
Waktu menunjukkan pukul 10 malam, Emma sudah terlelap sejak tadi, setelah puas menangis dalam pelukan Cici dan dinasehati beberapa hal oleh Rosa, sebagai orang tertua di Mansion Lukas.
Emma baru mengetahui bahwa Rosa sudah bekerja di mansion sejak Lukas masih kecil. Sudah lewat 25 tahun Rosa bekerja di rumah ini. Ia menjadi ibu asuh Lukas sejak anak itu dibawa pulang lagi ke rumah oleh Neneknya. Ada insiden keluarga yang membuat Lukas dan ibunya terpisah dari keluarga inti Charles Kim Prasodjo. Rosa tidak memberitahukannya, karena itu adalah aib keluarga.
"Seandainya saja, nyonya rumah kita seperti non Emma ya, Ci. Pasti tuan Lukas ngga kelayapan terus tiap malam," gumam Rosa ketika sedang bersih-bersih sisa makan malam majikannya.
"Benar, Bu. Daripada mbak Sarah, mending non Emma. Saya merinding kalo dekat-dekat Mbak Sarah," ujar Cici sambil mencuci piring.
"Iya, Ci. Aku juga sama. Wanita itu seperti rubah. Kenapa tuan bisa dekat-dekat dengannya ya?" sahut Rosa terheran. Mereka berdua sama-sama tak mengetahui alasan Lukas membawa pulang Sarah, dan menjadikannya seperti selir.
"Kalo mau terapi kan bisa di kliniknya Mbak Sarah ya? Kenapa sih harus setiap saat diterapi, agak aneh,"
"Udah-udah, nggosip aja kamu, nanti kalo kedengeran Mbak Sarah, tamat riwayat kita," tutur Rosa menyudahi obrolan mereka. Tanpa disadari, Emma sedang berada di belakang mereka.
"Loh? No--non Emma, sejak kapan disitu?" tanya Cici gugup, ia khawatir Emma mendengar percakapan ghibah mereka.
"Ehm, baru aja, Ci. Kalian sedang apa?" jawab Emma sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ini, lagi beres-beres, habis gini baru tidur. Mbak Emma bukannya tadi tidur?" tanya Cici sambil mengelap tangannya yang baru saja terendam air di wastafel.
"Iya, saya haus, cari minum,"
"Astaga. Cici, kamu ngga naruh teko di kamar non Emma?" sahut Rosa dengan mata terbelalak. Betapa cerobohnya Cici sampai tidak memperhatikan keperluan Emma.
"Astaga, maaf. Kebiasaan kemarin, pas non Emma mogok makan, hehe.... " seloroh Cici tanpa rasa bersalah.
"Nggak papa, Bu, Cici. Saya sekalian jalan-jalan ke luar kamar. Pengap juga udah 4 hari cuma ada di dalam kamar," jawab Emma yang membuat keduanya lega.
"Terima kasih," sahut Emma tersenyum. "Oya, Pak Lukas belum pulang? Kok sepi?"
"Iya, Non. Tuan biasanya pulang tengah malam,"
"Oh, begitu. Yasudah, saya pamit tidur lagi ya," ucap Emma sambil berjalan ke lantai dua. Dapur rumah utama ada di lantai pertama, di ruangan pojok, dekat dengan taman belakang. Emma yang tak sengaja mendengar percakapan Cici dan Bu Rosa menjadi paham sedikit demi sedikit situasi di mansion milik Lukas.
'Huh, ternyata hidup orang kaya juga sama saja ada masalah. Aku kangen sama ibuk dan Galih. Tapi ponselku juga hilang. Gimana caranya aku pulang? Hhh..... Nasibku sungguh malang' batin Emma sambil menenggak air yang baru saja diambilnya dari dapur.
__ADS_1
Emma lantas mencoba kembali tidur, supaya tak memikirkan hal aneh yang membuat hatinya risau. Namun, tak disangka, pintunya diketuk oleh seseorang.
TOK TOK
"Iya, silakan masuk," sahutnya pelan.
"Ini aku," jawab Lukas sambil membuka pintu.
"Pak Lukas? Ada apa mencari saya malam-malam?" tanya Emma terheran. Ia tak jadi memejamkan mata, dan menyambut tamu tak diundang yang mendadak datang ke kamarnya.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1