
Cuaca cukup terik di lapangan terbuka. Khen masih fokus mengecek semua bahan dasar, puluhan mobil sedang bongkar di gudang. Aromanya cukup menyengat membuat Indra penciuman Arumi bermasalah karena beradaptasi dengan bau yang sangat asing.
Dengan senang hati Khen selalu menggandeng tangan calon istrinya. Dan tentu saja itu menarik perhatian semua karyawan pabrik, karena selama ini mereka tidak pernah menyaksikan pimpinannya membawa wanita saat sedang bekerja.
Yang membuat Arumi semakin terharu ialah saat Khen memperkenalkan pada mereka bahwa dirinya adalah calon istrinya, Khen juga memberitahukan tgl pernikahan, tetapi ia memberi tahu ini hanya acara akad, tapi nanti saat resepsi pernikahan, Khen berjanji akan menyewa beberapa bus pariwisata untuk semua karyawan pabrik dan perusahaan agar bisa datang menghadiri acaranya di kota Medan.
Khenzi juga mengatakan anggap saja itu sebagai bentuk apresiasi dari perusahaan memberikan reward dan diadakan family gathering untuk para karyawan.
Pengumuman itu tentu saja disambut bahagia oleh mereka, hitung-hitung untuk liburan beberapa hari dapat melonggarkan otot-otot kaku dengan adanya family gathering untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Big Boss dan juga sekalian berpariwisata ke kota Medan.
Setelah memberi pengumuman, Khen kembali fokus dengan pekerjaannya didampingi oleh manajer lapangan di pabrik karet itu. Arumi berusaha menahan aroma karet yang begitu mengaduk perutnya, mungkin karena ia belum terbiasa dengan bahan dasar industri yang memang mengandung polusi udara itu.
"Kenapa, Sayang?" tanya Khen melihat Arumi seperti sedang menahan mual. Wanita itu sebenarnya ingin beranjak dari sana tetapi takut merepotkan Khen, karena salah sendiri disuruh nunggu tetapi ingin ikut.
"Tidak pa-pa, Mas," ucap Arum berpura baik-baik saja.
Khen mengambil sebuah masker dalam kotaknya yang memang sudah tersedia disana. Lalu Pria itu memakaikan pada calon istrinya.
"Pakai, Dek, ini memang bau. Namanya juga polusi udara," ucap Khen fokus menyelipkan tali masker di kedua telinga Arumi.
Arumi hanya tersenyum menatap Pria kaku itu yang ternyata mulai peka dengan apa yang dirasakan oleh wanitanya.
"Kok Mas tidak menggunakan masker?" tanya Arumi heran.
"Itu karena aku sudah terbiasa beradaptasi dengan udara disini," jawab Khen kembali fokus dengan aktivitasnya. Setelah cukup memahami hasil pemeriksaannya, Pria itu segera beranjak meninggalkan pabrik.
"Sayang, kita makan siang dulu ya," ajak Khen masih fokus mengemudi.
"Hmm, baiklah. Tapi kita makan di pinggir pantai boleh nggak, Mas?" tanya Arum.
"Ide bagus tuh. Tapi kita ramas ya."
"Boleh."
Akhirnya Khen mencari restoran dan segera memesan nasi rames, tetapi Pria itu cuma minta satu bungkus dengan isinya dobel.
"Kok cuma satu bungkus, Mas, kamu tidak makan?" tanya Arum saat Khen keluar dar restoran Padang membawa satu bungkus nasi rames.
"Makan dong. Sengaja minta satu bungkus dengan isi dua porsi, pengen makan satu tempat dengan kamu," jawab Khen yang membuat wajah Arum merona.
__ADS_1
Khenzi segera mengarahkan mobilnya memasuki area pantai, dan mencari pondok yang nyaman tempat mereka makan siang.
"Mas, kita duduk di Karolin saja, biar asyik makan sambil menatap riak ombak," ucap Arum memberi solusi.
"Baiklah dimana, Dek? Karolin yang itu, tempat kamu nangis Bombay kemaren?" tanya Khen menggoda calon istrinya itu. Masih teringat jelas saat Arum menangis menumpahkan isi hatinya.
"Ish, apaan sih kamu Mas! Nggak, kita duduk disana saja," timpal Arumi menunjuk tempat duduk yang ada di ujung.
"Hehe... Baiklah."
Pasangan itu makan nasi rames satu bungkus berdua di pinggir pantai, hembusan angin laut menambah syahdunya suasana.
