
Lukas meminta nenek dan Emma untuk kembali ke mansion, mengingat, ia sudah mulai menemukan jejak keberadaan Yuki.
"Sayang, kamu yakin kita pulang saja?" tanya Emma tampak menyangsikan keputusan suaminya itu.
"Iya, Sayang. Aku akan mencarinya sendiri," ucap Lukas dengan tenang. Melihat ketenangan dalam sikap Lukas, Emma merasa yakin bahwa pria ini memiliki rencana tersendiri. Emma menghela napas lega, ia jadi bisa tenang memikirkan persiapan ujian yang sudah berada di depan mata.
"Lukas, benarkah itu?" tanya Nyonya Han mengkonfirmasi, untuk terakhir kalinya.
"Iya, Nenek. Percayalah," ucap Lukas tegas, tanpa keraguan.
"Alhamdulillah, nyak. Kalau begitu," sahut Pak Ujang dan Euis hampir bersamaan. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, ada baiknya mereka semua beristirahat agar kesehatan tetap terjaga.
"Mari, kita ke hotel saja," ajak Nyonya Han seakan mengetahui isi hati tuan rumah yang ingin segera beristirahat. Emma dan Lukas mengangguk setuju. Memang lebih baik pulang ke hotel saja, daripada harus kembali ke Mansion mereka di ibu kota. Perjalanannya akan sangat melelahkan, lebih baik, mereka kembali ke mansion pada keesokan harinya.
"Kami pergi dulu, Pak, Bu. Terima kasih atas bantuannya," pamit Nyonya Han mewakili keluarga. Mereka pun menuju ke mobil masing-masing dan bergerak menuju ke hotel di pusat kota.
................
[Penjara Bawah Tanah]
"Katakan, kau bisa membuat penawar racun Macadonia?" tanya Lukas tanpa basa-basi pada tawanannya yang sedang mengantuk di depannya.
"Apa? Aku tak pernah mendengarnya," jawab Yuki acuh tak acuh, cenderung berbohong. Ia tidak mau kerepotan dengan tugas aneh yang telah ditinggalkannya, ketika berada di Pulau Perawan.
BRAK!
"Jangan macam-macam denganku! Aku tahu kau adalah Yuki Perot!"
Deg!
Dada Yuki seakan tertusuk mendengar nama neneknya disebut-sebut. Jika dokter terikat Sumpah Hippocrates, maka, keturunan Perot terikat Sumpah Mak Perot.
Untuk sejenak, Yuki bisa mendengarkan dengungan Sumpah Mak Perot yang selalu ia rapalkan ketika Yuki mulai melupakan tujuan hidupnya.
__ADS_1
"Saya bersumpah demi Tuhan Yang Maha Esa, demi leluhur yang menjaga keturunan kita, Klan Perot dan seterusnya, serta berjanji dengan segala alam sebagai saksi, mengambil tabib sebagai mitra hidup dan seorang yang senantiasa siap membantu. Keahlian dan pengetahuan saya akan saya gunakan untuk manfaat orang-orang yang membutuhkan, saya akan berusaha melindungi mereka dari bahaya dan tidak menyebabkan kerusakan apapun".
"Dalam perjalanan hidup dan praktek pertabiban saya, saya akan menjunjung tinggi harkat dan martabat profesi ini. Saya akan memperbarui pengetahuan saya, membagikannya kepada sesama, dan bekerja sama dengan rekan-rekan saya demi kemajuan ilmu pertabiban dan kesejahteraan umat manusia".
"Sesungguhnya, jika saya setia menjalankan sumpah ini dengan tulus hati, memperoleh kebahagiaan dalam hidup dan praktik pertabiban saya, dan jika saya melanggarnya dan bersumpah secara palsu, sebaliknya, maka segera berlakulah padaku kemalangan yang melibatkan hidup dan praktik saya. Akan tetapi, jika saya tetap setia pada sumpah ini dan selalu mengikuti jalan yang benar, maka semoga saya mendapatkan penghormatan di kalangan manusia".
"Aaaaaakhhh! Hentikaaan!!!" Yuki menepuk-nepuk telinganya yang berdengung tanpa diminta. "Ampun, Mak!!!" teriaknya seakan mengusir halusinasi yang sedang melanda.
"Yuki!" panggil Lukas sambil mengguncangkan tubuh gadis itu yang terlihat hilang kendali.
"Iya... Iya... Siaap! Akan kubuatkan!" seru Yuki mengalah. Ia tidak ingin kualat dan dihantui oleh arwah leluhur Perot di sepanjang hidupnya.
"Tapi, ada syaratnya," cetus Yuki tidak ingin memberikan bakatnya secara gratis.
"Katakan," sahut Lukas tampak tidak keberatan.
"Temukan Anthony. Dia adalah orang yang aku cari-cari sejak pergi ke ibu kota ini. Orangnya licin seperti belut. Aku bahkan kehilangan jejaknya ketika menguntit beberapa waktu lalu, dan malah nyasar ke Pulau Perawan, eh... Ketagihan judi lagi, akhirnya," pinta Yuki serius. Ia benar-benar ingin membuat perhitungan dengan mantan kekasih yang sudah menguras harta-bendanya.
