
Di teriknya matahari siang ini, ada panas lain yang menjalar dari tubuh Lucy: keinginannya untuk segera merebut Lukas kembali, seperti beberapa tahun sebelumnya. Bagi Lucy, Lukas adalah sebuah kotak parcel berbungkus yang belum terbuka semua isinya. Ia masih penasaran dan kegirangan, ketika teringat akan segala kemungkinan kenangan yang ada di baliknya. "Semoga saja, masih ada ruang di hatimu untukku, Lukas," gumamnya dari dalam kabin mobil yang memainkan musik hip-hop sebagai penghibur saat ia menyetir sendirian.
Lukas menyetujui pertemuan mereka di sebuah restoran pasta Italia yang tak jauh dari tower K-Group. Lucy terpaksa menyetujuinya meski harus mengemudi sekitar 40 menit untuk sampai ke sana, karena lokasi kantor Lucy cukup jauh dari Jakarta Selatan.
Tak lama kemudian, Lucy akhirnya tiba di lokasi pertemuan seperti yang telah dijadwalkan. Karena Lukas dan Lucy sama-sama sibuk, mereka harus bertemu tepat waktu sebelum melanjutkan dengan agenda mereka yang lain.
"Sudah melakukan reservasi, Bu?" tanya seorang penjaga yang membukakan pintu untuknya.
"Ya, atas nama Lukas Kim," jawab Lucy dengan tegas.
"Baik. Silakan..." jawab penjaga tersebut sambil memanggil seorang pelayan yang tampak senggang untuk mengantarkan Lucy ke meja dan mencatat pesanannya. Lukas sudah berada di meja mereka, melirik jam tangannya sambil menunggu kedatangan Lucy.
"Lukas!" panggil Lucy dari pintu masuk. Lukas yang sedang duduk, segera menoleh ke belakang.
"Hai!" Lukas bangkit dan memeluk sahabatnya dengan hangat. Mereka sudah lama tidak bertemu, sekitar 4 tahun lamanya. Lucy telah pindah ke Kanada dan menikah. Suatu keadaan yang cukup menjadi pukulan bagi Lukas saat itu, karena mereka masih berada dalam sebuah hubungan. Namun, Lukas tak bisa berbuat apapun, karena ibu Lucy juga tak merestui mereka berdua. Setelah pernikahan Lucy, mereka kerap kali berbagi kabar lewat media sosial, untuk menjaga persahabatan.
"Duduklah," ajak Lukas sambil menarik kursi agar Lucy bisa duduk dengan nyaman. Lucy pun duduk dan tersenyum penuh arti pada Lukas.
"Kau belum berubah ya," kata Lucy sambil tersenyum menggoda. Lukas hanya terkekeh dan mencubit pipi Lucy dengan gemas. "Tentu saja, hanya, aku sudah menikah juga, seperti dirimu," ucapnya kemudian.
"Apa? Benarkah? Sayang sekali, padahal aku sudah menjanda seperti ini. Aku pikir kita bisa memulai lagi dari awal, Lukas," goda Lucy mencoba melemparkan umpan.
"Benarkah!? Sejak kapan kau menjadi janda? Sorry to hear that," ungkap Lukas dengan nada simpati, seakan merasakan kepedihan Lucy yang tidak lagi memiliki suami.
"Ah, tidak apa-apa. Bukan hal buruk menjadi janda. Malah menjadi bebas," kata Lucy menolak untuk dikasihani. Seharusnya Lukas melemparkan godaan balik, bukan malah menunjukkan rasa simpati. Lucy jadi merasa kesal.
"Baiklah... Jadi, apa yang membawamu kembali ke Indonesia? Ada bisnis baru?" tanya Lukas sambil menyendok potongan salad yang tersedia di meja mereka. "Oh, sebelumnya, silakan pesan dulu," tambahnya, tersadar bahwa Lukas sudah memesan makanan terlebih dahulu ketika sedang menunggu Lucy.
