Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Tidak tahu yang sebenarnya


__ADS_3

Sepertinya Mas Yusuf tidak mendengar panggilanku. Maka aku memutuskan untuk tetap mengikuti, namun saat Mas Yusuf tiba di lobby RS. Dia menghampiri seorang wanita yang menggunakan hijab, lalu Mas Yusuf membantu wanita itu untuk berdiri dan memeluknya dengan mesra.


Seketika tubuhku bergetar. Siapa wanita itu? Setahuku Mbak Tiara tidak menggunakan hijab, apakah dia mempunyai wanita lain lagi? Ah, tidak, aku harus tahu.


Saat aku hendak mengejarnya keluar, langkahku terhenti karena Bunda memanggilku. Aku masih fokus dengan Pria itu yang sedang menggandeng wanitanya menuju parkiran mobil.


"Khanza, kamu kenapa disini? Nama kamu sudah di panggil," ujar Bunda


"Khanza!" Bunda menepuk bahuku.


"Ah ya, Bun."


"Sedang lihat apa?" tanya Bunda menatapku heran.


"Tadi, tadi aku melihat Mas Yusuf, Bun," ujarku memberi tahu Bunda.


"Yusuf? Bukankah dia sedang dinas diluar kota? Kamu ini ada-ada saja, mungkin itu hanya halusinasi kamu saja. Sudah, ayo kita periksa sekarang, namamu sudah di panggil."


Sejenak aku terpaku, benarkah aku berhalusinasi? Tapi tidak mungkin, aku sangat yakin bahwa dia adalah Mas Yusuf. Aku tidak mungkin lupa dengan postur tubuhnya, ya walaupun aku hanya melihat dari belakang, tapi sekali lagi aku meyakini bahwa dia adalah Mas Yusuf.


Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa Mas Yusuf begitu tega. Apakah mempunyai dua istri masih belum cukup baginya? Aku harus minta konfirmasi darinya.


Aku kembali keruangan Dr kandungan untuk memeriksa janinku. Sesaat aku ketepikan tentang Mas Yusuf, aku harus fokus dengan pemeriksaan medis pada kandunganku.


Aku menatap layar monitor itu, aku mengamati segala pergerakan bayiku, biasanya aku yang memeriksa pasienku, sekarang aku yang di periksa, tentunya aku sudah tahu tanpa harus dijelaskan. Mungkin kalau orang awam, dia tidak akan tahu sebelum dokter menjelaskan, tetapi aku sudah bisa mengetahui saat alat Transducer itu bergerak di permukaan kulit perutku.

__ADS_1


Aku merasa bersyukur melihat perkembangan bayiku sehat dan baik-baik saja. Aku mendengarkan segala penjelasan dari Dr Obgyn seolah aku hanya orang awam, karena aku sengaja menyembunyikan identitasku.


"Perkembangan bayinya bagus ya, Bu, berat bayi juga normal di usia sekarang, keluhan pusing yang anda rasakan, bisa diakibatkan karena banyak fikiran sehingga membuat anda stress, cari kegiatan yang dapat mengurangi beban pikiran, takutnya akan berdampak pada bayi anda."


Ya, aku tahu apa yang menyebabkan diriku banyak pikiran. Selama sebulan lebih Mas Yusuf jarang sekali berkabar, bahkan aku sulit untuk menghubunginya, nomornya juga jarang aktif.


Aku tidak tahu apa penyebabnya, apakah dia memang sibuk dalam bertugas, tapi apa tadi yang baru aku lihat. Dia menggandeng seorang wanita. Aku kesal sekali tidak bisa melihat wajah wanita itu.


"Saya rasa hanya itu saran dari saya ya, Bu Khanza," ujar dokter memutus lamunanku.


"Ah, baik Dok. Saya akan usahakan untuk tidak banyak pikiran lagi."


"Bagus kalau begitu. Ini resep dari saya, ada vitamin dan obat pusing, silahkan tebus di apotik RS, dan semoga cepat pulih ya Bu."


"Baik, Terimakasih ya, Dok." Aku dan Dokter saling berjabat tangan, lalu aku dan Bunda keluar dari ruangan Dr Obgyn itu.


"Ibu Khanza Almira...!"


