
Lukas berhasil keluar dari ruangan yang mengurungnya, saat ini, ia sedang berdiri di tengah lorong yang sempit.
"Ck! Tamu tak diundang!" gerutunya, ketika sebaris tentara kekar, yang dikenal sebagai anak buah Madam Linn, sedang menghadang di depannya.
"Tunggu apa lagi, Kalian? Hajar!" seru seorang pria berjaket hitam yang memimpin pasukan.
"Hiyaat!" Detik kemudian, tinju-tinju para pengawal melayang di udara, mencoba menghujam Lukas dengan kecepatan tinggi tak terkira.
Lukas seketika menghindar dan melontarkan pukulan balasan. Gerakan kaki dan tangannya terukur untuk musuh-musuh yang ingin bertempur.
"Grrraah!" pekiknya kasar, sembari melemparkan seorang pria bertubuh sedang ke arah barisan tentara di depan.
Tinjunya berhasil membuat pria itu pingsan, dan kini, ia tak ubahnya karung yang dilemparkan sembarangan.
"Hajar!"
Lorong sempit itu memberi ruang untuk Lukas agar tidak mati konyol dikeroyok pasukan yang selalu bertambah jumlahnya setiap saat. Beruntung, tidak ada dari mereka yang menggunakan senjata.
PRAK!
Sebuah balok kayu berhasil dipukulkan ke arah Lukas, namun, segera ditangkis oleh tangannya. Rasa nyeri segera menjalari tubuh Lukas, namun pria itu tidak tampak menyerah.
"Hiyah!" Lukas berhasil mengambil balok yang tadi menyakitinya, dan memukul balik musuh yang telah menyerangnya. Tak lama kemudian, pria itu tersungkur dengan bersimbah darah.
"Mau lagi?" tanya Lukas dengan tatapan nyalang ke pria lain yang masih memasang kuda-kuda di depannya.
__ADS_1
Satu per satu musuhnya kini telah tumbang, dan Lukas, sama sekali tidak terlihat kelelahan.
"Hajar! Hiyah!"
Lorong sempit itu menjadi saksi bisu pertempuran sengit antara Lukas dengan anak buah Madam Linn. Mereka berusaha untuk menghancurkan Lukas yang masih bertahan tanpa batas.
Lukas terus bergerak dengan kecepatan dan keahliannya yang memukau. Setiap pukulan dan tendangan yang ia lemparkan, berhasil mengenai sasaran dengan presisi yang mengagumkan.
Lukas berusaha untuk tidak terjebak dalam pusaran tinju dan tendangan lawan-lawannya, tetapi pertempuran sengit semakin menyergapnya.
"Tidak ada tempat untukmu, Cecunguk!" seru pemimpin berjaket hitam, sambil mengayunkan pukulannya.
"Tidak secepat itu, Bajingan!" Lukas berhasil menghindari pukulan itu hanya dengan langkah mundur.
BUGH!
"Urgh!"
Pemimpin itu terjatuh dengan rasa sakit yang luar biasa, dan semua pasukannya tampak terkejut. Mereka mungkin tidak mengira Lukas akan sekuat ini.
"B--bos!" teriak salah seorang pasukan Madam yang berada di barisan paling depan.
Namun, bos itu tidak tampak menyahutinya dengan segera.
Tentara Madam Linn tidak menyerah begitu saja. Mereka terus menyerang Lukas dengan penuh kemarahan. Lukas mencoba untuk bertahan sebaik mungkin, tetapi setiap serangan yang ia hindari meninggalkan bekas luka di tubuhnya.
__ADS_1
"Sial. Aku tidak bisa begini terus," gumam Lukas dengan keadaan yang semakin terpojok. Tidak, dipungkiri, staminanya cukup terkuras dengan aksi tanpa henti ini.
Sembari menghindari pukulan dan tendangan dari anak buah Madam, Lukas melihat peluang ketika seorang pengawal mendekatinya dengan serangan berbahaya.
Dengan cepat, dia mengambil pisau lipat yang ada di tubuh bos mereka. "Hiyat!" teriaknya, sambil menyayat lengan pria yang ada di hadapannya.
"Arrgh!" erang pria itu sambil memegangi lukanya. Sepertinya, ia sangat terkejut dan tidak mengira akan mendapatkan serangan pisau dari lawannya.
"Romi!" pekik salah seorang rekannya dengan khawatir, segera saja, Lukas meluncurkan tendangan ke arahnya, dan mencoba keluar dari lorong berbahaya itu dengan kecepatan cahaya.
"Kejar dia!"
Tentara Madam Linn, meskipun terkejut dengan serangan balik Lukas, segera berusaha untuk mengejar. Mereka tidak akan membiarkan Lukas melarikan diri begitu saja.
Lukas berlari secepat mungkin melalui lorong sempit itu. Ia bisa merasakan hembusan napas musuh di belakangnya, ketegangan semakin menjadi-jadi. Pertarungan yang sengit telah menguras energinya, tetapi ia tidak bisa menyerah sekarang.
"Cecunguk sialan!" gerutunya sambil terus berlari, memacu langkahnya tanpa henti menuju ke arah luar gedung terkutuk ini.
Saat Lukas mencapai persimpangan, dia merasa bingung. Tidak dipungkiri, ia harus memilih jalan yang benar untuk melarikan diri tanpa terjebak dalam kejaran musuh. Tapi di tengah kegelapan lorong yang sempit ini, semuanya terasa seperti labirin.
Lukas cukup bimbang dalam menentukan pilihan. Jika ia tidak memilih jalan yang benar, bisa-bisa, Lukas hanya akan terjebak di gedung ini tanpa jalan keluar.
Tiba-tiba, seorang wanita muncul dari salah satu lorong di sampingnya.
"Lukas!" teriaknya.
__ADS_1
"K--kau?" Lukas menatap wanita itu dengan ekspresi keterkejutan, namun tentu saja, segurat kecurigaan mulai merajai hatinya.
Sedang apa dia di sini?