Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 77 Terhanyut


__ADS_3

"Pemirsa, usahakan berada di dalam rumah saja. Malam ini, akan terjadi badai. Para warga, diharapkan untuk tidak bepergian kemana-mana,"


Suara berita sela dari BMKG menginterupsi tayangan drama yang sedang ditonton oleh Emma. Gadis itu tampak sedikit gelisah dengan berita yang sedang didengarnya, mengingat, suaminya belum juga pulang ke rumah.


"Lukas.. Sayang.. Kamu udah dimana sih...," gumamnya sambil memencet-mencet tombol ponsel yang baru saja diambilnya dari atas meja. Emma berkali-kali melakukan panggilan telepon dan juga mengirimkan pesan pada suaminya, namun, tidak ada balasan. Pesan itu pun bahkan tidak terkirim, entah mengapa. Apakah ponsel Lukas mati? Atau telah terjadi sesuatu? Emma masih belum mengetahuinya. Namun, firasatnya buruk. Hatinya berdesir, seperti membisikkan sesuatu yang tidak dapat ditelaah oleh akal sehatnya.


Emma akhirnya menghubungi Roy, sang ajudan. Kali ini, panggilannya mendapatkan respon sesuai harapan.


"Halo, Roy? Apakah Lukas bersamamu?" tanya Emma dengan nada cemas.


Roy, di seberang, malah turut terkejut. Padahal, Bos Lukas telah menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu karena ia ada kencan dengan istrinya. "Bukannya, Bos Lukas sudah di kediaman, Nyonya?" tanya Roy tidak memberikan jawaban yang melegakan hati Emma.


Mereka berdua akhirnya sama-sama cemas. Bagaimana bisa Lukas tidak memberikan kabar pada mereka berdua?


......................


Sementara itu, di luar kediaman, tampak terjadi kehebohan akibat tanggul yang jebol. Genangan air ada dimana-mana. Banjir bandang tak terelakkan. Para warga di sekitar sungai Ciliwung, harus siaga dan segera mempersiapkan diri untuk mengungsi.


"Mengungsi! Mengungsi! Selamatkan diri dulu!" teriak Pak RT Kampung Salak, memecah kepanikan warga yang tiba-tiba mendapat kiriman air bah entah dari mana.


"Pak... Gimana TV saya? Bisa rusak!" pekik salah seorang wanita yang tampak kusut, karena, baru saja ia hendak melelapkan diri dalam tidurnya.


"Sudah, Bu! Jangan mikirin TV, selamatkan diri dulu!" ucap Pak RT tegas. Beberapa warga sudah tampak mengungsi menuju ke lantai dua rumah mereka, dan menyelamatkan berbagai dokumen penting, serta barang-barang elektronik kecil yang dapat dibawa dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Tolong, Pak!? Si Ucil!" teriak salah seorang anak laki-laki yang mengkhawatirkan kucingnya. Ketika air semakin naik ke permukaan, hewan-hewan peliharaan tampak berlarian. Namun, ada beberapa yang tak sempat menyelamatkan diri, dan akhirnya, ikut hanyut terbawa derasnya arus banjir yang sedang menyapu kampung mereka.


BYUR!!


"LARI!!' teriak Pak RT kali ini dengan suara yang lebih keras, karena, air yang tadinya hanya menggenang dan perlahan naik, kini bergolak seperti ombak.


"Tanggul jebol! Tanggul jebol!" pekik beberapa orang yang berlarian dari arah gepura Kampung Salak. Kampung itu memang berada tak jauh dari aliran Sungai Ciliwung. Masyarakat setempat menyebut kampung mereka sebagai "Kampung Girli" alias, Kampung Pinggir Kali. Sontak, ketika air sungai meluap, kampung mereka tentu ikut kebanjiran. Kali ini, musibah banjir tidak hanya merendam rumah-rumah dan jalanan di sekitar, tetapi juga menghancurkan dam atau tanggul yang seharusnya berfungsi sebagai penahan air, mencegahnya agar tidak menenggalamkan pemukiman.


Dalam situasi seperti ini, dampak banjir menjadi lebih parah dan lebih luas. Tanpa adanya dam yang utuh, air banjir bebas mengalir dengan kekuatan yang tak terbendung, menyapu segala hal yang ada dalam aliran arusnya. Pemukiman yang tadinya berada di sekitar tanggul menjadi terpapar risiko yang lebih besar, menghadapi ancaman bahaya dari arus banjir yang tak terkendali.


Situasi di sekitar Tanah Merah, Jakarta Pusat, saat ini masuk ke dalam zona merah. Regu penyelamat tampak diterjunkan, mulai dari polisi, pemadam kebakaran, hingga ambulans medis. Para relawan juga ikut membantu evakuasi korban banjir dan jebolnya tanggul yang merusak sebagian pemukiman warga di sana.


"Cepat! Sebelah sini!"


