
Yanju menyentuh bibir Aisyah dengan lembut, dan sabar mengajari agar wanita itu dapat membalas setiap sentuhannya. Jangan ditanya bagaimana jantung Aisyah berdegup kencang.
Yanju mulai menyentuh dengan lapar, Pria dewasa itu sungguh bergairah, sudah lama hal ini di inginkannya. Pagi ini adalah kesempatan yang sempurna, tentu saja ia tak mau menyia-nyiakan. Yanju mulai mengabsen seluruh tubuh Aisyah dengan lidahnya.
Pria itu benar-benar membuai Aisyah dengan cinta dan penuh kasih sayang sehingga membuat Aisyah mende sah manja. Sentuhan sang suami membuat tubuhnya terasa ringan dan melayang.
Ini adalah sesuatu yang baru bagi pasangan halal itu. Sama-sama baru merasakan indahnya bercinta. Meskipun pengalaman baru tetapi Yanju sebagai seorang lelaki dewasa tentu saja tak perlu lagi diragukan bagaimana cara dirinya membuat Aisyah melambung bersama indahnya angan yang sudah menjadi nyata.
Entah berapa banyak erangan dan lenguhan keluar dari bibir Aisyah saat menerima sentuhan dari Yanju yang memabukkan. Entah sejak kapan pula Pria itu melepaskan segala pakaian yang menempel pada tubuh sang istri.
Kini tubuh wanita itu sudah polos tak tersisa sehelai benang pun. Yanju semakin tak terkontrol menghadapi gelombang asmara yang sudah lama di dambakan kini hadir didepan mata dan bahkan sedang ia nikmati penuh kasih sayang dan rasa ingin memiliki.
"Mas!" jerit Aisyah saat merasakan sesuatu yang asing pada tubuhnya. Wanita itu hanya dapat merasakan tanpa bisa melihat bentuk dan ukurannya.
Yanju berhenti sesaat memberikan sang istri untuk mengatur nafas. "Masih sakit, Sayang?" tanya Yanju sembari mengecup bibir Aisyah, dan meluma matnya dengan lembut.
"Mas, sakit sekali. Bisa lebih pelan lagi?" pinta wanita itu dengan ringisan.
"Baiklah, Sayang, kamu tenang dulu ya. kalau sudah nyaman beritahu ya." Yanju mengikuti permintaan Aisyah sedikit lebih lama menjeda, sambil menunggu wanita itu tenang dan nyaman. Yanju kembali mengabsen tubuh sensitifnya membuat Aisyah kembali mende sah dan sudah kembali nyaman.
Yanju kembali mendorong kepunyaannya yang bersarang baru setengahnya, bibirnya tak berhenti melu mat bibir Aisyah agar tak terlalu fokus dengan rasa sakit.
"Aakhww!" Pekik Aisyah lebih kuat dari yang tadi. Kini benda itu telah bersarang sempurna didalam tubuh intinya, rerasa begitu penuh. Wanita itu memeluk tubuh Yanju begitu erat sehingga Pria itu merasa ada rasa ngilu dan perih di punggungnya.
Setitik cairan bening merembes disudut mata. Yanju menatap wajah cantik istrinya yang tampak begitu pasrah. Ia menghapus air mata Aisyah dengan ibu jarinya.
"Maaf sudah membuat kamu menangis, Sayang. Apakah ini terlalu sakit?" tanya Yanju masih menjeda pergerakan di tubuhnya.
Aisyah menggeleng, dan kembali memeluk erat tubuh Pria yang sedang berada diatasnya. "Ais tidak menangis karena rasa sakit ini Mas, tetapi Ais bahagia sudah bisa menjadi istri seutuhnya untuk dirimu," ucapnya menggambarkan rasa bahagianya pagi ini.
"Oh, Sayang, terimakasih banyak, Dek." Yanju menghujani wajah Aisyah dengan kecupan. Kebahagiaan yang begitu besar sedang menghinggapi hatinya.
"Boleh aku teruskan, Sayang?" tanya Yanju minta izin, karena kenyamanan sang istri yang utama.
__ADS_1
"Hmm, pelan ya, Mas."
Yanju kembali meneruskan perjuangannya yang sudah hampir sampai kepuncaknya. Dengan pelan ia menambah tempo gerakan. Kini Aisyah sudah mulai menikmati, tak terdengar lagi ringisan menyakitkan melainkan des ahan kenikmatan.
