
Hari semakin gelap, namun tekad Nyonya Han untuk mencari keberadaan Mak Perot, atau mungkin saudara yang memiliki hubungan dengannya, tidak lantas padam. Meski tubuhnya kurang prima, Nyonya Han tidak merasa keberatan. Setidaknya, perjuangan ini dapat mengobati rasa bersalahnya terhadap Lukas dan Angela, serta sebagai bentuk penebusan dosa karena pernah berhubungan dengan tanaman terkutuk Macadonia.
"Apakah Anda merasa lelah, Nyonya?" tanya Pak Kardi, sang sopir, sambil melihat majikannya dari cermin depan mobil.
"Hhh.... Iya, lumayan. Sudah, jangan hiraukan aku. Kemo di Amerika kemarin, setidaknya memberikan manfaat. Aku sudah tidak sering pingsan," ucap Nyonya Han menghibur diri. Pak Kardi tampak terenyuh mendengarnya. Pak Ujang, yang tidak mengetahui kondisi Nyonya Han, tentu saja penasaran.
"Ibu, kunaon? Ibu, teh, sedang sakit?" tanya Pak Ujang ingin tahu, karena wajah Nyonya Han memang tampak pucat.
"Iya, Pak. Saya kena kanker payudara. Sudah stadium akhir," tutur Nyonya Han mencoba tegar. Pak Ujang merasa sungkan karena telah menanyakan hal yang seharusnya tidak ia tanyakan. "Aduh... Maaf, yak," ucapnya kemudian. Ia berpikir Nyonya Han hanya menderita demam atau masuk angin saja, ternyata, Nyonya Han sedang berjuang melawan penyakit yang berat.
"Eh, kenapa Bapak minta maaf? Saya baik-baik saja," ucap Nyonya Han mencoba mencairkan ketegangan. Di sisa usianya, Nyonya Han berharap bisa memberikan Lukas obat penawar agar hidupnya setelah kepergian sang nenek dapat berlanjut bersama Emma.
Membayangkan hal itu, tanpa disadari, air mata mengalir di kedua pelupuk matanya yang keriput. Nyonya Han merasa bahwa penyakit yang dideritanya adalah karma atas perlakuan buruknya terhadap Lukas dan Angela di masa lalu.
"Bu, ini..." Pak Ujang memberikan sapu tangan yang kebetulan ada di sakunya kepada Nyonya Han. Wanita tua itu sedang menangis dalam keheningan. Pikiran dan perasaannya sulit ditebak. Namun, Pak Ujang berhenti menanyakan hal-hal yang membuat suasana menjadi buruk. Ia akan lebih memperhatikan ucapan dan pembicaraannya, agar tidak mengingatkan hal-hal yang menyedihkan bagi tamu barunya.
......................
Jalan-jalan kecil yang menghubungkan kedua desa tersebut tampak lengang, hanya diterangi oleh temaram lampu di sisi kanan dan kiri jalan. Nyonya Han dan Pak Ujang duduk nyaman di kursi penumpang setelah sejenak berbincang. Tanpa terasa, mereka sudah sampai di Desa Cihempas yang terletak di tengah-tengah perbukitan yang masih alami. Pak Ujang memarkirkan mobil di dekat rumah keponakan Mak Perot yang juga berfungsi sebagai kliniknya.
"Kita sudah sampai," ucap Pak Kardi, disambut anggukan Nyonya Han dan Pak Ujang.
"Inget ya, Bu. Jangan kaget," tutur Pak Ujang mengingatkan Nyonya Han agar tidak terkejut jika melihat hal-hal yang aneh di klinik nanti.
"Iya, Pak. Sebenarnya, kaget gimana sih—" Belum sempat mendapatkan jawaban, Nyonya Han sudah terkejut duluan. Di kursi tunggu klinik bagian dalam, tampak beberapa pria hanya memakai c*lana d*lam.
"Itu, teh, mereka lagi mau diskrining.. Apa ya? Itu loh.. Diperiksa gitu deh, Bu," tutur Pak Ujang, menjelaskan tentang proses screening pasien sebelum masuk ke dalam bilik pengobatan.
"Aduh, mataku!" sesal Nyonya Han sambil menutup kedua matanya karena telah melihat hal-hal yang tidak senonoh.
Pak Ujang kemudian masuk ke dalam klinik, menemui Teh Lilis, keponakan Mak Perot, yang sedang mengambil camilan untuk suaminya di dapur.
__ADS_1
"Teh... Ada tamu jauh," ucap Pak Ujang pada Teh Lilis yang sedang mengambil camilan. "Eh, Mang Ujang. Antri atuh," sahut Teh Lilis sambil menunjukkan tamu-tamu yang sedang mengantre di klinik mereka.
"Eh, dia ini nggak mau berobat. Cuma, mau nanya soal ramuan. Apa nggak bisa sekarang? Sebentar ajah, kitu...." desak Pak Ujang mencoba menyelak antrean. Ia merasa kasihan pada Nyonya Han yang tampak kelelahan.
Teh Lilis tampak berpikir sejenak. Ia kemudian mengangguk dan mempersilahkan tamu jauh itu untuk masuk ke ruang konsultasi yang kebetulan sedang kosong.
