
Anthony berhasil ditangkap oleh Yuki dan kemudian diserahkan kepada Lukas. Keputusan ini diambil karena Yuki memiliki "kamar" kosong di penjara bawah tanahnya yang cocok untuk menahan Anthony, yang merupakan target operasi Lukas.
"Kerja bagus, Yuki!" puji Lukas sambil menerima Anthony yang dilemparkan sembarangan oleh Yuki.
"Titip ya, aku mau mengurus Renn dan anak-anak dulu," kata Yuki sambil melangkah kembali ke rumah kontrakan Renn.
Awalnya, Lukas dan Emma tidak menyadari bahwa anak-anak yang ada di sana adalah anak-anak Renn dan Anthony. Mereka baru mengetahuinya ketika melihat anak-anak tersebut, yang tampak tak jauh berbeda usia dengan Renn, memanggilnya dengan sebutan Mama.
"Astaga, aku kira mereka anak tetangga," kata Emma terkejut. Lukas dan Emma kemudian mendengar cerita bahwa Renn menikah di usia yang sangat muda, dan kemudian menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Ia terpaksa mencopet untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kedua pasangan itu merasa marah dan prihatin mendengarnya.
Lukas berusaha memberikan solusi dengan menawarkan pekerjaan kepada Renn. "Berikan mereka padaku, aku akan memberikan Renn pekerjaan," kata Lukas mencoba membantu. Namun, Yuki menolak dan mengungkapkan bahwa dia memiliki rencana tersendiri untuk keluarga Renn. Lukas dan Emma akhirnya tidak bisa mempengaruhi keputusan Yuki. Mereka memutuskan untuk fokus mengurus Anthony dan memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
"Terima kasih, Tuan dan Nyonya. Saya tidak akan melupakan kebaikan kalian," ucap Renn sambil menggandeng kedua anaknya. Renn meminta anak-anaknya untuk mengucapkan terima kasih kepada Lukas dan Emma.
"Terima kasih, Om... Tante..." ucap anak-anak tersebut hampir bersamaan.
Emma dan Lukas tersenyum lembut, mereka membayangkan keinginan mereka untuk memiliki anak-anak seperti mereka. Lukas memberikan dukungan kepada Emma, meyakinkannya bahwa mereka pasti bisa memiliki anak sendiri. Mereka berdua merencanakan untuk menjalani percobaan pembuatan anak segera, setelah Lukas sembuh dari impotensi yang dideritanya.
"Arrrggggh..... "
Sementara itu, Anthony merasakan rasa sakit di kakinya ketika Yuki dengan sengaja menginjaknya saat melenggang pergi. Yuki meninggalkan Anthony di tangan Lukas dan Emma, sambil pergi bersama Renn dan anak-anaknya, menuju ke kehidupan baru yang lebih berwarna tanpa bayang-bayang Anthony di dalamnya.
......................
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan, di kantor pusat Hains Construction, Lucy sedang menyelidiki sesuatu. Ia lalu teringat soal perjanjian dengan pria misterius yang ingin menyerahkan istrinya sebagai objek pertukaran.
"Kian, sudah kau selidiki dimana pria itu tinggal?" tanya Lucy sembari menoleh pada sekretarisnya.
"Ya, Nona Presdir. Dia tinggal di gang pasar induk Kramat Djaya," ucap Kian yakin. Pelacak yang diletakkan pada tas pria tersebut berdenyut merah di sekitar area, meski pada akhirnya mati total setelah melintadi gang di dekat jalan raya.
"Bagus. Tagih janjinya, dan bawakan wanita itu ke sini, sekarang juga!" perintah Lucy tidak ingin membuang waktu. Esok pagi, ia harus segera bertolak ke Pulau Perawan untuk mengecek perkembangan bisnis prostitusinya. Ia juga membutuhkan gadis baru karena ada beberapa gadis yang berhasil kabur dari pulau tersebut. Padahal, sebentar lagi libur musim panas telah tiba. Pulau Perawan merupakan destinasi wisata favorit ke dua setelah Pulau Bali bagi para wisatawan mancanegara. Hal ini dikarenakan, tenarnya kasino Asia Tenggara yang ada pada pulau tersebut, dan ini menarik minat para turis asing yang ingin mencoba hal baru di Indonesia. Mereka tidak perlu jauh-jauh ke Macau, dan bisa lebih berhemat dengan berlibur di Nusantara.