......................


"Nona Presdir, pelacaknya telah berfungsi kembali!" ucap Kian dengan antusias. Beberapa waktu ini, ia telah dipusingkan dengan pencarian Anthony yang tidak membuahkan hasil. Sinyal pelacak hanya berdenyut sampai di Pasar Induk Kramat Djaya, dan kemudian menghilang. Anthony seakan lenyap ditelan bumi dan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan sama sekali.


Lucy yang sedang menunggu pengantaran barang kedua, tentu saja geram dan murka! Seharusnya, empat hari yang lalu, Lucy sudah berada di Pulau Perawan dan memasok gadis baru untuk rumah bordilnya. Gadis yang akan dibawa oleh Lucy adalah istri Anthony, yang hingga sampai hari ini belum juga diantarkan olehnya. Anthony tidak menampakkan diri dan Lucy menyimpulkan bahwa ia telah menipunya. Lucy akan membuat perhitungan dengan Anthony, karena telah membuang waktunya yang sangat berharga.


"Bagus! Kejar dia!" perintah Lucy, setelah mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Anthony. Lucy tidak mengetahui bahwa telah terjadi adegan pencokokan oleh Lukas, dan Anthony pada akhirnya ditahan di penjara bawah tanah, beberapa hari yang lalu. Seluruh sinyal tidak dapat diterima di sana, kecuali sinyal satelit khusus yang berada dalam frekuensi setelan dari Askara.


Kali ini, Lucy dapat berpuas diri, karena, hari perhitungannya dengan Anthony akhirnya telah tiba. Lucy bergegas menuju ke lokasi Anthony menggunakan helikopter pribadinya. Situasi di luar sana sangat kacau karena amukan badai. Sehingga, Lucy harus menunggu sejenak, karena, badai sedang berlangsung.

__ADS_1


"Nona Presdir, sepertinya, sulit untuk sampai di sana. Banjir dimana-mana, helikopter tidak bisa terbang. Kita harus bagaimana?" tanya Kian yang tidak memiliki solusi atas masalah tersebut.


Lucy tampak berpikir sejenak. Tiba-tiba saja, sebuah ide gila melintas di kepalanya. "Keluarkan jetski-ku! Aku tidak bisa menunggu lagi!" perintahnya tanpa keraguan sedikit pun. Kian terperangah, dan tidak percaya bahwa majikannya akan meminta jetski sebagai moda transportasi. Namun, ia tak punya pilihan. Kian segera menghubungi petugaa dermaga dan mengambilkan jetski-nya agar diantar ke kediaman Sang Nona. Tak butuh waktu lama, Jetski milik Lucy yang tersimpan rapi di dermaga sewaannya, telah berada di kediaman. Ia segera men-starter motor air itu dan meluncur menuju ke titik lokasi keberadaan Anthony dengan bantuan GPS.


"Kian! Ayo naik!" perintahnya. Sekretarisnya itu segera naik ke boncengan jetski milik Sang Presdir, dan memulai perjalanan mereka menyusuri area banjir ibu kota yang sedang tidak bersahabat.


......................


Di belahan lokasi lain yang masih dalam kekacauan akibat banjir, Lukas dan keempat pria yang sedang terhanyut, tampak berusaha menyelamatkan diri dengan teknik penyelaman dan pernapasan. Mereka harus mengatur napas, dan menyelam, untuk tetap bertahan dalam terjangan banjir bandang yang menyerang.


"Puah!" Lukas kembali mengambil napas, meski sempat goyah, karena kejutan ombak air bah yang tiba-tiba datang. Beruntung, Lukas tidak terseret jauh, dan hanya sejenak disapu amukan arus. Namun, berbeda dengan Jaka dan Anthony yang mendekati pintu masuk air. Mereka terhempas hingga terpental ke arah dinding batu, dan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Beruntung, arus air sangat kuat, sehingga mereka terhanyut secara alami, hingga ke luar saluran drainase dan mengarah ke sungai Ciliwung.


Lukas yang sedang bertahan untuk menolong dirinya sendiri terlebih dahulu, tidak memikirkan orang lain. Ia harus fokus dan bisa keluar dari gorong-gorong dengan aman. Pandangannya juga tidak begitu bagus, sehingga, jika lengah sedikit, Lukas dapat terseret ke tempat antah-berantah.


"Puah!" Kali ini, Lukas telah sampai di tengah sungai. Ia segera menepi untuk menjangkau sisi beton sungai yang menghubungkannya dengan jalan utama. Setelah berhasil naik ke permukaan, Lukas akhirnya dapat beristirahat sejenak, sambil mengedarkan pandangan, mencari rekan dan lawannya yang ikut terhanyut tadi.


"Sial.....," rutuk Lukas karena tak kunjung menemui sosok manusia lain yang terseret arus air. Apakah mereka semua telah tewas?


...****************...


...Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2