Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Kondisi Khanza


__ADS_3

Khanza yang sedari tadi mencoba untuk memejamkan mata, tetapi, tidak bisa, perutnya terasa semakin nyeri, ia duduk di pinggir ranjang sembari mengusap perutnya dengan lembut.


"Kamu sehat-sehat ya, Nak, Mama tidak tahu kenapa perut Mama sakit begini," gumam Khanza membawa calon bayinya bicara.


Khanza merasa ingin buang air, segera bangkit dan menuju kamar mandi. Saat membuka pakaian da lam, ada flek yang keluar sehingga membuat jantungnya berdegup kencang. Tubuh Khanza bergetar.


Dengan perlahan keluar dari kamar mandi, Khanza sudah tahu bahwa dirinya mengalami pendarahan. Khanza mencoba untuk mencegahnya agar tidak semakin parah.


Khanza mencoba menghubungi Ayah Yandra, Khanza tidak ingin mengganggu suaminya dan membuatnya cemas. Maka wanita itu hanya menghubungi ayahnya yang juga seorang Dokter kandungan.


"Assalamualaikum, ada apa, Dek?"


"Wa'alaikumsalam, apakah ayah sedang sibuk?" tanya Khanza sembari meringis menahan nyeri.


"Tidak, Nak, kami sudah selesai yasinan, dan sebentar lagi kami akan pulang. Ada apa?"


"Ayah, bisa pulang sekarang? Aku pendarahan, Yah.Tapi, jangan sampai Mas Yusuf tahu ya, Yah. Aku tidak ingin suamiku cemas," pesan Khanza.


"Astaghfirullah, kamu bawa berbaring, jangan bergerak ya. Ayah pulang sekarang." Yandra memutus panggilan, dan bergegas untuk pulang. Tetapi, dia harus memberitahu Abangnya


Yandra menghampiri Arman dan Lyra yang masih ngobrol dengan besannya. Yandra membisikkan kepada Arman, sehingga Pria itu bergegas bangkit dari tempat duduknya.


Arman segera memberitahukan kepada Lyra bahwa Putri mereka sedang sakit. Lyra juga tak kalah kaget mendengar penjelasan suaminya.


"Astaghfirullah, benaran, Mas? Jadi bagaimana keadaan Adek sekarang?" tanya Lyra cukup keras sehingga membuat konsentrasi Yusuf teralihkan saat dia sedang ngobrol bersama kedua Abang iparnya.


Yusuf segera mendekati mertuanya untuk mencari tahu apa yang terjadi, terlihat wajah mereka sangat cemas.


"Ada apa, Bun? Apa yang terjadi pada Adek?" tanya Yusuf memberondong.


Papa Arman tidak bisa membohongi menantunya, dia juga tidak ingin menutupi, Yusuf sebagai seorang suami harus tahu, apapun itu, dia memang dituntut untuk tetap menjadi kuat dan tegar dengan segala ujian yang Allah berikan.


"Ayo kita pulang sekarang, Khanza mengalami pendarahan," ujar Papa lirih.

__ADS_1


Seketika tubuh Pria itu gemetaran, Yusuf mengusap wajahnya dengan lembut, ia menitipkan sang bayi pada kedua orangtuanya. Dia segera ikut dengan keluarga istrinya untuk pulang.


Setibanya dirumah, mereka naik kelantai dua. Yandra segera memeriksa kondisi Khanza dengan alat medis seadanya yang selalu dia bawa. Khanza menatap keluarganya yang sudah berada dikamar, dan matanya menatap sang suami juga berdiri diantara kedua Abang laki-lakinya itu.


Pria itu tampak begitu cemas, Khanza berusaha untuk tersenyum seolah dirinya tak merasakan sakit yang serius, agar Pria itu tidak menyimpan risau yang mendalam.


"Apakah fleknya banyak?" tanya Yandra setelah selesai memeriksa.


"Tidak, Yah, hanya sedikit dan warna agak kehitaman. Aku rasa tidak terlalu serius, aku hanya butuh infus dan suntikan obat penguat kandungan," ujar Khanza yang sudah dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan dirinya.


"Ya, Ayah rasa juga begitu. Apakah kamu ingin rawat di RS?" tanya Yandra memastikan.


"Jangan, Yah, aku dirawat disini saja."


"Kamu yakin, Nak?" tanya Bunda yang duduk dipinggir ranjang.


"Iya, Bun, insyaallah setelah ini Adek sudah pulih." Khanza memegang tangan Bundanya yang tampak sedang cemas.


"Baiklah, kalau begitu biar Ayah yang mencarikan peralatannya." Yandra segera beranjak dan ditemani oleh Yanju.