Panggil petugas farmasi untuk menyerahkan obat yang tadi tertera di resep yang aku berikan. Saat aku hendak berdiri Bunda menahanku.


"Biar Bunda, kamu duduk saja."


Aku hanya mengangguk patuh, aku kembali duduk dan mengusap wajahku dengan lembut. Kenapa harus seperti ini, inikah maksud yang terucap dari kata-kata Mas Yusuf yang memintaku agar tetap bertahan. Jika tak ada penjelasan seperti ini aku tidak bisa! Aku harus meminta penjelasan darinya.


"Ayo Nak, ini obat kamu." Bunda menyerahkan kantong plastik yang berisi obat dan vitamin untukku. Aku hanya mengangguk menerimanya. Entah kenapa hatiku mendadak resah, moodku berubah, aku terasa tidak minat untuk bicara pada siapapun.

__ADS_1


***


Diperjalanan pulang aku masih diam membisu. Pikiranku masih tak terlepas pada Mas Yusuf, dia yang selalu aku rindukan, tetapi tak pernah memikirkan aku, bahkan dia menemani wanita lain ke RS. Sebenarnya dia tipe lelaki seperti apa? Apakah aku telah salah besar menaruh kepercayaan dan mengaguminya?


"Ada apa, Nak?" Kurasakan tangan Bunda mengusap punggungku, aku menoleh dan segera masuk kedalam pelukannya. Aku ingin sekali bercerita pada Bunda, tetapi karena ada driver sekaligus ajudan yang sedang mengemudi, aku mengurungkan niatku.


Aku hanya menangis dalam dekapan Bunda. Tak sepatah katapun keluar dari bibirku. Bunda yang tahu moodku sedang buruk, maka membiarkan aku menumpahkan air mata agar hatiku sedikit lebih lega.


"Sudah, Nak, kamu sudah dengar kata dokter tadi 'kan? Jangan banyak pikiran, nanti berpengaruh pada bayimu," bisik Bunda di telingaku, sembari menghapus air mataku.


"Sudah, nanti kita bicarakan ya." Sepertinya Bunda sudah tahu apa yang ingin aku bahas. Maka, aku hanya mengangguk mengikuti saran Bunda, aku segera menghapus air mata, dan kucoba untuk memejamkan mata untuk melupakan sejenak saja tentang Pria itu.


Setibanya dirumah, aku segera naik kelantai dua untuk menuju kamarku. Aku menjatuhkan tubuhku di atas sofa. Segera ku keluarkan ponsel yang ada dalam saku celana.


Aku membuka aplikasi pesan, dan segera aku memanggil kontak Mas Yusuf. Panggilan berdering, jantungku berdebar menanti jawaban darinya, namun apa yang aku harapkan tidak sesuai kenyataan yang ada. Mas Yusuf menolak panggilan dariku.


Seketika benda pipih itu terlepas dari genggamanku. Hatiku begitu sakit dan perih. Kenapa dia tega sekali padaku. Apakah benar dia sudah mendapatkan wanita lain? Mungkin kehadiranku sudah tak berarti lagi baginya.


Aku tak bisa menahan rasa sakit dihati ini. Aku menekuk lutut dan memangku dengan kedua tanganku, dan aku sembunyikan wajahku disana. Aku menumpahkan segala sesak yang sedari tadi memenuhi jiwa.


Aku menangis dalam kesendirian. Kenapa rasanya begitu sakit saat diri merasa sudah tak dibutuhkan. Seharusnya aku tidak perlu menanam rasa ini begitu besar.


Tapi bagaimana dengan Mbak Tiara? Apakah dia juga merasakan hal yang sama sepertiku? Apakah dia juga berubah pada istri pertamanya? Entahlah, aku tidak tahu akan hal itu. Yang jelas apa yang aku rasakan saat ini begitu sakit. Nasibku yang begitu menyedihkan. Aku hanya seorang istri simpanan, dan aku sedang mengandung anaknya, bagaimana dengan status anakku lahir nanti.


Aku menangis terisak-isak menahan sakit dihati. "Kenapa kamu tega Mas Yusuf! Aku hanya butuh penjelasan, aku tidak meminta apapun. Tapi kenapa hanya untuk menerima panggilanku saja kamu tidak bisa? Aku benci sama kamu Mas..."

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2