Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 82 Big Deal


__ADS_3

Lucy tersenyum sinis saat ia keluar dari rumah sakit dan melangkah menuju ke mobilnya. Kian, dan sopir setia Lucy, sudah menunggu di dekat pintu masuk rumah sakit. Dengan sigap, sopir menyambut Sang Presdir dan membukakan pintu mobil untuknya. Mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke kantor pusat Hains Construction, melewati rute alternatif yang bebas banjir, meskipun harus memutar agak jauh.


"Kelihatannya Anda sangat gembira, Nona Presdir," tanya Kian dengan rasa heran, karena jarang sekali Lucy menunjukkan senyuman.


"Ya, setelah semua kegagalan yang aku alami selama ini, dan sebelum orang gila dari Kanada itu datang menagih janji, aku akan melaksanakan rencanaku dengan sempurna," ucap Lucy dengan dingin.


Kian tidak berani menanggapi lebih lanjut, karena ia tidak memahami sepenuhnya rencana apa yang sedang dipikirkan oleh bosnya. Kian hanya ingin segera pensiun dini dan kembali ke kehidupan normalnya sebagai seorang lajang yang tidak perlu terlibat dalam dunia kriminal lagi.


......................


Di markas rahasia milik Lukas, Askara sedang melaksanakan uji terakhir untuk merancang sistem pengendalian banjir bandang yang sedang melanda. Fokusnya adalah membangun saluran drainase yang efisien untuk mengalirkan air banjir dengan cepat dan mengurangi dampaknya secara signifikan, sesuai perintah Lukas.


Lukas, yang saat ini berada di rumah sakit menjaga neneknya dan menggantikan Emma, menghubungi Askara melalui sambungan telepon untuk mengetahui perkembangan situasi.


"Bagaimana situasinya? Apakah ledakan sudah bisa dilakukan?" tanya Lukas.


"Saat ini, kita sedang mempersiapkan simulasi komputer terakhir untuk memastikan keberhasilan rencana pengendalian aliran air. Melalui model ini, tim akan menguji efektivitas saluran drainase darurat tadi, Bos. Anda jangan khawatir," sahut Askara mencoba menenangkan Lukas.


Lukas merasa khawatir dengan situasi tersebut. Ia bahkan harus mengambil langkah drastis dengan memindahkan tahanan yang tersisa ke markas dan menutup akses penjara, kemudian berencana untuk meledakkannya agar menciptakan resapan raksasa yang dapat menyurutkan air bah.


"Baiklah, kabarkan perkembangannya. Lakukan yang terbaik," pungkas Lukas, memberi tahu Askara untuk tetap fokus pada tugasnya.


"Baik, Bos! Tentu saja, kami akan melakukan yang terbaik," sahut Askara tegas.

__ADS_1


Askara dan timnya melanjutkan analisis struktural yang komprehensif untuk memastikan kekuatan saluran drainase. Mereka juga melakukan analisis hidrologi yang cermat untuk menentukan kapasitas saluran drainase yang tepat. Dalam simulasi komputer ini, mereka memperhitungkan debit air banjir maksimum yang mungkin terjadi berdasarkan data hidrologi wilayah.


Seorang petugas keamanan juga berpartisipasi dalam proses ini untuk mencatat rencana tersebut dan memastikan tidak ada kesalahan prediksi yang akan disampaikan kepada Presdir setelah misi selesai. "Keamanannya, tidak ada masalah, kan?" tanyanya memastikan.


"Tentu, kita telah melibatkan tim ahli untuk memastikan keberlangsungan misi ini. Sebelum melakukan peledakan, kita sudah melakukan studi dampak dan menerapkan langkah-langkah pengamanan yang ketat. Di sini, kita bisa melihat kemungkinan ledakan dan dampaknya terhadap saluran drainase dan struktur di sekitarnya," jelas Askara sambil menunjukkan simulasi ledakan pada layar komputer yang ada di belakangnya.


Dalam uji simulasi komputer terakhir ini, Askara dan timnya memperhitungkan semua faktor kunci yang relevan, termasuk kekuatan saluran drainase, kapasitas aliran, keamanan struktural, dan risiko ledakan. Dengan pendekatan ini, mereka berharap dapat menghasilkan sistem pengendalian banjir bandang yang efektif dan efisien. Askara dan timnya akan menggunakan data hasil simulasi untuk memperbaiki desain saluran drainase di masa depan dan memastikan keandalannya.


