
Emma sampai di kantor kepolisian sektor Jakarta Selatan ditemani oleh Pak Hendro. Setelah melaporkan kehilangan, mereka beranjak kembali untuk pulang. Emma merasa sangat lelah dan ingin beristirahat. "Hhhh... Musibah kok kayak gini banget," gerutunya. Padahal, Emma sangat ingin mencoba e-money yang baru saja dibelinya. Jumlah uang di dompetnya sebetulnya tidak banyak, tetapi kehilangan kartu identitas dan Black Card menjadi masalah utama jika hilang begitu saja. Beruntung, pihak bank langsung membekukan kartu kredit Emma setelah menerima laporan kehilangan, sehingga ia tidak perlu khawatir tentang penyalahgunaan kartu oleh si pencuri.
Emma berjalan pelan menuju mobil di area parkir. Pak Hendro tadi ikut turun untuk menemaninya melaporkan kehilangan, mobil mereka akhirnya harus diparkirkan. Tiba-tiba, di tepi jalan, tidak jauh dari area parkir, Emma melihat seorang ibu berpakaian lusuh yang menangis dengan keras. Emma merasa terkejut dan hati nuraninya terenyuh. Ia tidak bisa mengabaikan tangisan ibu yang terlihat sangat membutuhkan pertolongan itu.
"Pak, saya ke sana sebentar ya," kata Emma kepada Pak Hendro. Pak Hendro menganggukkan kepala. "Baik, tapi hati-hati, Nyah. Tunggu di sana saja ya? Jangan ke mana-mana," pesan Pak Hendro dengan kekhawatiran. Ia tidak ingin sang nyonya kembali hilang ataupun diculik seperti kejadian yang sudah-sudah. "Siap, Pak!" jawab Emma sambil tersenyum. Pak Hendro sangat protektif terhadapnya, seolah-olah seperti ayah Emma sendiri.
Emma mendekati sang ibu yang sedang menangis tadi, namun seorang polisi wanita tiba-tiba berdiri di sampingnya. "Mbak, biarkan saja. Ibu itu tidak jelas maksudnya apa. Kami sudah mencoba membantu sebisanya, tetapi dia tetap menangis. Sudahlah, jangan diperhatikan," ucap polisi wanita tersebut dengan nada tegas. Emma tersenyum sebagai tanggapan, tetapi ia tidak kekurangan ide untuk menjawab penuturan sang polwan, tanpa terlihat meremehkan.
"Dia kenalan saya, Bu. Mau saya antar pulang," jawab Emma dengan hati-hati agar tidak tampak sedang ikut campur masalah sipil. Polisi wanita itu sedikit mengernyitkan dahi, tetapi kemudian mengizinkan Emma untuk melanjutkan aktivitasnya.
"Permisi, Bu. Ayo, ikut saya," ajak Emma pada ibu yang tampak terlantar itu agar mau menerima tumpangan. Keberadaan ibu tersebut yang mencolok telah membuat petugas dan pejalan kaki di sekitar merasa tidak nyaman.
Ibu itu menghentikan tangisnya, dan menengok ke atas. Setelah melihat wajah Emma. Ia lantas menangis lagi dengan sangat kencang.
"Huu... Hu.... Anakku... Genduk... Hu... Hu.... "
Emma terkejut, karena rupanya sang ibu tadi adalah orang Jawa yang sesuku dengannya.
"Bu, ayo ikut saya. Saya ajak makan, Yuk... " ajak Emma tanpa menyerah, kali ini, dengan bahasa Jawa yang kental, supaya sang ibu merasa nyaman.
Ibu tersebut masih sedikit terisak, namun, kemudian ia menurut. "Baiklah, Ning," sahut ibu itu patuh. Emma dan ibu tadi pun berjalan menuju ke mobil. Emma tidak tega ketika melihat seorang wanita tua yang tampak tak berdaya. Emma teringat akan ibunya sendiri. Meskipun mereka berpisah jauh, Emma masih sering menghubungi ibu dan adiknya melalui media sosial dan telepon. Namun, akhir-akhir ini, Emma jarang menghubungi mereka karena sangat sibuk.
"Ibu, siapa namanya?" tanya Emma menggunakan bahasa Jawa.
__ADS_1
"Saya Tinem, Ning," jawab sang ibu yang kali ini sudah mereda tangisnya.
"Saya, Emma. Bu," ucap Emma sambil menyalami tangan wanita tua itu dengan takzim.
"Pak, kita bisa mampir ke rumah makan di seberang sana ya," kata Emma. Pak Hendro mengangguk. Mereka pun menuju ke rumah makan untuk bisa duduk dan berbincang dengan Bu Tinem secara lebih mendalam.