"Tidak usah, kamu temani istrimu disini. Biar Ayah dan Abangmu yang pergi."


"Iya, kamu disini saja, Suf, temani Khanza," potong Papa Arman.


Yusuf hanya mengangguk patuh. Setelah Yandra dan Yanju pergi, Papa dan Bunda meninggalkan kamar putrinya, kembali ke kamar mereka untuk istirahat sejenak dan membersihkan diri.


Kini hanya pasangan itu yang menghuni ruangan. Yusuf bergerak mendekati Khanza yang sedang berbaring, lalu duduk disampingnya.


"Apakah masih sakit, Sayang?" tanya Yusuf begitu lembut, tubuhnya merunduk mengecup keningnya.


Khanza menggerakkan tubuh, dengan perlahan tangannya memeluk pinggang suaminya yang sedang duduk bersandar di sampingnya.


"Aku tidak apa-apa, Mas, aku baik-baik saja. Mas, bolehkah malam ini saja temani aku tidur disini?" tanya wanita itu dengan lirih, memang semenjak mereka menikah, Yusuf belum pernah tidur menemani dirinya hingga pagi.

__ADS_1


Pria itu memposisikan tubuhnya untuk tidur sejajar dengan sang istri. Tangannya mendekap tubuh Khanza dengan penuh kasih sayang.


"Tentu saja, Sayang. Maaf ya jika selama ini aku sering mengabaikan dirimu," ujar Yusuf merasa bersalah.


"Jangan bicara seperti itu, Mas, aku sangat memahami keadaan kamu." Khanza menguatkan pelukannya.


"Tidurlah, Sayang, aku akan selalu menemanimu disini."


Khanza tersenyum bahagia menatap wajah tampan yang ada dihadapannya. Entah kenapa jantungnya selalu saja berdegup saat sedang seperti ini. Khanza selalu merasa sedang jatuh cinta pada kekasih halalnya itu.


"Jangan menatapku begitu, Dek, jantungku selalu berdebar," ujar Yusuf, tersenyum menggoda istrinya. Sebenarnya hati Pria itu masih sangat berduka, tetapi dia harus bisa mengimbangi, karena Khanza juga sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian darinya, walau senyum harus dipaksakan.


"Ih, kamu ngeledek aku, Mas?" tanya Khanza mencubit pipi Yusuf dengan gemas.


"Eh bukan, Dek, siapa yang ngeledek? Serius, aku selalu berdebar saat bersitatap denganmu. Aku merasa sedang jatuh cinta pada seorang wanita yang kini sedang berada di dalam pelukanku," sahut Yusuf dengan jujur.


Khanza terdiam saat mendengar pengakuan dari suaminya, ternyata apa yang dia rasakan sama persis dengan perasaan suaminya itu. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta setelah menikah?


"Kenapa perasaan kita sama, Mas? Jujur apa yang kamu rasakan begitu juga denganku. Aku selalu tak mampu menatap mata teduh ini," Khanza mengelus alis tebal suaminya.


"Alhamdulillah, berarti perasaan kita sama, Dek, berharap perasaan kita akan selalu seperti ini hingga kita tua nanti. Aku ingin setiap waktu dan setiap hari jatuh cinta padamu."


Khanza sangat terharu mendengar ucapan suaminya, kata-kata dan perhatian Pria itu seakan menjadi obat yang ampuh untuk dirinya, karena Tiara sudah tidak begitu menahan rasa sakit di perutnya.


"Insyaallah ya, Mas, aku juga ingin seperti itu. Kita akan bahagia hingga tua, kita akan membesarkan anak-anak kita bersama-sama. Oya, Mas, bagaimana baby Rizqi? Apakah dia rewel? Kenapa kamu tidak bawa dia kesini?" tanya Khanza memberondong saat teringat pada sang bayi.


"Alhamdulillah dia tidak rewel, Dek, neneknya masih belum ingin melepaskannya. Biarlah Mama mengasuh bayi itu sepuasnya. Lagipula kamu masih belum bisa, kamu harus benar-benar pulih terlebih dahulu. Kamu tidak perlu khawatir, Rizqi akan baik-baik saja dalam pengasuhan neneknya," jelas Yusuf pada istrinya.


Khanza hanya mengangguk paham. Kondisinya juga belum memungkinkan untuk mengurus bayi mungil itu. Khanza harus semangat sembuh, karena ada amanah yang harus dia jaga dan laksanakan untuk mengurusi bayi dari Kakak madunya.


Bersambung...


NB. Jangan lupa dukungannya ya raeder yang Budiman 😊 Terimakasih πŸ™πŸ€—πŸ₯°

__ADS_1


Happy reading πŸ₯°


__ADS_2