
Emma merasa kecewa karena Lukas lebih mempercayai gosip di media ketimbang perkataannya. Hati Emma rasanya terbelah menjadi dua. Namun, ia juga mengerti betapa sulitnya bagi Lukas untuk mempercayainya dalam situasi seperti ini. Tubuh Emma bergetar karena masih dalam keadaan terkejut dan juga gusar. Belum sempat ia memenangkan diri dengan benar, saat ini, suaminya malah mengkonfrontasi secara bar-bar. Lukas bahkan merasa menjadi orang paling tersakiti di dunia ini, padahal, jelas-jelas, semalam, ia berbagi ranjang dengan selir yang masih saja tinggal di mansion mereka.
Emma mulai menimbang-nimbang segala peristiwa yang sedang dialaminya dengan penuh perhatian dan kebijaksanaan. Situasi yang saat ini dialaminya, mirip dengan situasi Lukas, hanya berbeda rumor pemberitaan saja.
"Baiklah... Mari kita mulai bicara," tutur Emma dengan sikap yang tegar dan berfokus pada penyelesaian konflik, ketimbang harus meratapi nasib.
"Jelaskan apa yang terjadi, Emma. Aku tidak tahu apa yang harus kupercaya lagi." tukas Lukas dengan nada yang tajam. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan kecewa dan cemburu yang saat ini sedang memenuhi rongga dadanya.
"Aku tidak melakukan apapun," ujar Emma dengan suara tenang, karena ia tidak bersalah.
"Kau masih bisa mengelak setelah fotomu tersebar di media?"
"Itu hanya foto. Lagipula, apa konglomerat tidak mengerti soal gosip dan fitnah yang biasa terjadi? Lagipula, wajahku tidak tampak di sana, hanya Ryan yang dipojokkan," ucap Emma dengan tegas.
"Kau masih membela selingkuhanmu?" tanya Lukas dengan mimik tak percaya dan menahan amarah. Salah satu tinjunya terkepal dan rasanya ingin dilayangkan pada pria yang telah menjadi selingkuhan istrinya itu dengan penuh kekuatan. Lukas tak bisa menerima fakta bahwa kepercayaan yang telah ia berikan pada Emma rupanya dikhianati dalam semalam.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka dengan perlahan.
Krieeet...
"Aku bukan selingkuhannya," sahut seseorang yang baru saja sampai di kamar mereka.
"Ryan?" panggil Emma dengan tatapan khawatir. "Kamu nggak papa?" tanyanya kemudian.
"Aku baik-baik saja. Paparazinya ada di depan. Bawa masuk!" titah Ryan pada para pengawalnya.
BRUUUKK!
__ADS_1
Seorang pria paruh baya tampak gemetar ketakutan sambil meringkuk tanpa daya di lantai kamar hotel Emma.
"A--ampuni saya, Bos! Sa--saya melakukan ini karena harus membayar biaya anak yang sedang sakit," ucapnya dengan nada yang pura-pura pilu. Roy tampak berbisik sesuatu ke arah Lukas, pria itu kemudian mengangkat alisnya dan menyeringai dengan sangat menyeramkan.
"Katakan, apa yang terjadi semalam!"
"Sa--saya cuma memotret mereka saja,"
"Apa mereka bermalam di kamar yang sama?"
"Ti--tidak, Bos. Nona itu naik ke atas, saya juga berpikir untuk memotret lagi, rupanya mereka berpisah," ujarnya jujur.
Emma dan Ryan tampak saling berpandangan. Lukas menghela nafas dalam-dalam. Kesalah-pahaman di antara mereka akhirnya terselesaikan.
"Bawa pergi," titah Ryan pada pengawalnya, namun, dicegah oleh Lukas.
"Emma, maaf, aku harus menemui ibuku. Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Ryan sambil mendekat ke arahnya. Namun, Lukas buru-buru menarik istrinya mendekat. "Dia baik-baik saja. Kau pergilah!" usir Lukas pada Ryan.
"Baiklah," ucap Ryan datar, namun ia membisikkan sesuatu ke telinga Lukas. "Maaf saja, kalau sekali lagi aku melihat istrimu menangis di pinggir jalan, aku tidak segan-segan merebutnya darimu," tukasnya kemudian berlalu.
"Apa kau bilang?!"
Lukas baru saja hendak menanyakan maksud Ryan, namun, pria itu sudah pergi menjauh sambil melambaikan tangan dengan kaku. Ia tak ingin berurusan dengan Lukas lebih lama lagi, karena harus mengurus skandal pemberitaan di media yang bergulir seperti bola liar dan semakin besar.
"Emma, apa yang terjadi semalam? Kenapa kau menangis di pinggir jalan?" tanya Lukas setelah mendapat bisikan aneh dari Ryan. Kali ini, ekspresi Lukas sudah berubah menjadi lembut dan nada bicara juga sudah normal.
"Semalam? Harusnya kau yang lebih tahu," sahutnya tanpa ingin mengkonfrontasi suaminya. Emma merasa jijik jika membayangkan perbuatan Lukas semalam bersama Sarah.
__ADS_1
Lukas terdiam. Ia tidak tahu harus bagaimana. Apa yang salah? Semalam? Bukankah ia hanya tertidur setelah minum obat di paviliun? Apa yang terjadi setelahnya?
"Emma... Katakan aku tidak mengerti,"
"Sudahlah. Mari kita bersikap seperti yang seharusnya saja, Lukas. Kau dan aku..... " Emma memotong pembicaraannya. "Pasangan kontrak, hm?" bisiknya kemudian.
Emma lalu berjalan ke luar kamar dengan langkah tegap. Emma kembali mengumpulkan tekadnya dan berharap untuk tidak disakiti lagi. Sepanjang perjalanannya, ia mencari sopir mereka. Kondisi lorong hotel tampak sepi, tidak seperti ketika mereka tiba. Suasananya tampak lengang dan mencekam.
"Roy, kemana perginya semua orang? Mana pak Hendro? Aku mau pulang," tanya Emma pada Roy yang mengekornya dari belakang.
"Pak Hendro tidak bertugas, nyonya. Mari saya antar ke armada jemputan. Kita ke lantai teratas," sahut Roy dengan langkah yang dipercepat.
"Parkir mobilnya di atas memangnya?" tanya Emma tak paham.
"Bukan. Kita naik helikopter,"
"Apa??" Emma terhenyak tak percaya.
"Nyonya, tolong jangan marah-marah sama bos Lukas. Hari ini dia baru saja kehilangan uang trilyunan untuk membeli hotel ini, supaya nyonya bisa dievakuasi dengan aman," tutur Roy yang merasa sedih karena bosnya tampak dipojokkan oleh istrinya.
"Apaaaa?????!!!!!"
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1