
Arum menghela nafas panjang untuk memasok rasa sabar yang lebih besar dalam hatinya. Ini keputusan yang sudah disanggupinya untuk menerima segala kekurangan Pria itu dan bahkan sudah di saksikan pada seluruh keluarga Khen.
Jujur sebenarnya Arum sangat berharap agar Khenzi segera berubah untuk menjadi lelaki yang lebih peka lagi mengenai hatinya. Tetapi, mimpi apa jika itu akan terwujud dalam waktu singkat.
Tak ada percakapan diantara mereka saat sedang makan. Berasa makan dalam keseorangan. Tetapi Arum mencoba untuk menikmati dan menganggap biasa-biasa saja.
Selesai makan, Arum mengemas peralatan kotor dan segera mencucinya. Sementara Khen masih duduk disana belum beranjak dari meja makan.
Selesai membereskan dapur, Arum beranjak untuk menuju kamarnya, namun lelaki itu mengikuti langkahnya.
"Eh, mau ngapain, Mas?" tanya Arum pada Khen yang juga ingin masuk ke kamarnya.
"Ah, sorry. Aku hampir lupa bahwa kita belum halal. Berasa sudah tak sabar untuk ngehalalin kamu," ucap Pria itu sembari nyengir sehingga membuat wajah Arum merah merona.
Ya Allah, kenapa sikap Pria ini begitu membuat aku bingung. Ya kali ingin cepat-cepat halalin, ngomong cinta aja tidak berani. Hah! Dasar yang Mulia kaku bin mesum.
Arum segera masuk untuk menetralkan jantungnya yang sudah jedag jedug tak beraturan. Arum menyandarkan tubuhnya di daun pintu sembari memegang dadanya.
"Sabar Arum, sabar. Jika kamu dan dia menikah, maka itulah jodoh yang Allah berikan untukmu. Kamu harus bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya." Gumam gadis itu sendiri.
Sudah beberapa hari, Papa Arman dan Bunda Lyra sudah balik ke kota Padang. Pagi ini mereka sarapan bersama.
"Kok Bunda dan Papa sudah pulang?" tanya Khen disela sela sarapan mereka.
"Iya, jadwal operasi Aisyah ditunda karena Dokter yang menangani sedang cuti. Jadi ditunda bulan depan," jelas Bunda.
***
Sore ini Yusuf pulang lebih awal dari yang biasanya. Khanza baru saja selesai mandi dikejutkan oleh kehadiran suaminya.
"Eh, Mas, sudah pulang?" tanya wanita itu yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Khanza menghampiri Yusuf mengambil tangannya dan mengecupnya, dan dibalas dengan kecupan hangat di keningnya.
"Wangi banget sih kamu? Selalu buat aku candu," ucap Pria itu menggusal rambut istrinya yang masih basah.
"Alhamdulillah, jika kamu selalu candu sama aku, Mas, itu tandanya kamu tidak bisa jauh dari aku," balas Khanza tersenyum bahagia.
"Ya, benar banget. Saking nggak bisanya aku selalu ingin cepat pulang untuk bertemu denganmu dan memelukmu selalu."
"Ish, gombal banget. Udah sana Mas mandi. Adek siapin kopi buat kamu."
"Hehe... Nggak gombal lho, Sayang. Percayalah apapun kata-kata yang keluar dari bibirku adalah jujur dari hatiku paling dalam."
__ADS_1
"Iya, Mas. Adek percaya banget sama kamu."
"Nah gitu dong." Yusuf kembali meninggalkan jejak sayang di wajah sang istri sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.
Setelah Yusuf masuk kamar mandi, Khanza segera menyediakan baju ganti suaminya, lalu dia turun kebawah akan membuatkan secangkir kopi hitam untuk Pria dewasa yang pecinta minuman berkafein itu.
Setibanya dilantai satu, Khanza berbincang sebentar dengan Oma. Hingga dia lupa tujuannya untuk membuatkan secangkir kopi.
Saat ingin membuat kopi, ternyata kopi hitam habis, Bibik lupa membelinya saat belanja bulanan.
"Kopinya habis ya, Bik?" tanya Khanza sembari mencari persediaan yang ada di kitchen set.
"Iya, Mbak. Bibik tadi lupa beli," jawab Bibik yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Oh, yaudah biar aku beli sebentar di mini market." Khanza segera meraih kunci motor yang berada di pantry.
Wanita itu ingin menggunakan sepeda motor, rasanya sudah cukup lama dia tidak menaiki kuda besi itu. Rindu juga ingin menghirup udara sore dengan bersepeda motor, sepertinya kalau hanya ke mini market tidak apa-apalah lagian juga dekat.