Lukas melakukan penelitian ini secara pro-bono sebagai bentuk nasionalisme. Meskipun ia tidak tertarik terjun ke politik, Lukas sangat memahami rasa putus asa dan penderitaan yang terjadi ketika nasib seseorang terombang-ambing dalam situasi genting tanpa ada yang bisa diandalkan. Timnya dengan senang hati membantu Lukas dan bekerja tanpa kenal lelah demi perbaikan yang lebih efektif dan efisien bagi Jakarta.


......................


Sementara itu, Emma telah sampai di kediaman. Ia beristirahat di kamarnya, dan tertidur seketika. Cici dan Rosa tidak tega membangunkannya, karena, majikannya itu tentu sangat lelah. Belum habis keletihannya setelah mencari Tuan Lukas yang menghilang, kali ini, malah harus mengurus Nyonya Besar yang sedang terbaring lemah. Para pelayan tidak berani menyatakan bahwa Nyonya Besar sedang sekarat, mereka tidak ingin menambah beban Sang Nyonya rumah.


Emma berjalan perlahan melewati meja belajarnya. Pandangannya terhenti pada kalender meja yang memiliki lingkaran merah pada angkanya. Hari ini, seharusnya, Emma dan Lukas merayakan perayaan hari jadi pernikahan mereka yang pertama. Namun, takdir berkata lain, mereka harus menunda perayaan dan berfokus pada kesehatan nenek mereka.


"Hhhhh....," Emma menghela napas berat. Pikirannya melayang. Namun, tiba-tiba saja, sebuah getaran di atas meja nakas membuyarkan lamunannya.


"Halo?" jawab Emma setelah menerima panggilan pada ponselnya.


"Hai, Nyonya Emma. Saya ingin bertemu, bisakah kita jumpa di Kafe Nolep dekat stasiun Gawang?" pinta seseorang di seberang telepon.


"Tunggu dulu, siapa ini?" tanya Emma penasaran. Ia belum menyimpan nomor sang penelepon dan sudah mendapatkan permintaan yang mendesak seperti itu.

__ADS_1


"Ohya, maaf, saya lupa mengenalkan diri. Saya Lucy, sahabat Lukas, suami anda," sahutnya tenang.


'Lucy? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu' gumam Emma sambil mencoba mengingat kembali. Namun, ia tidak kunjung menemukan nama Lucy dalam ingatannya.


"Baiklah. Saya bisa ke sana, satu jam lagi," Emma menyetujui pertemuan mereka.


"Baiklah, saya menantikannya,"


Sambungan telepon tiba-tiba terputus, meninggalkan Emma dalam keheningan yang tak terduga. Mungkin, pertemuan dengan Lucy sangat penting, sehingga Emma akan mempersiapkan diri dengan teliti. Di balik keinginannya untuk bertemu, ia merasa penasaran dengan niat sebenarnya yang mendorong Lucy untuk melakukan pertemuan ini. Rasa ingin tahu Emma semakin mendalam, karena ia merasa bahwa pembicaraan mereka berpotensi membawa dampak besar bagi kehidupan pernikahannya dengan Lukas.


......................


Satu jam kemudian, Lucy dan Emma terlihat duduk di meja sebuah kafe, dengan minuman hangat yang tersaji di depan mereka. Namun, alih-alih suasana hangat yang seharusnya tercipta, berubah menjadi tegang saat Emma tiba-tiba menyiramkan air putih ke wajah Lucy. Kejadian ini membuat atmosfer menjadi mencekam.


"Berani-beraninya kau mengatakan itu? Bercerai? Kurang ajar!" tegas Emma dengan nada marah, merespons saran perceraian yang tidak pantas dari seorang wanita yang baru saja dikenalnya.


"Bercerai bukanlah hal yang sulit, kan? Kau tidak akan menyesalinya..." sahut Lucy dengan suara dingin, sambil mengelap wajahnya dan menatap Emma dengan pandangan sinis.


Pembicaraan mereka semakin tegang dan penuh amarah. Emma merasa bimbang dengan keteguhan hatinya, apakah, ia benar-benar harus bercerai dari Lukas?


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2