
Nenek Han, Sang Nyonya besar, terbaring lemah di atas ranjang ruang perawatan intensif, ditemani oleh Emma yang sudah boleh duduk di sisinya setelah menunggu selama beberapa jam. Ruangan dingin dengan bau desinfektan itu menjadi semakin hening, tatkala nenek sudah tidak dapat membuka matanya yang semakin melemah.
"Ne... Nek....," panggil Emma lirih, sambil memegangi tangannya yang sudah memiliki banyak kerutan. Namun, yang mendapatkan panggilan tidak mampu menjawab, bahkan, masih belum dalam keadaan sadar. Air mata Emma berlinang, tumpah dari genangan pelupuknya yang sudah tak sanggup menahan. Hatinya merasa sakit dan hancur melihat keadaan neneknya yang sudah di ambang kematian.
Rumah sakit pribadi milik K-Group menjadi saksi perjuangan Nyonya Han melawan sakit berat yang saat ini hampir merenggut nyawanya. Emma merasa hatinya hancur, saat dia memandangi wajah pucat dan lemah milik sang nenek. Seluruh tubuhnya tampak rapuh dan layaknya tulang berbalut kulit saja. Terakhir kali Emma bertemu dengan Sang Nenek, padahal, ia masih tampak bugar. Entah mengapa, kondisinya menjadi turun drastis sampai harus dalam keadaan kritis seperti ini. Serangan penyakit yang mematikan, kanker payudara stadium akhir, benar-benar membuat Nyonya Han tak berdaya.
"Huhu... Huhu...," suara tangis Emma terdengar memilukan, memenuhi kesunyian ruangan yang terasa menyesakkan dada.
Lukas bahkan belum bersama mereka, karena masih harus melaksanakan tugasnya. Penemuan dua mayat karyawannya (petugas penjara) dan dua orang mayat tak dikenal yang berada di bantaran kali Ciliwung, menguras perhatiannya. Lukas juga saat ini sedang turut mengurus pengungsi banjir bandang yang berada di sekitar wilayah K-Group. Suami Emma itu memang tidak terbiasa berpangku tangan jika terjadi bencana alam. Entah, kali ini, apa yang akan dilakukan. Menurut Roy, Lukas akan membangun saluran khusus sehingga air bah yang tergenang, dapat segera surut seketika.
Detak jam dinding bergema dengan irama yang hampa. Emma merasakan keheningan itu menambah tekanan pada dadanya yang sudah penuh dengan kekhawatiran.
Tiba-tiba saja, pintu ruangan terbuka secara perlahan. Seorang dokter tampak berdiri di ambang pintu, kemudian masuk ke dalam dan menepuk lembut bahu Emma yang sedikit kuyu.
"Nyonya, bersabarlah....," tutur sang dokter lembut, sambil menarik kursi untuk duduk di dekatnya.
"Halo," sapa Emma mencoba sopan. Sang dokter menyipitkan mata, menandakan bahwa ia sedang tersenyum, karena, gerakan bibirnya terhalang masker medis, Emma tidak dapat melihatnya.
"Apakah Anda dokter yang merawat nenek?" tanya Emma kemudian. Sang dokter mengangguk.
"Ya, perkenalkan saya Dokter Lina," ucap sang dokter lembut. "Maaf, tapi, saya harus menyampaikan hal ini, meski dengan berat hati," ucap Dokter Lina pelan.
__ADS_1
Emma merasakan sesuatu yang menusuk jantungnya ketika Dokter Lina mengatakan hal itu. Perasaannya tidak enak, ada apakah gerangan?
"Silakan, Dokter," sahut Emma dengan lirih. Kepalanya tertunduk, ia tidak dapat menahan ekspresi kesedihannya.
"Berdasarkan pantauan kami, sepertinya perkembangan kondisi Nenek Han tidak signifikan. Mohon maaf, saya harus memberitahu Anda bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Meskipun kami telah melakukan segala yang kami bisa, tubuhnya tidak lagi mampu bertahan," ujar Dokter Lina dengan suara pelan namun tegas.
Emma tersentak. Air matanya tak lagi dapat dibendung. "Maksudnya, Nenek akan segera meninggal, Dokter?" tanya Emma mencoba mengkonfirmasi.
"Ya, Benar, Nyonya. Mohon maaf," sahut Dokter Lina lirih. Ia kemudian menggenggam erat tangan Emma, mencoba menenangkannya. "Dokter.... Saya harus bagaimana?" tanya Emma dengan suara yang bergetar.
