
Lukas tertidur dengan pulas dan merasakan sebuah kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia tak mengira bahwa kasur beralaskan wol kashmir India yang dibelinya beberapa waktu lalu begitu empuk, nyaman, wangi, dan..... berkeringat!
"Hah?"
Lukas terkesiap, setelah merasakan cairan asing yang menempel pada pipinya. Ia mendongak dan mendapati dagu Emma sedang ada di atas kepalanya. Lukas salah tingkah. Ia mencoba melepaskan dirinya sendiri dari atas pelukan Emma yang hangat dan nyaman seperti boneka beruang.
"Errrgg.... " Emma menggeram karena masih belum tuntas dari kantuknya. Gadis itu memindahkan posisi tidurnya, dan masih belum ingin beranjak ke manapun.
Emma kelelahan karena hampir terjaga hingga dini hari akibat insiden Lukas yang mendadak pingsan. Untungnya, suaminya itu dapat kembali tenang dan tidur dengan nyenyak semalaman, meski dalam pelukan, dan itu membuat separuh tubuhnya mati rasa.
Lukas memperhatikan dengan seksama istrinya yang sedang tertidur di sisinya. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam, lalu tiba-tiba wajahnya merona. Lukas malu sekaligus senang, rupanya ia tak sampai kejang dan dilarikan ke UGD. Biasanya, dalam situasi seperti itu, Lukas langsung diantar ambulans ke UGD supaya tidak membahayakan nyawanya. Siapa sangka? Emma dapat menenangkannya begitu saja hanya dengan aroma tubuhnya.
Lukas tersenyum simpul, lalu, bergegas mandi dan bersiap ke kantor. Rasanya ia ingin menghilang ditelan bumi karena insiden yang memalukan kemarin. Lukas tak dapat menebak, apa yang akan dipikirkan oleh Emma atas kejadian semalam. Sia-sia selama ini ia menunjukkan sikap yang garang dan dingin, kalau rupanya, Lukas bahkan takut pada gelapnya malam ketika berada di dalam ruangan.
......................
"Selamat pagi, Cici, Rosa," sapa Emma setelah turun dari kamar. "Lukas kemana ya?" tanyanya kemudian, sambil mencari keberadaan suaminya di lantai dasar.
"Tuan sudah berangkat ke kantor tadi, Nyonya. Ndak sarapan juga, katanya buru-buru," jawab Cici sambil meletakkan sepiring nasi goreng dan teh hangat untuk majikannya.
"Ohhh..... " jawab Emma sendu. Ia mengira, Lukas akan mengobrol dengannya terkait kejadian semalam, rupanya tidak. Emma kembali kecewa pada sikap suaminya yang seolah tidak tahu berterima-kasih, meski Emma juga tak mengharapkannya. Ia hanya ingin Lukas bercerita mengapa ia sampai pingsan dan terjatuh di lantai.
"Ehm... Cici, kamu tau, kenapa listriknya mati kemarin malam?" tanya Emma menyelidik.
"Korslet katanya, Nyonya. Tadi Pak Jhon kesini ngasih tahu, sambil mengantar koran hari ini,"
"Oh, begitu... " Emma menyeruput teh hangat, sambil memasukkan koran ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Nyonya, gimana tuan? Kemarin pingsan nggak?" tanya Rosa kemudian, sambil mendekat ke arah Emma.
"Kok tau? Emang sudah jadi rahasia umum ya? Kenapa dia begitu?"
"Ehhm.. Ya.. Seperti yang pernah saya bilang. Tuan Lukas itu ada trauma masa kecil. Jadi, kalau berada di ruangan gelap, dia panik gitu, kalau parah, bisa pingsan! Makanya kami selalu stand-by ambulans di gudang belakang," jelas Rosa detail.
Emma membulatkan matanya, tak menyangka bahwa kejadian semalam ternyata bukan kali pertama untuk Lukas.
"Begitu ya..... " sahut Emma sambil memikirkan sesuatu. Ia teringat kisah di internet yang sempat viral beberapa waktu lalu, tentang seseorang dengan gejala panik yang akhirnya meninggal karena loncar dari gedung gara-gara mati lampu.
"Hhh... Pokoknya, syukur deh, Nyonya. Kemarin tuan nggak sampai pingsan. Bisa gawat," seloroh Rosa lalu kembali ke posnya yang ada di dapur.
Emma hanya tersenyum dan memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian semalam, agar orang rumah tidak khawatir.