"Eh, mau kemana, Dek?" tanya Yusuf sudah rapi dengan pakaian ganti yang disediakan istrinya tadi.
"Adek ingin ke mini market bentar, Mas. Mau beli kopi," jelas Khanza pada suaminya.
"Itu kok pegang kunci motor?"
"Dengan perut buncit begitu bawa motor sendiri?" tanya Yusuf yang tak habis pikir dengan keberanian istrinya. Dia juga takut berbahaya.
"Iya, lagian dekat kok, Mas," jawab Khanza.
"Sini kuncinya. Biar Mas yang anterin," ujar Yusuf meminta kunci motor dari istrinya.
"Mas serius?"
"Ya seriuslah. Ya kali aku mau biarin kamu bawa motor sendiri."
"Ish, seneng banget Adek, Mas. Okey, mari kita jalan."
Yusuf mengendarai motor dan Khanza berbonceng di belakang. Wanita itu tersenyum sumringah. Sungguh suasana yang sangat romantis bisa memeluk pinggang Pria itu.
Diperjalanan Yusuf merasakan pinggangnya terkena tendangan lembut oleh bayinya. Pria itu terkekeh kecil merasakan tendangan buah hati mereka.
"Kenapa anak kita tendang aku, Dek? Mungkin dia sempit?" tanya Yusuf diperjalanan.
"Hehehe... Nggak, Mas. Mungkin bayi kita kesenangan dibawa Papanya naik motor," jawab Khanza
__ADS_1
"Hahha... Kamu bisa aja, anaknya atau Mamanya yang kesenangan?" tanya Yusuf kembali.
"Hihi... Mamanya memang paling kesenangan. Coba aja kita punya waktu luang seperti ini ya, Mas. Pasti aku seneng banget." Celoteh wanita itu sembari mengeratkan pelukannya.
Tak berselang lama, sepeda motor matic itu sudah menepi di parkiran mini market. Yusuf dan Khanza masuk kedalam untuk membeli barang yang mereka butuhkan.
"Udah semua, Dek?" tanya Yusuf saat ingin melakukan pembayaran.
"Bentar, Mas, Adek pengen lihat-lihat dulu." Khanza menilik sekitarnya untuk melihat jika ada yang dia inginkan.
"Mas, Adek pengen sosis bakar yang rasa barbeque," bisik Khanza sembari melihat sosis bakar jumbo yang ada dalam etalase kaca yang ada di samping meja kasir.
"Benaran mau sosis itu?" tanya Yusuf sambil berbisik.
"Hmm, iya, Mas." gumam Khanza yakin.
"Nggak ingin ganti dengan sosis yang lain?"
"Mana?" tanya Khanza tak paham.
"Sosis aku, Dek," bisik Yusuf menawarkan. Seketika wajah wanita hamil itu bersemu merah.
"Ish, kamu kok jadi omes sih, Mas? Bosan makan sosis itu mulu," balas wanita itu sambil berbisik dan tersenyum malu.
"Masya Allah. Jangan bilang bosan, Sayang, kalau jauh kamu pasti sangat merindukannya. Hahaha..." Tawa Pria itu keluar juga karena tak tahan melihat wajah merah sang istri yang terkena goda olehnya.
"Ihh... Nakal banget sih kamu. Udah sana pesan, Mas." Khanza mencubit gemas pinggang suaminya.
"Hahaha... Iya iya, Sayang." Yusuf segera memesan permintaan istrinya. Selesai melunasi di kasir, mereka segera balik.
"Langsung pulang, Dek?" tanya Yusuf diperjalanan.
"Kayaknya iya deh, Mas. Udah mau magrib juga."
Setibanya diruamah, Khanza kembali kedapur untuk membuatkan minuman yang tadi sempat tertunda.
"Kopinya, Mas," ucap Khanza meletakkan secangkir kopi menemani sore hari mereka duduk di balkon sambil bercerita dan bersenda gurau.
Pasangan itu juga menghubungi Mama Niken untuk melepaskan rindu pada bayi mungil mereka. Khanza dan Yusuf mencoba selalu membujuk wanita baya itu agar mau tinggal bersama mereka. Tetapi Mama selalu menolak dengan alasan dia lebih nyaman tinggal di kediamannya sendiri.
Pasangan itu tidak bisa berbuat apa-apa, mereka juga tak ingin memaksa. Takut jika Mama berprasangka mereka akan mengambil Rizqi darinya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