
Hari pertama perkuliahan Emma telah dimulai. Setelah mengalami insiden yang mendebarkan tadi pagi, Emma memutuskan untuk tak kehilangan fokus.
"Nenek, aku berangkat ya," pamitnya pada nyonya besar sambil mencium tangannya.
"Hati-hati ya, Cu. Nenek pulang ya. Kapan-kapan kita bertemu lagi," sahut nyonya besar dan meminta ajudannya untuk mengangkut barang-barangnya. Ia akan kembali ke resort-nya yang terletak di Puncak, Bogor. Udara bersih dan keindahan alam Puncak dapat membantu kesembuhan nyonya besar dari penyakit kanker yang dideritanya.
"Nanti aku yang ke tempat nenek. Nenek jangan repot,"
"Baiklah,"
Nyonya besar tersenyum melepas keberangkatan Emma. Ia bersyukur dapat memiliki cucu mantu yang sopan, cantik dan perhatian sepertinya.
......................
"Ke kampus, Non?"
"Iya, Pak,"
"Adi Luhung, kan?"
"Benar, Pak. Seberang gedung K-Group kan ya?"
"Bener, Non. Tapi terhalang tol dalam kota loh, jadi, secara teknis, nggak seberang-seberang banget," jelas Pak Hendro sambil terkekeh. Emma tersenyum kemudian ikut tertawa atas leluconnya.
"Kita berangkat?"
"Ya... Ayok!"
Mereka pun bertolak ke kampus. Perjalanan tak lama, hanya sekitar 30 menit, karena Pak Hendro lewat toldalkot seperti yang ia ceritakan tadi.
......................
Sesampainya di kampus, Emma melanjutkan langkahnya dengan hati berdebar.
"Wah, rupanya ini ya kampus di Jakarta, hebatnya," ujarnya kagum sambil melihat-lihat keramaian yang ada. Emma menghirup aroma yang bermacam-macam di pelataran universitas, mulai wangi bunga hingga musk yang bercampur di udara. Para mahasiswa yang belajar di kampus Adi Luhung tampak keren dan berkharisma, beda sekali dengan para remaja desa yang biasa dilihatnya. Ngomong-ngomong soal desa, Emma jadi teringat keluarganya.
"Astaga! Kenapa aku lupa mau nelpon ibuk dan Galih!" teriaknya heboh sendiri. Ia lalu masuk ke akun sosial media, dan menyambungkan panggilan pada akun adiknya.
...----------------...
"Halo?? Mbakk??? Assalamu'alaikum, kemana aja, Mbak?"
__ADS_1
"Galih.. Waalaikumsalam. Maaf Galih, Mbak ama Mas ada perjalanan bisnis seminggu ini, jadi tak sempat memberi kabar" ujar Emma berbohong.
"Ya Allah, Mbak. Ibuk kuatir banget loh. Gimana, Mbak? Sehat? Mas gimana?" tanya Galih dengan suara bergetar. Ia begitu senang ditelepon oleh kakaknya.
"Baik, baik semua. Ibuk gimana? Kamu lagi di sekolah ya?"
"Ibuk baik, cuma ya khawatir. Iya masih sekolah, nanti aku bilang ibuk ya.. Mbak sudah nelpon. Kok tumben nelpon di fesbuk? Hapenya kemana? Dihubungi ndak aktif-aktif,"
"Hape mbak ilang, Lih. Nanti mbak kirim nomor baru ya. Yasudah, Mbak juga mau ada kelas. Mbak sekarang kuliah, Lih,"
"Alhamdulillah, ikut seneng dengernya. Mas Teja rupanya baik banget ya, Mbak. Masih mengizinkan Mbak kuliah," ucap Galih yang kemudian membuat nyeri hati Emma.
'Bukan Mas Teja, Galih yang menguliahkan Mbak. Tapi Mas Lukas' batinnya, namun, tak diungkapkan. Emma tetap akan menyembunyikan rahasia ini sampai kapanpun.
"Iya, syukurlah. Kirim nomor rekening ya, Mbak mau transfer uang buat kalian,"
"Lho, serius, Mbak? Nggak dimarahin mas nanti?"
"Serius dong, nggak lah. Ini uang pribadi Mbak, jatah bulanan," tukas Emma ringan.
"Oke, Mbak, nanti Galih tanya nomor rekening ibuk. Yasudah, buruan sana ke kelas, aku juga mau masuk,"
"Oke.... Assalamu'alaikum,"
Tut.
