Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 46 Skandal Kamar Asmara #3


__ADS_3

...[Kediaman Haritama]...


"Nyo--nyonya," ucap ajudan nyonya Liem dengan gemetar setelah melihat pemberitaan di media tentang tuan mudanya.


"Hm? Ya, aku sudah tahu," jawab nyonya Liem dengan datar. Ia masih sibuk melukis sebuah pusaran bergradasi hitam, putih, dan biru tua di kanvas mungilnya. Bulan ini adalah bulan karya ekspresif. Nyonya Liem selalu menciptakan sebuah lukisan setiap minggu, mengikuti tema karya yang ia tentukan sendiri. Sayangnya, minggu ini seharusnya ia melukis ekspresi kekhawatiran. Namun, nyonya Liem belum menemukan inspirasi yang memadai.


Beruntung, anaknya terjerat dalam skandal. Semalam, ketika hendak memulai lukisannya, nyonya Liem mendapat panggilan dari seseorang yang tak dikenal, mengancam untuk menyebarkan skandal tersebut. Alih-alih marah atau terluka, nyonya Liem mempersilahkan orang tersebut untuk menyebarluaskan skandal putranya. Ia berharap dapat merasa khawatir, sehingga dapat meneruskan karya lukisnya dengan penuh keberhasilan.


"Lalu, orangnya sudah diatasi?" tanya nyonya Liem setelah menyelesaikan lukisannya.


"Maaf, Nyonya. Dia dibawa oleh bos K-Group," sahut sang ajudan dengan nada yang tegang. Ia khawatir nyonyanya akan marah karena tak berhasil membuat perhitungan dengan pelakunya.


"Hm.. Lukas? Mengapa dia terlibat? Apakah gadis itu kekasihnya?" gumam nyonya Liem dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Selidiki gadis itu, aku ingin tahu siapa dia," perintahnya kemudian.


"Baik, Nyonya," Sang ajudan akhirnya melangkah keluar dari ruang kerja nyonya yang megah dan mewah itu, dengan tugas yang baru.


Beberapa saat kemudian, Ryan melangkah masuk ke ruang kerja ibunya. Ia baru saja turun dari helikopter. Ryan menggunakan helikopter untuk kembali ke rumah karena massa dan wartawan masih mengepung lokasi skandal di Hotel Halton.


"Mama!" panggilnya, sambil mendekati ibunya.


"Puteraku. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya ibunya dengan penuh perhatian. Meskipun begitu, nyonya Liem merasa lega karena dapat menyelesaikan lukisannya minggu ini berkat bantuan tak langsung dari puteranya.


"Aku baik-baik saja, Ma. Maaf ya, aku tidak tahu akan terjadi skandal seperti ini. Selain itu, aku tidak melakukan apa-apa, kok," ujar Ryan dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nak. Yang penting, kamu bertanggung jawab. Siapa gadis itu? Apakah Mama mengenalnya?" tanya nyonya Liem dengan rasa ingin tahu yang membara.


"Dia.. Eum.. Dia istri Lukas, Ma. Aku tidak berselingkuh dengannya, sungguh!"


"Is--istri Lukas? Sejak kapan dia menikah?" gumam nyonya Liem tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.


"Ya, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja dia bilang begitu. Mungkin mereka menikah di luar negeri," sahut Ryan berspekulasi.


"Hah. Yasudah biarkan saja. Mama percaya padamu, Nak. Sebetulnya, selingkuh juga bukan masalah, asalkan kalian saling setuju. Tapi, masa depanmu masih panjang. Masih banyak gadis yang antre buatmu. Kenapa harus memilih istri orang, ya kan?"


Ryan hanya tersenyum hambar mendengar nasehat yang tidak benar dari ibunda tercinta. Namun, ia memahami kondisi pernikahan dalam lingkaran keluarga mereka, di mana cinta berada pada urutan setelah harta. Perselingkuhan menjadi sesuatu yang lazim dan disetujui bersama.


"Papa lagi dimana ya, Ma?" tanya Ryan tiba-tiba, teringat akan ayahnya yang baru saja bercerai dari ibunya.


"Hhhh... Nggak tahu, Nak. Punah kali, kena lahar gunung berapi," jawab ibunya bercanda. Ryan tergelak dan kembali memeluk ibunya dengan penuh kasih. "Jadi.... Bagaimana cara meredam pemberitaan tentang skandal ini, Ma?"


"Yasudah lah, Ryan tidur aja ya, Ma. Masih ngantuk,"


"Iya, naiklah ke kamar. Kamu nggak ke apartemen kan hari ini? Mama masih kangen loh... "


"Iya, Ryan hari ini tidur di sini, Ma. Tenang aja,"


"Yasudah, Mama mau ke kantor dulu ya. Muach!"

__ADS_1


Nyonya Liem menyimpan lukisannya dengan hati-hati di meja karya. Kemudian, ia berganti pakaian dan bersiap pergi ke kantor pusat untuk membahas strategi pemblokiran berita skandal yang sedang berlangsung.


"Tutup kantor berita yang tidak mau bekerja sama," perintahnya kepada sang ajudan, saat mereka berjalan menuju mobil.


"Baik, Nyonya," jawab sang ajudan dengan patuh.


......................


...[Mansion Lukas]...


"Hati-hati, Nyonya," ujar Roy dengan penuh perhatian saat ia menuntun Emma keluar dari helikopter. Mereka berhasil mendarat dengan baik di landasan pacu yang tersedia di bagian belakang mansion.


Emma memberikan senyuman kecil sebagai tanda terima kasih kepada Roy. Tanpa banyak bicara, Emma berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Langkahnya begitu tergesa, seolah sedang berusaha untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkannya.


"Tunggu, Emma!" pinta Lukas dengan suara terengah-engah, berusaha untuk mengejar dan mendekatinya. Namun, Emma terus berlari menjauh, seperti seekor kelinci yang sedang melarikan diri dari cengkeraman singa.


Lukas memaksakan diri untuk mendekati Emma, berusaha menjelaskan situasi dengan jelas. Namun, setiap kali dia mencoba mendekat, Emma dengan cepat menjauh dan menolak mendengar penjelasannya.


"Emma!" teriak Lukas, berharap bisa menarik perhatiannya. Namun sia-sia saja, istrinya masih tetap menjauh dan tidak ingin didekati barang seinci-pun olehnya.


...***************...


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...



__ADS_2