
Kapten Vera dan Askara melihat keluar dari jendela helikopter saat mereka mulai mengudara. Langit malam yang mulai terlihat cerah, seakan memberi sebuah harapan baru dalam misi pencarian mereka.
"Kita mulai mengudara sekarang," ucap Kapten Vera dengan tegas, memberi isyarat kepada Askara untuk bersiap dengan alat komunikasi dan navigasi mereka.
Askara segera mengatur frekuensi radio dan melihat layar navigasi dengan cermat. Dia memastikan semua sistem terhubung dan siap digunakan.
"Semua sistem terhubung, Kapten," kata Askara dengan penuh perhatian.
Kapten Vera mengangguk dan menyesuaikan kemudi helikopter. Dia memastikan pesawat terbang pada lintasan yang tepat untuk memulai pencarian.
"Kita akan terbang rendah dan melintasi area yang terkena dampak banjir. Periksa dengan cermat setiap tanda-tanda keberadaan Bos Lukas," ucap Kapten Vera, menekankan pentingnya pengawasan yang teliti.
Askara mengangguk, matanya fokus pada layar navigasi. Dia memperhatikan setiap perubahan pada peta dan mengawasi kondisi sekitar dengan seksama.
"Roger, Kapten. Saya akan memeriksa setiap tanda-tanda yang mencolok," jawab Askara, dengan suara yang penuh keyakinan.
Suara deru helikopter menggema di udara, memecah keheningan malam yang masih mencekam akibat badai yang tadi datang. Banyak bangunan terendam banjir, dan suara sirine meraung dimana-mana, menandakan situasi darurat masih terbentang di antara mereka.
Kapten Vera dan Askara terus mengudara dengan hati-hati, berusaha memetakan wilayah banjir dan mencari jejak keberadaan Bos Lukas. Mereka berkomunikasi dengan markas melalui radio, berbagi informasi dan memberikan laporan tentang kemajuan pencarian mereka.
Angin berhembus kencang, meski tidak dalam situasi yang membahayakan. Kedua pilot helikopter tersebut sadar bahwa tugas mereka tidaklah mudah. Namun, mereka harus menemukan Bos Lukas dengan cepat dan membawanya untuk kembali pulang dengan selamat.
"Kita akan menyusuri arus dari menara K-Group, Kapten," ucap Askara sambil mencoba menelaah data yang telah diperoleh. Meskipun sistem pelacak telah berfungsi, namun, lokasi pastinya belum diketahui. Oleh karena itu, mereka masih harus melakukan pencarian secara manual untuk segera menemukan dan menolong Bos Lukas yang mungkin terjebak di tepi sungai.
"Sudah kau setel bukan, lokasinya?" tanya Kapten Vera pada Askara.
"Ya, Sudah, Kapten!" jawabnya tegas.
Mereka kemudian memfokuskan pandangan pada layar radar yang menjangkau sinyal dari alat pelacak milik Bos mereka. Kapten Vera terus memantau instrumen navigasi sementara Askara memeriksa peta banjir yang mereka miliki.
"Tolong beri tahu saya jika kau melihat tanda-tanda keberadaan Bos Lukas," ucap Kapten Vera kepada Askara.
Askara mengangguk dan melihat dengan cermat ke bawah. Dia memperhatikan setiap bangunan, perahu karet, atau tanda-tanda aktivitas manusia yang mungkin menunjukkan keberadaan Bos Lukas.
Terkadang, mereka harus memutar karena embusan angin yang cukup kencang. Angin yang tidak bersahabat memang menjadi tantangan bagi mereka. Namun, Kapten dan Kopilot yang bertugas tetap teguh dan tidak kehilangan harapan dalam misi penyelamatan ini. Beruntung, radar masih merekam lokasi Sang Bos yang tidak menunjukkan pergeseran apapun. Mereka yakin, Bos Lukas telah mengetahui bahwa tim penyelamat sedang berada dalam perjalanan.
__ADS_1
Komunikasi antara Kapten Vera dan Askara berjalan lancar. Mereka saling berbagi informasi dan menggabungkan pengalaman serta insting mereka untuk mengarahkan pencarian dengan efektif.
Setelah beberapa waktu, saat mereka terbang di atas sebuah area yang terisolasi oleh air, Kapten Vera melihat tanda-tanda kehidupan. "Coba kau periksa, apakah itu Bos Lukas?" Ucap Kapten Vera pada Askara.
Askara menyamakan koordinat yang tertera pada layar navigasi. Dan, rupanya, itu benar, pria itu adalah Bos Lukas.
Dengan penuh kehati-hatian, Kapten Vera mendekati lokasi yang ditunjukkan. Askara memastikan agar helikopter tetap stabil di udara, mempertahankan ketinggian yang tepat dan mengatur kemudi dengan hati-hati. Mereka menerapkan teknik penyelamatan yang telah mereka latih, menggunakan kabel penyelamat untuk mengamankan Bos Lukas saat diangkat masuk ke dalam helikopter.
"Boss!" panggil Askara melalui komunikator yang terhubung dengan kabel penyelamat.
"Di sini!" sahut Bos Lukas dengan bersemangat, melambaikan kedua tangannya untuk memberi tanda lokasinya.
Askara dengan sigap turun dari helikopter dan mendekati Bos Lukas. Dengan penuh kehati-hatian, ia memapah Bos Lukas yang mungkin lelah dan basah kuyup akibat usahanya menyelamatkan diri melintasi genangan di gorong-gorong.