......................
...[Penjara Bawah Tanah]...
BRUK!
Lukas dengan tegas mengunci pintu sel, sementara Anthony berusaha memohon ampun dengan suara yang penuh keputusasaan, "Tuan... Tuan... Tolong... Saya minta maaf... Ampuni saya, Tuan..."
Namun, permohonan Anthony hanya disambut dengan tawa sumbang dari rekan satu selnya, Jaka. "Sudahlah, terimalah nasibmu, Bro. Setidaknya, di sini kamu akan mendapatkan makanan yang cukup," katanya dengan nada lugas.
Anthony menggeram frustasi. Dia merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini. "Awas saja! Akan kubalas!" gumamnya penuh amarah, karena permintaannya dengan air mata buaya tidak kunjung dikabulkan oleh Lukas.
Setelah beberapa waktu berlalu, Anthony tampak terbaring lelah di sudut selnya. Ia merasa frustasi dengan situasi di penjara. Setiap hari yang ia habiskan di dalam sel hanya semakin memperkuat keinginannya untuk melarikan diri. Ia tahu bahwa Jaka, tahanan abal-abal yang berada di sel yang sama dengannya, bukanlah mitra ideal untuk melaksanakan rencananya, namun Anthony tidak punya pilihan lain.
Dalam keheningan malam, Anthony merencanakan pelariannya. Namun, ia sadar, tidak bisa melakukan hal ini tanpa bantuan orang lain.
__ADS_1
"Bro, lu mau bebas nggak?" tanya Anthony dengan berbisik. Jaka yang sedang tidur-tiduran saja, tidak tertarik untuk menanggapi niat Anthony.
"Gua kasih duit kalo bebas dari sini, gimana?" tanya Anthony tanpa kenal lelah. Kali ini, Jaka sedikit melebarkan telinganya dan mulai mendekat ke arah Anthony dengan sikap tertarik.
"Em... Gimana caranya, Bro?" tanya Jaka mulai ingin mengetahui rencana Anthony secara detil.
Anthony menyeringai, mengetahui bahwa usahanya akhirnya membuahkan hasil. Ia kemudian semakin mendekatkan diri pada Jaka, dan mulai berbicara dengan rinci soal rencana pelariannya.
Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, Anthony dan Jaka memulai perencanaan teliti untuk melarikan diri dari penjara tersebut. Mereka secara cermat mengamati pola patroli penjaga, mencari celah dalam sistem keamanan penjara, dan mencari barang-barang yang dapat membantu mereka dalam pelarian yang berisiko ini.
Setiap malam, mereka melatih tubuh mereka secara fisik dan mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi tantangan yang tak terhindarkan. Meskipun Jaka seringkali terlihat putus asa dan merasa tak mampu menghadapi latihan yang diberikan oleh Anthony, tetapi ia tidak menyerah. Motivasi utama baginya adalah hadiah uang sebesar 10 juta yang dijanjikan oleh Anthony setelah mereka berhasIl melarikan diri dari penjara dan memulai kehidupan baru.
Anthony terus mendorong Jaka melewati batasan-batasan fisiknya, menanamkan dalam pikirannya bahwa mereka harus menjadi yang terbaik untuk memperoleh kebebasan yang mereka impikan. Terlepas dari keluh kesah dan kelelahan yang mereka rasakan, Jaka tetap bertahan dan menempatkan tujuan mereka di depan mata. Mereka menyadari bahwa jalan menuju kebebasan akan penuh dengan rintangan dan bahaya, namun tekad mereka untuk meraih kemerdekaan tak pernah luntur.
Namun, mereka belum menyadari betapa tegangnya situasi yang akan mereka hadapi. Di balik jeruji penjara, penjaga yang tak kenal ampun siap menerjang pelarian mereka.
Dalam gelapnya malam yang menyelimuti penjara, takdir Anthony dan Jaka tergantung pada kecerdasan, keberanian, dan sedikit keberuntungan yang mungkin berpihak pada mereka.
Akankah Anthony dan Jaka pada akhirnya mampu melepaskan diri dari jeratan penjara Lukas? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1