Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 90 Pemakaman


__ADS_3

Setelah kepergian Nyonya Besar untuk selamanya, mansion Lukas menjadi sunyi. Para penghuninya sedang berada di pemakaman elit The Heavenly Hills yang terletak di ujung pusat Jakarta. Area pemakaman yang sangat eksklusif tersebut hanya bisa dikunjungi oleh orang-orang tertentu saja, dan seperti acara pernikahan, prosesi pemakaman hanya bisa dihadiri oleh tamu undangan.


Suasana sedih dan haru mengiringi jenazah yang dikebumikan pagi itu dengan khidmat. Lukas dan Emma terlihat menahan tangis karena terlalu lama mengeluarkan air mata sejak malam sebelumnya. Mata mereka berdua memerah dan bengkak, serta suara mereka sudah hilang berganti dengan suara serak dan tercekat.


"Lukas, aku turut berduka cita," ucap Nyonya Sherly, salah satu sahabat mendiang, yang ikut mengantarkan keranda jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Terima kasih, Nyonya," jawab Lukas dengan singkat, sambil menunjukkan seutas senyuman. Kacamata hitamnya menyembunyikan mata yang bengkak dan wajah yang terlihat pucat. Benar-benar kamuflase yang sempurna.


Lukas mencoba mengendalikan emosinya yang masih sedikit kacau. Selama ini, Nyonya Besar adalah sosok satu-satunya keluarga yang begitu dicintai olehnya. Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang sulit diisi.


Pemakaman berlangsung dengan khidmat, dan Lukas tidak bisa menahan air mata yang kembali mengalir begitu jenazah Nyonya Besar diturunkan ke liang lahat. Di sisi lain, Emma tampak cukup tegar dan tidak bersua mencoba untuk menguatkan sang suami dalam kesedihan mendalamnya.


Suasana pemakaman di The Heavenly Hills begitu khidmat dan penuh haru. Langit biru terang dengan sinar matahari yang lembut menyinari area pemakaman. Angin sepoi-sepoi mengusap perlahan wajah para tamu undangan, memberikan sentuhan yang menenangkan di tengah kesedihan yang melingkupi mereka.


Deretan bunga-bunga segar dan meja kondolensi menghiasi area sekitar, menciptakan suasana yang memuliakan kepergian mendiang. Para tamu yang menghadiri pemakaman mengenakan pakaian serba hitam dengan ekspresi sedih dan haru yang terlihat di wajah mereka. Beberapa di antara mereka terlihat saling berpelukan, mencari dukungan satu sama lain dalam momen yang berat ini.


Suara tangis-tangis tersedu terdengar di sela-sela kata penghiburan yang diucapkan oleh para sahabat dan keluarga mendiang. Ada kesedihan yang melanda, tetapi juga ada rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani dengan baik dan bersahaja oleh sang Nyonya Besar.


Pemandangan sekitar pemakaman juga menambah suasana yang syahdu. Pepohonan yang rindang di sekitar area pemakaman, memberikan kesan kedamaian dan keabadian. Suara burung-burung yang berkicau dengan lembut mengiringi prosesi pemakaman, seolah memberikan penghormatan terakhir kepada sosok Nyonya Han Eun Sook yang telah pergi untuk selamanya.


Dalam kesedihan yang mendalam, pemakaman tersebut menjadi momen perpisahan yang penuh keharuan. Para tamu undangan mengucapkan doa terakhir dan mengheningkan cipta untuk merayakan kehidupan dan mendoakan kedamaian bagi roh yang telah berpulang. Namun, di antara mereka, ada seseorang yang tampak tidak terpengaruh dengan suasana duka yang terjadi di sana.


"Cih! Aku telah kehilangan kartuku," rutuk seorang tamu misterius yang datang pada jam-jam terakhir sebelum upacara prosesi pemakaman diselesaikan.

__ADS_1


"Nona Presdir, ini....," ucap Kian sambil menyerahkan sebuah kartu undangan pemakaman kepada majikannya, Lucy. Ia telah memenangkan negosiasi untuk membeli kartu undangan salah seorang tamu yang terlambat datang. Dengan iming-iming 1 juta rupiah, orang itu mau menyerahkan kartu undangan untuk masuk ke area pemakaman. Dan sekarang, Lucy berada di dekat Lukas dan Emma, meski tidak tampak terlalu dekat.


"Mengapa ancamanku tidak berhasil? Si nenek peyot itu sudah mati duluan. Cih! Bagaimana lagi aku harus mengancam mereka?" gumam Lucy sambil berpura-pura memberikan setangkai mawar di depan nisan mendiang. Ia dengan khidmat mengikuti doa terakhir sebelum upacara pemakaman ditutup, dan para tamu undangan diperbolehkan untuk pulang.