Dengan perlahan, Askara membantu Bos Lukas naik ke dalam helikopter, memastikan dia nyaman dan aman di kursi penumpang. Kapten Vera dengan cermat mengecek sistem navigasi dan melaporkan keberhasilan penjemputan kepada tim medis yang telah bersiaga di markas untuk terus memantau perkembangan.
"Sekarang, kita akan membawanya ke tempat yang aman. Senang melihat anda baik-baik saja, Bos," tutur Kapten Vera penuh perhatian.
"Ya. Terima kasih, kapten dan Askara," sahut Lukas dengan senyuman. Askara telah menyelimuti tubuh Lukas dengan handuk tebal untuk mengeringkan dirinya. Ketika mereka tiba di pos medis, Lukas akan segera mendapatkan pertolongan pertama yang diperlukan.
Tak selang beberapa lama, helikopter mereka telah sampai di hanggar. Lukas dan Askara turun terlebih dahulu, untuk segera menuju ke pos media. Kapten Vera tampak memarkir dengan aman helikopter, sebelum memberikan laporan tuntasnys tugas hari ini kepada atasannya.
Mereka telah kembali ke pangkalan dengan selamat, dan akhirnya dapat membawa Bos Lukas kembali dalam keadaan baik.
"Emma dimana?" tanya Lukas pada Askara. Belum sempat ia menjawab, istrinya itu sudah menyambut suaminya dengan pelukan hangat.
"Sayaaaaaang!!" teriaknya dari balik koridor gedung. Emma lantas berlari menuju ke arah Lukas yang masih tampak mengigil menahan dingin.
"Aku baik-baik saja, Sayang," ucap Lukas agar Emma tkdak khawatir.
"Aku panik banget! Kamu jahat!" protes Emma sambil memeluk erat suaminya. Padahal, Lukas bilang akan segera pulang, tapi, dia malah menghilang di tengah badai. Emma benar-benar khawatir dan tidak dapat melepaskan kecemasan yang melanda dirinya.
"Maaf," kata Lukas sambil membalas pelukan dari Emma dengan kecupan lembut. Mereka berjalan beriringan menuju petugas medis yang telah bersiaga di pos tersebut.
Petugas medis dengan sigap mengelilingi Lukas, memeriksa kondisinya dan memberikan perawatan yang diperlukan. Lukas merasa bersyukur telah selamat dari banjir yang mengerikan itu, dan ia merasa terima kasih kepada Kapten Vera dan Askara yang telah menyelamatkannya tepat waktu.
__ADS_1
"Saya perlu memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Anda, Pak Lukas," kata petugas medis dengan ramah kepada Lukas.
Lukas menganggukkan kepala dan menyerahkan lengan kirinya untuk diperiksa. "Tentu, silakan," jawabnya dengan lembut.
Petugas medis mengamati dengan cermat alat pengukur dan mencatat hasilnya. "Denyut nadinya stabil, tekanan darah dalam batas normal. Bagaimana kondisi Anda secara keseluruhan, Pak Lukas? Ada rasa sakit atau tidak nyaman?" tanya petugas itu kemudian.
Lukas menghela nafas lega. "Saya merasa lelah dan sedikit kedinginan, tetapi selain itu, saya baik-baik saja. Terima kasih atas bantuan Anda."
Petugas medis tersenyum. "Kami akan memberikan Anda selimut hangat dan minuman panas untuk membantu menghangatkan tubuh Anda. Setelah itu, kami akan memberikan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan bahwa tidak ada cedera internal yang perlu diwaspadai."
Lukas menganggukkan kepala. "Terima kasih atas kerja keras Anda."
"Sama-sama, Pak Lukas," jawab Sang Petugas, kemudian berpamitan.
Emma merasa lega, bahwa suaminya dalam keadaan yang baik-baik saja. Lukas tersenyum lembut ke arahnya, dan memeluk istrinya yang terlihat cemas itu. "Roy, beritahu Askara agar memetakan kerusakan kota. Aku tidak akan berpangku tangan dengan kejadian seperti ini," ucap Lukas ketika melihat Roy yang baru saja memasuki pos medis di dalam gedung tersebut.
"Baik, Bos!" jawab Roy patuh, kemudian menghubungi Askara. K-Group akan turut membantu bencana alam yang luar biasa ini, agar para korban dapat segera ditangani dengan baik.
"Sayang, pulang yuk," ajak Emma dengan lembut. Lukas mengangguk. Pemeriksaan pertama telah dilakukan, saat ini, mereka dapat segera melanjutkan perjalanan ke kediaman dengan tenang.
......................
Sementara itu, di belahan dunia lain, tepatnya di Kanada, Madam Liz tampak menyeringai, setelah memastikan kematian dua orang yang terlihat pernah bersinggungan dengannya di Pulau Perawan.
"Bagus, kau sudah menghabisi keduanya!" pujinya pada pemilik suara yang ada pada sambungan telepon itu dengan kepuasan.
"Ya, Madam. Sesuai perintah Anda," jawab pembunuh bayaran itu dengan tegas.
"Sebentar lagi, aku akan pergi sendiri ke sana. Lucy benar-benar sangat bodoh!" rutuknya kesal. Madam Liz kemudian mematikan sambungan telepon dan melanjutkan kembali aktivitas bercinta-nya dengan pria muda yang saat ini sudah terlentang polos tanpa sehelai pun benang di tubuhnya.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1