"Aku juga akan memesan caesar salad dan beef steak. Tidak perlu dessert, nanti aku gemuk," kata Lucy pada seorang pelayan yang telah menunggunya sejak tadi.
"Baik, mohon tunggu sebentar," ucap pelayan tersebut sebelum pergi.
"Oh ya, aku mengambil alih bisnis kakekku, Hains Construction. Maaf ya, ada skandal yang melibatkan perusahaanmu baru-baru ini," ungkap Lucy dengan tatapan penuh arti. Lukas sedikit terkejut mendengarnya karena ia mengira Lucy akan melanjutkan bisnis ibunya di bidang fashion. Ternyata, Lucy memutuskan untuk berganti jalur dan mengelola bisnis keluarga yang bahkan tidak diminati oleh ibunya.
"Oh, tidak apa-apa... Kasusnya sudah selesai, aku dengar nyonya Olivia juga sudah dipecat," kata Lukas dengan enteng. Lucy tersenyum dengan perasaan kemenangan, menandakan bahwa tidak ada dendam yang tersimpan di dalam hati Lukas. Itu adalah pertanda baik untuk memulai merebut hatinya kembali.
__ADS_1
"Jadi, ceritakan tentang istrimu," tanya Lucy, setelah menerima hidangan caesar salad yang baru saja diantar pelayan. Ia mulai mengambil sepotong salad sambil menikmati waktu bersama Lukas, pria yang pernah menjadi cinta sejatinya.
"Ah, ya. Eum.. Kami... Kami menikah di luar negeri, jadi tidak ada banyak pemberitaan. Kami ingin menjaga momen itu agar tetap pribadi dan intim. Istriku sangat cantik dan baik hati. Suatu saat, aku akan mengenalkannya padamu," jawab Lukas dengan sedikit ragu, berusaha untuk menyembunyikan kebohongan soal pernikahan kilatnya dengan Emma.
Lucy hanya tersenyum hambar, seolah-olah sedang memproses informasi yang dia dengar. Rupanya, Lukas sangat mencintai istrinya.
"Oh, Apakah kau pernah mendengar tentang Pulau Perawan? Aku memiliki sebuah resort di sana. Aku ingin mengajakmu melakukan pertemuan bisnis. Bagaimana menurutmu? Tapi tentu saja, tidak boleh membawa pasangan. Ini adalah perjalanan bisnis yang serius. Aku ingin kita bekerja sama dalam pengembangan pulau tersebut," ucap Lucy, mencoba menawarkan kesempatan bagi Lukas untuk pergi hanya berdua dengan dirinya.
"Benar! Aku pernah mendengar bahwa pulau itu sedang mengalami pengembangan. Wah, itu luar biasa! Kita bisa mengatur jadwalnya. Aku akan mengurusnya," jawab Lukas dengan antusias.
'Yes!' batin Lucy merasa lega saat menyadari bahwa rencananya untuk menghabiskan waktu berdua dengan Lukas sedang berjalan lancar.
"Bagaimana kalau bulan depan? Apakah itu cocok?" tanyanya kemudian.
"Baiklah, akan kujadwalkan," kata Lukas sambil tersenyum.
Lucy tidak bisa berhenti memandang Lukas yang semakin tampan dan matang, seiring dengan kesuksesan dan pertumbuhan perusahaannya. Jika dia bisa mendapatkan Lukas dalam genggamannya, maka masa depan Lucy akan bersinar terang dan dia akan menguasai dunia bisnis konstruksi yang tak terkalahkan.
"Terima kasih atas makan malamnya, Lukas. Aku sangat menikmatinya," ucap Lucy setelah selesai menyantap hidangan.
"Maaf, aku harus pergi ke tempat lain sekarang. Aku harap kita bisa bertemu lagi segera," pamit Lukas setelah membayar tagihan mereka di meja kasir. Lucy mengikutinya dari belakang tanpa keberatan. "Aku juga harus pergi. Sampai jumpa," pamitnya dengan sopan. Mereka akhirnya berpisah jalan dan kembali ke rutinitas masing-masing yang sibuk.