"Baiklah. Ayo, ikut aku ke Mansion. Kita akan bicarakan kontrak kerja lebih lanjut di sana," ajak Lukas, yang kali ini tidak lagi memperlakukan Yuki sebagai tawanan.
"Tentu, akan kuberikan, ketika pekerjaanmu sudah selesai. Itupun setelah dipotong denda," ucap Lukas tanpa ragu.
"Baiklah," sahut Yuki mengalah, yang penting, uangnya kembali. Yuki bisa memulai hidup baru dengan uang hasil judi tersebut. "Oya, bayar 100 juta di muka, untuk impor bahan baku dan pembelian mesin. Aku membutuhkannya," ucap Yuki kemudian. Ia lantas melambaikan tangan untuk pamit mandi. Tak lama kemudian, mereka siap untuk kembali ke Mansion Lukas dan memulai proyek pembuatan ramuan penawar khusus untuk Lukas. Dengan demikian, Yuki dan Lukas akhirnya mencapai kesepakatan yang mereka inginkan.
......................
...[Mansion Lukas]...
Setelah Yuki dan Lukas kembali ke Mansion, mereka memulai proses pembuatan ramuan penawar racun Macadonia. Lukas menyediakan ruang laboratorium lengkap dengan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan, di paviliun barat, yang pernah ditempati oleh Sarah.
"Selamat datang," sapa Nyonya Han dan Emma dengan hangat pada tamu baru yang telah mereka tunggu-tunggu.
"Halo!" sapa Yuki dengan senyum ramah. "Izinkan saya mulai bekerja, Nyonya-Nyonya," pamit Yuki tanpa ingin membuang waktu dengan basa-basi yang tidak perlu. Yuki memiliki reputasi yang baik dalam praktek pengobatan herbal, warisan dari keluarganya. Baginya, setiap detik sangat berharga dalam memastikan kesegaran dan ketelitian dalam ekstraksi bahan, karena itu berdampak langsung pada kualitas ramuan yang dihasilkan.
__ADS_1
Yuki mulai bekerja dengan cermat, mengimpor bahan baku yang berkualitas dan memeriksa kualitasnya sebelum digunakan. Ia menggunakan pengetahuannya sebagai ahli herba dan ketrampilan yang selama ini dilatihnya sebagai penerus klinik herbal Mak Perot. Keluarga Perot memang terkenal dalam meracik ramuan herbal dengan keahliannya yang luar biasa.
Proses pembuatan ramuan penawar tidaklah mudah dan memakan waktu. Yuki melakukan berbagai tahap seperti ekstraksi, filtrasi, distilasi, dan pengujian kualitas untuk memastikan ramuan yang dihasilkan aman dan efektif.
Lukas membantu Yuki dengan pengawasan dan memastikan semua prosedur dilakukan dengan benar. Ia juga membantu mengatur pengadaan bahan-bahan tambahan yang dibutuhkan.
"Wah, luar biasa," gumam Yuki ketika melihat reaksi teh herbal buatan Sarah yang selama ini dikonsumsi oleh Lukas. "Orang gila mana yang membuat racun seperti ini?" lanjut Yuki sambil terus memerhatikan proses penyubliman yang sedang ia amati.
......................
Setelah beberapa hari bekerja keras, akhirnya Yuki mencapai progres yang signifikan, meski belum bisa dikatakan bahwa penawarnya akan memberikan hasil yang sempurna.
"Mari kita uji coba dulu," tutur Yuki pada Lukas, ketika ia tengah memantau perkembangan uji coba penawar yang sedang dibuat oleh herbalis eksklusif-nya.
"Baiklah," sahut Lukas tidak merasa keberatan. Ia duduk dengan tenang di kursi pasien yang ada pada laboratorium temporer milik Yuki.
"Aaak.... " Yuki mulai meneteskan beberapa cairan pada mulut Lukas, untuk menguji reaksi ramuan dengan saliva yang dapat menetralkan racun dalam tubuhnya.
"Aaaak.... " Lukas membuka mulutnya sesuai instruksi Yuki, dan mulai menunggu reaksi dari ramuan tersebut.
Setelah hampir sepuluh menit menunggu, Yuki tampak puas, karena tubuh Lukas tidak menunjukkan gejala penolakan. "Bagus, mungkin ini akan berhasil," ucap Yuki dengan percaya diri.
"Bagus!" pekik Lukas ikut senang.
Namun, tiba-tiba terjadi hal yang mengejutkan. "Aa.... Aakh...." Lukas tiba-tiba ambruk secara mendadak, setelah hampir berhasil berdiri dari kursi pasien tempatnya duduk sebelumnya.
"Lukas!!" teriak Yuki dengan cemas. Hatinya berdegup kencang karena tidak dapat memahami apa yang baru saja terjadi. Bagaimana mungkin terjadi reaksi penolakan yang begitu hebat hingga Lukas ambruk tanpa sadar?
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1