Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Waktu berdua


__ADS_3

Arumi terkapar lemas disamping Pria itu dengan mata terpejam. Rasanya begitu lelah setengah hari ini sudah melayani sang suami entah berapa kali.


Khen hanya tersenyum melihat sang istri sudah tak berdaya. "Capek, Sayang?" tanya Khen membawa Arum dalam dekapannya, dan menghujani dengan kecupan hangat.


"Hmm, capek banget Mas."


"Adek pengen makan sesuatu?" tanya Khen masih mengusap punggung Arum dengan lembut memberi kenyamanan.


"Iya, pengen makan dan minuman yang segar, Mas," sahut wanita itu tanpa membuka matanya.


"Baiklah, Mas delivery dulu ya." Khen segera memesan makanan dan minuman yang segar sesuai permintaan wanita kesayangannya.


Pria itu membiarkan sang istri untuk istirahat menyelimuti tubuh polosnya. Ia menuju kamar mandi segera membersihkan diri.


Selesai mandi pesanan sudah sampai, Khen segera menerima dan membayar ongkos, dan memberi sedikit tips pada jasa pengantar makanan itu.


"Sayang, bangun dulu, ayo kita makan." Khenzi membangunkan Arumi yang sepertinya sedang tidur lelap sehingga tak merespon.


Merasa tak tega untuk membangunkan, maka Pria itu memutuskan untuk ikut tidur disamping istrinya dan memeluk mencari kenyamanan hingga tak perlu waktu lama ia ikut menemui Arumi di alam mimpi.


Entah sudah berapa lama pasangan itu terlelap. Arumi bangun terlebih dahulu, ia melihat hari sudah mulai petang. Tentu saja mereka melewatkan makan siang yang tadi sudah dipesan.


"Mas, bangun, udah sore." Arum membangunkan suaminya.


"Hmmm... Udah jam berapa, Sayang? Kamu udah wangi aja," gumam Khen mengendus aroma minyak wangi ditubuh sang istri.


"Sudah sore, Mas, sebentar lagi magrib," jawab Arum sembari duduk bersandar di kepala ranjang.


Khen yang melihat itu segera mengangkat kepalanya dan menjadikan kedua paha Arumi sebagai bantalan. "Kamu mandi kenapa tidak ngajak aku, Dek," ucap Khen masih memejamkan matanya dan memeluk pinggang Arumi, wajahnya menggusal perut datar wanita itu.


"Kamu kan sudah mandi, Mas."


"Tapi pengen mandi bareng kamu."


"Ah, nggak mau. Kamu modus aja, orang udah capek banget. Mana nggak jadi makan lagi," sahut Arumi jutek.


"Astaghfirullah, iya, yaa. Ternyata kita melewatkan makan siang. Terus makanan tadi gimana, Sayang? Apakah tidak bisa dimakan lagi, atau aku pesan makanan yang baru saja?" tanya Khen segera duduk dan melihat makanan itu masih utuh diatas meja.


"Kayaknya masih bagus kok, Mas. Tadi Arum ingin memanaskan, tapi belum tahu dimana dapurnya."


"Serius masih bisa dipanaskan, Dek? Kalau tidak bagus lagi nggak usah dipanaskan, lebih baik kita pesan makanan lagi."


"Masih bagus,Mas, tadi Arum sudah periksa. Sayang harus terbuang."


"Baiklah, ayo aku tunjukkan. Panasin di dapur bersih saja." Khenzi membawa makanan itu menuju dapur minimalis yang ada di lantai dua itu juga.


Khenzi duduk menunggui sang istri memanaskan masakan. Wanita itu terlihat begitu cantik saat sedang serius memasak.


"Masih lama, Sayang?" tanya Khen tiba-tiba memeluk Arum dari belakang.


"Ya ampun, Mas, kamu ngagetin Arum aja," protesnya.

__ADS_1


"Habisnya aku tidak tahan melihat wajahmu yang ayu saat sedang serius begini. Apalagi rambut panjangmu ini selalu membuat hatiku mendamba," ucap Khen membuat Arum tersipu.


"Ish, kamu pinter banget gombalnya sekarang."


"Eh, nggak gombal, tapi ini nyata adanya. Aku ingin selalu seperti ini setiap hari bersamamu."


"Insya Allah kita akan selalu bersama," ucap Arum masih fokus dengan aktivitasnya. "Mas, lepas dulu, jangan glendotan seperti ini, Arum susah gerak," seru Arum meminta Khen untuk melepaskan dirinya.


