
Siang ini, Emma berencana pergi ke klinik karena dia ingin tahu mengapa dokter Freddy belum menghubungi mereka untuk menginfokan hasil lab teh herbal. Emma sangat penasaran dengan kandungan teh tersebut karena khawatir akan berdampak buruk bagi kesehatan Lukas.
Saat ini, Emma masih berada di kampus setelah menjalani perkuliahan seperti biasanya. Sementara itu, Lukas sedang sibuk di kantor dan memberi tahu Emma bahwa dia akan pulang terlambat malam ini karena ada "tamu" yang harus diurus. Walaupun hubungan mereka semakin dekat, Lukas belum dapat mengungkapkan identitasnya sebagai rentenir penguasa wilayah utara, selain identitas resminya sebagai pebisnis kelas kakap. Dia ingin melindungi Emma dari bahaya yang mungkin timbul akibat rasa ingin tahu gadis itu yang begitu tinggi.
"Vit, kuliah Pak Chandra ditiadakan ya hari ini?" tanya Emma setelah mengecek pengumuman daring di milist mahasiswa.
"Iya, sepertinya begitu. Ini baru ada pengumumannya. Huvvv. Tau gitu aku pulang dari tadi... " sesal Vita. Emma tersenyum, dan menepuk bahu sahabatnya. "Eiiyy.. Gak papa lah, ayo aku traktir kopi, mau nggak? Habis ini aku antar sampai ke stasiun," hibur Emma agar Vita tidak berdesakan di metromini pada jam makan siang untuk sampai ke Bogor, rumah barunya. Vita mengangguk, kemudian tersenyum, sesuai harapan Emma.
"Eh, Kak Ryan apa kabar ya? Beberapa waktu lalu, heboh banget skandalnya," tanya Vita sekonyong-konyong, membuat jantung Emma berdetak kencang mendadak. Vita tidak tahu menahu bahwa wanita yang digosipkan dengan Kak Ryan adalah dirinya.
"Iya, nggak tahu tuh. Mungkin lagi healing. Untung aja skandalnya cuma sebentar ya.... " sahut Emma pura-pura tenang. Ia tentu tak ingin masalah semakin rumit dengan membocorkan identitasnya sebagai wanita yang digosipkan. Ada kemungkinan skandal lanjutan akan terjadi, dan hal tersebut dapat mengancam kedamaian hubungan Emma dengan Lukas. Hanya membayangkan kemungkinan itu saja sudah membuat Emma merasa ngeri. Ia Benar-benar tidak ingin lagi terlibat dalam pertengkaran dengan suaminya.
"Yuk, ngopi di kafe biasa," ajak Emma sambil menggandeng Vita. Mereka kemudian berjalan riang menuju ke luar kampus, agar sampai di Kafe Kenangan yang tak jauh dari sana.
......................
"Makasih, Em, Pak Hendro, sudah mengantarkan saya sampai ke stasiun," ucap Vita setelah mereka selesai ngopi dan beranjak menuju stasiun terdekat.
__ADS_1
"Sama-sama, Non," jawab Pak Hendro sopan. "Hati-hati ya, Vit," ucap Emma sambil melambaikan tangan. Mereka pun berpisah dan melanjutkan perjalanan masing-masing pulang ke rumah.
"Mampir sebentar ke minimarket, ya, Pak? Saya perlu cek e-money dan membeli air mineral," tutur Emma ketika mobil mereka melintasi jalan untuk menuju ke klinik dokter Freddy. "Baik, Nyah," jawab Pak Hendro sambil tetap fokus mengemudi. Tak lama kemudian, mereka tiba di minimarket yang disebutkan.
Emma turun sejenak untuk membeli air minum dan cemilan, serta memeriksa saldo e-money karena ia baru saja membelinya secara iseng melalui kenalannya. Padahal, Emma memiliki Black Card. Entah mengapa, ia hanya ingin membelinya untuk mendukung dagangan temannya tersebut.
Bruk!
Saat Emma baru saja turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang minimarket, tiba-tiba seseorang menabraknya.
"Maaf," kata gadis itu sambil tersenyum ramah. Emma terkejut karena ditabrak, namun dengan sopan ia membalas senyumannya. "Tidak apa-apa," jawab Emma sambil mengambil barang-barangnya yang sempat terlempar, dibantu oleh gadis tersebut. Setelah beberapa saat, Emma melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam minimarket.
"Apakah ada masalah, Mbak?" tanya sang kasir melihat kepanikan Emma. "Tunggu sebentar, Mbak... Apa mungkin dompet saya tertinggal di mobil ya?" tanya Emma pada dirinya sendiri dengan gugup. "Mbak, aku ke mobil sebentar ya," lanjut Emma menepis kepanikan.
"Silakan, Mbak," jawab kasir tersebut tanpa terlihat kesal, namun ada sedikit rasa penasaran dalam dirinya setelah mengalami kejadian serupa dengan beberapa pelanggan lainnya.
Baru-baru ini, banyak pelanggan yang tiba-tiba panik ketika hendak membayar, mencari-cari dompet yang mendadak hilang.
__ADS_1
Tok tok!
"Pak, apakah dompet saya terjatuh di kabin?" tanya Emma sambil mengetuk jendela mobil. Pak Hendro mencari-cari dompet majikannya dengan tatapan yang cermat, namun tidak menemukannya. "Tidak ada, Nyah," jawabnya.
Emma semakin cemas dan menceritakan kejadian awal tentang bagaimana ia bisa kehilangan dompetnya. Pak Hendro menepuk jidatnya setelah mendengar cerita dari sang nyonya rumah. "Nyonya tadi dicopet," ucap Pak Hendro. Emma terkejut dan baru menyadarinya. "Astaga!? Benarkah?" Ia jadi merasa kesal. Bagaimana mungkin Emma begitu ceroboh sehingga menjadi korban pencopetan di siang bolong?
"Ayo kita lapor polisi saja, Nyah," ajak Pak Hendro tenang. Ia tak ingin Emma merasa panik dan malah memperburuk keadaan. Emma mengangguk pelan, meski sempat terlihat kesal dan tidak rela menyadari kenyataan bahwa dompetnya baru saja hilang. "Ayo, Pak," sahutnya cepat. Emma tidak boleh menyerah dengan keadaan. Siapa tahu, dompetnya yang hilang bisa ditemukan.
......................
Sementara itu, di sudut gang pasar yang pengap dan gelap, seorang gadis yang baru saja mendapatkan uang mendadak, tampak gembira dan membawakan beberapa makanan untuk adik-adiknya yang kelaparan.
"Adeeek... Kakak pulang!" serunya riang. Beberapa saat kemudian, dua anak kecil yang tampak lusuh dan tidak terawat, menghambur ke arah kakaknya dengan ceria. "Hore.. Kakak bawa makanan!" pekik mereka gembira.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...