
Malam yang panjang bagi Emma akhirnya berganti menjadi pagi yang lebih tenang. Setelah perjuangannya semalam, ia terbangun dengan perasaan lega dan nyaman. Dalam keadaan yang masih setengah sadar, Emma menggeliat ke kiri dan ke kanan, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa keletihan setelah menjalani malam yang melelahkan.
Saat ia mengenakan pakaian ganti yang lembut dan nyaman, perasaannya berubah menjadi lebih tenang. Tubuhnya juga terasa ringan dan segar, seolah-olah ketegangan semalam telah terhapus sempurna. Hangatnya sinar mentari pagi itu membawa kedamaian dan semangat baru bagi Emma untuk melanjutkan hidupnya.
"Hoaaahm," Emma masih mengantuk, namun rasa lapar memaksa dirinya untuk segera bangkit dan mencari santapan yang bisa mengganjal perutnya. Ketegangan pelarian semalam telah menguras sebagian besar energinya. Emma merasa harus mengisi kembali energi dengan sarapan yang beragam. Pandangannya tertuju pada menu room service yang terletak di nakas samping tempat tidurnya.
"Harus pesan-antar atau makan di restoran saja, ya?" gumamnya bimbang. Emma akhirnya memutuskan untuk pergi ke restoran dan makan bersama Ryan. Mungkin Ryan juga sudah bangun dan merasa lapar. Namun, sebelum Emma bisa beranjak dari ranjang, sebuah ketukan tiba-tiba terdengar di pintu kamarnya.
TOK TOK TOK...
"Loh? Apa sudah ada room service? Padahal, aku belum memesan apa pun..." gumamnya bingung.
Emma melihat tamu tak diundang yang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya melalui peep-hole. Ada seorang pria yang tidak dikenal berdiri di sisi luar kamarnya. "Siapa itu? Aku tidak kenal," pikirnya. Namun, tanpa curiga, Emma hendak membukakan pintu supaya mengetahui maksud kedatangan orang tersebut. Belum sempat tangannya mengulir knop, tiba-tiba telepon berdering dan menghentikan aktivitasnya.
KRINNG... KRIIING...KRIIING...
"Astaga! Kaget!" Emma terkejut dan segera mengangkat telepon itu. "Halo?"
"Emma! Ini Ryan! Jangan buka pintu! Jika ada yang mengetuk pintumu!" kata Ryan dengan napas terengah-engah. Emma merasa takut dan gemetar. Ada apa gerangan?
"Ryan! Ada apa? Kenapa kamu membuatku takut?"
"Emma! Nyalakan TV-mu sekarang!"
Emma mengikuti perintah Ryan dan menyalakan televisi yang ada di kamar 1602. Emma pindah kamar karena ada kebocoran mendadak di kamar sebelumnya, ia naik satu tingkat ke lantai 16, sebagai gantinya.
......................
__ADS_1
...[Berita Gosip di TV]...
Acara Insert, TV A:
"SKANDAL KAMAR ASMARA! Pemirsa, malam kemarin terjadi kehebohan di Hotel X, di Jakarta Pusat. Pewaris RCTV dikabarkan berkencan di hotel itu! Siapakah gadis misterius yang telah merampas malamnya yang panas?"
Acara Rumpik, TV B:
"SKANDAL KAMAR ASMARA! Ranjang panas pewaris grup MNGTV. Siapa dia, Cinderella abad modern yang mendapatkan hati seorang konglomerat kaya?"
Acara Kisseu, TV C:
"SKANDAL KAMAR ASMARA! Muaach! Hai sobat Kisseu! Pagi ini Rindy membawa gosip yang sangat panas! Tahukah kamu, Mr. R, pewaris RCTV, baru saja menghabiskan malam dengan seorang gadis cantik berambut panjang. Oh la la! Sayangnya, wajahnya tidak terlihat. Tertutupi oleh topi dan mantel. Siapa kamu, sang putri yang beruntung?"
......................
"Emma, sepertinya ada yang memotret kita saat aku sedang mengecek kebocoran air," ujar Ryan dengan suara yang terdengar tegang.
Emma terhenyak. Ia teringat kejadian tersebut. "Ryan, apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana kita bisa keluar dari situasi ini?" desaknya dengan ketakutan yang semakin memuncak.
"Tenanglah. Bantuan sedang dalam perjalanan. Aku juga tidak bisa keluar dari kamarku karena ada beberapa orang yang memblokir pintu," jelas Ryan dengan suara bergetar.
Emma merasa tertekan. Ia merasa terjebak dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, tak lama kemudian, terdengar keributan di luar pintu kamarnya, disusul dengan suara baku hantam. Kemudian, suara yang sangat dikenal oleh Emma memanggilnya dengan nada tajam dan penuh getaran.
"Emma! Ini aku! Buka pintunya!" seru suara itu.
"Hah? Lukas? Apa yang dia lakukan di sini?" Emma merasa semakin cemas. Ia khawatir Lukas akan salah paham dan hubungan mereka semakin rumit tanpa jalan keluar.
__ADS_1
Emma, yang masih dalam keadaan terkejut dan takut, memandang Lukas dari balik peep-hole dengan tatapan penuh kekhawatiran. Setiap detik terasa seperti berabad-abad. Dalam keheningan yang terasa begitu berat, Emma akhirnya mengambil nafas dalam-dalam dan membuka pintu dengan hati yang tegar.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Lukas tampak masuk ke dalam kamar dengan langkah yang berat, matanya terus menatap Emma dengan pandangan kekecewaan yang mendalam. Suasana di dalam ruangan menjadi tegang, seakan-akan, waktu terasa berhenti berputar. Emma mencoba membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi suara sulit keluar. Ia lalu mengumpulkan keberanian yang masih ada, ketika seluruh dunia seperti sedang memandangnya sebagai seorang pezina. Sungguh tuduhan yang tidak adil untuk Emma. Ia bahkan tidak melakukan kesalahan dan hanya menjadi korban fitnah media.
"Lukas...," bisik Emma dengan nada bergetar, antara takut dan bimbang.
"Tidak perlu kata-kata lagi, Emma," potong Lukas dengan suara yang penuh dengan amarah dan penderitaan. "Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri."
Emma merasa hatinya terbelah menjadi dua. Ia tahu bahwa apa yang Lukas lihat hanyalah ilusi yang dimanipulasi oleh orang jahat yang ingin menghasilkan uang. Namun, ia juga mengerti betapa sulitnya bagi Lukas untuk mempercayainya dalam situasi seperti ini.
...Bukankah, kejadian itu mirip dengan perzinahan Lukas kemarin malam? Sebenarnya, siapakah yang sedang terluka batinnya?...
Emma mulai menimbang-nimbang segala peristiwa yang sedang dialaminya dengan penuh perhatian dan kebijaksanaan.
"Baiklah... Mari kita mulai bicara," tutur Emma dengan sikap yang tegar dan berfokus pada penyelesaian konflik, ketimbang harus meratapi nasib.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1