Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 29 Mortal Kombat


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Emma bukanlah Cinderella yang akan menjadi upik abu hanya karena hari telah berganti. Namun, ia khawatir, kepergiannya akan membuat kebingungan keluarga barunya.


'Hhh.. Sudahlah, toh aku bukan istri sungguhan. Paling-paling, Lukas juga tidak keberatan' batin Emma melirih. Saat ini, ia hanya ingin beristirahat, agar segera pulih. Semoga saja dokter memperbolehkannya untuk pulang keesokan harinya.


Emma tak mengira, ada rasa nyeri yang terkadang menyergap tubuhnya. Rasa itu tiba-tiba datang ketika Emma mulai menggerakkan tubuhnya. Beruntung, Ryan selalu siaga di sampingnya untuk mengecek setiap gejala asing yang terjadi padanya.


"Auch.... " erang Emma ketika mencoba untuk bangkit dari ranjang.


"Kamu gak papa? Sini aku bantu," ujar Ryan sambil memegangi punggungnya dan salah satu tangan Emma sebagai penyangga. Emma tersenyum, namun merasa sungkan, karena ia telah menyusahkan Ryan sejak sore tadi.


"Maaf, merepotkan," ujar Emma lirih.


Ryan hanya menatapnya dengan lembut dan tersenyum. "Nggak papa kok,"


Emma merasakan ada gelitik rasa yang asing untuknya. Perhatian dari Ryan begitu menenangkan, sekaligus menakutkan. Emma mendadak teringat pada suaminya yang punya perangai seperti macan kumbang. Emma lalu mencoba untuk bangkit sendiri, tanpa bantuan Ryan. Baru saja ia hendak mendorong tangan Ryan agar menjauh, tiba-tiba saja.....


"Emma..... " panggil Lukas lirih.


"Lu...Lukas," sahut Emma gelagapan.


Ia seperti sedang terpergok selingkuh, padahal tidak.


Lukas yang sedari tadi sudah berlatih untuk tenang, kini menjadi muntab.


"ROY!! BAKAR RUMAH SAKIT INI!"

__ADS_1


"Ya--ya? Pak bos! Sadar, Pak! Ingat.. Tarik napas.... Hemb---"


BUGH!


Belum sempat Roy menenangkan bosnya, tinju Lukas sudah hampir mendarat di pipi Ryan, yang tentu saja berhasil ditepis olehnya. Dari sini semua orang bisa menyimpulkan bahwa tinju dan tendangan Lukas beraksi lebih cepat ketimbang mulut dan otaknya. Mereka berdua menjadi seperti karakter mortal kombat yang sedang melakukan live action di rumah sakit.


"Lukas!! Stop!!" pekik Emma panik. Ia tak percaya suaminya bisa nge-reog tanpa kira-kira.


"Lukas! Apa-apaan kamu? Ryan sudah nolongin aku tadi! Nggak pantes dia mendapat perlakuan kasar kayak gitu!"


Mendengar omelan istrinya, Lukas langsung menurunkan kuda-kuda. Baru saja ia hendak berduel dengan sengit, meski nantinya, ia tentu harus membayar ganti rugi senilai ratusan juta karena merusak alat-alat di rumah sakit.


Ryan yang menyadari Lukas mulai tenang, tampak ikut melonggarkan ototnya. Ia kembali duduk di sisi Emma yang sedang dalam keadaan marah. "Tenanglah," ujar Ryan kemudian. Emma mulai mengatur napasnya.


"Emma, jelaskan, apa-apaan ini? Ngapain kau bersama Haritama sialan ini?" tanya Lukas menyelidik. Emma kembali melotot, dan menunjukkan sikap tak suka pada segala komentar kasar dari suaminya.


"Siapa yang gak kenal anak nakal ini? Hah!" dengus Lukas menyindir. Ryan tampak memandanginya dengan tatapan tak kalah meremehkan.


"Ohya, dasar om-om kasar. Ngapain ke sini? Kalian saling kenal?" tanya Ryan, kali ini menanyakan hubungan antara Emma dan Lukas yang tak diketahui olehnya.


"Dia istriku! Memangnya siapa lagi? Menurutmu, kenapa aku repot-repot kesini kalau bukan demi istri?" tukas Lukas dengan senyum sinis. Ia kini mendekat ke sisi Emma, sambil duduk di sampingnya dengan mesra.


Ryan membulatkan kedua matanya. Ia tak bisa berkata-kata. "Em--Emma, benarkah itu?" ujar Ryan tergagap setelah Lukas membuka kartunya. Emma menarik napas dalam-dalam, dan tidak mengerti situasi intens yang sedang terjadi di dalam kamarnya ini. Lukas dan Ryan bertingkah seperti sedang berebut barang diskonan di pasar.


"Fyuuh..... " Emma mulai mengatur napas, dan menjawab pertanyaan Ryan dengan tenang.

__ADS_1


"Benar, dia suamiku,"


Ryan menggeretakkan giginya karena merasa sangat kesal. Bagaimana mungkin gadis seperti Emma bisa menjadi istri monster kutub seperti Lukas? Ryan benar-benar tak habis pikir.


......................


Ryan dan Lukas memiliki kisah tersendiri. Mereka saling mengenal ketika orang tua mereka sering menghadiri arisan sosialita beberapa puluh tahun yang lalu. Kala itu, Lukas dan Ryan masih dalam usia kanak-kanak. Ryan dan Lukas sama-sama menyukai gadis yang merupakan teman sepermainan mereka. Ryan (5 tahun) dan Lukas (10 tahun) bersaing secara sengit untuk mendapatkan cinta Lucy (9 tahun).


Meski hanya cinta monyet, tapi, atmosfer persaingan mereka bertahan sangat lama dan terbawa hingga usia dewasa. Ketika mengurus bisnis rumah sakit, Lukas dan Ryan kembali bersaing, dan berakhir dimenangkan oleh Ryan yang menjadi partner resmi pemerintah dalam penanggulangan kanker di Indonesia. Sejak saat itu, hubungan Lukas dan Ryan seperti kutub magnet utara dan selatan. Jika memaksa untuk didekatkan, tentu akan terpental.


......................


Lukas sengaja memancing emosi Ryan agar segera menjauh dari istrinya. Meski hubungan mereka hanya pernikahan di atas kertas, namun, Lukas tak menyukai jika sesuatu miliknya juga diinginkan oleh orang lain. Itu sangat melukai dominasi egonya.


"Ngerti sekarang? Jadi, menjauhlah dari istriku, sebelum kau ganti profesi sebagai pebinor-- perebut bini orang!" gertak Lukas pada Ryan, yang langsung disambut oleh cubitan. "Auch!" erang Lukas yang kaget karena mendapatkan cubitan secara tiba-tiba.


"Lukas! Diamlah! Kau tidak sopan!" Kali ini Emma bersikap garang karena Lukas begitu berani menghina penyelamatnya.


"Pria ganas dan serba-bisa sepertimu, bagaimana bisa kalah dari Ryan dalam misi menyelamatkan istri? Hah?" maki Emma yang membuat harga diri Lukas terjun payung hingga ke dasar bumi.


"Eumm... I--itu... " Lukas tak bisa menjawab. Ia tak menyangka akan menjadi bahan cibiran istrinya sendiri. Roy berpura-pura melihat bintang di langit sambil menahan tawa. Ryan tampak tersenyum melihat pembelaan dari Emma.


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...



__ADS_2