Mendengar Aisyah mende sah membuat hasrat Yanju membara. Entah berapa kali Aisyah mengejang saat mendapatkan nikmat ber cinta. Pada akhirnya Yanju sudah tak bisa menahan sesuatu yang ingin meledak pada tubuhnya. Pria itu mengerang diatas tubuh istrinya dan menanam benih-benih cinta dirahim wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya nanti.
"Terimakasih, Sayang," ucap Pria itu penuh binar bahagia.
Aisyah hanya mengangguk tersenyum. Matanya kembali berat ingin terlelap.
"Sayang, kamu tidur?" tanya Yanju membawa Aisyah dalam dekapannya. Rasa sayang bertambah besar setelah mendapat siraman cinta dan pupuk rindu yang selama ini terpendam.
"Capek banget, Mas," sahut Ais dengan mata terpejam.
"Mandi dulu ya, habis dua rakaat baru tidur lagi," bujuk Yanju masih membuai dalam pelukannya.
Aisyah mengangguk patuh dan segera bangun dibantu oleh Yanju. "Kita mandi bareng ya, Dek."
"Nggak mau. Nanti kamu ngerusuh, Mas."
Jika saat ini Yanju dan Aisyah sedang mereguk bahagia, lain halnya dengan Khenzi, Pria itu dari semalam masih uring-uringan hingga pagi ini.
"Mas, bangun! Ayo sholat subuh dulu," ucap Arum membangunkan Pria itu.
"Nanti, Dek, masih ngantuk," gumam Pria itu dengan nada malas.
"Ya Allah, ayo bangun, Mas! Nanti keburu siang." Arum masih berusaha membangunkan.
Khen tidak menyahut, Pria itu segera meraih pinggang Arum hingga kembali terjatuh dalam pelukannya. Khen memberi kecupan di bibir ranum sang istri, dan melu mat dengan penuh gairah.
"Mas, udah!" Arum kehabisan nafas.
"Nanti dulu, Dek, masih pengen meluk kamu." Tangan Pria itu sudah mulai merusuh.
__ADS_1
"Mas Khen, jangan! Geli, Mas..."
"Nggak pa-pa, Sayang, biar kamu terbiasa dengan sentuhan aku. Kamu juga harus berkenalan dulu sama dia." Khen mengambil tangan Arum, lalu menempelkan pada kepunyaannya yang sudah mengeras.
"Mas!" pekik Arum meronta dan memukul bahu Khen. "Ya Allah, kenapa kamu semesum ini?"
"Ya nggak apa-apa mesum sama istri sendiri. Ayolah, Sayang, salah kamu kenapa harus datang tamu di malam pertama kita," timpal Pria itu masih menahan tangan Arum agar tetap di selang kangannya.
"Ih, nggak mau Mas, Arum geli, Mas!" rengek wanita itu sembari mencak-mencak saat kepunyaan Pria itu minta di manjakan olehnya.
"Ayo dong, Sayang, kali ini saja. Udah di ubun-ubun nih," keluh Khen dengan wajah menghiba.
Akhirnya dengan berat hati dan pasrah Arumi mencoba untuk melayani Pria itu dengan cara yang berbeda. Ia harus menggunakan bibir mungilnya agar penyakit Khen terobati.
"Terimakasih ya, Sayang. Kamu benar-benar istri Sholeha." Khenzi menghujani wajah Arum dengan kecupan. Senyum sumringah terukir diwajahnya.
Dengan sedikit cemberut Arum segera masuk kedalam kamar mandi. Khenzi hanya terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya. Batin Pria itu sudah terpuaskan.
Saat Arumi keluar dari kamar mandi, Khen sudah menunggu di depan pintu dengan senyum bahagia.
"Kok cemberut? Senyum dong cinta," rayu Pria itu.
"Nggak, awas! Nggak mempan rayu-rayu," ucap Arum masih sedikit jengkel, takut suaminya yang mesum itu akan meresahkan kembali.
"Hahaha... Segitunya kamu, Sayang. Sini peluk Mas dulu. Oke, Mas minta maaf ya."
Khenzi meraih wanita itu masuk dalam pelukannya dan meminta maaf atas kekhilafan yang dinikmatinya. Khen mengecup keningnya penuh dengan kasih sayang.
"Udah dong, jangan marah lagi. Ayo senyum," bujuk Khen.
Bersambung....
Nb. Jangan lupa komen di paragraf mana yang ada typo ya๐๐ค
__ADS_1
Happy reading ๐ฅฐ