menggambarkan saja rasa sakit itu.
"Bang, bagaimana keadaan Khanza?" tanya Bunda dan Papa datang tergesa-gesa. Dan tak lupa juga Om Yandra dan Ibu Fatimah tak ingin melewatkan momen penting ini.
"Masih diruang bersalin, Bun," jawab Yanju.
"Yaudah Bunda masuk dulu." Bunda Lyra masuk untuk menemani putrinya.
"Bunda!" panggil Khanza saat melihat kehadiran wanita yang telah melahirkannya.
"Ya, Sayang, Bunda disini. Kamu harus kuat ya." Wanita baya itu memeluk dan mencium wajah anaknya.
"Sakit banget... Aaaaakh!"
"Sabar ya, Sayang." Yusuf selalu berada disamping istrinya memberi semangat.
"Pembukaannya lengkap ya, Bu. Mari tarik nafas dalam dan keluarkan dengan perlahan saat ngeden.
"Aaaaakh...!"
"Aaaaakh!"
Oek! Oek! Oek!
"Alhamdulillah ya Allah..." Mereka semua mengucapkan syukur atas kemudahan dalam persalinan.
Suara bayi menggema diruang bersalin itu. Seorang bayi perempuan cantik lahir dengan sehat dan tak kurang suatu apapun.
Khanza masih mengatur nafasnya setetes cairan bening menetes disudut mata. Tak terasa sekarang dirinya sudah menjadi seorang Ibu. Yusuf mengecup kening sang istri penuh haru.
"Terimakasih, Sayang, terimakasih sudah berjuang," ucap Yusuf. Khanza segera memeluk suaminya dengan erat.
"Terimakasih juga kamu sudah selalu menjadi suami yang penyabar dan penuh perhatian terhadapku istrimu yang cengeng dan manja ini," balas Khanza dengan senyum disertai tangis haru.
Yusuf dan Bunda hanya tersenyum mendengar ucapan Khanza. Setelah bayi mereka dibersihkan Dokter menyerahkan pada Yusuf untuk di iqomah.
"Selamat Bapak dan Ibuk. Bayinya perempuan, cantik seperti Mamanya," seru sang Dokter sembari menyerahkan bayi merah itu.
Yusuf menerima dengan hati yang penuh kebahagiaan. Sekilas kenangan bersama Tiara melintas di benaknya. Dulu saat Tiara melahirkan tak bisa membersamai karena saat itu dirinya sedang koma.
Ya, sampai kapanpun wanita itu tidak akan pernah hilang dalam hati dan pikirannya. Secepatnya Yusuf sadar dan membaca alfatihah dalam hati untuk istri pertamanya.
__ADS_1
Yusuf memperdengarkan seruan atas kebesaran Allah di telinga sang bayi dengan suara merdu. Ternyata bayi mungil itu merespon dengan baik dan tersenyum lucu.
Kini Khanza sudah di pindahkan ke ruang rawat. Sementara kedua belah pihak keluarga datang silih berganti untuk memberi Do'a selamat atas kelahiran cucu mereka.
Satu persatu anggota keluarga sudah meninggalkan RS untuk pulang ke kediaman mereka. Khenzi dan Arumi, beserta Yanju dan Aisyah pulang bersamaan.
Setibanya dirumah waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Aisyah segera bersih-bersih dan menukar pakaian daster rumahan.
Sementara Yanju masih ngobrol dengan Papa tentang pekerjaan. Tidak terlalu lama, selesai ngobrol Pria itu pamit untuk istirahat.
Saat masuk kamar, Yanju melihat sang istri sudah tidur begitu pulas. Yanju mengecup kening istrinya dan ikut merebah disampingnya. Tak tega untuk mengganggu tidur lenanya. Pria itu hanya memeluk Aisyah mencari kenyamanan.
Berulang kali Pria itu mengecup puncak kepala sang istri. Ini malam yang sangat bahagia karena mereka tidur tak lagi menjarak.
Paginya Aisyah terbangun lebih dulu, ia merasakan sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya, memeluk dengan posesif. Sedikit perasaan aneh karena selama ini mereka tidur tak pernah se intim saat ini. Bahkan tak pernah bersentuhan.
Aisyah meraba-raba wajah Pria itu hanya bisa membayangkan bahwa dia sangat tampan. Tapi benarkah begitu?
Cup
Yanju memberi kecupan hangat dibibir ranum Aisyah.
"Mas, kamu sudah bangun?" tanya Aisyah dengan senyum malu.
"Iya, Sayang, aku dari tadi bangun. Apa yang sedang kamu bayangkan?"
"Ais membayangkan wajah tampan kamu. Sayang sekali saat buka mata Ais tak bisa menatap mata indah kamu Mas," lirih wanita itu dengan sedih.
"Sabar ya, Sayang, tidak lama lagi kamu pasti akan bisa menatap indahnya dunia ini kembali. Oya, jika kamu sudah bisa melihat, siapakah orang pertama yang ingin kamu lihat?" tanya Yanju membelai pipi mulus wanita itu.
"Kamu, Mas. Saat pembukaan perban mata nanti, ingin orang pertama yang Ais lihat adalah kamu," jawab Aisyah dengan yakin.
"Bagaimana jika harapmu tak sesuai realita, bagaimana jika aku tak setampan yang kamu bayangkan? Sebenarnya aku ini sangat jelek, Dek."
"Iyakah? Sejelek apapun dirimu, Ais sudah jatuh cinta dengan segala perlakuanmu,Mas. Ais tidak peduli. Yang jelas kita bisa saling menerima satu sama lain."
"Terimakasih ya, Sayang." Yanju tersenyum dan kembali membawa Aisyah kedalam pelukannya. "Apakah pagi ini aku sudah bisa meminta hakku?" tanya Pria itu dengan lirih.
"Tapi, sebentar lagi mau subuh, Mas."
"Tidak apa-apa, Sayang, satu ronde dulu."
Aisyah tak bisa lagi menolak, hanya mengangguk pasrah.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1