"Mari, silahkan," ucap Teh Lilis pada Nyonya Han yang menguarkan aroma banyak uang. Entah kenapa, penilaian Teh Lilis selalu cermat ketika melihat calon klien yang potensial. Pak Ujang tampak geleng-geleng kepala dengan tingkah Teh Lilis yang hampir mirip dengan istrinya itu.
"Saya nyelak antrean, Nggak papa nih, Bu?" tanya Nyonya Han merasa tidak enak.
"Oh.. Nggak papa. Amaaaaaan," sahut Teh Lilis sambil memberi isyarat pada Pak Ujang supaya menutup pintu ruangan dari luar. Mereka akan berbincang secara pribadi dan tidak terdengar oleh orang luar.
"Konsultasi sama saya dulu ya, Bu. Nanti ramuannya, dibuatkan oleh suami saya. Beliau masih ada pasien," tutur Teh Lilis membuka percakapan. Nyonya Han mengangguk setuju.
"Jadi, kedatangan saya ke sini, ingin dibuatkan obat penawar racun," ucap Nyonya Han. Teh Lilis mengangguk, kemudian mempersilahkan Nyonya Han melanjutkan ceritanya.
"Jadi, cucu saya keracunan teh Macadonia," ucap Nyonya Han, mencoba memancing respon sang herbalis.
"Oh ya, teh itu..." ucap Teh Lilis tanpa menunjukkan raut wajah yang asing. Ia bahkan tidak terkejut ataupun penasaran mengenai Teh Macadonia. Nyonya Han mencium adanya gelagat aneh dan mencurigakan.
"Oh, iya. Jadi... Akhirnya cucu saya mengalami masalah impotensi yang kompleks. Teh itu bikin ketergantungan," lanjutnya dengan nada datar.
Teh Lilis masih terlihat mencatat setiap ucapan Nyonya Han dalam buku konsultasi yang baru saja diambilnya dari laci meja. Tangannya begitu terampil menggoreskan bahan-bahan yang mungkin dibutuhkan untuk mengobati gejala keracunan.
"Oke. Sudah berapa lama keracunannya?" tanyanya kemudian.
"Mungkin, sekitar satu tahun ini," jawab Nyonya Han dengan perkiraan, karena ia tidak tahu pasti kapan Lukas mulai mengkonsumsi teh herbal tersebut.
"Baiklah, Nyonya. Silakan tunggu di depan. Saya akan membuatkan ramuannya sekarang," sahutnya tegas.
"Y-ya? Sekarang? Benarkah? Kok cepat sekali?" tanya Nyonya Han tak percaya.
__ADS_1
"Mau tidak? Ya, tentu saja, harganya berbeda," ucap Teh Lilis sedang bernegosiasi.
Nyonya Han yang tidak khawatir tentang uang tentu saja tidak merasa keberatan. Ia mengangguk dan beranjak menuju ruang tunggu sambil memastikan bahwa ramuannya memang benar-benar dapat diandalkan.
Sementara itu, beberapa pasien yang sebelumnya mengenakan pakaian dalam tampak berkurang satu per satu. Mereka telah menjalani pengobatan dengan cepat dan tampaknya sudah kembali pulang ke rumah masing-masing.
Nyonya Han mengangguk ke arah Kardi. Sang sopir segera mendatanginya. "Pak Ujang, di mana?" tanya Nyonya Han.
"Pak Ujang ada di teras, sedang berbincang dengan pasien lain," sahutnya. Nyonya Han tampak mengerti. Jika ramuan tersebut berhasil, ia berencana memberikan bonus kepada Pak Ujang dan juga herbalis yang menanganinya.
Tak berselang lama, Teh Lilis dan suaminya kembali menemui Nyonya Han sambil membawa beberapa kantong bening berisi bungkusan, yang sepertinya berisi ramuan obat yang telah dijadikan serbuk hitam.
"Bu, ini ramuannya sudah selesai. Harganya... eum... sepuluh juta," ucap Teh Lilis sambil tersenyum. Nyonya Han tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau keberatan. Ia dengan tenang mengambil uang sepuluh juta dari tas kopernya dan menyerahkannya pada Teh Lilis.
Teh Lilis melirik sejenak ke arah suaminya. Suaminya melemparkan senyum tipis, seakan menunjukkan gelagat kemenangan yang mereka harapkan. Nyonya Han tampak gembira karena bisa membawa pulang ramuan penawar racun Macadonia untuk cucunya.
"Terima kasih," ucap Nyonya Han sambil pamit pulang.
"Sama-sama. Terima kasih sudah berbisnis dengan kami," ucap Teh Lilis dan suaminya hampir bersamaan.
Namun, tepat saat mereka hendak melangkah keluar, Pak Ujang tergopoh-gopoh masuk dan merebut bingkisan ramuan dari tangan Nyonya Han.
"Kembalikan uangnya! Dasar penipu!" hardik Pak Ujang, lalu melemparkan ramuan itu ke arah Teh Lilis dan suaminya.
PRUK!
Ramuan tadi tampak berceceran mengotori lantai klinik, tak lama kemudian, suara sirine mobil polisi meraung-raung, menimbulkan kekacauan lain yang tidak disangka-sangka oleh mereka.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...