"Saat ini, yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah memberikan kenyamanan dan perhatian kepada Nenek Han," ujar Dokter Lina. "Tim perawatan akan terus memantau kondisinya dan memastikan bahwa Nenek tidak merasakan rasa sakit atau kesulitan yang berlebihan," sahut dokter dengan penuh keyakinan.
Emma mengangguk pelan, berusaha menenangkan diri dan memusatkan perhatiannya pada kata-kata Dokter Lina.
"Terima kasih atas kerjasama dan perhatianmu, Emma," ucap Dokter Lina. "Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menjaga kenyamanan Nenek Han dan memastikan bahwa dia tidak merasa sendirian. Jika ada kebutuhan khusus atau permintaan terakhir dari Nenek Han, tolong beri tahu kami."
Emma mengangguk, menyadari bahwa dia memiliki peran penting dalam memberikan kehadiran dan dukungan kepada Nenek Han.
"Kalau begitu, saya pamit ya," ucap Dokter Lina meninggalkan Emma. Ia ingin memberikan ruang baginya untuk bersama Nenek Han dalam momen-momen yang terbatas ini. Emma mencoba menenangkan diri, dan dengan penuh kelembutan, dia mendekati Nenek Han, memegang tangannya dengan penuh kasih.
"Nenek, aku ada di sini untukmu," bisik Emma dengan suara lembut. "Aku dan Lukas akan memberikanmu kenyamanan dan cinta yang tak terbatas. Jangan khawatir, Nek. Kami akan menjagamu dengan baik," bisik Emma dengan suara hangat.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Lukas tampak masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah perlahan. Air matanya turut berlinang, seperti Emma. Tatkala melihat kondisi neneknya yang tak berdaya.
"Nenek.....," panggilnya lirih, sambil memandang ke arah Nenek Han dengan ekspresi penuh kesedihan dan kelelahan. Ia menghampiri ranjang, meletakkan tangan lembutnya di atas tangan Nenek Han yang terbaring rapuh.
"Nenekku," bisik Lukas dengan suara lembut. "Aku di sini, bersamamu. Maaf, aku terlambat."
Tangis Emma semakin keras, melihat betapa besar rasa cinta Lukas terhadap Neneknya. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang tersisa dalam Klan Kim, setelah Nyonya Han menikah dengan kakek Lukas, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Kebersamaan mereka yang sempat terpisah, akhirnya bersatu kembali, dengan hubungan yang sangat kuat. Mereka telah melewati suka dan duka bersama. Namun, kali ini, Lukas dan Sang Nenek dihadapkan pada perpisahan yang tak terhindarkan.
Waktu berjalan lambat di dalam ruangan itu, dan suasana penuh kehangatan dan cinta terasa hadir di antara kedua generasi yang saling menguatkan satu sama lain. Meski dalam situasi yang penuh duka, mereka mencoba untuk tetap berpegang pada kekuatan cinta dan kehadiran mereka untuk Nenek Han.
Malam itu, Emma dan Lukas duduk di samping ranjang Nenek Han yang semakin lemah. Mereka bercerita tentang kenangan indah bersama Nenek, mengenang saat-saat bahagia yang pernah mereka alami bersama-sama. Mereka berbagi tawa dan tangis, saling menguatkan satu sama lain dalam menghadapi saat-saat yang sulit.
Sampai pada akhirnya, Nenek bisa membuka matanya dengan perlahan. Meskipun tidak dapat berbicara, namun, ia masih bisa merasakan kehadiran Lukas dan Emma yang sedari tadi memecah keheningan dalam ruangannya.
"Nenek....," panggil mereka dengan antusias. Nenek Han mengerjapkan mata, merespon panggilan mereka dengan gerakan sederhana. Lukas dan Emma saling menggenggam, membagikan kegembiraan mereka karena nenek sudah dapat membuka matanya.
......................
"Wah, menarik. Sepertinya, rencanaku akan segera berhasil," gumam Lucy sambil berlalu dari ruangan intensif tersebut. Lucy tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan Emma dan Sang Dokter yang menunjukkan soal batas waktu hidup Nyonya Han. Lucy yang kebetulan ingin menjenguk sambil mengorek informasi soal kekasih dambaannya, Lukas, tanpa sengaja mendapatkan suatu bahan yang lebih besar dalam aksi lanjutannya. Ia tak sabar untuk segera beraksi dan menaklukkan sang pujaan hati, meski dengan ancaman.
...****************...
__ADS_1
...Bersambung...