
"Apa?? Dimana istriku???" tanya Lukas dengan amarah yang meledak, setelah baru saja bangun dari tidur panjangnya yang berlangsung hampir setengah hari.
Sarah tampak menjauh dari sisi Lukas agar tak terkena imbas kemarahannya. Roy tentu saja gemetar ketika menjelaskan secara terperinci soal kejadian yang baru saja terjadi. Roy mulai menceritakan awal mula kemunculan sang nyonya yang membuat heboh insta karena acara kuisnya, sampai pada pemaparan jebakan soal sabotase proyek pembebasan lahan yang terjadi di Pluit, hingga pada akhirnya keberadaan Emma yang menghilang secara tiba-tiba.
"SIAL!!! ANTAR AKU KE ASKARA SEKARANG!"
"Siap!"
Roy dengan sigap menyiapkan mobil presdir dan melaju kencang menuju ke kantor pusat RCTV. Sepanjang perjalanan, Lukas tampak mencoba menelepon ponsel istrinya, namun nihil hasilnya. Panggilannya sama sekali tak terjawab, dan malah masuk ke kotak suara.
Alih-alih marah, Lukas kini mulai khawatir. Degupan jantungnya berlari sekencang detak jam tangan. Ia juga mencoba menghubungi orang rumah, dan juga para pelayan yang mungkin mendapatkan kabar. Namun, Lukas tak kunjung menemukan jawaban. Emma adalah pendatang di kota metropolitan, ia tentu tak punya teman. Lukas tak mengenal teman-teman Emma, karena, ia baru saja masuk kuliah.
Kriiing...
Ponsel Lukas berdering.
<"Halo?">
<"Bos. Saya dapat informasi, nyonya ada di RS Pelita Hati">
Tut.
"Cepat!! Tancap gas ke RS Pelita Hati!" titah Lukas pada Roy yang sedang menyetir. Ajudannya itu mematuhi perintah bosnya dan segera mengebut agar sampai ke RSPH dengan kecepatan seperti kilat.
Askara, baru saja sampai di kantor pusat RCTV. Ia tentu tak ingin membuang waktu untuk bertanya, ataupun menyandera karyawan agar tuan muda RCTV keluar. Askara memilih untuk meretas CCTV gedung dan juga sambungan telepon supaya pembicaraan soal nyonyanya dapat ditemukan. Perlu waktu sekitar 30 menit, sampai akhirnya ia mendapatkan informasi bahwa, tuan muda Haritama telah menggunakan kamar VVIP di RSPH untuk temannya.
Dengan cepat dan sigap, Askara dapat menyimpulkan bahwa temannya itu pasti nyonya Emma. Ia pun melaporkan informasi tersebut pada bosnya, sehingga dapat segera menuntaskan pekerjaan terakhirnya.
__ADS_1
......................
"Tuan! Tuan! Tenang dulu!!! Anda tidak boleh menerobos seperti ini!!! Security!! Security!!" teriak perawat yang berjaga di area VVIP. Ia kuwalahan karena harus menghalau pria lusuh berjas yang terlihat seperti orang kurang waras. Pria itu memaksa masuk ke dalam ruangan VVIP untuk mencari keluarganya. Ia bahkan menyisir satu per satu ruangan di area tersebut untuk mencari-cari istrinya.
Tiga orang security dari lantai dasar tampak berderap ke lantai teratas setelah mendapatkan panggilan darurat. Mereka bersiap dan maju hampir bersamaan untuk melumpuhkan pria kurang waras tersebut.
"Akkkkhh!!" erang Lukas kesakitan.
Roy, yang baru selesai memarkir mobil dan dengan santai menuju ke lantai teratas, tentu saja terperangah. Ia lantas melerai kekacauan yang sedang terjadi akibat ulah bosnya yang mengamuk tiba-tiba.
"Pak! Tenang, Pak! Bos saya bukan orang gila!" teriak Roy sambil melepaskan jeratan tiga orang security yang sedang mengunci bosnya di lantai rumah sakit.
"Kalau bukan orang gila, ngapain bertingkah gila? Lihat itu! Bauk! Kotor! Lusuh! Dia pasti pura-pura jadi bos ya?!" hardik salah satu security yang berbadan paling gempal.
Roy tentu saja mulai memerhatikan bosnya, dan memindainya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia baru ingat, bahwa, Lukas belum berganti baju sejak insiden tomat busuk, siang tadi.
"Mana istriku? Emma! Emma!!!" Lukas kembali menggila. Ia berlarian di koridor area VVIP dan benar-benar membuat kegaduhan. Roy tak membuang waktu dan langsung mengejar bosnya lalu menarik kerahnya agar tersadar.
"Bos! Pak presdir!! Sadarlah, Pak!!! Jangan bikin malu! Nanya baik-baik kan bisa!" pinta Roy dengan mencengkeram kerah bosnya agar tak melarikan diri sekali lagi.
"Tarik napas.... Nah.. Gitu... " Roy mulai menenangkan bosnya. Lukas tampak mulai mengatur napas dan menormalkan degupan jantungnya secara perlahan. Genggaman tangan Roy menyalurkan energi hangat manusia yang dapat membuat hati Lukas tenang dan kembali menjadi dirinya.
"Henbuskan... Nah... Gitu.... " pandu Roy tetap dengan keteduhan. Inilah gunanya ajudan dengan bayaran dollar. Ia harus mau dan mampu untuk senantiasa meladeni segala tingkah laku bosnya yang seringkali di luar nalar.
"MAAF, PAK! BISA PERGI DARI SINI, NGGAK?" perintah seorang perawat yang sedari tadi bersabar. Kali ini, ia tak tahan lagi ketika melihat dua insan yang sedang berpegangan tangan dan latihan napas-napasan di area terlarang.
"Sus. Sabar dong. Bos saya menggila karena istrinya dilarikan ke RS sini. Mereka masih pengantin baru. Wajar kalo fase bucin maksimal," seloroh Roy yang sudah melepaskan genggaman tangannya dari bosnya.
__ADS_1
"Nanya baik-baik kan bisa, Pak. Itulah gunanya Tuhan menciptakan mulut," cetus perawat itu ketus.
"Nah, saya tadi bilang begitu. Makanya, sekarang dia sudah tenang,"
"Yasudah, siapa namanya? Saya carikan di bagian registrasi,"
"Emma, Sus. Emmaliawati," jawab Lukas kemudian. Kali ini sudah dalam mode normal. Ia sudah bisa bernapas dengan teratur dan suasana hatinya sudah lebih tenang.
"Baiklah, tunggu sebentar," Perawat itu kemudian berjalan ke arah komputer yang ada di atad mejanya. Setelah mengetik nama pasien, ia lalu mengarahkan Roy dan Lukas agar menuju ke ruang V12. Hanya ada 20 ruangan VVIP di rumah sakit tersebut, jadi, tidak sulit mencarinya.
"Terima kasih, Sus," ucap Roy dan Lukas hampir bersamaan. Perawat itu pun mengangguk, dan membubarkan para security yang sudah tak sabar ingin berlatih judo sejak tadi.
......................
"Emma..... " panggil Lukas lirih.
Emma yang sedang ditenangkan oleh Ryan, tampak salah tingkah. Ia seperti sedang terpergok selingkuh, padahal tidak.
Lukas yang tadinya tenang, kini menjadi muntab. Tak butuh waktu lama baginya untuk kembali menggila.
"ROY!! BAKAR RUMAH SAKIT INI!"
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1