...----------------...
Emma bahagia dapat kembali menghubungi keluarganya. Ia melangkah memasuki kelas di kampus dengan riang.
Sesampainya di kelas, Emma tampak mencari-cari tempat duduk kosong di antara kerumunan mahasiswa yang sedang berbincang. Akhirnya, ia menemukan tempat duduk di baris belakang, dekat dengan jendela luar.
Emma mulai meletakkan tasnya, dan mengambil buku catatan dan pena. Emma tampak tegang dan tak berani menyapa teman-teman barunya duluan. Beberapa pria tampak memandangi Emma yang cantik, kebalikan dengan para gadis yang tampak tak senang dengan keberadaannya.
Emma merasa, tatapan mereka seperti lebah saja, ia sudah terbiasa ditatap secara heboh oleh suaminya sendiri di rumah.
'Dasar anak-anak' batinnya sambil mempersiapkan diri untuk mulai belajar di hari pertama kuliah.
Tak berlangsung lama, seorang dosen memasuki kelas mereka. Tampilannya gagah dan berwibawa, usianya juga cukup muda, mungkin seusia Lukas. Wajahnya juga cukup imut dan tampan.
"Selamat pagi, teman-teman," sapanya ramah. Dosen yang masih muda itu memang menganggap dirinya sebagai kakak.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak," sahut para mahasiswa serempak.
"Hari ini, kita akan mulai dengan kenalan dulu ya.... Mulai dari saya dulu, nama saya Pak Chandra. Bisa panggil Mas Chandra juga boleh, umur kita nggak beda jauh," ujar dosen itu ramah.
Para mahasiswi sangat heboh dengan perkenalan Pak Chandra, tak butuh waktu lama, mereka membentuk fansclub Mas Chandra yang ramah dan pintar.
Emma hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Sesi perkenalan berakhir dengan baik. Materi perkuliahan pun langsung diberikan oleh dosen Chandra.
"Terima kasih atas perkenalan kalian semua. Nah, hari ini kita akan belajar tentang 'teori komunikasi' ada yang sudah membaca buku diktat?"
Hampir semua menggeleng, namun, Emma mengangkat tangannya.
"Halo, Emma, ya? Wah, kamu sudah cantik, rupanya rajin juga," puji pak dosen yang membuat iri para mahasiswi dan membuat julid mahasiswa yang mengincar Emma.
"Sekarang, coba menurut kamu, apa itu komunikasi dan buat keuntungan belajar ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari,"
"Ehem... " Emma mulai mendehem untuk mengumpulkan keberanian dalam berbicara di depan umum. "Komunikasi adalah proses penyampaian informasi atau gagasan dalam suatu saluran tertentu, untuk mencapai suatu tujuan, Pak," jawab Emma lugas.
"Bagus, Emma. Sekarang, coba sebutkan apa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari?"
"Ehm... Supaya maksud kita dapat ditangkap dengan baik oleh lawan bicara, jadi nggak salah paham. Benar begitu, Pak?" jawabnya gamang.
Dosen Chandra tersenyum dan mengangguk tanda memberi pembenaran. Emma gembira karena jawabannya memuaskan.
Setelah kelas berakhir, Emma menjadi idola baru di kampus Adi Luhung. Selain karena parasnya cantik, ia juga ramah dan juga pintar. Emma agak terbebani dengan perhatian para pria. Ia seringkali kabur jika berpapasan dengan teman sekelasnya.
"Emma... Emmaa... Loh, kemana dia?" tanya Robi yang sedang membawa setangkai bunga untuk diberikan pada Emma. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Namun, Emma tak menampakkan keberadaannya.
"Hossh.. Hossh... Haduuuh... Mampuss deh... Kalau ketauan Lukas, abis kamu, Rob," gumam Emma yang sedang bersembunyi di balik tangga. Meski tak saling mencintai, Lukas paling benci jika sesuatu miliknya diinginkan oleh orang lain. Emma juga termasuk. Lukas pasti muntab jika mengetahui Emma sedang dikejar-kejar oleh pria lain.
Emma mulai mengintip dari balik tangga untuk kembali pulang. Kelas hari ini telah usai, Emma ingin segera beristirahat.
Setelah dirasa cukup aman, Emma akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Namun tak disangka, ia malah mendapati kejadian yang tak menyenangkan lainnya.
...****************...
...Bersambung...
...***************...
__ADS_1
......