"Hehe, baiklah. Sini aku bantu, mana yang sudah siap?" tanya Khen membawa ke meja makan.


"Ini, Mas." Arum menyerahkan masakan yang baru selesai dipanaskan.


Pasangan itu makan diwaktu hampir mendekati magrib. Selesai makan mereka rehat sejenak sembari menatap sunset dari balkon kamar. Terlihat begitu indah rona matahari yang akan tenggelam di ufuk barat, dan terlihat burung-burung laut berterbangan menambah indahnya suasana senja.


"Kamu suka sekali duduk disini, Sayang," ucap Khen membawakan dua gelas jus mangga.


"Hmm, iya, Mas, pemandangannya indah sekali. Loh, kok ada jus? Kamu dapat darimana?" tanya Arum sembari menerima gelas yang disuguhkan oleh sang suami.


"Tadi aku pesan. Apakah kamu ingin kita menginap malam ini?" tanya Khen pada istri karena ia melihat wanita itu masih menikmati keindahan suasana tempat itu.


"Emang boleh?" tanya wanita itu polos sekali.


"Hahaha... Kamu kenapa lugu sekali, Sayang, ya tentu saja boleh, bahkan jika kamu mau tinggal disini selamanya juga tidak ada yang melarang. Ini milik kita, jadi kita bebas mau menempati kapan saja."


"Hehe, i-iya sih." Arum tersenyum kikuk, masih terasa asing saat Khen mengatakan milik kita, karena wanita itu tak pernah bermimpi untuk memiliki suami yang begitu mapan mempunyai villa yang begitu mewah baginya.


"Yaudah, malam ini kita tidur disini saja. Nanti malam kita jalan-jalan ke pantai." Khen mengambil keputusan akan membawa sang istri menginap disana.


"Tentu, Sayang, ayo minum jusnya, habis itu kita sholat magrib," titah Khen.


Tak berselang lama seruan adzan Maghrib berkumandang. Pasangan halal itu segera melaksanakan sholat magrib berjamaah. Selesai sholat Khen menghubungi orangtuanya dan dan Ibu mertua, memberi kabar bahwa mereka sedang menginap di villa miliknya yang tentu saja Bunda dan Papa sudah mengetahui dimana tempatnya.


"Oke, sekarang sudah beres. Ayo siap-siap, kita akan jalan-jalan malam. Menikmati kuliner sepanjang pantai," ucap Khen pada sang istri.


"Baiklah, eh, koper Arum masih dimobil, Mas. Pakaian semuanya disana," ucap Arum sibuk sendiri karena masih menggunakan pakaian yang tadi.


"Pakai yang ada di lemari saja, Dek," jelas Khen membuka lemari pakaian yang ada dikamar itu.


"Mana ada pakaian Arum disini, Mas."


"Ada, Sayang, ini contohnya." Khenzi membuka pintu lemari itu dengan lebar dan menunjukkan deretan pakaian wanita yang sudah tersusun rapi.


"Itu, itu pakaian siapa, Mas?" tanya Arum menatap curiga.


"Ya, pakaian untuk kamulah, Sayang," jawab Khen jujur.


"Hah! Kamu serius? Sejak kapan kamu menyediakannya, ini bukan pakaian Rayola 'kan?" tanya Arumi memberondong dengan perasaan tidak enak penuh curiga.


"Astaghfirullah, kenapa kamu mikir kesitu, Sayang? Ya nggak mungkinlah pakaian dia aku berikan padamu. Ya kali aku serajin itu membawa di datang ketempat ini," jelas Khen.


Arumi baru bisa bernafas lega mendengar penuturan sang suami. Ternyata hatinya begitu mudah menaruh prasangka pada Pria yang berstatus suaminya itu.

__ADS_1


"Ini pakaian sengaja sudah aku persiapkan untuk malam pertama kita, rencananya aku akan memboyong kamu kesini tanpa perlu membawa persiapan karena sudah aku sediakan semuanya disini. Tetapi MP kita gagal yaudah, aku tunggu waktu yang tepat saja, dan akhirnya hari ini kita bisa melalui malam yang sudah tertunda itu," jelas Khen.


"Ma-maaf ya, Mas, karena Arum sudah bersangka buruk padamu," sesal wanita itu, mendekati suaminya.


