
Yusuf membiarkan bayi mungil itu tidur dengan nyenyak, ia segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi ia kembali menitipkan Putranya pada sang Mama.
"Loh, kamu sudah mau pergi lagi?" tanya Mama yang iba melihat wajah lelah sang Putra, seakan Pria itu tak pernah istirahat dengan tenang, bahkan tidur tak pernah nyenyak. Beban pikiran Yusuf benar-benar begitu berat, ditambah lagi tugas negara yang selalu mendesak kehadirannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang selama ini tertunda.
"Iya, Ma, aku titip Rizqi ya. Nanti malam aku ingin menemui temanku yang ada di RS polri. Aku ingin minta bantuannya untuk mencari pendonor buat Tiara," jelas Yusuf, ia berusaha tetap tegar.
"Baiklah, Nak, kamu sabar ya, semoga usaha kerasmu menjadi Lillah."
"Aamiin, terimakasih atas Do'a Mama yang selalu mengiringi langkahku dan juga untuk keluarga kecilku." Yusuf mengecup punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu, lalu meninggalkan kediaman orangtuanya untuk kembali ke RS.
Setibanya di RS, Yusuf segera menuju ruang rawat Tiara, disana ia melihat Tiara sedang disuapi oleh Mamanya. Yusuf menghampiri mereka.
"Ma, biar aku saja yang menyuapi Tiara, Mama pulanglah untuk istirahat. Tiara biar aku yang menjaga," ujar Yusuf mengambil alih mangkok bubur yang ada di tangan wanita yang juga sangat berjasa dan penuh kesabaran dalam mengurus anak wanita semata wayangnya.
"Tapi, Nak..."
"Tidak apa-apa, Ma, aku baik-baik saja. Mama pulanglah, Mama harus istirahat agar Mama tidak ikutan sakit seperti aku," balas Tiara, sembari menggenggam tangan sang Mama.
"Baiklah, kamu harus banyak makan ya, kamu harus semangat untuk sembuh. Besok pagi Mama akan kesini lagi." Akhirnya wanita baya itu mengikuti saran anak dan menantunya. Dia juga butuh istirahat sejenak, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi, tentu saja mudah diserang penyakit bila tak cukup istirahat.
Setelah Mama pulang, Yusuf menduduki kursi yang ada disamping bad pasien itu. Dia kembali menyuapi sang istri dengan sabar.
"Mas, apakah kamu sudah makan?" tanya Tiara mencoba menelan makanan yang ada di mulutnya. Walau terasa sangat pahit, tetapi dia harus semangat, dia tidak ingin usaha keras suaminya harus sia-sia.
"Belum, Sayang, nanti saja. Setelah kamu makan, aku akan cari makanan di kantin. Sekarang kamu habiskan makanannya ya," ujar Yusuf mengarahkan sendok yang berisi bubur itu masuk kedalam mulut Tiara.
Tiara hanya mengangguk, dia berusaha untuk menghabiskan makanannya. Tetapi, perutnya terasa mual, seakan tak bisa menyimpan banyak makanan yang masuk.
"Sudah, Mas, aku sudah kenyang," tolak Tiara menahan sendok yang mengarah ke mulutnya.
"Tapi, ini sedikit lagi, Sayang, satu kali ini lagi ya," ujar Yusuf sedikit memaksa.
"Nggak bisa, Mas, perut aku sudah terasa mual."
__ADS_1
"Baiklah, ini minum dulu." Yusuf memberikan botol air mineral yang sudah ada sedotan pada istrinya. Tiara segera menerima dan menghabiskan setengahnya.
"Mas, Rizqi bagaimana kabarnya? Apakah dia rewel?" tanya wanita itu sendu, dia begitu merindukan bayinya.
"Alhamdulillah dia sehat, dan kata Mama tidak rewel sama sekali, bayi itu begitu pengertian. Kamu tidak perlu cemas ya, Rizqi baik-baik saja bersama Mama."
Tiara hanya mengangguk paham, walau sebenarnya dia begitu merindukan anaknya, tetapi dia harus tetap semangat untuk sembuh.
Malam setelah isya, Yusuf pamit pada Tiara untuk bertemu dengan temannya yang bekerja di RS polri, dia seorang dokter bedah. Pria itu berharap temannya bisa membantu.
"Sayang, aku pergi sebentar ya, kamu tidak pa-pa aku tinggal sebentar 'kan?" tanya Yusuf sembari mengecup kening Tiara.