......................
...[Restoran Ashton-Willy]...
"...... jadi begitulah ceritanya, Ning," tutur sang ibu setelah kenyang menyantap makan siang. Meskipun dompet Emma hilang, untungnya ponselnya masih ada, sehingga Emma bisa membayarnya dengan menggunakan Qris yang sedang populer saat ini.
"Kenapa bisa begitu, Bu? Kemana dia pergi?" tanya Emma setelah mengetahui kisah hilangnya anak perempuan Bu Tinem yang tidak pernah menghubunginya selama satu bulan terakhir. Biasanya, mereka berkomunikasi setiap hari tanpa melewatkan satu hari pun. Tentu saja Bu Tinem menjadi curiga. Setelah mencoba dihubungi kembali, ponsel Rini tidak aktif. Dan, orang yang menawarkan pekerjaan pada Rini juga tidak bisa dihubungi.
Emma terkejut, mengetahui bahwa kasus Rini hampir mirip dengan kasusnya beberapa waktu lalu ketika dia ditipu oleh Dani dan Jaka. Kedua orang itu tampak mencurigakan, dan tentu saja saling terkait satu sama lain.
"Bu, begini. Ibu pulang saja. Tinggalkan nomor telepon. Jika Rini ditemukan, nanti saya akan menghubungi ibu," Emma sekali lagi menawarkan diri. Dia merasa empati terhadap kasus Rini, terlebih lagi, ibunya juga seorang janda seperti ibu Emma.
"Benarkah, Ning? Ya Allah. Terima kasih banyak, Ning. Terima kasih......" ucap Bu Tinem sambil mencium tangan Emma. Emma merasa terharu, dia memeluk Bu Tinem dengan penuh kehangatan. Lalu mereka menuju kasir. "Mbak, bisakah tolong mencairkan dana saya? Tadi saya kehilangan dompet. Saya akan mentransfer sekarang," pinta Emma mencoba keberuntungan. Petugas kasir yang bernama Lisa tampak ramah dan sangat membantu, dia dengan senang hati menerima pencairan dana dari Emma tanpa masalah.
"Bu, ini uang untuk ongkos pulang. Ibu jangan terlalu lama tinggal di Jakarta, ya. Pulanglah. Saya akan mengantarkan ibu ke stasiun sekarang," pinta Emma dengan sopan. Bu Tinem terlihat menitikkan air mata karena merasa beruntung dapat bertemu dengan Emma yang sangat baik dan siap membantunya. "Semoga Allah membalas kebaikanmu, Ning," ucap Bu Tinem dengan penuh haru. "Amin... Terima kasih atas doanya, Bu," balas Emma dengan pelukan hangat. Mereka segera beranjak menuju ke stasiun untuk mengantar Bu Tinem naik kereta sesuai jadwal terdekat.
......................
__ADS_1
"Nyonya, mengapa Anda sangat baik hati?" tanya Pak Hendro, tidak bisa memahami kebiasaan majikannya "Pak, saya merasa keadaan Rini mirip dengan keadaan saya dulu. Bedanya, saya memiliki Lukas, sedangkan Rini seorang diri. Ibunya seorang janda. Sungguh menyedihkan," sahut Emma penuh makna.
'Aku juga ingin tahu apa yang terjadi dengan kontrak kerja tipu-tipu itu. Kurang ajar! Mereka berani menganggap remeh wanita!' geram Emma dalam hati. Emma akan melakukan perhitungan dengan pelaku yang telah menghilangkan anak orang lain. Sebagai Nyonya K-Group, Emma akan menggunakan posisinya dengan bijak untuk membantu sesama. Dia tidak akan membiarkan ada korban lain yang mengalami nasib yang sama seperti yang dia alami.
"Pak, Bapak pernah pergi ke Pulau Perawan?" tanya Emma tiba-tiba.
Pak Hendro terkejut dengan pertanyaan tersebut. "Pulau Perawan? Tidak, Nyah. Saya belum pernah ke sana. Kenapa, Nyah?"
Emma menarik napas dalam-dalam sejenak sebelum menjawab, "Tidak apa-apa, Pak," sahurnya kemudian. Emma yakin, ada sesuatu yang tersembunyi di sana. Ia akan berkonsultasi dengan Lukas dan menceritakan kisah Rini padanya. Semoga saja, suaminya itu bisa membantu.
"Nyah, Nyonya lupa ya?" tanya Pak Hendro tiba-tiba.
"Iya, lupa apa, Pak?" Emma bertanya balik, tidak mengerti maksudnya.
"Kan tadi nyonya mau ke klinik. Sekarang, kliniknya sudah tutup,"
"ASTAGA!!? BENAR JUGA!"
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1