"Tidak apa-apa, Sayang, aku tahu kamu sangat takut kehilangan suami tampanmu ini," jawab Khen tersenyum menggoda sang istri.


"Ish, kamu kalau ngomong kenapa selalu benar sih, Mas? Rasanya aku tidak rela bila membayangkan mata indahmu itu menatap wanita lain, karena kamu adalah nafasku yang tak boleh diambil oleh siapapun," ucap Arum menirukan gaya Khen.


"Eh, eh. Nggak aci ikut-ikutan, cari sana kosa kata atau sinonim yang lain agar kesannya tidak lebay dan menjadi tukang contek," balas Khen tertawa gemas mendengar kata-kata mutiara yang sebenarnya melambungkan angannya.


"Hahaha... Bodo amad, biarin tukang contek asalkan pada suami sendiri, karena suami adalah imam, jadi wajib di contoh. Walau lebay-lebay dikit yang penting bisa membuat hati pasangannya bahagia."


"Hahaha... Iya, kamu bener banget, Sayang. Yasudah, ayo siap-siap kita berangkat sekarang, nanti keburu malam."


Arum mengangguk patuh, segera mamatut pakaian yang pantas untuknya dan menggunakan hijab instan yang juga sudah tersedia didalam lemari.


Pasangan itu benar-benar menikmati momen indah mereka setelah menjadi halal. Khenzi dan Arumi menyusuri jalanan disekitaran pantai, dan menikmati beragam jenis makanan ciri khas Minang kabau itu.


Jika Khen dan Arumi sedang menikmati waktu bulan madu singkat mereka, beda halnya Yanju yang sedang menikmati waktu cutinya menemani sang istri di RS selama satu minggu ini.


"Mas, kapan perbannya dibuka?" tanya Aisyah yang sudah tak sabaran.


"Tunggu dua hari lagi, Sayang," jawab Yanju.


"Kenapa lama sekali, Mas?"


"Ya, namanya harus menunggu pulih dulu. Kenapa? Kamu sudah tak sabar ingin melihat wajahku yang jelek ini ya?" goda Yanju sembari mengecup bibir Aisyah.


"Ya, Ais sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa wajah Pria mesum yang ada bersama Ais saat ini," ucap wanita itu tersenyum dan meraba wajah Yanju.


"Hahaha... Jahat banget bilangin suami sendiri Pria mesum," kekeh Yanju mendengar celoteh sang istri.


"Iyalah, setiap hari tangan kamu tidak pernah absen menggerayangi tubuhku. Untung saja kita ada di RS, jadi Ais merasa cukup aman. Dan untung juga Ais udah cinta dan sayang banget, jadi kamu terbebas dari amukan macan buas," jelas wanita itu lagi sembari mencubit kedua pipi Yanju dengan gemas.


"Hahaha.... Segitunya kamu. Jadi ceritanya berkeluh kesah nih, hmm?" Yanju kembali menyerang wanita itu dengan kecupan hangat di seluruh wajahnya.


Yanju benar-benar terpingkal mendengar curhatan sang istri yang ternyata cukup protes dengan segala tindakannya yang sangat kecanduan pada tubuh sintalnya.


"Iya, cukup protes, Mas, tapi sayangnya sudah cinta mati jadi hanya bisa pasrah," jawab Aisyah. Masih membuat Yanju tertawa.


"Udah dong sayang, jangan membuat aku tertawa lagi. Ayo sekarang tidur. Sini peluk suami mesummu ini," ujar Yanju meraih tubuh Aisyah untuk miring menghadap kepadanya dan segera membawa masuk dalam dekapan.


Aisyah hanya terkekeh kecil mendengar ucapan suaminya. Ia segera membalas pelukan dan mencari kenyamanan, tak perlu waktu lama wanita itu sudah masuk ke alam mimpi.


Waktu beegitu cepat berlalu. Pagi ini adalah waktu yang sangat ditunggu oleh Aisyah dan seluruh keluarganya. Bahkan semua keluarga dari suaminya tak ingin ketinggalan momen penting itu.


Bunda dan Papa menyempatkan diri untuk datang. Dan permintaan Yanju agar khen juga ikut datang. Karena Pria itu ingin memberi kejutan pada sang istri. Yanju ingin Aisyah menebak siapa diantara dia dan Khenzi yang akan Ais yakini sebagai suaminya. Dan tentu saja mereka tidak akan mengeluarkan suara.


Bersambung...


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2