"Yasudah, saya berangkat dulu ya. Nanti telat," ujar Emma sambil menenteng tas bahunya. Tiba-tiba Sarah mengetuk pintu rumah utama dan sedang mencari Lukas, sama seperti Emma.
"Tuan sudah berangkat," jawab Sri, pelayan yang sedang membersihkan pelataran.
Krieet...
Pintu terbuka.
Emma sedang berada di ambang pintu, untuk mencari keberadaan Pak Hendro. Ia ingin segera berangkat ke kampus sebelum terkena jam macet Jakarta yang membuat sakit kepala. Siapa sangka, Emma malah bertemu Sarah yang sedang mencari suaminya.
"Iya, suamiku sudah pergi kerja. Ada keperluan apa?" tanya Emma dengan wajah ramah, namun tetap memancarkan aura pemilik rumah. Ia teringat perkataan Cici agar tak kalah saing dengan selir Lukas yang masih bergentayangan di mansion-nya. Entah kenapa, suaminya itu tak kunjung mengusir selir yang mengganggu keharmonisan mansion tersebut.
Suasana mansion yang tadinya tenang dan nyaman, menjadi berubah sejak kedatangan Sarah, enam bulan yang lalu. Para pelayan menjadi serba salah. Jika mereka melayani Sarag secara optimal, maka pekerjaan lain tentu tidak tuntas. Namun, jika mereka mengabaikan setiap permintaan Sarah, jelas nasib mereka tidak akan lepas dari incaran fitnah yang dibuat olehnya. Sudah ada beberapa pelayan yang jadi korban fitnah Sarah lalu dipecat. Lukas tak menaruh curiga barang sedikit pun terhadap terapis pribadinya itu. Para pelayan juga tidak punya kekuatan untuk melawan kekuasaan Sarah ketika tuan mereka tak ada di rumah. Beruntung, kali ini, ada nyonya Emma yang menjadi pengatur rumah tangga dengan adil dan bijaksana.
__ADS_1
"Oh, selamat pagi, Nyo--nya," ucap Sarah dengan nada sumbang. Emma mengetahui isi hati wanita itu meski tak ditampakkan. Sebenarnya, Emma tak peduli, karena ia bukan istri sungguhan, namun, Emma tak bisa tinggal diam jika kelakuan Sarah menjadi lebih superior ketimbang dirinya.
"Ya. Ada keperluan apa dengan suamiku?"
"Oh, saya cuma mau mengecek kondisinya, sebagai seorang TERAPIS PRIBADI," jawab Sarah dengan penekanan yang tak perlu. Emma merasa, ada sesuatu yang tidak beres di sini. Ia juga merasa nyeri ketika ada wanita lain yang merasa harus memberi perhatian pada suaminya.
"Oh. Syukur, Alhamdulillah. Kondisinya aman, Mbak Sarah. Kemarin suami saya TIDUR DI PELUKAN SAYA SEMALAMAN," jawab Emma, kali ini, melakukan hal yang sama seperti Sarah. Emma tak ingin kalah saing sebagai nyonya rumah keluarga K-Group. Ia menjaga marwah Nyonya besar yang sudah mempercayainya sebagai menantu resmi.
"Baiklah," jawab Sarah singkat, kemudian menderap-derap langkahnya menjauh dari posisi Emma. Sarah tampak menggerutu ketika sedang berjalan pergi ke paviliun, tempat asalnya.
Sri dan Cici yang sejak tadi menguping dari arah pelataran, menghambur ke arah nyonya mereka.
"Bagus, Nyonya! Begitu baru benar! Biar si selir itu nggak sok-sok an jadi nyonya besar," tukas Cici bersemangat. Sri mengangguk dsn menyetujui komentar rekan kerjanya itu dengan senyuman cerah.
"Ssst! Ngga boleh gitu, Ci. Ngomongin orang di belakang itu tidak baik," sahut Emma sambil menguncir rambutnya. "Yasudah, aku pergi dulu ya.... " ucapnya kemudian, karena Pak Hendro sudah meng-klakson tiga kali di bundaran air mancur yang ada di depan taman.
......................
......
Emma meng-update status WA-nya dengan foto selfie hari ini. Lukas yang sedang rapat pagi, tak sengaja mengintip status kiriman sang istri yang ada di kontaknya.
"ASTAGA! WANITA INI SUDAH GILA!!!!"
...****************...
__ADS_1
...Bersambung...
...****************...