Lucy sengaja pergi ke pemakaman Nyonya Han Eun Sook untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa nenek tua itu telah meninggal dunia. Meski terik matahari menyengat kulitnya, Lucy tidak merasa keberatan, jika ia berhasil melihat sosok Emma dan Lukas yang tampak menyedihkan. Kehilangan salah satu sosok yang dicintai oleh mereka, merupakan pukulan yang cukup dalam.


"Pemandangan yang bagus," ucap Lucy pelan, sambil mengulum senyum agar tidak menarik kecurigaan.


Lucy melanjutkan langkahnya untuk berjalan secara perlahan, sambil menilai situasi. Ketika ia melihat sosok Emma yang terpisah dari Lukas, Lucy langsung berjalan secara cepat ke arahnya.


Tiba-Tiba, terdengar suara "DUG!" diikuti dengan rintihan kesakitan dari Emma.


"Awww... "


"Ah, maaf," ucap Lucy sambil mengulurkan tangannya, mencoba membantu Emma berdiri, setelah secara sengaja menabraknya.


"HEY!!" hardik Emma, merasa telah dipermainkan.


Lucy tampak tersenyum angkuh dan dengan penuh kesombongan, dia membuka kacamata hitamnya. "Kau mengingkari janji, Emma. Apa ini? Kenapa kau masih di sini?" tanyanya dengan nada sarkastik, tanpa menyadari bahwa dialah tamu tak diundang yang seharusnya tidak berada di area pemakaman keluarga.


Emma, yang merasa terhina oleh kehadiran Lucy, melontarkan kata-kata dengan kesal. "Apa? Lucy? Beraninya kau datang ke sini!" ucapnya dengan nada tajam. Ia kemudian mencoba untuk berdiri kembali, tanpa mengharapkan bantuan dari penyihir yang sedang berdiri di hadapannya itu.


"Seharusnya kalian bercerai, Kan? Kau sudah janji padaku, Emma! Ternyata, nyonya K-Group adalah seorang pembohong ya!" teriak Lucy, kali ini dengan sengaja, agar memancing respon dari Emma yang tengah terluka batinnya.

__ADS_1


"DIAM!" balas Emma tidak terima. Ia benar-benar tidak habis pikir mengapa Lucy bisa membuat keributan di pemakaman hari ini.


Pertengkaran sengit antara Emma dan Lucy menarik perhatian orang-orang yang berkumpul di sekitar pemakaman. Suara keras mereka yang saling berbalas kata-kata menyulut rasa ingin tahu para tamu undangan.


Tidak butuh waktu lama bagi kerumunan untuk menyemut mendekati mereka berdua. Beberapa dari mereka menghentikan langkah dan mulai berbisik-bisik dengan penasaran, sementara yang lain bergerak lebih dekat untuk melihat dengan jelas keributan yang sedang terjadi.


"Apa yang terjadi di sana?" bisik seorang wanita dengan penasaran, matanya tidak bisa berpaling dari pertikaian yang tengah terjadi.


"Sepertinya mereka bertengkar. Kau mengenal para nona itu?" tanya seorang pria yang berdiri di sebelahnya.


"Tidak. Mungkin, rombongan dari keluarga lain," sahut wanita tersebut dengan singkat.


Banyak orang telah berkerumun dan menciptakan desas-desus dan spekulasi tentang apa yang sedang terjadi di sana.


"Cantik-cantik kok ribut begitu," seloroh seorang pria paruh baya yang tampak tak mengerti dengan kejadian panas yang sedang melanda area pemakaman. Area yang seharusnya syahdu dan tenang, kini telah dirusak oleh amukan dan makian dari dua gadis cantik yang tampak sedang berada di puncak amarah masing-masing.


"Permisi....," ucap Lukas yang baru saja selesai mengurus beberapa administrasi di sekretariat pemakaman. Dia melihat kerumunan orang yang berkumpul di sekitar area pertengkaran, dan hatinya berdegup kencang khawatir terhadap apa yang terjadi. Baru saja ia meninggalkan Emma, dan ketika dicari, istrinya itu tidak ada di sekitar batu nisan mendiang nenek mereka.


Samar-samar, Lukas mendengar teriakan Emma dari arah yang bersebrangan. Dengan hati gemetar, Lukas mencoba mendekat untuk memastikan.


"Emma??!!" teriak Lukas ketika mengetahui bahwa salah seorang gadis yang sedang memicu kerumunan itu adalah istrinya. Dengan cepat, Lukas berjalan ke arahnya, dan menarik tangan Emma seketika.


...****************...

__ADS_1


...Bersambung...



__ADS_2