"Mas, kamu suka dengan dendeng batokok ya?" tanya Arumi disela makan mereka. Karena melihat ada dua macam lauk yang ada didalam nasi bungkus itu.
"Sebenarnya aku itu suka dengan segala menu. Tapi yang paling aku suka ya memang dendeng, jadi besok kalau kita sudah menikah, kamu tidak perlu pusing mikirin menu apa yang akan dimasak setiap hari. Apapun akan aku makan, apalagi masakan dari kamu pasti sangat aku nikmati," ujar Khen kembali melambangkan angan Arumi.
"Benaran?"
"Iyalah."
"Makasih ya, Mas."
"Iya, aku sangat bersyukur kepada Allah karena sudah menitipkan calon suami sebaik Mas Khen. Sebelumnya aku mengira bahwa menu makanan kamu cukup susah, tetapi menurut pengakuan kamu aku merasa lega."
"Ya, mungkin selera makan aku mengikuti Papa. Apapun lewat asalkan tidak racun saja yang kamu berikan," ucap Khen dengan candaan.
"Seperti sambalado dengan lalapan suka, nggak, Mas?"
"Hmm, suka banget malah, Dek. Kalau Bunda atau Ibu bikin menu yang satu itu, aku makan tak terkontrol lagi, mertuapun lewat dibelakang rumah tidak kelihatan," jawab Khen jujur sekali.
"Aihh, iyalah nggak kelihatan, orang lewatnya dibelakang." Arum menyela ucapan calon suaminya itu, dan disambut dengan tawaan.
"Mas, Arum sudah kenyang," ucap gadis itu ingin menyudahi makannya.
"Masih banyak ini, Dek, ayo makan lagi. Sini biar Mas yang suapin." Khen mengarahkan tangannya yang sudah berisi nasi dan lauk.
"Tapi beneran udah kenyang, Mas."
"Belum, Dek, kamu harus banyak makan sebelum resepsi pernikahan kita digelar. Biar pakaian pengantin pas dan cocok di tubuh kamu." Pria itu masih berusaha untuk membujuk, dan akhirnya Arumi menerima suapan dari Pria kaku yang kini sikapnya sudah menjadi manis dan sangat penyayang.
__ADS_1
Selesai makan Khen mengemasi tempat makan mereka dan membuang ketempatnya. Arumi berpindah duduk kebawah Karolin dibatu rajut dan menjuntaikan kakinya menyentuh air laut.
Khen baru saja selesai mengemas bekas makan, ia ikut bergabung duduk disamping wanitanya. Tatapan mereka bertemu dan segera mengukir senyum.
"Dek, tadi banyak sedikitnya kamu sudah tahu tentang diriku, berawal dari menu makanan. Sekarang boleh aku tahu tentang dirimu?" tanya Khen menatap manik mata Arumi dengan dalam.
"Hmm, tentu saja," jawab Arum tak keberatan.
"Apakah kamu pernah pacaran sebelum denganku?" tanya Khen berunjuk pada privasi gadis itu.
"Tidak," jawab Arumi jujur.
"Benarkah?"
"Ya, Arum tidak pernah pacaran."
"Kenapa? Kamu cantik, rasanya tidak mungkin bila tak ada lelaki yang tertarik."
"Yang dekat ada, tapi entah kenapa Arum belum bisa membuka hati."
"Itu tandanya kamu belum pernah berciuman?" tanya Khen yang membuat wajah Arum merah seketika.
"Ya belumlah," sahutnya mengalihkan tatapan.
Khenzi tersenyum, bersyukur dialah lelaki pertama yang akan menyentuh istrinya nanti.
"Berarti aku lelaki pertama yang mendapat first kiss dari kamu saat pingsan di kolam renang," ucap Khen membuat mata Arum membelalak.
"Maksud kamu apa, Mas? kamu bertindak asusila sama aku? Kamu cabul, Mas?" tanya Arumi memberondong tak percaya.
"Seandainya iya, apakah kamu marah?" tanya Khen mengerjai gadis itu.
"Astaghfirullah! Mas, kamu?" ucap wanita itu ingin menangis mendengar jawaban Khen.
"Kenapa, Sayang? Kan kita sebentar lagi akan menikah. Ya jadi tidak masalah juga sebagai bentuk perkenalan dulu," ucap Khen masih ingin mengerjai calon istrinya.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1