'Tunggu saja, Lukas. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku kembali' batinnya saat duduk di dalam mobil dan kembali ke kantornya dengan senyum kemenangan.
......................
...[Penjara Bawah Tanah]...
Dingin dan lembabnya suasana di dalam penjara bawah tanah membuat para tahanan merasakam adanya teror yang terus menghantui mereka.
'BYUR!'
"OHOEK... OHOEK..."
Paparazzi yang telah menyebabkan Emma terjerat skandal, terlihat sedang memuntahkan air yang baru saja disiramkan oleh Lukas.
__ADS_1
"Sekarang, ceritakan! Siapa yang membayarmu?" tanya Lukas dengan marah.
"S-saya tidak tahu, Tuan. Uangnya hanya diletakkan di loker stasiun. Saya tidak tahu siapa yang menjadi sponsor tersebut," jawabnya dengan ketakutan.
"Siapa namanya tadi?" tanya Lukas pada Roy, yang berdiri di dekatnya.
"Gery, Bos," jawab Roy.
"Baiklah, Gery. Kamu berhutang sangat banyak, 200 juta. Di mana kamu menghabiskan uang sebanyak itu? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," tanya Lukas.
Lukas, yang memiliki bisnis peminjaman uang gelap, tidak pernah mengingat Gery sebagai salah satu debiturnya. Bisnis peminjaman uang Lukas sangat diminati karena memberlakukan bunga yang tidak terlalu tinggi dengan jangka waktu cicilan yang sangat panjang, bahkan hingga tiga tahun. Oleh karena itu, banyak penjudi yang sering meminjam uang darinya.
"S-saya pemain baru, Tuan. Dan sialnya..." suaranya tiba-tiba tercekat.
"....saya kalah taruhan dalam jumlah besar," lanjutnya dengan tangis kesedihan. Gery terjerat ekstase perjudian sebenarnya hanya karena iseng, dengan harapan bisa memperbaiki kondisi keuangannya. Namun, tanpa disadari, dia semakin ketagihan untuk berjudi dan selalu kalah taruhan. Gery menjadi kehabisan uang dan terjebak hutang yang sangat besar. Gery tidak memiliki pilihan lain selain mencari uang dengan cara yang tidak biasa, salah satunya dengan memperjualbelikan skandal artis-artis ternama yang menjadi sorotan publik.
"Aku sudah bertanya, di mana kamu menghabiskan uangnya??? Kenapa malah curhat!" sergah Lukas, tidak ingin mendengar alasan.
"Ehmm... I--itu... Di Pulau Perawan, Tuan!" sahutnya dengan gemetar.
"Roy, banyak skandal yang terjadi di pulau itu. Sepertinya aku harus pergi dan menyelidiki," ujar Lukas dengan penuh makna.
"Sejak kapan Bos menjadi Spiderman? Mengapa Bos ikut campur dengan keamanan di sana?" canda Roy, tetapi di balik candaannya terdapat kebenaran yang tak dapat diabaikan. Roy tentu tidak ingin Lukas terluka atau menghadapi masalah akibat rasa ingin tahunya yang tidak terlalu penting.
"Aku akan melakukan bisnis di sana. Aku perlu membersihkan area itu, kan?" jawab Lukas, tidak ingin dianggap konyol.
"Ya, ya... Baiklah," ucap Roy, mencoba mempercayai perkataan bosnya, meskipun masih merasa ragu akan urgensi operasinya.
Keputusan Lukas untuk menyelidiki tentang Pulau Perawan akan membawa konsekuensi yang tidak terduga, membuka matanya terhadap intrik pribadi dan bisnis yang selama ini dimainkan oleh Lucy. Akankah dia mampu melepaskan diri dari tipu daya Lucy?
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1