"Tidak pa-pa, Mas. Hati-hati ya."
"Iya, Sayang, aku pergi dulu. Kalau ada perlu telpon aku ya."
Tiara hanya mengangguk, Yusuf segera keluar dari ruangan. Dia harus berusaha agar sang istri segera sembuh, apapun itu, tak akan menyurutkan semangatnya untuk selalu berusaha.
***
Pria itu tampak sangat teliti mengamati hasil pemeriksaan HLA(Human Leukocyte antigen). Keningnya tampak berkerut.
"Suf, hasil pemeriksaan sampel sumsum tulang ini adalah sangat langka, maka dari itu sangat susah mendapatkannya jika tidak dengan saudara kandung sendiri, seperti ayah, Abang, atau adik laki-laki. Tetapi, kita akan tetap berusaha membantu untuk mencarinya," jelas Andre pada Yusuf.
"Yusuf tampak termenung saat mendengarkan penjelasan dari Andre, tetapi dia tidak ingin patah semangat, Yusuf percaya jika Allah yang sudah campur tangan, maka tak ada yang tak mungkin.
"Terimakasih ya, Ndre, aku sangat berharap bisa mendapatkannya segera."
"Mari kita berdo'a semoga Allah berikan kemudahan."
"Aamiin... Sekali lagi terimakasih, kalau begitu aku balik lagi ke RS, karena istriku tidak bisa aku tinggal lama-lama." Yusuf berpamitan pada sahabatnya.
"Baiklah, semoga Tiara lekas sembuh. Maaf aku belum datang menjenguk. Karena aku juga baru dapat kabar dari kamu malam ini."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa, Ndre. Aku pamit dulu." Dua sahabat itu saling bersalaman, lalu Yusuf meninggalkan kediaman Andre dan kembali ke RS.
***
Selama satu minggu lamanya belum ada juga kabar dari setiap RS yang telah dimintai pertolongan untuk mencarikan pendonor. Mungkin seperti yang dikatakan oleh Andre, bahwa donor yang dibutuhkan oleh Tiara sangat langka.
Pagi ini Yusuf harus apel pagi, seperti biasanya, maka yang akan menjaga Tiara adalah Mamanya. Saat Pria itu sudah rapi dengan pakaian dinas, tiba-tiba Tiara mengalami kejang.
"Sayang, kamu kenapa? Dek, sadar!" Yusuf memeluk tubuh istrinya, namun tubuh itu semakin kaku. Yusuf segera berlari keluar untuk memanggil Dokter.
"Dokter! Dokter! Dok, tolong istri saya, dia kejang, Dok."
"Apa! Kejang?" Dokter itu segera masuk kedalam kamar rawat Tiara, lalu memeriksa kondisi tubuh Tiara. Dokter segera menekan tombol yang ada disamping bad pasien untuk memanggil perawat.
Dua orang perawat masuk dan segera memindahkan Tiara diatas brankar, lalu mereka membawa Tiara keruangan ICU.
Yusuf yang hendak dinas, sudah tidak minat lagi. Dia begitu cemas dan kalut. Hatinya dirundung pilu. Sementara itu Mama mertuanya sudah berurai air mata.
"Yusuf, apa yang terjadi? Kenapa Tiara bisa kejang? Hiks..."
"Aku juga tidak tahu, Ma. Kita berdo'a ya, semoga Tiara baik-baik saja."
Cukup lama Yusuf dan ibu mertuanya menunggu didepan ICU. Akhirnya Dokter keluar dari ruangan itu.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Yusuf begitu cemas.
"Mari ikut keruangan saya."
Yusuf segera mengikuti langkah sang dokter untuk masuk kedalam ruangannya. Setibanya diruangan, dokter itu mempersilahkan Yusuf untuk duduk.
"Begini Pak Yusuf, Ibu Tiara sudah tidak bisa menunggu lagi, kita harus secepatnya mendapatkan donor itu, sebelum dua hari kedepan. Penyebab ibu Tiara mengalami kejang adalah, Karena sel kanker menyerang pembuluh darah, dan organ lain. Seperti mual nyeri tulang, dan kehilangan kendali otot."
Jantung Yusuf terasa berhenti. Apa yang harus dilakukannya. Pria itu benar-benar merasa bingung dan sesaat otaknya seperti tumpul seakan tak bisa berpikir.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