
Lukas mengelap bekas tomat busuk dengan amarah yang membara. Ia bersumpah akan mencari biang keladi yang bisa membayar kembali insiden memalukan yang dideranya ini.
Tring!
Sebuah pesan masuk datang tiba-tiba.
Dalam gemuruh di dadanya, ada pesan menenangkan dari Sarah, terapisnya.
"Putar balik mobilnya, kita ke klinik Sarah," ucap Lukas tiba-tiba.
Askara yang telah dihubungi oleh Roy, sedang dalam perjalanan ke markas rahasia. Lukas rasanya ingin pergi ke pelukan Emma, namun, ia masih merasa jengkel atas tabiat istrinya. Beruntung, Sarah sangat peka dan menghubunginya.
Sepertinya, Lukas butuh terapi di klinik Sarah. Jantungnya sudah berdebar tak karuan, akibat beberapa kejadian yang menderanya sepanjang hari ini.
Sementara itu,
Mode ponsel Lukas telah diaktifkan ke dalam mode diam. Ia tak menyadari ada sms, wa bahkan telepon dari istrinya yang sedang gelisah menanti kabar darinya. Sudah menjadi kebiasaan Lukas jika sedang diterapi oleh Sarah, ia tak akan menghiraukan kabar apapun supaya tenang. Lukas tak mengetahui bahwa, keinginan hatinya tersambut baik oleh sang istri yang dilupakannya.
__ADS_1
......................
"Hei, lagi nelpon siapa?" tanya Vita sambil menyuguhkan teh hangat. Sudah cukup informasi soal pengusiran tuan besar K-Group, saat ini, Vita harus fokus menemani tamunya yang sudah jauh-jauh diajak ke sini untuk bermain.
"Oh, lagi nelpon orang rumah tapi nggak diangkat, nanti saja lah," jawab Emma sambil menyeruput teh manis yang dihidangkan oleh Vita.
"Rame ya di sini, ibu kemana? Kalian juga tinggal di sini?" tanya Emma seperti wartawan. Ketika menyadari pertanyaannya yang tampak banyak, Emma mengangkat kedua tangannya. "Sorry.. Hehe.. Penasaran banget gue,"
"Gak papa. Biasa itu kekepoan yang hakiki. Hehe.. Iya kami tinggal di lantai tiga. Ibu dan gue, anak-anak di lantai 1 dan 2. Rumah tingkat begini, supaya simpel, nggak terlalu luas. Mama lagi belanja. Sebentar lagi juga datang," jawab Vita sambil melambai ke arah Rika, penyandang tuna rungu yang dari tadi ingin mendekat ke arah mereka.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam. Nah itu mama," Vita menghambur ke arah pintu dan membukakannya untuk ibunya.
"Sudah, Ma. Kenalin, ini Emma, teman kuliah,"
"Assalamu'alaikum, tante. Saya Emma," ujar Emma sambil mencium tangan ibunya Vita. Mereka terkekeh, dan tak mengira Emma akan salim pada mamanya.
"Lucu kamu, Em. Disini orang biasanya meluk-meluk aja, jarang yang salim," ujar Vita. Emma hanya tersenyum kecut karena sudah menjadi kebiasaan jika bertemu orang yang lebih tua, harus salim.
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian mengobrol seru tentang keadaan di panti asuhan, berikut soal kelompok anti penggusuran. Emma lalu mengorek informasi tentang keberadaan kelompok tersebut dengan harapan dapat membantu pekerjaan suaminya. Ia sangat terbantu dengan informasi-informasi yang disampaikan oleh Vita dan ibunya.
"Mereka itu bukan orang asli sini, Em. Kita juga serba salah. Kalau mengaku, artinya pengkhianat. Kami sih sepakat dengan ganti rugi yang ditawarkan. Lumayan kan rumah jelek begini dapat 1,2 Milyar?" ujar Vita dengan mata berbinar.
"Lalu? Mereka siapa?"
"Itu, orang bayarannya Pak Toni, wakil RW 02. Warga yang membocorkan siasat ini, bakal diusir dan tidak dibantu klaim ganti rugi bangunan. Huv... Jadi bingung. Katanya demi warga, uang gusurnya mau dinaikkan 2x lipat. Tapi nyatanya? Malah kisruh seperti ini,"
Emma lalu merekam percakapan mereka ini dalam memori otaknya. Ia mungkin memikirkan suatu hal yang dapat mengurai konflik ini, ketika akses K-Group bahkan diblokir warga.
"Vita. Next time, kalau gue minta bantuan. Tolong bantu gue ya?"
"Tentu saja, asal gue bisa bantu, pasti dibantuin," ujar Vita dengan penuh tekad.
"Kita akan bikin kubu Pak Toni tak berkutik. Tunggu aja," jelas Emma penuh siasat. Menjadi korban kejahatan untuk kali kedua, membuat mental Emma tertempa. Ia menjadi pribadi yang pantang mundur dan penuh perhitungan agar rencananya tidak gagal.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...